
Perahu motor itu seolah ingin tenggelam di balik lekukan gelombang laut sebab saratnya beban yang ia bawa. Hanya Afrizal dan Andu yang menaiki perahu motor bercat merah putih itu. Selebihnya adalah lebih 20 rombong (keranjang sulaman kulit bambu) berisi ikan teri. Itu semua hasil tangkapan Afrizal tadi malam.
Sudah enam malam, bagan Afrizal selalu along (dapat ikan melimpah). Sampai-sampai sejumlah nelayan lainnya menggeser posisi bagannya ke dekat bagan Afrizal agar kecipratan rezeki. Memang, beberapa yang mendekat mendapat tangkapan lumayan, tapi tetap rezeki terbaik berpusat di bagan Afrizal. Tetap saja ia along banyak sendiri. Sampai-sampai timbul desas-desus bahwa Afrizal main dukun.
“Al-Aqsha! Al-Aqsha! Al-Aqsha!”
Afrizal yang berdiri gagah di perahu tanpa takut oleng jatuh ke laut, berteriak kencang kepada orang-orang yang berkumpul di dermaga pelelangan. Sarung merahnya diikat kencang di pinggang seperti jawara laut. Sementara latar belakang terbitnya matahari pagi membuat orang-orang di pelelangan melihatnya laksana putra Dewa Laut yang berdiri gagah membawa sejuta keberuntungan.
Orang-orang di dermaga dan para nelayan lainnya, dalam beberapa hari terakhir sering mendengar Afrizal meneriakkan nama “Al-Aqsha” sambil tertawa-tawa. Sejumlah orang mengerti nama siapa yang disebutnya, tapi lebih banyak tidak mengerti nama apa yang disebutnya.
“Jampe Al-Aqsha Afrizal manjur sekali,” kata seorang nelayan berbaju hitam lengan panjang berkalung sarung hijau. Namanya Karahang. Ia sedang menimbang ikannya yang hanya tiga rombong.
“Baru kali ini ada orang yang along sampai seminggu berturut-turut. Sehari dua hari saya yakin, Afrizal langsung kawin,” kata Junaidi sambil menggantung serombong ikan milik Karahang.
Sementara pandangan Karahang terus tertuju kepada kedatangan perahu motor yang mengangkut ikan milik Afrizal mendekati dermaga yang ramai oleh nelayan, pembeli, dan penjual ikan. Di tambah pula para pedagang sarapan dan lainnya yang memanfaatkan keramaian pelelangan ikan setiap pagi. Bau amis dan tak sedap sudah menjadi aroma khas yang dianggap wangi oleh kaum nelayan.
Setelah menerima uang penjualan ikannya, Karahang segera pergi ke pinggir dermaga, ia menunggui perahu motor yang membawa Afrizal.
Ketika perahu sudah mendekat ke dermaga, Andu mematikan mesin motornya, membiarkan perahu meluncur di antara perahu-perahu lainnya yang sudah lebih dulu merapat di dermaga. Afrizal segera bergerak untuk menahan agar tidak begitu keras terjadi benturan.
Selain Karahang, beberapa pria juga siap menyambut datangnya perahu yang dinaiki Afrizal. Mereka adalah anak buah juragan ikan yang membeli semua ikan hasil tangkapan para nelayan di kota Kalianda itu. Di pelelangan itu ada beberapa juragan penadah ikan nelayan. Afrizal sudah punya juragan tempat ia menjual semua ikannya, namanya Haji Daeng Marakka.
Afrizal melemparkan tali tambatan perahu kepada Karahang. Para pria yang sudah menunggu segera melompat kecil naik ke perahu yang sudah bergerak pelan merapat ke dermaga.
“Mau sampai kapan along terus, Izal?” tanya Karahang sambil tertawa menerima tali perahu.
“Sampai Al-Aqsha bebas, hahaha!” jawab Afrizal setengah berteriak sambil tertawa kecil.
Afrizal menenteng keranjang ibu-ibunya lalu melompat dari perahu ke semen dermaga. Keranjang yang biasa dipakai ibu-ibu ke pasar itu berisi sejumlah ikan dan cumi, golok dan gergaji, serta rantang kosong tempat bekal makanan.
“Berapa rombong?” tanya Karahang dengan kekentalan logat Bugis dalam kata-katanya.
“Dua tiga. Kamu berapa?”
“Hanya tiga,” jawab Karahang seraya tersenyum kecut. Ia mengikuti Afrizal berjalan meninggalkan tepian dermaga.
Sementara itu anak buah juragan Haji Daeng Marakka sibuk mengangkut rombong-rombong berisi ikan dari perahu naik ke dermaga.
“Bisalah kita kawin,” sindir Karahang yang sudah punya anak dua. Karahang berusia 36 tahun, sebelas tahun lebih tua dari Afrizal.
