
“Di dalam sebuah hadits Imam Ahmad disebutkan bahwa sahabat Abu Dzar Al-Ghifari bertanya kepada Rasulullah. ‘Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama diletakkan oleh Allah di muka bumi?’ Beliau bersabda, ‘Al-Masjid Al-Haram’. Abu Dzar bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’. Beliau bersabda, ‘Kemudian Masjid Al-Aqsha’. Berkata Abu Mu’awiyah, ‘Yakni Baitul Maqdis’. Abu Dzar bertanya lagi, ‘Berapa lama antara keduanya?’ Beliau menjawab, ‘Empat puluh tahun’.”
Usta Taufik lalu terdiam sejenak. Kemudian ia melanjutkan.
“Pondasi Masjid Al-Aqsha diletakkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala sejak zaman Nabi Adam ‘Alaihissalam. Para ikhwan masih ingat Nabi Adam?”
“Masiiih!” jawab jemaah kompak, terutama di barisan ibu-ibu pengajian plus ibu-ibu arisan.
“Dalam kurun waktu sekian lama, bangunan itu rusak dan runtuh dimakan waktu. Areal tanah sekitar Masjid Al-Aqsha juga termasuk ke dalam kawasan masjid tersebut. Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam salat di tanah itu, bagian Masjid Al-Aqsha. Ibnul Qayyim Al-Jauzy menyebutkan, Masjid Al-Aqsha dibangun kembali di atas pondasinya oleh cucu Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, yakni Nabi Yaqub bin Ishaq bin Ibrahim ‘Alaihissalam. Keturunan berikutnya, Nabi Daud bin Yaqub 'Alaihissalam membangun ulang masjid itu. Bangunan Masjid Al-Aqsha diperbaharui oleh putra Nabi Dawud, yakni Nabi Sulaiman 'Alaihissalam. Mereka para nabi utusan Allah membangun kembali Masjid Al-Aqsha adalah untuk tempat ibadah mendirikan salat di dalamnya, bukan mendirikan kuil sinagog seperti yang diklaim Zionis Yahudi ono, yang di sono!”
Pada akhirnya, Ustaz Taufik mengekspresikan wajah emosi sambil menunjuk jauh ke belakang, ke pojok masjid.
“Para Nabi berjuang membangun, bangsa yang dilaknat itu malah mau merobohkannya, kurang ajar kuadrat!” dumel Ustaz Taufik. Lalu katanya kepada jemaah, “Maaf, Ustaz emosi. Rasanya kalau belum bunuh itu yang namanya Yahudi di medan perang, Ustaz suka marah-marah sendiri.”
Para jemaah tertawa agak riuh melihat adegan drama singkat yang ditunjukkan oleh ustaz muda tersebut.
“Kita baca hadits yang ketiga!” kata Ustaz Taufik lagi.
Para jemaah kembali membaca. Sigkat tapi ramai, karena haditsnya memang pendek.
“Tidak dikerahkan melakukan suatu perjalanan kecuali menuju tiga Masjid, yaitu Masjidil Haram di Makkah, masjidku kata Rasulullah, yaitu Masjid Nabawi di Madinah, dan Masjid Al-Aqsha di Palestina,” kata Ustaz Taufik. “Jadi, sangat dianjurkan untuk berziarah ke sana, salat di dalamnya, dan mengetahui secara mendalam tentangnya. Begitu mulianya berziarah ke Masjid Al-Aqsha tersebut, hampir seluruh sahabat utama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah berkunjung ke sana. Sebutlah Umar bin Khattab, Abu Hurairah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Umar, Abdullah bin ‘Abbas, Abu Ubaidah bin Jarrah, Mu’az bin Jabbal, Bilal bin Rabbah, Khalid bin Walid, Abu Dzar Al-Ghiffari, Salman Al-Farisi, Abu Darda, Abu Mas’ud Al-Anshari, Amr bin ‘Ash, Abdullah bin Salam, Said bin Zaid, Murrah bin Ka’ab, Abdullah bim Amr bin Ash, Mu’awiyah bin Abu Sufyan, Auf bin Malik, Ubadah bin Shamit, Sa’id bin Al-Ash, dan Shafiyah istri Rasulullah.”
Ustaz Taufik menyebut nama-nama sahabat dengan lancar hapal di luar kepala.
“Demikian pula kalangan ulama dari kalangan tabi’in dan tokoh-tokoh ahli fiqih terkenal pernah berziarah ke Masjid Al-Aqsha. Lanjut, hadits berikutnya!” seru Ustaz Taufik.
__ADS_1
Kembali jemaah membaca bersama. Selanjutnya sang ustaz yang menjelaskannya.
