
Matahari terus naik pada ketinggian 45 derajat. Teriknya mulai menyengat kulit. Meski demikian, tapi itu tidak berlaku bagi Afrizal yang duduk di potongan kayu besar. Bercelana training hitam, berjaket kuning lusuh, dan bercaping ala petani dusun, ia bekerja membelah pokok-pokok bambu yang sudah ia gergaji sebelumnya dengan panjang dua jengkal. Tangan kokohnya lihai mengayunkan kapaknya kepada bambu-bambu tua itu.
Suara debur ombak menabrak karang dan hamparan pantai menjadi musik kesehariannya sebagai seorang nelayan yang tinggal di pinggir laut. Terik mentari yang mulai menyengat, tidak lagi terasa panas tertutupi oleh kesejukan angin pesisir di bawah kaki Gunung Rajabasa.
Lidah-lidah ombak yang datang harus berhenti beberapa puluh meter dari kaki Afrizal, lalu kembali surut dan memasang ancang-ancang untuk mendaki tanah pantai yang menanjak itu lagi. Selalu seperti itu jika memandang ombak pantai di kala surut.
Tampak beberapa orang di sekitar pantai sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Beberapa ratus meter di wilayah air, tampak pula dua lelaki pemancing gurita sedang menjelajah di gugusan karang mencari mangsa.
Di sekitar beberapa perahu yang ditambatkan di sebuh tonggak bambu, tiga anak-anak yang sudah putus sekolah bermain-main berenang hanya memakai celana ******. Sesekali mereka naik ke perahu yang kosong lalu melompat ke air dengan berbagai gaya. Suara jerit dan tawa mereka menembus irama pantai sampai ke telinga Afrizal.
Sementara di atas tanggul, satu keluarga dari kota sedang berdiri berkumpul menikmati rasa dan pemandangan pantai. Kebersihan kulit wajah dan model pakaian bagus yang mereka kenakan menunjukkan, mereka tidak berasal dari kota pesisir itu. Tadi pagi pun, ketika Afrizal pulang dari pelelangan, mereka sudah ada untuk melihat keramaian pantai di pagi hari, saat para nelayan dan pedagang ikan melakukan transaksi kecil.
“Zal!” teriak Karahang memanggil saat melihat keberadaan Afrizal. Teriakannya mengalahkan suara debur ombak di pantai.
Panggilan itu membuat Afrizal berhenti mengapak dan menengok ke belakang. Dilihatnya Karahang datang dengan wajah yang bersih dan rambut masih belum kering dari basah. Afrizal hanya tersenyum melihat kedatangan sahabatnya itu.
“Wih! Biasanya jam satu kamu baru cantik, Hang. Mandi basah kamu, ya?” tanya Afrizal setengah berseloroh.
“Perhatian sekali kamu terhadapku, Izal,” jawab Afrizal sambil tersenyum lebar. “Kalau tidak basah, bukan air yang kita pakai bersiram, hahaha!”
Karahang yang mengenakan levis biru berbaju kemeja hijau itu lalu duduk di bongkahan batu tanggul yang sudah rusak oleh terjangan ombak besar di masa lalu. Tangan kanannya sudah memegang ponsel lebarnya.
__ADS_1
“Izal, ada berita menarik tentang Palestina. Kamu wajib baca,” kata Karahang sambil menyentuh-nyentuh layar ponselnya dengan jari telunjuknya.
“Berita apa?” tanya Afrizal. “Bacalah!"
“Aktivis HAM berjalan kaki dari Swedia dukung rakyat Palestina,” kata Karahang membaca judul berita di ponselnya yang bagus.
“Swedia itu di mana, Hang? Asia kah?” tanya Afrizal.
“Eropa,” jawab Karahang.
“Dengarkan! Ankara, MINA – Seorang aktivis Yahudi Swedia melakukan perjalanan panjang dari negaranya ke Palestina untuk meningkatkan kesadaran tentang pelanggaran HAM di wilayah yang diduduki. Benjamin Ladraa, 25 tahun, melintasi Jerman, Austria, Slovenia, Kroasia, Serbia, dan Bulgaria, hingga mencapai Istanbul pekan lalu, telah tiba di provinsi barat laut Duzce, Turki, pada Ahad, 15 April. Ladraa bertekad untuk melewati Suriah dan Lebanon demi sampai ke Palestina. Jika saya tidak bisa masuk ke Palestina, saya akan mencoba memberi tahu media, kata dia. Ladraa mengatakan, dia sangat tersentuh saat berkunjung ke Palestina selama tiga pekan pada April tahun lalu, sehingga dia memutuskan untuk memberi tahu dunia mengenai situasi di Palestina.”
