Cinta Pejuang Al-Aqsha

Cinta Pejuang Al-Aqsha
CPA 21: Dihadang Ibu Bupati


__ADS_3

Jeep Wrangler warna hitam mengilap mewah melesat di belakang sedan putih dan di depan sedan putih. Terkesan kedua sedan yag mengapitnya depan belakang sedang mengawal mobil gagah berharga kisaran Rp 1 miliar tersebut.


Ketiga mobil itu berplat merah yang menunjukkan ketiganya adalah mobil dinas pemerintah. Khusus mobil Jeep, plat merahnya bernomor BE 9 XX. Itu adalah plat mobil Bupati Lampung Selatan, Dewi Tinta Rahayu.


Dewi Tinta Rahayu adalah seorang wanita yang terbilang unik dengan fisik wanita tapi karakter agak kelelakian. Usianya baru genap 40 tahun dan tergolong wanita yang memperhatikan penampilan tubuh. Karenanya, ia menjaga agar tidak tampil seperti ibu-ibu arisan, yang bergelut dengan lemak di perut dan sudut anggota tubuh yang lain. Meski ia tidak suka berdandan tebal untuk wajahnya, tapi make-up ia perlukan secukupnya untuk tetap menjaga penampilan di mata publik sebagai seorang wanita pemimpin. Meski pada faktanya kecantikannya biasa-biasa saja, tapi riasan yang sederhana cukup membuatnya terlihat tampak lebih cantik dan muda. Kali ini ia mengenakan jilbab putih menyesuaikan warna pakaiannya.


Di dalam mobil mewahnya, Ibu Bupati didampingi oleh sopir yang lebih tua darinya bernama Rudi dan seorang sekretaris wanita yang lebih muda darinya bernama Rini. Sekretaris duduk di sebelah sopir.


Di sedan putih depan diisi oleh empat polisi berpakaian jas dan seorang sopir. Di sedan belakang, diisi oleh empat jurnalis tingkat provinsi.


Pagi ini Bupati Dewi punya jadwal membuka acara “Pelatihan UKM Bahan Pisang” di dekat Pelabuhan Bakauheni.


Perhatian Bupati Dewi mendadak tertarik oleh keberadaan seorang lelaki yang berjalan kaki di pinggir jalan raya besar itu. Orang yang berjalan dengan dua bendera kecil di punggungnya tampak bukan pejalan kaki biasa. Pandangan Dewi mengikuti hingga harus menengok ke belakang saat mobilnya melewati keberadaan pejalan kaki yang tidak lain adalah Afrizal.


Namun, tetap saja rombongan Bupati itu berlalu meninggalkan Afrizal yang terus berjalan ke arah Pelabuhan Bakauheni yang tinggal beberapa kilometer lagi.


Satu jam kemudian, rombongan mobil Bupati kembali muncul dari arah pelabuhan.


Dari jauh, Dewi sudah melihat keberadaan Afrizal yang masih berjalan di pinggir jalan raya.


“Berhenti di sini, Rud!” perintah Dewi kepada sopirnya.


“Siap!” sahut Rudi laksana seorang prajurit.


Jeep Wrangler hitam itu pun menyalakan lampu sen lalu melaju pelan dan berhenti ke pinggir, beberapa ratus meter di depan Afrizal. Mobil di belakang pun ikut berhenti. Sementara mobil di depan terus melaju agak jauh, kemudian berhenti juga setelah mengetahui mobil pemimpin daerah itu berhenti di tengah perjalanan.


Dewi bergerak turun langsung dari mobilnya, membuat sekretarisnya buru-buru turun pula untuk mendampingi.


“Ada apa, Bu?” tanya Rini, sang sekretaris.


“Saya mau tahu orang itu siapa dan mau ke mana,” jawab Dewi sambil memandang kepada Afrizal.


Melihat Ibu Bupati turun dari mobil, para wartawan yang ada di mobil belakang segera turun. Tiga lelaki dan seorang wanita yang membawa sebuah mic bertuliskan “KalTV”. Keempatnya masih muda, mereka membawa kamera kecil dan besar. Satu di antaranya membawa kamera besar dengan tulisan “Kalianda TV”.


Melihat dua mobil berhenti di depannya dan para penumpangnya berturunan, Afrizal menghentikan langkah. Satu dua pertanyaan hinggap di kepalanya. Namun kemudian, dia menyimpulkan bahwa orang-orang itu tidak ada hubungan dengan dirinya yang hanya seorang musafir. Terlebih, ia tidak kenal orang-orang yang dua di antaranya seperti pegawai pemerintah.


Afrizal memutuskan terus berjalan dengan sedikit berbelok arah untuk melewati kedua mobil dan orang-orang itu. Namun, sekretaris Ibu Dewi segera berlari kecil nan pendek menghadang Afrizal.

__ADS_1


“Tunggu, Bang!” serunya.


Afrizal pun berhenti dengan wajah memberi ekspresi bertanya.


“Bu Bupati mau bicara sama Abang,” ujar sekretaris tersebut seraya tersenyum.


“Bu Bupati?” tanya ulang Afrizal berubah agak terkejut. Ia lalu memandang kepada wanita cantik yang berdiri tidak jauh dari mobil mewahnya.


