
Nirmala memarkir gerobaknya. Ia pun yakin bahwa di situlah tempatnya, sesuai petunjuk dari ibunya, karena tempat itu tepat berseberangan dengan rumah yang berwarna biru muda penjual es.
Beberapa anak sekolah langsung menghampiri dagangan Ganto. Sementara Nirmala, ia harus memanaskan minyak dulu untuk mulai menggoreng. Selain Ganto dan Nirmala, sudah ada pula penjual siomay, bubur ayam, cilok, martabak mini, gorengan dan yang lainnya. Tidak ada rumah di sekitar depan sekolah yang tidak berjualan.
“Nih, es capucino-nya. Pegang tangan kanan, baca bismillah, baca bismillah,” kata Darmawan saat memberikan es pesanan seorang anak yang didampingi ibunya.
“Terima kasih, Om Darma,” ucap sang ibu.
“Bismillahirrahmanirrahiiiim!” ucap si anak lantang lalu “srooot”, menyedot esnya.
Darmawan dan si ibu hanya tersenyum.
Dari seberang jalan, Nirmala sesekali memandang kepada Darmawan. Cara unik menjual es kepada anak-anak yang disisipi sedikit pembelajaran tapi penting, membuat Darmawan berhasil memikat sekian persen dari hati Nirmala.
“Eh, tangan kanan bagusnya mana?” tanya Darmawan saat es buatannya hendak diterima oleh anak kecil dengan tangan kiri.
“Yang ini, Om,” kata anak kecil perempuan itu seraya segera mengangkat tangan kanannya dan menarik tangan kirinya. Senyumnya lebar, memperlihatkan sederet gigi hitamnya di sisi atas.
“Bagus, anak cantik,” puji Darmawan sambil sodorkan gelas es di tangannya. Lalu katanya lagi, “Jangan lupa ba....”
“Baca bismillah!” seru anak tersebut, lalu membaca, “bismillaahirrahmanirrahiim!”
Anak itu pun kemudian pergi dengan rasa gembira lalu berbaur dengan teman-temannya.
Darmawan lalu beralih untuk menghancurkan es batu agar lebih halus sehingga lebih mudah diblender.
“Bang Darma, ya?” tanya Nirmala yang sudah berdiri di depan dagangan Darmawan yang sedang kosong pembeli.
Darmawan menengok kepada Nirmala. Ia lebih dulu tersenyum ramah plus manis, sangat manis di mata Nirmala. Barulah ia menjawab dengan ceria, “Tidak salah.”
“Saya Nirmala, Bang. Saya anaknya Bu Salimah,” kata Nirmala memperkenalkan diri.
“Aih, masyaallah!” seru Darmawan terkejut disertai senyum. “Anaknya Bu Salimah sudah segadis ini? Saya kira masih SMP. Masya Allah, barakallahu fiik.”
Mendapat respon sangat akrab dan mendapat doa-doa dari Darmawan, kian berbunga-bungalah hati dan perasaan Nirmala. Hal itu hanya ia tunjukkan dengan senyum-senyum sedikit malu.
“Iya, bagaimana, Nir?” tanya Darmawan.
“Mau tanya utang pulsa Emak di Abang,” jawab Nirmala.
“Hanya 12.000 rupiah, tak kurang tak lebih,” kata Darmawan mantap penuh yakin.
“Saya bayar, Bang,” kata Nirmala sambil keluarkan uang pas.
“Jazakillahu khairan (Balasan kepadamu dari Allah yang lebih baik),” ucap Darmawan setelah menerima uang pembayaran utang pulsa.
__ADS_1
“Aamiin!” ucap Nirmala seraya tersenyum.
“Tunggu, biar saya coret dulu agar tidak menjadi masalah,” kata Darmawan. Ia lalu mengambil sebuah buku catatan kecil di dalam laci meja dagangannya. Ia mencoret sesuatu lalu ditunjukkan kepada Nirmala. “Lihat, Bu Salimah 12.000, sudah saya coret.”
“Iya, Bang. Terima kasih. Berarti saya juga bisa utang pulsa ke Abang ya?”