“Artinya, salat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali lipat daripada salat di masjid-masjid lainnya. Salat di Masjid Nabawi lebih utama seribu kali lipat. Dan salat di Masjidil Aqsha lebih utama lima ratus kali lipat. Meski ada beberapa hadits lainnya, cukup hadits ini saja dulu. Bahkan pada hadits lain disebutkan bahwa siapa yang salat di Masjid Al-Aqsha, Allah berkenan mengampuni dosa-dosanya sebagaimana bayi dilahirkan. Bisa dibaca di rumah.
Kemudian keutamaan berikutnya, Masjid Al-Aqsha adalah Negeri Para Nabi dan Rasul Allah. Para nabi utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, banyak diturunkan di kawasan Masjid Al-Aqsha Palestina dan sekitarnya. Sehingga jejak-jejak langkah kaki para nabi dalam berdakwah mengesakan Allah, mengajak manusia menyembah dan memperibadati Allah, terukir abadi di Negeri Para Nabi, Al-Aqsha Palestina. Hal itu juga dibuktikan dengan peninggalan sejarah Islam dengan adanya makam-makam para nabi utusan Allah seperti makam Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, makam Nabi Syu'aib, Nabi Musa, Nabi Dawud, Nabi Yunus, dan makam Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam. Bahkan pada waktu Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengimami salat berjamaah bersama para nabi di Masjid Al-Aqsha. Sekarang para ikhwan baca hadits keutamaan nomor enam.”
Para jemaah kembali membaca berjemaah. Selanjutnya Ustaz Taufik melanjutkan ceramahnya.
“Nah, ini nih, ini nih sunnah yang banyak ditinggalkan oleh umat Islam kemudian, yaitu berihram dari Baitul Maqdis. Rasulullah bersabda, barangsiapa berihram dari Baitul Maqdis, Allah mengampuni dosa-dosanya yang lalu. Maka, baik sekali, jika umat Islam melaksanakan haji atau umrah plus ziarah ke Masjid Al-Aqsha. Selanjutnya, Ustaz izin minum dulu.”
Seraya tersenyum kepada jemaah sekalian, Ustaz Taufik kembali ke kursinya. Ia duduk dan meminum air putih bening yang telah disiapkan oleh panitia. Setelah kira-kita air minum sudah mengalir ke dalam perut, ia kembali berdiri.
“Yes, tambah prima,” kata Ustaz Taufik lalu tertawa kecil sendiri.
“Sekarang saya akan bercerita tentang sejarah. Khalifah Umar bin Khattab telah melakukan perjalanan ziarah ke Palestina, ketika penduduk negeri itu mensyaratkan bahwa yang berhak menerima penyerahan Palestina harus Umar sendiri selaku pemimpin atau khalifah umat Islam. Pada waktu itu warga Palestina termasuk kaum Nasrani memberikan mandat kepada Khalifah Umar bahwa diri mereka, harta mereka, dan semua kepercayaan di sana, untuk dijaga dan dipelihara oleh Islam.
Khalifah Umar bin Khattab membebaskan kembali Masjid Al-Aqsha tersebut pada tahun 638 masehi. Khalifah Umar bin Khattab kemudian membangunnya kembali dengan kayu di atas pondasi aslinya. Khalifah Umar bin Khattab mewakafkannya untuk umat Islam, agar jangan sampai diperjualbelikan dan jatuh ke tangan orang di luar Islam. Jauh setelah masa Khalifah Umar bin Khattab, kemudian bangunan fisik Masjid Al-Aqsha disempurnakan dengan batu permanen pada zaman Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Bani Umayyah.
Pada tahun 691 masehi atau 72 hijriah, Abdul Malik bin Marwan selain merehab dan merenovasi Masjid Al-Aqsha, dengan kubah berwarna kebiruan, juga mendirikan sebuah bangunan berbentuk kubah untuk melindungi batu tempat pijakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam saat akan di-mi'raj-kan ke langit. Bangunan itu terletak sekitar 100 meter di sebelah utara Masjid Al-Aqsha, yang kemudian disebut dengan Kubah Ash-Shakhrah, artinya Kubah Batu, dalam bahasa Inggris disebut Dome of the Rock. Kubahnya berwarna kuning keemasan.