“Hahaha...!” Afrizal tertawa panjang mendengar perkataan sahabatnya itu.
“Saya mau uji nyali dulu perang ke Palestina, kalau pulang selamat, barulah Wetto saya lamar, hahaha!” kata Afrizal berseloroh.
Keduanya berhenti di depan sebuah meja. Di belakang meja duduk seorang lelaki gemuk berkopiah Bugis warna hitam dengan sulaman benang emas. Ia mengenakan baju koko warna putih ukuran XXL guna mengimbangi besar tubuhnya. Ia duduk hanya mengenakan sarung asli dari Samarinda warna hitam. Di atas meja di depannya, ada sebuah buku tulis tebal dan jari tangan kanan besarnya memegang pena. Di sisi buku ada pula sebuah kalkulator dan ponsel bagus. Lelaki berusia 60 tahun itu memiliki sepasang mata yang merah. Dialah Haji Daeng Marakka, bos ikannya Afrizal.
“Teri 23 rombong, Daeng Haji,” kata Afrizal melaporkan.
__ADS_1
Haji Daeng Marakka lalu menekan-nekan angka di kalkulator dengan satu jari saja. Ia menghitung. Setelah tekan “sama dengan”, Haji Daeng Marakka lalu menulis di buku. Setelah itu ia sodorkan kepada Afrizal untuk dilihat.
Haji Daeng Marakka kemudian menarik buka laci mejanya. Dari situ ia mengambil segepok uang dan mulai menghitung.
“Sisa kemarin dua juta ditambah 20 rombong hari ini,” kata Daeng Haji Marakka sambil berikan tumpukan uang yang sudah dihitungnya kepada Afrizal. “Hitung lagi. Jadi, sisa tiga rombong.”
Dengan khusyuk, Afrizal menghitung.
“Ya, Daeng Haji. Terima kasih!” ucap Afrizal seraya tersenyum senang.
“Hmm, jangan lupa kawin,” kata Haji Daeng Marakka dengan ekspresi yang dingin.
“Hahaha!” kembali meledak tawa Afrizal disinggung masalah kawin.
Setelah mengamankan uangnya di balik bajunya, Afrizal pergi ke tukang nasi uduk.
“Bu Bacem, makan kita semua dibayar Izal!” seru seorang pemuda kepada wanita separuh baya penjual nasi uduk. Pemuda bernama Sofian itu sedang duduk bersila di semen kering dermaga sambil makan nasi uduk bersama dua pria nelayan lainnya.
“Iya, Bu Bacem, biar saya yang bayar,” kata Afrizal pula seraya tersenyum.
“Hahaha!” tertawalah ketiganya mendengar kedermawanan Afrizal yang sedang berlimpah rezeki dari laut.
“Bukannya kamu dapat lima rombong ikan kakap, Sofian,” kata Karahang.
“Tetap harus merendah kepada sang juara laut, Hang,” sahut Sofian sambil senyum-senyum.
“Uduk, Zal?” tanya Bu Bacem.
Afrizal mengambil kertas robekan koran yang ada untuk membungkus kue dadar gulung yang dijual Bu Bacem.
Nama Bu Bacem melekat pada wanita penjual uduk tersebut karena tempe bacem yang dijualnya terkenal keenakannya. Nama aslinya sendiri adalah Samina, tapi sudah puluhan tahun lamanya ia dikenal dengan nama Bu Bacem.
Afrizal berhenti, ia membaca tulisan di koran yang membuatnya merasa tertarik. Di koran itu ada tulisan yang berjudul “Keliling Dunia Berjalan Kaki”. Karena tulisan di koran itu terpotong oleh robekannya, Afrizal melihat ke tumpukan kertas koran di meja dan mencari sisa tulisan tersebut.
“Apa yang kamu cari, Izal?” tanya Karahang sambil mengambil satu kertas untuk membungkus kue yang dibelinya.
“Ini ada tulisan bagus, saya cari potongannya,” jawab Afrizal. “Ah, ini dia.”
Afrizal menyimak sejenak tulisan di dua potongan kertas koran tersebut, lalu melipatnya dan menyelipkannya di balik baju.
Usai bungkus-bungkus, usai bayar traktiran para sesama nelayan, Afrizal dan Karahang pergi kembali ke tepian dermaga, tempat para perahu motor dan perahu lainnya ditambatkan.
“Kenapa kamu selalu bicara Palestina dan Al-Aqsha, Izal?” tanya Karahang sambil berjalan dari perahu satu ke perahu lain, lalu berhenti di sebuah perahu yang di atasnya telah duduk beberapa pria dan dua wanita separuh baya.
