Cinta Pejuang Al-Aqsha

Cinta Pejuang Al-Aqsha
CPA 17: Anjing Galak


__ADS_3

“Wah! Abang benar orang gila!” teriak Akil tiba-tiba yang membuat perasaan Afrizal kembali terhenyak disebut “orang gila”. Akil melanjutkan kata-katanya yang masuk akal, “Mana bisa jalan kaki sampai ke luar negeri jauh-jauh? Abang gila!”


“Orang gila...! Orang gila...!” mendadak Dini memimpin sorakan “orang gila” yang kemudian diikuti oleh semua teman-temannya.


Maka ramailah ucapan “orang gila” para anak-anak untuk Afrizal. Mereka tidak lagi bertanya penasaran. Meski menuding Afrizal “orang gila”, tapi mereka tidak bubar pergi. Mereka tetap mengiringi Afrizal berjalan.


Suasana itu jelas membuat Afrizal merasa tidak nyaman. Warga sekitar yang tinggal di area itu pun jadi begitu memperhatikan apa yang dilakukan anak-anak. Namun, tidak ada orang yang berinisiatif untuk menegur anak-anak itu, sebagaimana yang Afrizal harapkan.


“Hei! Saya bukan orang gila! Saya mujahid yang membela Masjid Al-Aqsha!”


Afrizal ingin berteriak marah kepada anak-anak seperti itu, tapi itu hanya bisa di dalam hati. Ia pun menenangkan perasaannya. Jika sampai dia marah, bisa-bisa ia justru disebut “orang gila ngamuk”.


“Sabaaar, Zal. Ini ujian,” ucap batin Afrizal. “Kamu harus teguh!”


“Orang gila!” ucap Syamsul sambil menerbangkan pesawat kertasnya yang ia buat dari kertas pemberian Afrizal.


Anak-anak yang lain sambil berjalan mengejek Afrizal, juga membuat pesawat-pesawat kertas.


Melihat hal tersebut, Afrizal hanya bisa mengelus dada.


Tung!


“Hahaha!”


Mendadak ejekan “orang gila” berganti dengan tawa keras anak-anak. Akil yang dikenal paling badung di antara mereka, melempar bola yang dengan sengaja menargetkan kepala belakang Afrizal.


Afrizal sampai berhenti melangkah, menahan gusar yang mendadak naik. Ia menengok memandangi Akil yang tertawa-tawa.


“Wah! Orang gilanya sawan!” teriak Akil lalu kian tertawa dari jarak yang agak jauh dari jangkauan Afrizal.


Teriakan itu membuat Syamsul dan lainnya bergerak agak menjauhi Afrizal, mereka khawatir Afrizal marah dan mengejar mereka.


Namun, Afrizal akhirnya memberikan senyum getir yang dipaksakan. Ia memilih untuk kembali berjalan.

__ADS_1


“Orang gila! Orang gila!” teriak anak-anak kian keras sambil mengikuti dengan menjaga jarak lebih jauh.


“Hoi!” teriak seseorang tiba-tiba dengan keras.


Teriakan berjenis suara orang dewasa itu seketika mengejutkan anak-anak dan menghentikan ejekan mereka. Afrizal pun dibuat terkejut. Mereka segera mencari siapa yang berteriak membentak.


Sekonyong-konyong muncul seorang lelaki bertampang sangar tidak berbaju, hanya bercelana panjang biru. Wajah dan badannya berkeringat. Tangan kanannya memegang sebilah golok besar. Orang berkumis tebal bermata merah itu langsung menyusuli bentakannya dengan caci maki.


“Anak-anak brengsek! Pulang! Jangan ganggu orang lewat!” teriaknya melotot sambil menunjukkan goloknya.


Seketika anak-anak itu berlarian ketakutan. Mereka kenal siapa lelaki sangar itu.


Afrizal hanya berdiri terpaku di tempatnya menyaksikan adegan yang juga membuatnya dag dig dug.


Setelah melototi anak-anak yang kocar kacir, pria bergolok itu berdiri diam memandangi Afrizal dari jarak lima meter.


“Terima kasih, Bang!” ucap Afrizal seraya tersenyum kaku dan sedikit mengangguk merendah.


“Hm!”


“Ah, saya tidak bisa baca,” katanya sambil melepas jatuh kertas di tangannya dan berbalik pergi meninggalkan Afrizal. Ia kembali ke pekerjaannya membelah bambu.


Afrizal menatap sedih kertas yang tergeletak di tanah.


“Semoga ada yang memungutnya,” membatin Afrizal lalu berbalik pergi, melanjutkan langkahnya.


“Hasan! Ambil kertas yang di pinggir jalan itu, bacakan buat saya!” teriak pria tadi kepada seorang pemuda yang sedang duduk di kursi kayu sambil main ponsel.


