Cinta Pejuang Al-Aqsha

Cinta Pejuang Al-Aqsha
CPA 18: Tausiyah Al-Wahn


__ADS_3

Darmawan memelankan motornya ketika memasuki jalan gang samping masjid. Beberapa mobil baru saja keluar dari gang tersebut, termasuk sejumlah pengendara sepeda motor.


Ketika masuk ke dalam gang, Darmawan dan Irwan justru sampai di lingkungan yang lebih luas, karena ada tanah lapang yang bisa dipakai main sepak bola anak-anak.


“Itu Ustaz Taufik!” kata Irwan seraya menunjuk ke halaman sebuah rumah besar yang ada di pinggir lapangan.


Beberapa puluh meter ke depan, tampak ustaz muda Taufik Karomah baru membuka pintu mobil antarjemputnya. Ada seorang muslimah bercadar yang berjalan bersama Ustaz Taufik dan lebih dulu masuk ke dalam mobil yang disusul olehnya. Keduanya duduk berdampingan di jok tengah, tampak mesra.


Seorang pria separuh baya berpakaian serba putih dan berpeci putih turut mendampingi Ustaz Taufik, tapi tidak turut masuk ke mobil. Pria berkulit putih berjenggot jarang dan sedikit itu adalah yang empunya rumah, yaitu Ustaz Abu Rosyid.


Darmawan buru-buru menjalankan motornya mendekati mobil Ustaz Taufik.


“Assalamu ‘alaikum, Ustaz!” salam seorang pengendara motor kepada Ustaz Taufik, ia juga meninggalkan rumah tersebut.


“Wa ‘alaikum salam!” jawab Ustaz Taufik.


Sementara mobil sedan yang lain telah bergerak pergi meninggalkan halaman rumah yang luas.


 “Assalamu ‘alaikum, Ustaz!” salam Darmawan ketika motornya berhenti tidak jauh dari mobil.


“Wa ‘alaikum salam warahmatullahi wa barakatuhu!” jawab Ustaz Taufik dan Ustaz Abu Rosyid.


Sejenak Ustaz Taufik memandangi kedua pemuda berhelm tersebut, seolah sedang mengingat-ingat siapa gerangan. Sedangkan bagi Ustaz Abu Rosyid, ia tidak mengenal keduanya.


“Akhi (Saudara) Darmawan?” terka Ustaz Taufik yang sudah duduk di kursi tengah.


“Benar, Ustaz!” jawab Darmawan lantang, senang bisa dikenali. “Acaranya sudah bubar ya?”


“Iya, sudah selesai. Tapi telatnya lama sekali?” tanya Ustaz Taufik.

__ADS_1


“Iya, Ustaz. Maklum, ada insiden kecelakaan,” jawab Darmawan cengengesan.


“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un!” ucap kedua ustaz tersebut bersamaan.


“Kalian kecelakaan?” tanya Ustaz Abu Rosyid.


“Iya, Ustaz. Alhamdulillah kami kecelakaan sendiri tanpa melibatkan pihak lain,” jawab Darmawan.


“Ustaz Abu, tolong disantuni mereka ini. Ana yang undang mereka datang ke mari,” kata Ustaz Taufik kepada Ustaz Abu Rosyid. Lalu katanya kepada Darmawan dan Irwan, “Kalian singgah dulu ke rumah Ustaz Abu Rosyid, makan dulu. Dan kalian perlu diurut-urut sehabis jatuh, nanti badan bisa pada sakit jika tidak diurut.”


“Ayo, mari masuk ke rumah!” ajak Ustaz Abu Rosyid kepada Darmawan dan Irwan.


“Ana berangkat, Ustaz. Assalamu ‘alaikum!” kata Ustaz Taufik kepada Ustaz Abu Rosyid.


“Wa ‘alaikum salam warahmatullah!”


Sopir yang mengantar Ustaz Taufik mulai menjalankan mobilnya.


“Masuk, jangan sungkan. Darmawan dan siapa?” kata Ustaz Abu Rosyid.


“Irwan, Ustaz,” jawab Irwan saat ditanya.


Sementara di ruang tamu itu, seorang pria muda sedang membereskan sisa-sisa perlengkapan makan dan minum dari tamu-tamu sebelumnya.


“Silakan duduk dulu!” kata Ustaz Abu. Lalu ia berkata kepada pemuda yang membereskan meja, “Gofur, minta Umi siapkan makan untuk tiga orang!”


“Iya, Bi,” jawab pemuda yang sedikit lebih belia dari Darmawan dan Irwan. Pemuda bernama Gofur tersebut lalu masuk sambil membawa senampan cangkir kotor.


“Kami sebagai para pembela kebebasan Masjid Al-Aqsha, sangat bersyukur jika ada para pemuda yang mau memilih meluangkan waktunya untuk berjihad dalam perjuangan ini,” kata Ustaz Abu kepada kedua tamu terlambatnya itu.

__ADS_1


Darmawan dan Irwan menyimak dengan serius ucapan ulama berpembawaan karismatik tersebut.