“Itu punya umat Islam yang harus dibebaskan. Saya mau jadi bagian dari orang yang ikut berjuang,” jawab Afrizal sambil turut naik ke perahu motor tersebut, lalu duduk dan meletakkan keranjang nelayannya.
“Tidak ada lah hubungannya dengan kamu tentang itu. Bukankah sudah ada orang Arab di sana?” kata Karahang. “Kita ini nelayan yang bisa hidup itu sudah syukur. Makan tiga kali sehari itu sudah mewah. Masih banyak urusan yang lebih dekat yang harus diselesaikan. Kalau hanya alasan membantu sesama umat Islam, Bu Eni lebih berhak kau bantu, jika perlu kau lamar.”
__ADS_1
“Hahahak!”
Meledaklah tawa Afrizal, juga tawa mereka yang ada di perahu itu. Termasuk satu dari dua wanita yang ada. Wanita yang bernama Bu Eni hanya diam mengerutkan kening dan dahinya. Ia adalah janda anak dua yang bekerja sebagai penjual ikan keliling, termasuk tetangga Afrizal, rumahnya hanya berjarak beberapa rumah dari kediaman Afrizal.
“Eh, Karahang!” hardik Bu Eni. “Kenapa kau suruh Afrizal yang melamar saya? Kenapa bukan kamu saja. Saya juga tidak keberatan jadi yang kedua, asal dapat jatah nafkah.”
“Hahahak!”
Kembali mereka tertawa, termasuk Karahang sendiri.
“Ditantang kamu, Hang!” sahut pria yang duduk di dekat mesin perahu sambil tertawa.
“Ayolah kita pulang, Asse!” kata Afrizal kepada pria pemilik perahu itu.
“Beda perasaan kalau sudah bawa uang banyak, bawaannya mau buru-buru sampai ke rumah, padahal tidak ada istri cantik yang menunggu di kamar,” kata Asse berseloroh.
Kini Afrizal yang tertawa berkepanjangan.
“Kamu pikir ibuku kurang cantik untuk menunggu anaknya?” tanya Afrizal kepada Asse.
Asse lalu bergerak membuka ikatan tali tambatan.
“Asse!” teriak seseorang dari dermaga sambil melambai tangan.
“Tahan! Calon mertua jangan ditinggal!” seru Karahang saat melihat siapa yang memanggil.
Seorang lelaki separuh baya kurus berpostur cukup jangkung, bergerak berjalan dari satu perahu ke perahu lain untuk sampai ke perahu milik Asse yang berwarna hitam kuning dengan tulisan di badan berahu “Raja Dumay”. Pria itu adalah Made Sadika, ayah dari Wetto, wanita idaman Afrizal.
“Alhamdulillah,” ucap Made Sadika setibanya di atas perahu dan duduk di sisi kiri Karahang di tepian perahu.
Asse mendorong perahu lain sebagai tolakan agar perahunya meluncur menjauh. Selanjutnya ia menyalakan mesin motor sehingga menimbulkan suara yang bising.
Mereka yang ada di perahu itu tinggal di sisi lain dari pantai Kalianda tersebut. Jarak rumah dengan dermaga cukup jauh. Jalan terbaik untuk pulang ke rumah dari pelelangan adalah naik perahu yang nantinya mereka bayar sewa.
“Berapa rombong, Izal?” tanya Made Sadika agak keras, agar tidak kalah oleh suara mesin perahu.
“Dua puluh tiga, Daeng,” jawab Afrizal yang juga agak berteriak.
“Weh, tambah banyak dari kemarin. Mau kamu belikan motor apa itu duit banyak?” tanya Made.
“Tidak mau beli apa-apa, Daeng. Saya sedang berpikir untuk pergi berjuang,” jawab Afrizal seraya tersenyum kecil.
“Izal itu lagi pusing dapat uang banyak,” timpal Karahang seraya mendekatkan wajahnya ke sisi kepala Made Sadika. Lalu tanyanya kepada orang tua di sebelahnya itu, “Daeng Made, Wetto itu sudah ada yang pinang atau belum?”
“Belum. Kenapa kamu tanya anakku?” jawab Made Sadika lalu balik bertanya.
“Hahaha!” Karahang hanya tertawa sambil memandang kepada Afrizal, seolah memberi kode kepada Made Sadika.
__ADS_1
“Kenapa lihat saya?” hardik Afrizal kepada Karahang, ia paham maksud tertawanya Karahang.
Sementara itu, perahu dengan cepat menjauhi dermaga menuju sisi pantai yang lain. Tampak rumah-rumah berbenteng tanggul batu laut berderet di sepanjang pantai. Sejumlah rumah panggung khas rumah etnis Bugis juga bisa dilihat di pesisir. Sementara kaki Gunung Rajabasa memberikan pemandangan hijau penuh perkebunan warga Kalianda yang hidup berladang. (RH)