Cinta Pejuang Al-Aqsha

Cinta Pejuang Al-Aqsha
CPA1: Pahlawan Gaza Hari Ini


__ADS_3

Afrizal terus berlari di antara reruntuhan gedung. Ia baru saja meninggalkan titik yang mendapat jatuhan beberapa bom dari jet tempur F-16 Israel.


Dengan mengenakan seragam loreng hitam dan biru gelap, kepala dan wajah ditutupi topeng kain hitam, berikat kepala khas milik Brigade Izzuddin Al-Qassam, Afrizal melewati medan penuh batu-batu bangunan yang hancur berserakan tidak teratur. Beberapa granat lempar menggantung di seputar pinggangnya. Tangan kanannya membawa sebuah benda seperti tongkat pendek tapi cukup gemuk ketebalannya.


Kali ini Afrizal mendapat tugas khusus. Sebanyak 15 tank sudah melewati perbatasan dan masuk ke daerah kantong yang diblokade itu. Pasukan tank Israel bergerak menuju ke daerah permukiman warga Palestina. Keberhasilan misinya kali ini akan menjadi penentu penting dalam perang di hari itu dan akan bisa menyelamatkan banyak nyawa warga sipil.


Di sisi lain, jet-jet tempur Israel secara membabi buta terus membombardir target-target yang mereka sebut bangunan atau posisi para pejuang Hamas. Padahal faktanya, untuk hari itu, semua yang menjadi target serangan udara adalah bangunan milik warga sipil.


Beberapa menit lagi waktu magrib akan tiba. Sementara langit mulai meredup warnanya seiring matahari yang sebentar lagi hilang dari pandangan.


Afrizal kini berada di balik reruntuhan sebuah gedung yang posisinya berada paling ujung di sisi utara Jalur Gaza. Ia berhenti sejenak dan berlindung di balik bebatuan. Ia memandang jauh ke depan, ke sebuah lahan kosong dekat perbatasan.


Suara menyeramkan dari mesin-mesin belasan tank baja menjadi musik mencekam bagi Afrizal. Ia melihat belasan tank Leopard bergerak maju laksana monster-monster baja tanpa nurani yang siap membantai Muslim Palestina di Jalur Gaza.


Jarak pasukan tank tinggal beberapa ratus meter lagi dari posisinya. Ia harus bertindak sekarang juga.


“Bismillah! Allahuakbar!” pekik Afrizal, lalu keluar dari persembunyian dan melakukan lari sprint menyongsong kedatangan barisan tank baja.


Setelah berlari sejauh seratus meter dan sebelum ada tentara Israel yang menembaknya dari tank, Afrizal melompat tiarap di tanah sambil tangan kanannya naik mengarahkan ujung tongkatnya ke langit.


Presss!


Setelah jempol tangan kanan itu menekan sebuah tombol, dari ujung tongkat melesat sinar merah terang naik tinggi ke langit. Sinar itu melesat miring ke atas posisi barisan pasukan tank Israel.


Boom!


Sinar itu pecah nyaring di udara.


Seeesst! Seeesst! Seeesst!


Namun setelah itu, puluhan suara nyaring roket-roket yang dilepas dari pangkalannya terdengar serentak dari berbagai tempat yang tidak terlihat. Hanya saja, tiba-tiba dari beberapa penjuru bermunculan puluhan roket, bahkan ratusan roket, yang melesat terbang ke udara dan menuju ke satu area. Area itu tidak lain adalah lokasi tempat belasan tank baja berada.


Blar! Blar! Blar...!


Roket-roket yang dilepaskan oleh para pejuang Brigade Izzuddin Al-Qassam dari posisi tersembunyinya itu menciptakan neraka bagi tank-tank Israel yang tidak berdaya mendapat hujan roket, lalu terciptalah ladang kehancuran.


Afrizal hanya memilih tiarap sedalam mungkin mencium bumi, tidak berani mengangkat kepalanya. Kedua tangannya menutup kedua telinganya. Medan di depannya seketika berubah menjadi rimba ledakan yang saling berlomba-lomba menghancurkan dan menyebarkan gelombang-gelombang api bergumpal hitam. Tank-tank baja seketika seperti pion-pion di atas papan catur yang dihantam gebrakan keras.


Setelah suara luncuran roket dan ledakan berhenti, sementara alam di depan sana masih tertutup asap tebal serta hamburan debu dan tanah, tiba-tiba dari beberapa sisi di luar medan bom bermunculan kelompok orang-orang bertopeng dan bersenjata. Dari dalam tanah pun berkeluaran sejumlah pasukan seperti bangkit dari dalam kubur, kemudian bergerak cepat menerobos kabut sisa ledakan.