“Alhamdulillah!” ucap Afrizal yang masih sempat mendengar teriakan pria sangar tadi. Ia melanjutkan perjalanannya yang masih jauh, karena perjalanannya belum memakan setengah hari.


Matahari sudah mulai meneduh dan cenderung turun ke barat. Sejam lagi akan masuk waktu maghrib.


Pada satu jalan yang sepi, masih di daerah pedesaan, Afrizal berhenti sejenak. Ia duduk di sebuah batu semen di depan pagar bambu sebuah rumah yang tertutup. Di balik pagar bambu banyak pohon yang tumbuh di halaman rumah, beberapa adalah pohon jambu yang belum masuk waktu berbuah.

__ADS_1


Guk guk guk!


“Astaghfirullah!” teriak Afrizal begitu terkejut bukan main, sampai-sampai ia terlompat dari duduknya dan botol air minumnya terlepas jatuh.


Gonggongan anjing itu begitu dekat dan keras ada di belakangnya, di balik pintu pagar. Awalnya satu anjing yang menggonggong, tapi berikutnya ada beberapa suara gonggongan. Buru-buru Afrizal berlari mejauh dengan jantung nyaris copot dan keringat dingin keluar di dahinya. Ingin ia berlari pergi, tapi botol air minumnya tertinggal di depan pagar.


Gonggongan anjing-anjing itu begitu keras dan ramai, seperti sedang meneriaki maling yang mau masuk. Dalam ketakutannya, Afrizal mencoba melihat keberadaan anjing-anjing itu. Melalui celah-celah pagar ia bisa melihat keberadaan beberapa anjing yang bergerak liar di balik pagar mencoba mencari jalan mau keluar.


“Bonbon! Curuk! Tonggong! Diam!” teriak satu suara wanita tiba-tiba di sela-sela gonggongan anjing.


Teriakan wanita itu seketika membuat tiga anjing yang disebut namanya berhenti menggonggong, hanya terdengar sesekali menyalak pelan.


Ingin Afrizal segera lari, tapi dia juga ingin mengambil lagi botol air minumnya. Dia menunggu sejenak, ingin melihat situasi. Apakah meungkinkan ia untuk mengambil lagi botolnya.


Selanjutnya, muncul sebuah kepala wanita separuh baya melongok melihat ke luar, melihat keberadaan Afrizal. Setelah memandang Afrizal sejenak dengan tatapan curiga, wanita berambut panjang terurai itu membuka pintu pagarnya. Tiga anjing langsung keluar dari belakang wanita tersebut, seolah sejak tadi menunggu pintu untuk dibuka.


“Duduk! Duduk!” bentak si wanita kepada tiga anjing yang berbeda warna.


Ketiga anjing kampung yang bergerak liar itu langsung berhenti dan duduk tenang dengan lidah terjulur dan napas terengah-engah.


Afrizal yang sempat kembali ketakutan dengan keluarnya ketiga anjing, sedikit merasa lega. Ia benar-benar dikungkung oleh ketakutan. Jika hanya satu anjing kurus, mungkin tidak masalah, tapi ini tiga anjing.


Afrizal menunjuk ke arah botol airnya yang tergeletak tidak jauh di depan ketiga binatang piaraan itu.


Melihat hal itu, wanita pemilik anjing lalu memberi perintah baru.


“Bonbon! Curuk! Tonggong! Masuk! Cek cek cek!” perintah si wanita lalu bergerak membuka pintu memberi jalan bagi binatangnya sambil menggesek-gesekkan jari-jari tangan kirinya kepada depan pandangan mereka.


Anjing-angjing yang sudah mengenal isyarat memberi makan itu segera bangun dan berbalik, lalu berjalan masuk mengikuti tuntunan jari tuannya. Setelah anjing-anjingnya masuk, wanita itu juga menutup pintu pagarnya.


Betapa leganya Afrizal, meski debar dadanya masih kencang. Ia segera menyeberang jalan raya untuk mengambil botol minumnya.


“Untung tidak dijilat anjing,” ucap Afrizal lirih dengan perasaan lemah. Usai memungut botol, ia segera berlari pergi menjauh, melanjutkan perjalanannya.

__ADS_1


Ia tidak habis pikir, ada orang yang bisa memelihara tiga anjing galak di rumahnya, terlebih orang itu seorang wanita. Afrizal hanya bisa menerka bahwa wanita itu orang yang beragama non-Islam.


Gonggongan itu benar-benar hampir membuatnya mati jantungan. Beruntung ia tidak memiliki sedikit pun gejala penyakit jantung atau penyakit kagetan. (RH)


__ADS_2