Cinta Pejuang Al-Aqsha

Cinta Pejuang Al-Aqsha
CPA 16: "Orang Gila"


__ADS_3

Akhirnya kini Afrizal sendiri. Karahang sudah melepasnya hingga di batas desa. Sahabatnya tidak mau sampai di batas kota, cukup di batas desa saja. Dalihnya, dia tidak mau seperti Tommy J. Pisa yang harus menunggu di batas kota.


Rombongan anak-anak yang tak henti-hentinya meneriakkan “Al-Aqsha” di belakang langkahnya, telah kembali pulang untuk bermain.


Kini Afrizal berjalan seorang diri dan hanya ditemani oleh semangatnya yang tinggi dan keimanannya yang teguh dalam berjuang demi membela masjid suci ketiga umat Islam dunia, Masjid Al-Aqsha.


Terangnya siang yang menuju waktu ashar, mulai menarik keluar buliran-buliran bening air keringat yang bergulir di wajah pesisirnya dan di balik pakaiannya. Debu jalanan pun secara halus mulai merangkul di kulit dan pakaiannya. Namun, pikiran positif selalu ia gugah dan menjadi penyemangat langkah jihadnya.


Pemuda nelayan ini selalu berkeyakinan bahwa keringat yang keluar mengalir saat di dalam misinya itu, akan menjadi aliran yang suci di sisi Allah. Debu-debu jalanan yang nantinya pasti akan menebal di wajah, badan, kaki dan pakaiannya, ia anggap tak lain adalah debu-debu jihad.


Meski kini Afrizal berjalan sendiri, sorot mata warga yang dilaluinya atau warga yang melaluinya dengan kendaraan, memperhatikannya. Mereka hanya melihat Afrizal berjalan dan berlalu. Ada yang diam, ada yang bertanya kepada sesama warga, dan ada yang komentar. Seperti itu di sepanjang jalan. Namun, Afrizal tetap teguh berjalan dan berjalan.


Afrizal mulai jauh meninggalkan desanya, tapi belum keluar dari kotanya.


Ketika azan salat Ashar berkumandang, ia mampir di masjid terdekat. Di masjid tersebut, Afrizal turut salat berjemaah. Usai salat, ia berinisiatif berdiri di pintu masjid dan membagikan kertas berisi tulisan tentang Masjid Al-Aqsha kepada jemaah yang ada. Usai itu, ia kembali berjalan.


Tujuan Afrizal adalah Pelabuhan Bakauheni. Ia ingin menyeberang ke Pulau Jawa.


Kawasan pesisir telah Afrizal tinggalkan. Kini menyusuri jalan raya perkampungan yang cukup kecil. Kawasan permukiman ia lalui, kebun-kebun dan sawah-sawah masih banyak dimiliki oleh warga di kaki Gunung Rajabasa itu. Tak di mana-mana, semua memperhatikan Afrizal berlalu.


“Hahaha!” tiba-tiba terdengar suara tawa sejumlah anak di belakang Afrizal.


Afrizal berpaling ke belakang. Dilihatnya ada dua anak perempuan dan satu anak laki-laki kampung itu sedang mengikutinya dengan tingkah kekanakannya. Usia mereka masih di bawah umur sekolah dasar. Afrizal hanya tersenyum kepada mereka. Ia lalu berhenti dan memberi anak-anak itu kertas Al-Aqsha.


“Anak-anak pintar, ini jangan dibuang atau dirobek, kasih ke orangtua kalian,” pesan Afrizal lembut sambil senyum lebar.


“Iya! Iya! Iya!” teriak mereka sambil tertawa sesamanya.


Selanjutnya Afrizal kembali berjalan. Ketiga anak itu turut mengikuti dengan riang.


“Yuni! Bilo! Pulang!” teriak seorang anak lelaki usia belasan tahun dari seberang jalan, menghardik ketiga anak kecil yang membuntuti Afrizal. Ia memegang sebuah bola dan ia bersama keempat temannya sebayanya. Ia kembali membentak anak-anak kecil di belakang Afrizal, “Pulang kataku! Abang bilang Bapak nanti!”


Dibentak galak oleh kakaknya, dua anak segera berbalik lari. Anak satunya yang ditinggal juga langsung lari terbirit-birit.


Afrizal membiarkan apa yang terjadi dari anak-anak itu. Ia terus berjalan.


“Hahahak!” mendadak anak-anak belasan tahun itu tertawa bersama sambil berlarian menyeberang jalan dan mengikuti Afrizal.


Mereka bahkan berjalan bersama Afrizal, di sisi, depan dan belakangnya.