“Jangankan kepada Nirmala yang cantik dan saleha seperti ini, Ganto Wirasakti alias Bang Jawir yang sebulan tidak bayar-bayar, saya tagih, hahaha!” kata Darmawan berkelakar sambil menunjuk Ganto di seberang jalan.
“Hahaha!”
Ganto yang sedang sabar meladeni anak kecil yang memilih mainan untuk dibelinya, tertawa terbahak mendengar kata-kata Darmawan.
Nirmala turut tertawa sambil sejenak memandang Ganto.
“Saya ke gerobak dulu, Bang,” kata Nirmala pamit sambil tersenyum manis menggemaskan. Pesona wajah makmurnya cukup menggoda lembaran rupiah.
Hal itu terbukti ketika Nirmala kembali sibuk untuk menggoreng tahu-tahu bulatnya.
“Kang Suro, siomay seporsi untuk Nirmala, semoga bahagia dagang di sini!” seru Darmawan kepada pria kurus agak ganteng yang memiliki gerobak siomay ikan asli Bandung, padahal daging ikannya beli di Haji Karjan di kelurahan sebelah.
“Siap!” sahut Suro menjawab lantang dengan nada mengayun khas orang Sunda.
Mendengar hal itu, Nirmala jadi terbelalak terkejut. Ia sangat ingin menolak, tapi tidak mungkin ia berteriak di tempat yang baru ia datangi dan kepada orang yang belum ia akrabi. Akhirnya ia hanya tersenyum.
Tak berapa lama, Suro datang membawa sepiring siomay pagi dan memberikannya kepada Nirmala.
“Jangan, Bang Darma sudah bayar di muka,” kata Suro lembut.
“Jangan sungkan kalau diberi apa-apa sama Bang Darma. Bang Darma itu orang yang paling dermawan dan murah hati di sini. Memberi sarapan kepada teman, itu sudah kebiasaan Darma,” kata Ganto kepada Nirmala.
“Oooh,” desah Nirmala.
Ganto dan Suro hanya tertawa kecil. Suro kembali ke gerobaknya. Nirmala tidak langsung memakan siomaynya, karena memang ia harus menggoreng lebih dulu.
Tak berapa lama, Darmawan mendatangi Nirmala. Ia membawa segelas es teh.
“Bebas biaya minum ataupun pajak, alias gratis. Persembahan perkenalan untuk Nirmala. Semoga berkah,” kata Darmawan penuh keakraban. Ia letakkan esnya di papan gerobak.
“Terima kasih banyak, Bang. Aduh, jadi tidak enak langsung merepotkan,” ucap Nirmala penuh malu-malu.
“Semua pedagang di area ini, kita semua satu keluarga dan bersaudara,” kata Darmawan.
Inilah awal perkenalan Nirmala dengan Darmawan, pemuda yang dianggapnya unik tapi penuh kebaikan. Darmawan terlihat begitu berbeda dengan pedagang-pedagang kecil lainnya.
“Tapi orang sebaik ini, kenapa belum menikah?” tanya Nirmala, tapi hanya di dalam hati.
__ADS_1
Waktu terus beranjak semakin siang. Semua anak sekolah sudah masuk ke kelas. Jika sudah demikian, keramaian di ujung gang itu sangat berkurang. Itu pun menjadi masa santai bagi para pedagang. Mereka tinggal menunggu waktu sekolah istirahat dan pulang, saat itulah mereka akan kembali disibukkan oleh para penjaja yang memiliki daya beli yang tinggi.
Di masa santai itu, sebuah sepeda motor berhenti di depan dagangan Darmawan. Seorang pria berjaket hitam, bertas ransel hitam yang terlihat berat, membuka helm hitamnya.
“Assalamu ‘alaikum!” salam pria muda berjenggot pendek tersebut.
“Wa ‘alaikum salam!” jawab Darmawan hangat sambil tersenyum melihat siapa yang datang.
Darmawan segera mendatangi tamu bercelana jeans hitam tersebut. Dengan penuh rasa persahabatan, keduanya bersalaman.