Tar tar tar...! Boom! Boom!


Suara tembakan terdengar serentet-serentet yang disusul ledakan-ledakan sedang. Granat-granat dilempar ke dalam bangkai-bangkai tank yang dicurigai masih dihuni oleh prajurit-prajurit Yahudi Israel yang masih hidup.


Para tentara berpakaian loreng gelap dan bertopeng itu tidak lain adalah pasukan Brigade Izzuddin Al-Qassam yang muncul dari dalam tanah. Mereka telah lama bersiaga penuh, disiplin di mulut-mulut terowongan yang keberadaannya terjaga kerahasiaannya.


Sejenak, Afrizal mendongak dan menatap tajam ke daerah di depannya. Medan di depan mulai bisa terlihat. Seiring itu, pasukan perlawanan dari kelompok Hamas itu bergerak cepat dan kemudian menghilang masuk ke balik-balik gundukan tanah.


Tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi dari pasukan tank Israel. Afrizal berdiri perlahan.


Namun, tiba-tiba suara jet tempur terdengar begitu dekat. Afrizal cepat berbalik dan melihat ke langit senja. Terlihat sebuah jet F-16 terbang mendekat tepat ke arah angkasa di atas kepalanya.

__ADS_1


Set! Bluar!


Sebuat rudal ditembakkan ke posisi Afrizal.


Tubuh Afrizal terlempar terbang saat rudal jatuh beberapa puluh meter dari posisi berdirinya. Ia jatuh berdebam di tanah. Tubuh pemuda itu diam tidak bergerak.


Namun, dalam hitungan angka, tubuh Afrizal bergerak pelan, lalu bergerak berusaha untuk berdiri.


“Allahuakbar! Aaak...!” pekik Afrizal menahan sakit. Tubuh dalamnya serasa remuk bersama tulang-tulang yang terasa bercopotan.


Lagi-lagi suara jet tempur Israel terdengar mendekat memekakkan telinga.


Buru-buru Afrizal berlari kencang. Ia berlari menuju ke sebuah menara yang berdiri tinggi utuh, tapi bangunan masjid yang menjadi bagian utamanya, telah hancur parah.


Pesawat itu berlalu lewat jauh di atas kepala Afrizal tanpa melepaskan rudal. Hingga akhirnya Afrizal sampai di bawah menara.


Sepengetahuan Afrizal, di puncak menara masjid itu ada sebuah senjata antipesawat sederhana. Karenanya ia segera berlari menaiki tangga menara.


Sementara itu, kembali sebuah pesawat datang mendekat. Seolah-olah perang terjadi hanya antara Afrizal dan jet tempur Israel. Kembali, jet itu hanya lewat. Namun, jet lain segera datang mendekat seiring Afrizal yang terus berlari ke atas.


Setibanya di atas, memang ada sebuah senapan antipesawat yang sederhana untuk kelas perang sehebat saat itu. Afrizal segera meraihnya.


Set! Bluarr!


Belum lagi Afrizal mengoperasikan senjata serbu itu, sebuah rudal dari jet F-16 melesat cepat menghantam puncak menara.


Afrizal yang tidak terkena langsung, terpental ke luar jendela menara yang juga turut hancur. Tubuh Afrizal meluncur jatuh menuju reruntuhan bangunan masjid. Dipastikan tubuh Afrizal akan hancur menghantam bebatuan.


“Hupbleqelk...!”


Afrizal seketika gelagapan di dalam asinnya air laut yang gelap, setelah tubuhnya meluncur jatuh dari atas bagan. Ia telah bermimpi hebat di tengah laut sehingga tanpa sadar tubuhnya berguling ke samping dan jatuh dari lantai bambu tempat ia tidur.


Namun, sebagai seorang nelayan, pemuda berkulit hitam dan bertubuh kekar itu segera bisa menguasai dirinya. Ternyata ia sudah terbawa ombak laut malam sejauh beberapa puluh meter dari area kaki-kaki bagannya. Afrizal segera menguasai diri dan berenang menuju kaki bagannya.