__ADS_1


“Bang, mau ke mana?” tanya anak lelaki yang membawa bola sambil jalan di sisi kanan Afrizal, ia mengenakan kaos bola klub Inggris, Tottenham Hotspurs berwarna putih. Namanya Syamsul.


“Ke Al-Aqsha!” jawab Afrizal mantap.


“Al-Aqsha apaan, Bang?” tanya anak lain yang paling hitam dan kurus, sehingga bajunya terkesan kebesaran. Namanya Akil.


“Masjid suci umat Islam dunia dan kiblat pertama di dalam Islam,” jawab Afrizal. “Kalian bisa baca?”


“Ya bisalah, Bang! Kita kelas empat!” sahut anak yang gemuk dengan wajah sewot.


“Ini, kalian baca dan kertasnya kasih ke orangtua,” kata Afrizal sambil memberikan kelima anak itu masing-masing selembar kertas.


Dari halaman sebuah rumah muncul sekelompok anak perempuan yang juga belasan tahun usianya. Di antara mereka ada yang membawa jalinan karet panjang untuk permainan lompat tali. Anak perempuan tanggung bertubuh paling tinggi membawa sebilah kayu kecil tapi panjang. Mereka bergabung dengan Syamsul dan lainnya.


Afrizal semakin ramai dikerumuni anak-anak.


“Syamsul, pendekar dari mana?” tanya anak wanita yang membawa kayu, namanya Yuyu.


“Pendekar?!” teriak Syamsul menanggapi dengan ekspresi berlebihan dan mata mendelik.


“Memang kalau bukan pendekar, apaan?” tanya anak yang membawa karet sambil berjalan melompat tali seorang diri. Namanya Dini.


“Hahaha...!” tertawalah Akil dan teman-temannya begitu ramai.


Afrizal yang tidak melihat Akil memberi bahasa isyarat hanya turut senyum-senyum sambil menengok ke belakang tak mengerti arti tertawa mereka.


“Bang, dibilang sinting sama Akil!” adu Yuyu kepada Afrizal.


Pengaduan itu membuat ada sedikit rasa tak enak yang melanda hati Afrizal.


“Ah, dibilang gila pun ini sudah risiko, sabar Zal. Mereka hanya anak-anak,” membatin Afrizal seraya tetap tersenyum menyikapi tingkah anak-anak itu. Lalu katanya kepada anak-anak perempuan, “Ah, ini untuk kalian, baca setiap malam!”


Afrizal memberikan kertas kepada keempat anak perempuan yang baru bergabung.


“Setiap malam? Abang ada-ada aja, memang pelajaran sekolah?” kata Dini sambil tertawa memandangi Afrizal.


Afrizal hanya tertawa.


“Cieee! Dini mesraaa!” sorak Yuyu mengejek.

__ADS_1


“Cieee!” sorak yang lainnya kompak yang membuat Dini berubah jadi naik pitam.


“Hei! Siapa yang cemburu? Siapa yang cemburu, hah!” bentak Dini sambil bergerak ke sana ke mari hendak memukul teman-temannya dengan kayu miliknya, tapi anak-anak itu segera bubar menjauh sambil tertawa-tawa.


Setelah Dini tidak lagi mengejar, mereka kembali berkumpul mengiringi perjalanan Afrizal.


“Bang, Abang dari mana sih?” tanya Syamsul.


“Dari Maja,” jawab Afrizal.


“Maja di mana?” tanya Syamsul lagi tidak tahu.


“Huuu, Maja saja tidak tahu!” ledek Yuyu. “Maja yang ada Pantai Batu Kapal, tempat kita goyang, hahahak!”


“Artis dangdut tenggelam mah tahunya Batu Kapal!” ejek Akil juga yang didukung dengan tawa anak laki-laki.


“Bang! Abang mau jalan kaki ke Al-Aqsha. Memangnya Al-Aqsha itu di mana?” tanya anak yang gemuk.


“Masjid Al-Aqsha itu adanya di Palestina, negeri para nabi, tempat Nabi Muhammad isra dan mi’raj. Dari situ, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dinaikkan ke langit ketujuh!”


Afrizal dengan senang dan semangat menjelaskan menjawab pertanyaan tersebut.


“Palestina itu di mana?” tanya Dini.


“Timur Tengah,” jawab Afrizal.


“Timur Tengah itu di mana?” Kali ini yang bertanya sama dan kompak beberapa anak.


Afrizal jadi tersenyum lebar.


“Jauuuh!” jawab Afrizal sambil memberi gerakan tangan yang menunjuk nun jauh ke sana, entah ke mana.


“Di luar negeri?” tanya Syamsul.


“Iya.”


“Lebih jauh dari Jepang?” tanya Syamsul lagi.


“Iya.”

__ADS_1


“Wah! Abang benar orang gila!” (RH) 


__ADS_2