“Sebab, orang-orang mudalah yang memiliki energi ledak yang berapi-api, dan memiliki inovasi yang lebih maju ke depan dibandingkan kaum senior. Dan itu, sudah kalian tunjukkan pada hari ini. Dengan semangat lillah (karena Allah) kalian datang ke mari, ke tempat yang kalian belum pernah kunjungi. Meski ditimpa ujian kecil dalam perjalanan, kalian tetap menyempurnakan niat kalian dengan sampai di rumah Ustaz. Dan Ustaz yakin seribu persen, karna semangat itu pula, kalian belum sempat makan siang,” ujar Ustaz Abu.


Darmawan dan Irwan jadi tertawa mendengar analisa Sang Ustaz.


“Ustaz harap bahwa hari ini bukan yang terakhir bagi kalian, tapi awal atau tolakan berikutnya bagi kalian benar-benar berlari di trek yang haq (benar).”


“Insyaallah, Ustaz,” sahut Darmawan dengan nada mantap.


“Permasalahan minimnya umat Islam mau menceburkan dirinya ke ranah jihad karena faktor penyakit al-wahn. Kalian tahu penyakit macam apa itu?” tanya Ustaz Abu.


Darmawan mengangguk, tapi Irwan pada saat yang sama bertanya, “Penyakit apa itu, Ustaz?”


Ustaz Abu Rosyid menjawab pertanyaan Irwan dengan kalimat berbahasa Arab yang merupakan penggalan kalimat dari sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.


“Artinya, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, apa itu wahn? Rasulullah menjawab, cinta dunia dan takut mati. Hadits riwayah Imam Abu Daud dan Ahmad dari sahabat Tsauban radhiyallahu ‘anhu.


Irwan manggut-manggut. Ia sebenarnya sering mendengar penyakit “cinta dunia dan takut mati” itu, tapi tidak akrab dengan istilah Arabnya. Jawaban Ustaz Abu Rosyid menyegarkan kembali ingatannya, demikian pula dengan Darmawan yang mengaku sudah tahu pengertian dari penyakit al-wahn tersebut.


“Kalian tentu tahu, kenapa Yahudi begitu langgengnya menjajah Al-Quds yang merupakan bagian dari Negeri Syam? Padahal di sana, bertabur negara-negara Arab yang notabene penguasa dan rakyatnya adalah orang Islam. Lebih memprihatinkan lagi, sesama satu akidah saling perang dan saling bunuh. Apa alasannya? Tidak ada jawaban lain selain cinta dunia. Para penguasa itu ingin berkuasa, ingin memiliki dunia sebanyak nafsu yang mereka kembang biakkan. Padahal, tangan mereka hanya mampu meraup satu pelukan saja. Membela harga mati kesucian Al-Aqsha? Entah diletakkan dalam prioritas keberapa ratus. Mereka pura-pura lupa bahwa kematian itu akan datang meskipun mereka berlindung di dalam bunker baja terkuat di dunia sekalipun. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Quran Surat An-Nisaa ayat 78.”


Ustaz Abu Rosyid lalu membaca ta’awuz, kalimat perlindungan dari gangguan setan. Setelah itu membaca ayat Al-Quran Surat An-Nisaa, surat keempat di dalam Al-Quran, ayat ke-78.


“Di mana saja kamu berada. Kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh,” kata Ustaz Abu membacakan terjemahan ayat yang dibacanya. “Siapa sih orang Arab yang tidak mengerti bahasa Arab di Al-Quran. Mereka tahu ayat ini, tapi mereka pura-pura tidak tahu dan pura-pura lupa, karena penyakit al-wahn-nya sudah akut di dalam diri mereka. Ulama-ulama penegak sunnah yang lantang mengkritik para bangsawan itu, justru akan berakhir di dalam penjara atau diasingkan dari komunitas ulama yang dekat dengan para penguasa.”


“Tapi Ustaz, apakah semua ulama di negeri-negeri Timur Tengah itu semuanya ulama yang manut pada penguasa?” tanya Darmawan.


“Di dalam Al-Quran Allah selalu mengatakan di banyak ayat, illa qolilan, kecuali sedikit. Tidak semuanya, tetapi masih ada yang benar-benar beriman dan bisa membedakan antara yang hak dan yang batil. Makanya, kita tidak perlu heran ketika para mujahid di jalan Allah jumlahnya sedikit, bahkan bagi kita jumlahnya kurang, sampai-sampai banyak pos-pos yang tidak memiliki SDM. Akan ada dari Muslim ini yang memiliki semangat jihad yang tinggi karena Allah. Namun, ketika mereka mengetahui bahwa di dalam perjuangan yang mereka pilih itu jumlah orangnya sangat sedikit, mereka seketika pesimis dengan perjuangan tersebut dan pada akhirnya muter pesyuk. Mereka berpikir, tidak adanya orang akan membuat perjuangan itu gagal dan hanya sia-sia semata....”

__ADS_1


“Maaf, Ustaz. Muter pesyuk itu tadi apa?” tanya Darmawan memotong penjelasan Ustaz Abu.


“Mundur teratur penuh khusyuk,” jawab Ustaz Abu yang membuat kedua pemuda itu tertawa, disusul tawa Sang Ustaz. (RH) 


__ADS_2