“Bubur ayam, siomay, uduk, tahu bulat cantik? Yang mana, Ra?” tanya Darmawan menawarkan.
“Bubur ayam,” jawab pemuda bernama Hendra yang datang bertamu hanya sesekali dalam sebulan.
“Bang Beni! Dua!” teriak Darmawan kepada Sabeni, pedagang bubur ayam.
Hendra memperbaiki parkiran motornya di lokasi yang cukup ramai tersebut, jangan sampai menghalangi jalan atau mengganggu lahan orang lain.
“Di sini, Ra!” ajak Darmawan sambil pergi ke belakang posisi Ganto si pedagang mainan.
Di belakang deretan pedagang tahu, mainan, dan cilok, ada tempat duduk dari semen yang cukup nyaman dipakai ngobrol sambil sarapan. Hendra pun pergi duduk ke sana. Ia tidak lupa menyalami tangan Ganto dan penjual cilok. Meski tak kenal nama, tapi akrab wajah.
“Ada berita apa, Ra?” tanya Darmawan.
“Antum (kamu) kan Ahad lalu tanya-tanya saya tentang Masjid Al-Aqsha?” kata Hendra mengingatkan.
“Iya,” jawab Darmawan.
“Ahad pagi nanti, di Masjid Al-Jihad pelelangan Kamal Muara, ada taklim khusus yang bertema Al-Aqsha. Yang mengisi Ustaz Taufik Karomah,” ujar Hendra.
“Antum hadir juga?” tanya Darmawan.
“Insyaallah. Sebab isu tentang kondisi kiblat pertama kita itu harus terus diberitakan agar Muslimin Indonesia lebih tahu dan memahami,” kata Hendra.
Nirmala, Ganto dan tukang cilok hanya bisa mendengarkan obrolan yang mereka nilai agak asing dan kelasnya bukan obrolan para pedagang seperti mereka. Namun, bagi Nimala yang juga kadang-kadang ikut pengajian di masjid dengan kalangan sesama remaja, isu tentang Masjid Al-Aqsha tidak asing, hanya ia menilai, obrolan Darmawan dengan tamunya itu adalah hal yang sangat serius dan penting.
“Nanti, di forum itu, antum bisa bertanya sepuasnya. Jadi bela Islam kita bukan lagi pengamalan individu atau skala rumah tangga dan tetangga, tapi mulai menasional dan global. Jika kita tahu berita-berita saudara-saudara kita di berbagai negeri di sudut-sudut dunia, maka kita akan merasa seperti siput yang hanya berusaha hidup nyaman di dalam cangkang saja,” kata Hendra yang terdengar seperti orang berpengetahuan luas.
“Iya, Ra, yang saya heran itu, kenapa masjid suci ketiga kita itu bisa dikuasai sama Yahudi, padahal di sana kan banyak orang Islamnya? Apalagi dekat sama negara-negara Arab?” kata Darmawan.
“Nah, meski kedengarannya ini tidak ada sangkut pautnya dengan penjual es, tapi sebenarnya semua umat Islam punya beban kewajiban yang harus ditunaikan untuk masalah Al-Aqsha ini. Ini tidak ada urusan masalah jarak dan bangsa, tapi ini urusan bahwa Masjid Al-Aqsha itu adalah masjid milik umat Islam seluruh dunia, tanpa terkecuali. Nanti saya buat beritanya, Pedagang Es Cappucino Indonesia Bela Al-Aqsha. Kan keren banget tuh judul, Dar. Hahaha!”
Mereka pun tertawa, demikian pula Nirmala, Ganto dan pedagang cimol. Sabeni yang datang membawa dua porsi bubur ayam, turut tertawa, meski ia tidak lengkap mendengar narasinya.
Memberi makan sarapan kepada teman dan tamunya, sudah menjadi budaya Darmawan. Karena itulah, Hendra yang merupakan seorang wartawan sahabat dekat Darmawan, tidak lagi perlu repot membayar bubur yang dimakannya atau menanyakan “Siapa yang bayar?”
__ADS_1
Obrolan berbobot antara Darmawan dan Hendra menjadi catatan tersendiri bagi Nirmala. (RH)