Bagan adalah salah satu bangunan dari rakitan puluhan bambu di tengah laut berbentuk kotak dengan memiliki empat sudut kaki utama. Keempat kakinya terbuat dari kayu nibung yang lurus panjang menancap ke dasar laut. Bagan jenis ini tidak bisa berpindah-pindah tempat. Adapun bagan yang bisa berpindah-pindah tempat adalah bagan jerigen yang kakinya tidak menancap ke dasar, tapi mengapung dengan bantuan puluhan drum pelastik dan sebuah jangkar. Di bagian atas bagan dibuat lantai dari bambu dan papan secukupnya, serta sebuah rumah anjing untuk berteduh dan tidur. Bagian atas juga dilengkapi dengan dua tiang kayu yang menjulang tinggi. Di salah satu sisi tepian bagan, ada alat pemutar tali jaring yang berfungsi menurunkan dan menaikkan jaring besar dan lebar ke dalam air.


Afrizal akhirnya mencapai bagannya. Ia berhenti sejenak dengan tubuh sedada di dalam air dan tangan kirinya memegang bambu bagan. Tangan kanannya mengusap air di wajahnya. Di tatapnya langit yang mulai memutih samar. Dari kondisi langit, sebagai seorang nelayan, Afrizal tahu bahwa saat itu sudah mendekati waktu subuh. Ia juga memandangi sejenak tiga buah lampu petromak yang digantung tepat di bawah rumah anjing di tengah-tengah bagan. Lampu-lampu terang itu menggantug dengan tali, hanya beberapa meter di atas permukaan air laut yang berombak cukup tinggi.


Pemuda yang hanya bercelana training biru itu segera naik ke kaki-kaki bambu bagan, lalu memanjat naik ke atas mencapai lantai.


“Allaaahuakbar! Al-Aqsha haqquna! (Allah Maha Besar! Masjid Al-Aqsha hak kami!).”


Tiba-tiba Afrizal berteriak keras kepada luasnya laut dan langit saat berdiri di tepian bagan. Pemuda berusia 25 tahun itu lalu tertawa bangga, ia tidak menggubris dingin yang tercipta oleh angin laut yang membelai tubuh basahnya.


“Mimpi perang di Jalur Gaza? Wow! Subhanallah! Hahaha! Mimpi perang di Palestina!”


Afrizal berbicara sendiri dengan raut wajah yang sumringah dan menyiratkan rasa bangga. Tiba-tiba ia menggerak-gerakkan tubuh atasnya dengan kedua tangan mengepal dan menekuk di depan dada. Afrizal berjoget tanpa musik. Irama jogetnya seolah terdengar di dalam imajinasinya.


“Hahaha!”


Tidak lama Afrizal berjoget, hingga akhirnya ia berhenti dan tertawa keras sendiri, menunjukkan bahwa ia begitu bahagia.

__ADS_1


Ia lalu berjalan di titian sebatang bambu untuk sampai ke lantai bambu di sekitar rumah mininya. Setibanya di rumah mini itu, Afrizal duduk dan memperhatikan ke bawah, ke dalam air laut yang diterangi oleh lampu petromak. Tampak telihat ada beberapa ikan ukuran kecil yang berenang berputar-putar di bawah cahaya lampu.


“Sepi,” ucapnya lirih. Lalu batinnya berkata, “Pas saya jatuh pasti ikannya pada kabur, hahaha.”


Afrizal lalu mengambil sehelai handuk kemudian mengelap kepala dan badannya yang basah. Ia mengambil timba dari ember hitam ukuran sedang yang diikatkan pada seutas tambang. Ember itu dilempar ke bawah bagan. Dengannya ia mengambil air laut. Dengan air laut itu kemudian ia melakukan praktik wudu tanpa melakukan kumur-kumur.


Usai berwudu, Afrizal meraih baju kaos dan memakainya. Tapi, tetap dengan celana training yang masih basah, ia berdiri bertakbir memulai salat di atas selembar triplek tebal yang bersih dari bekas-bekas sisik ikan. Jenis bagan tancap membuat bagan itu tidak goyang oleh gelombang, sehingga Afrizal bisa salat dengan tenang. Berbeda jika bagan perahu atau jerigen yang tidak pernah berhenti bergoyang dimainkan oleh ombak.


Tepat setelah dapat dua rakaat, sayup-sayup suara azan subuh terdengar di kejauhan, bersumber dari masjid dan musala di daratan di sisi timur sana, tepatnya di kaki Gunung Rajabasa.


Masuknya waktu subuh membuat Afrizal meneruskan salat sunnah dua rakaat yang dilanjutkan dengan iqamah dan salat subuh. Setelah berzikir, ia pun berdoa.


“Ya Allah, izinkanlah hamba yang belum tahu sedikit pun tentang Palestina dan Masjid Al-Aqsha, kecuali hanya mendengar ceritanya saja, bisa merasakan debu-debu jihad pembebasan Masjid Al-Aqsha. Ya Allah, izinkanlah hamba bisa salat di dalam Masjid Al-Aqsha, meskipun harus dipenjara dulu oleh tentara Zionis Israel.”