Mendadak empat lelaki bertubuh tegap datang berlari kecil. Dua orang menghampiri Dewi dan berdiri di dekatnya untuk menjaga keamanannya. Dua orang lagi berdiri di dekat Afrizal, membuat pemuda nelayan itu menengok ke kanan dan ke kiri melihat wajah mereka. Keempat lelaki itu adalah polisi yang mengawal Bupati.


“Ada apa ini?” tanya seorang polisi kepada sekretaris dan Afrizal.


“Bu Dewi mau tahu Abang ini sedang apa,” jawab sekretaris.


“Ayo! Dipnggil Bu Bupati!” kata Pak Polisi tegas.


Para wartawan yang lebih dulu pula mendekati Afrizal mulai memainkan tugasnya mengambil gambar foto dan video. Kondisi yang tidak biasa itu membuat Afrizal merasa cukup tidak nyaman. Namun, keamanan yang berbadan besar dan tegap itu membuatnya tidak bisa berkata selain menurut.


Akhirnya Afrizal berdiri di depan Dewi selaku orang yang punya wilayah sekabupaten. Berdirinya agak melengkung samar dengan kepala agak menunduk, sebab ia sedang berdiri di depan orang nomor satu di Lampung Selatan.


“Maaf, ada apa, Bu?” tanya Afrizal santun dengan gaya status sebagai rakyat kecil.


“Afrizal, Bu.”


“Dari mana?” tanya Dewi lagi.


“Maja, Kalianda.”


“Kamu sedang apa jalan kaki seperti ini? Mau ke mana?”


“Anu, Bu,” ucap Afrizal seraya tersenyum agak cengengesan. Baginya, berbeda ketika dia berhadapan orang biasa dengan berhadapan orang yang sudah ia tahu sebagai pejabat daerah itu.


“Jangan cengengesan begitu! Apalagi sudah pakai ikat kepala keren begitu!” hardik seorang polisi di sebelah kiri Dewi.


“Saya berjalan kaki untuk memberi tahu masyarakat tentang kondisi Masjid Al-Aqsha di Palestina, Bu,” jawab Afrizal.


“Kenapa dengan masjid itu sehingga harus berjalan kaki untuk memberi tahu masyarakat?” tanya Dewi lagi.

__ADS_1


“Masjid kita itu mau dirobohkan oleh penjajah Yahudi di Palestina, Bu. Ini cara saya untuk berjuang membantu mempertahankan masjid suci ketiga kita itu.”


“Kenapa harus kamu? Begitu banyak orang Islam di negara-negara Timur Tengah yang bisa membela mereka.”


“Membebaskan Masjid Al-Aqsha tugas semua orang Islam di seluruh dunia, Bu, tapi kebanyakan mereka tidak tahu dan tidak sadar. Termasuk tugas Ibu jika Ibu adalah seorang Muslim,” kata Afrizal yang diujung kata-katanya agak berani menunjuk Ibu Bupati.


Dewi terdiam sejenak. Lalu tanyanya lagi, “Mau jalan sampai mana dan berapa hari?”


“Tidak tahu mau sampai mana, tapi salah satu tujuan saya ke Jakarta. Tidak tahu berapa lamanya,” jawab Afrizal. “Ini, Bu, Pak.”


Afrizal lalu segera membagikan selebaran artikel yang dimilikinya kepada Dewi, sekretarisnya, para wartawan dan keempat polisi tersebut.


Dewi tanpa membaca kertas itu, diberikannya kepada Rini. Lalu perintahnya kepada Rini, “Berikan uang dua juta ke dia!”


“Baik, Bu.”


Setelah itu Dewi yang sejak tadi tanpa senyum sedikit pun berbalik dan pergi masuk ke mobilnya. Rini yang mendapat perintah segera mengeluarkan sejumlah uang dari tas yang dibawanya. Sebanyak uang senilai Rp2 juta ia berikan kepada Afrizal yang agak bingung.


“Ini pemberian Ibu Bupati kepada Abang untuk perjuangan Abang,” kata Rini.


“Terima kasih banyak, Bu. Terima kasih sebanyak-banyaknya!” ucap Afrizal begitu senang seraya tertawa.


Rini pun segera berlari kecil kembali ke mobil jeep, khawatir Dewi meninggalkannya. Dua kali ia pernah ditinggal oleh atasannya tersebut karena terlambat masuk ke mobil.


Keempat personel keamanan juga segera kembali ke mobil untuk mengawal. Namun, para wartawan tidak turut pergi, mereka justru segera bergerak mengerumuni Afrizal dan menghujani pemuda itu dengan beberapa pertanyaan.


Sikap agresif para jurnalis muda itu membuat Afrizal cukup kelabakan untuk menjawab, sehingga kalimat-kalimat awal yang keluar lebih banyak “eee”.


Sementara itu, jeep Bupati Dewi dan mobil keamanan telah bergerak pergi, tersisa satu mobil yang harus menunggu para wartawan selesai urusannya dengan Afrizal.


“Rini, coba lihat kertas tadi!” pinta Dewi.


Rini segera memberikan kertas berisi tulisan tentang kondisi Masjid Al-Aqsha yang ditadi dibagikan oleh Afrizal.


Dewi membaca dengan hikmah dan hening. Tidak berapa lama ia memulangkan kertas itu kepada Rini.


“Jika para wartawan itu sudah kembali, saya ingin menyampaikan sedikit komentar tentang hal itu,” ujar Dewi.

__ADS_1


“Baik, Bu.” (RH)


__ADS_2