Cinta Laki Laki Biasa

Cinta Laki Laki Biasa
Kepercayaan


__ADS_3

Raksa diam tak tahu harus berbuat apa, ketika wanita itu menangis sembari memeluk lututnya sendiri. Andini terlihat kacau dan lelah. Wanita itu belum makan sedari siang karena sibuk dengan mengurus jadwal pekerjaan Ralin. Sebagai manajer, Andini selalu sibuk mengutamakan kepentingan Ralin. Hingga dirinya sendiri lupa mengurus diri.


Perutnya terasa sakit ketika menyadari hal itu. Andini memiliki riwayat penyakit maag. Dokter sudah menasihatinya agar tidak terlambat untuk makan. Andini harus selalu diingatkan supaya makan tepat waktu.


Raksa yang menyadari kegelisahan wanita itu, segera membantunya duduk ke sofa. Wajah Andini terlihat begitu pucat.


"Tolong ambilkan obat maag dikamar aku, Sa!" kata Andini meminta tolong.


"Kamar kamu sebelah mana?"


Andini memberi arahan kepada Raksa, dimana letak kamarnya. Secepat kilat Raksa mengambilkan obat di kamar pribadi Andini. Sebenarnya ini tidak sopan, ketika seorang laki laki yang baru kenal langsung masuk ke daerah privasi, tapi keadaannya berbeda, Andini butuh bantuannya.


Sekalian Raksa membawakan segelas air putih ditangan kanannya. Obat beserta air telah habis ditelan Andini. Perlahan rasa sakitnya semakin mereda. Andini merutuki dirinya sendiri, menyadari sedari tadi dirinya hanya bisa merepotkan laki laki dihadapannya ini.


"Kenapa bisa telat makan?" tanya Raksa peduli.


"Banyak kerjaan" jawabnya singkat.


Raksa mengangguk kecil. Laki laki itu cukup tahu, Andini sedang tidak ingin banyak bicara.


"Kalau begitu aku pulang dulu, Din" kata Raksa ingin pamit, tetapi Andini menahannya.


"Sudah pukul satu. Kamu bisa menginap disini. Ada kamar tamu diujung sana" kata Andini menunjuk salah satu kamar kosong diujung ruangan. Bahkan kamar tamu saja, sebesar itu.


"Lagipula, portal jalan disini mungkin sudah ditutup baru saja setelah mbak Ana keluar tadi" sambungnya.


Tadinya Raksa ingin menolak sebelum perkataan Andini membuatnya tak punya pilihan. Mana mungkin dirinya bisa pulang jika begini.


Akhirnya Raksa memilih bermalam dirumah Andini. Lagipula mereka berbeda ruangan. Ada beberapa pekerja juga dirumah ini. Jadi menurut Raksa, hal ini tidak masalah. Sekadar menginap. Sewajarnya saja.

__ADS_1


"Aku ke kamar duluan ya, Sa" kata Andini berlalu.


Raksa mengabari ibunya jika dirinya tidak pulang malam ini. Ibunya memaklumi alasan Raksa. Lagipula Dayu, bukanlah sosok yang senang mengatur anaknya. Selagi apa yang dilakukan Raksa masih batas wajar, Dayu akan selalu memakluminya. Selama ini, Raksa belum pernah mengecewakannya. Dayu begitu percaya kepada putranya.


...........................


Pagi pagi sekali Raksa dikejutkan dengan keberadaan Ralin dikamar itu. Wanita itu memperhatikan tidurnya. Raksa mendadak salah tingkah, takut kekasihnya itu salah paham mengenai dirinya dengan Andini. Berbagai pikiran muncul dalam pemikiran Raksa. Laki laki itu tak ingin Ralin salah paham.


Raksa menyibak selimutnya, berusaha duduk berhadapan dengan Ralin. Mata Raksa terus memperhatikan gerak gerik wanita itu. Namun nihil, tidak ada raut marah ataupun cemburu yang terlihat dari sana. Ralin terlihat santai dan menikmati pemandangan paginya, yaitu melihat muka bantal Raksa yang begitu menggemaskan.


"Tidur jam berapa semalam?" tanya Ralin, menyadari kantung mata Raksa yang sedikit kentara disana.


Raksa mengernyitkan dahinya. Kemudian menjawab, "Jam dua".


"Ibu tau kamu disini?"


"Iya, semalam aku udah kabarin ibu"


"Minta nomor kamu, handphone aku ganti, yang kemarin rusak, aku banting" kata Ralin santai. Dirinya tak mengindahkan ekspresi kesal kekasihnya.