Itulah salah satu baris doa Afrizal dari sekumpulan doanya yang selalu ia panjatkan kepada Allah.


Dan kini, waktunya Afrizal beraksi. Ia masuk ke dalam rumah mininya lalu menarik naik dua lampu petromak dan membiarkan satu tetap tergantung di atas air.


“Alhamdulillah!” pekik Afrizal tiba-tiba.


Pekik kesenangan itu muncul karena Afrizal melihat ada beberapa bayangan ikan besar sempat terlihat di dalam air. Ikan itu tidak sekedar melintas, tapi berputar di bawah cahaya lampu.


“Ya Allah, semoga along,” ucapnya lirih tapi gembira.


Along adalah istilah yang dipakai oleh nelayan Bugis yang berarti dapat ikan banyak yang melimpah.


Afrizal segera keluar dari rumah mini dan pergi meniti sebatang bambu untuk sampai ke alat putaran tali jaring. Alat itu berbentuk kayu besar bulat panjang, tempat melilit empat utas tambang besar yang ujung lainnya terulur kencang ke dalam laut di empat titik bujur sangkar. Di tengah-tengah kayu besar itu terdapat kayu-kayu pegangan untuk memutar.


Dengan mengerahkan tenaga yang besar, secara perlahan Afrizal menarik tuas-tuas kayu secara bergantian sehingga kayu panjang itu berputar perlahan melilit naik tali yang terulur kencang ke dalam air.


Suara deritan bambu bagan terdengar setiap kali tali bergerak naik. Demikian beratnya beban yang ditarik, membuat Afrizal pun menggunakan jasa kakinya untuk menahan tuas agar tidak berputar balik. Sebab jika berputar balik, beban akan turun lagi dengan cepat.


Setelah sekitar empat menit mengerahkan tenaga besar, dari dalam air di bawah bagan muncul perlahan empat batang bambu panjang yang saling menyambung naik ke permukaan. Semakin naik bujur sangkar bambu itu keluar dari dalam air, maka tampaklah dinding jaring yang ikut naik, sehingga terbentuk medan air yang terkurung oleh jaring hitam yang berpori-pori kecil. Ikan-ikan atau binatang laut yang terkurung oleh dinding jaring yang besar itu, sudah sangat pasti tidak akan bisa lolos, sebab jaring itu sudah tidak memiliki lubang lagi.


Setelah keempat bambu yang merupakan bibir jaring sudah merapat di atas bagan, Afrizal mengunci tuas putaran agar tidak berputar balik. Maka, di bawah bagan yang sudah terkurung jaring, terlihat sejumlah ikan berenang panik, tapi tidak bisa ke mana-mana.


Sejenak Afrizal memperhatikan ke dalam jaring dan bertanya kecil, “Mana ikan besarnya?”


Memang, Afrizal tidak melihat adanya ikan besar yang berenang di dalam air yang sudah terkurung. Yang tampak hanya beberapa ikan kecil dan beberapa ekor cumi-cumi. Tapi, jaring yang masih tenggelam masih besar, belum semuanya diangkat.


“Ah, itu dia!” pekik Afrizal akhirnya.


Dari dalam air yang terkurung jaring muncul bayangan satu ikan besar. Meski hanya satu yang terlihat, Afrizal dengan senang segera bergerak ke sana dan ke sini, menarik beberapa tali pendukung, sehingga sebagian demi sebagian jaring terangkat naik lebih banyak. Hingga akhirnya, semua jaring hitam besar itu sudah terangkat.


Kini terlihatlah hasil tangkapan jaring bagan Afrizal. Ada dua ekor ikan sebesar kaki orang dewasa bersama sejumlah ikan kecil dan cumi-cumi.


Sebegitu senangnya, Afrizal kembali berdiri sambil berjoget menggerak-gerakkan bahunya seperti tadi, seolah sedang terhanyut oleh musik yang memabukkan. Setelah tertawa, barulah ia melakukan sujud syukur.


“Alhamdulillah, alhamdulillah! Hahaha!” ucap Afrizal bertahmid berulang-ulang.


Setelah sekian lama, akhirnya ia mendapatkan juga tangkapan besar. Terakhir ia along ikan pada lima bulan yang lalu. Belakangan kondisi laut selalu bercuaca buruk dan persediaan ikan di Laut Kalianda itu seolah telah habis. (RH)

__ADS_1


__ADS_2