Karahang berhenti sejenak. Ia mencoba menarik napas dalam-dalam. Lalu ia melanjutkan membaca seperti pembaca berita nasional.
“Saya terkejut dengan apa yang saya lihat di sana. Di sepanjang jalan, tentara membawa senapan mesin M-60. Saya ingin melakukan sesuatu untuk meningkatkan kesadaran tentang pelanggaran hak asasi manusia di Palestina, ujar Ladraa. Masalah Palestina bukanlah masalah agama. Masalah utamanya adalah hak asasi manusia. Bukan hanya warga Gaza, tetapi semua orang Palestina berada di bawah tekanan dan mereka semua menderita. Itulah mengapa saya berusaha menarik perhatian dunia terhadap penderitaan warga Palestina, tambah dia. Selama melakukan perjalanan hampir delapan bulan, Ladraa berusaha memberitahukan pada orang-orang soal pendudukan terhadap Palestina dan mengilhami lebih banyak orang untuk berkampanye demi perubahan. Dia menerbitkan foto-foto perjalanannya di akun Facebook dan Instagram pribadinya dengan tanda pagar #WalkToPalestine. Ladraa diperkirakan akan tiba di Ankara pekan depan dan akan menyelesaikan perjalanannya pada Juni atau Juli.”
“Delapan bulan jalan kaki? Gila tuh orang!” kata Afrizal dengan kening berkerut.
“Kamu sendiri mau jalan kaki berapa tahun, Zal?” tanya Karahang.
__ADS_1
Afrizal tidak langsung menjawab. Dia termenung sambil menatap sahabatnya. Agak lama Afrizal terdiam menatapnya, Karahang jadi berpikir yang tidak-tidak.
“Zal! Woi, Zal!” panggil Karahang agak berteriak.
“Iya,” jawab Afrizal bereaksi yang membuat Karahang lega.
“Saya kira kamu disenggol setan laut,” kata Karahang.
“Orang itu kan Yahudi, tapi dia bisa peduli sama Palestina. Gilanya lagi, dia jalan delapan bulan. Saya jadi bertanya-tanya, Hang. Orang bukan Muslim aja bisa segila itu bela orang Palestina, kenapa kita orang Islam gak bisa gila membela Palestina, apalagi membela Masjid Al-Aqsha yang jelas-jelas itu milik kita, milik kamu juga, Hang!”
“Memang, Zal. Kalau kamu mau terkenal, kamu harus berbuat yang gila, yang orang lain tidak ada yang melakukannya. Sama seperti si Ladraa itu. Karena, menurut saya, kalau orang sudah terkenal, bicara tentang cara main gundu saja banyak yang mendengarkan. Kamu mau bicara tentang Masjid Al-Aqsha, kalau kamu tidak menarik perhatian, siapa yang mau mendengarkan. Makanya, saya dukung kamu jalan kaki seperti si Ladraa itu. Nah, nantinya, saya yang pakai baganmu.”
“Kamu seperti orang pintar, Hang. Tapi kenapa ujung-ujungnya kamu seperti mengincar bagan saya?”
“Hahaha!”
Tertawalah Karahang.
“Sampai tadi malam, ikan masih berbondong-bondong ke jaring baganmu. Sangat rugilah kalau rezeki dari Allah ditinggal. Selagi kamu pergi, biar saya yang pakai dan rawat baganmu. Biar nanti 20 persen hasilnya saya beri ke emakmu. Biar nanti baganku, Rustam yang pakai, daripada dia kerjanya main gitar sampai tengah malam di batu kuntilanak itu sama rombongan Jaya, yang kerjanya cuma cari tempat joget di dangdutan. Saking candunya sama joget, dangdutan di sunatan Kampung Dalam didatangi. Baru tahu rasa kalau kena ribut sama yang punya kampung,” kata Karahang yang berujung dengan nada agak emosi. “Kapan kamu akan berangkat?” tanya Karahang.
“Insyaallah usai salat Jumat nanti,” jawab Afrizal. “Saya harus persiapkan dulu beberapa perlengkapan. Saya sudah pesan Pak Sukur untuk buatkan saya bendera Palestina dan Indonesia ukuran kecil. Nah, nanti benderanya saya pasang di belakang.” (RH)
__ADS_1