Diraihnya ponsel berlogokan apel dibelakang sana. Tangannya mengetikkan dua belas digit angka diponsel Ralin. Setelahnya Raksa mengembalikannya kepada sang pemilik, yang sedari tadi memperhatikannya. Raksa tahu, wanita itu mencuri curi pandang ketika dirinya sibuk mengetik.


"Hari ini jadi pemotretan di Skmpayy?"


"Jadi, Ra. Nanti agak siangan"


Ralin mengangguk. Tangannya sibuk mengupas apel untuk Raksa. Wanita itu menjadi begitu perhatian kepada kekasihnya. Ralin adalah tipe wanita yang akan menjaga apa yang dirinya miliki.


Tangannya bergerak menyuapkan potongan apel ke mulut Raksa. Laki laki itu meliriknya sejenak, kemudian menerima suapan dari wanitanya. Raksa masih belum terbiasa diperhatikan seperti ini. Rasanya sedikit aneh namun menyenangkan. Raksa belum pernah diperhatikan oleh seorang wanita selain ibunya. Dahulu, ada Anggi yang sering memperhatikannya, tapi semuanya impas dengan segala penghianatan yang wanita itu lakukan bersama Aryo sahabatnya. Nyatanya semua perhatian itu tidak lah tulus. Anggi melakukannya karena ingin memanfaatkan Raksa agar dekat dengan Aryo, sahabatnya.

__ADS_1


"Aku mau jelasin, Ra" kata Raksa memecah keheningan.


Ralin menatapnya tenang. Entah apa yang Ralin pikirkan, Raksa tak bisa menebaknya. Wanita itu selalu terlihat tenang dan tidak emosional. Ralin menaikkan sebelah alisnya, menunggu Raksa berbicara.


Laki laki itu jujur. Mengatakan segala sesuatunya tanpa mengikut sertakan kebohongan dalam setiap kejujurannya. Ralin bisa melihat itu. Dari caranya berbicara dan dari sikapnya menunjukkan kejujuran yang Ralin hargai.


Sebenarnya Andini sudah cerita tadi ketika Ralin datang pagi pagi sekali. Awalnya Ralin datang karena dirinya mendapat kabar kalau Andini sakit. Pantas saja ponselnya mati seharian. Tadi, saat Ralin mengobrol dikamar Andini, sahabatnya itu menceritakan segalanya tentang Raksa. Andini belum tahu kalau, Ralin dan Raksa menjalin sebuah hubungan. Ralin hanya ingin hubungannya dengan Raksa, menjadi privasinya sendiri.


"Iya, aku percaya" kata Ralin sembari menyodorkan segelas susu hangat yang tadi dibuatkannya didapur Andini. Wanita itu sudah seperti seorang istri dengan segala perhatiannya kepada suaminya.


Raksa tersenyum. Ralin sama seperti ibunya. Sama sama memberi Raksa kepercayaan. Sebisa mungkin, laki laki itu tidak akan mengecewakannya.


Bagi seorang laki laki, ketika wanitanya menaruh kepercayaan pada dirinya. Maka harga dirinyalah yang ia pertaruhkan.


"Makasih ya, Ra" kata Raksa sumringah.


"Nggak gratis"


Kening Raksa mengerut mendengar perkataan Ralin. Wanita itu meminta imbalan?.


Ralin terkekeh menyadari kebingungan laki laki itu. Raksa dengan wajah bingungnya terlihat begitu menggiurkan. Ingin rasanya, Ralin menerkam kekasihnya itu sekarang juga.


"Cium aku!" pinta Ralin sebagai imbalan.


Raksa menyentil dahi wanita cantik dihadapannya. Bisa bisanya Ralin meminta ciuman setiap saatnya. Benar benar menggemaskan.


Namun, Raksa hanya memberikan ciuman dikeningnya. Ciuman itu terasa menggetarkan hati Ralin. Hanya ada ketulusan yang Ralin rasakan saat Raksa didekatnya.


"Dimana pun dan bersama siapapun kamu. Hati kamu cuman milik aku" kata Ralin mendekatkan telinganya untuk merasakan detak jantung laki laki itu. Entah kenapa, rasanya begitu menenangkan.

__ADS_1


Kehadiran Raksa membuatnya lebih kuat menjalani hidup. Segala sesuatu yang dimiliki dan dilakukan oleh Raksa, terlihat menyenangkan dimata Ralin. Tanpa sadar, wanita itu sudah separuh jalan dalam menggantungkan hidupnya kepada Raksa.


Ralin pernah kecewa pada seseorang, tapi Raksa hadir menggantikan semuanya. Membuat kecewa itu menjadi bahagia. Sederhana namun tampak sempurna.


__ADS_2