Jadi di sini, jangan sampai tertukar pemahaman kita. Selama ini kita mengetahui bahwa Masjid Al-Aqsha itu adalah yang kubah emas, bukan. Justru kita curigai, ini adalah salah satu siasat Zionis Yahudi untuk memalingkan kita dari Masjid Al-Aqsha yang asli. Setiap nama Masjid Al-Aqsha muncul, bangunan Kubah Batu yang ditampilkan, itu salah. Kemudian, masa berikutnya, adalah orang dari luar Palestina, yakni Shalahuddin Al-Ayyubi dari negeri Kurdi Irak. Dia bersumpah kepada dirinya untuk tidak akan tersenyum selama hidupnya, sebelum membebaskan kompleks Masjid Al-Aqsha dan kawasan sekitarnya dari penjajahan tentara Salib. Akhirnya, melalui perjuangan panjang, pada tanggal 27 Rajjab 573 hijriah atau 2 Oktober 1187, Masjid Al-Aqsha dan kawasan Palestina dan sekitarnya dapat dibebaskan kembali dari penjajahan selama 88 tahun.
Berikutnya, Sulthan Abdul Hamid II, tahun 1876-1911 masehi, dengan gigih mempertahankan Masjid Al-Aqsha sebagai hak wakaf umat Islam, dan tidak memberikan sejengkal pun tanah Palestina dan kompleks Masjid Al-Aqsha untuk dikuasai oleh selain umat Islam yang memang yang bukan haknya. Sentral kepemimpinan umat Islam mempertahankan tanah wakaf kompleks Masjid Al-Aqsha dan kawasan Palestina berlangsung selama lebih kurang 1.200 tahun lamanya hingga tahun 1917 masehi. Jadi kesimpulannya, para ikhwan, Ibu-Ibu, Gadis-Gadis, Masjid Al-Aqsha adalah tanah wakaf milik siapa?”
“Umat Islam!” jawab jemaah serentak dan mantap.
__ADS_1
“Kalau sudah tahu bahwa Masjid Al-Aqsha adalah tanah wakaf milik umat Islam, kita tahu Masjid Al-Aqsha sekarang dikangkangi oleh kaki-kaki kotor orang Yahudi itu, maka membelanya tugas kita atau tugas orang sono?”
“Tugas kita!” jawab para jemaah lagi, membuat mereka pun kian bersemangat dengan suasana panas seperti itu.
“Lalu, apakah ikhwan dan akhwat sekalian, saudaraku seiman seakidah, siap bela Masjid Al-Aqsha?!” tanya Ustaz Taufik dengan nada lebih tinggi dan ekspresi yang juga lebih serius.
“Siaaap!” jawab jemaah lebih lantang.
“Siapa yang siap berangkat bebaskan Masjid Al-Aqsha?!” teriak Ustaz Taufik.
“Sayaaa!” jawab para jemaah serentak, baik muslimin maupun muslimat, yang muda dan yang tua tunjuk tangan penuh semangat. Reaksi itu membuat bulu tangan merinding dan membakar api jihad mereka saat itu juga.
“Masyaallah, laa hawla wala quwwata illa billah (Inilah yang dikehendaki oleh Allah, tiada daya dan tiada kekuatan melainkan dengan izin Allah)!” teriak Ustaz Taufik melihat respon para jemaah. Lalu katanya lembut, “Saya catat niat tulus dan jihad para jamaah. Sehubungan belum waktunya untuk terjun jihad perang, sementara ini kita lakukan jihad sosialisasi terlebih dahulu kepada Muslimin pada umumnya. Dan sebagai pengganti, ketika diri belum bisa berjihad, harta pun bisa lebih dulu maju untuk berjihad. Perjuangan ini tidak sehari dua hari atau sebulan dua bulan, tapi akan memakan waktu puluhan tahun bahkan lintas generasi, karenanya pula memerlukan pengorbanan harta yang tidak sedikit.”
“Ustaz!” seru Haji Daeng Petandre keras dan mantab, memotong kalimat sang ustaz.
“Iya, Haji Daeng?” tanya Ustaz Taufik tersenyum, meski dalam hati ada kedongkolan bahwa klimaks penyampaiannya disela.
“Satu ternak kerang ijo saya, saya sumbangkan untuk biaya perjuangan Al-Aqsha. Setiap hasil panennya untuk perjuangan ini!” kata Haji Daeng Petandre mantap dan jumawa dengan mimik yang bangga.
“Allahuakbar!” takbir Ustaz Taufik terkejut senang.
“Saya juga, Ustaz!” seru seorang pria setengah abad berpeci haji, ia sampai berdiri dari duduknya.
Mulailah, sebelum Ustaz Taufik tuntas mengimbau agar para jemaah mau beramal jariah dengan hartanya, para orang kaya di daerah itu telah lebih dulu berlomba-lomba bersedekah dan mewakafkan salah satu sumber penghasilannya. Bahkan sejumlah jemaah muslimat angkat gelang emasnya dengan senyum yang sumringah. (RH)
__ADS_1