Cinta Pejuang Al-Aqsha

Cinta Pejuang Al-Aqsha
CPA 15: Mencium Debu Jihad Jumat


__ADS_3

Darmawan dan Irwan terdiam hening bersama motor yang tergeletak mati seketika. Darmawan telah terpisah dari motornya, ia tergeletak setelah menghantam tempat sampah plastik di pinggiran trotoar yang rendah. Sementara Irwan terbaring di aspal tidak bisa bergerak, sebab motor tergeletak menimpa kaki kirinya. Ada rasa sakit di kaki yang terjepit. Ia hanya meringis.


Di kejap berikutnya, Darmawan dan Irwan sadar sepenuhnya bahwa mereka telah jatuh. Darmawan segera bergerak bangun duduk seraya meringis dan berzikir pelan. Ia mencoba segera mengontrol seluruh panca inderanya. Rasa sakit mendera beberapa anggota tubuhnya.


Sejumlah orang yang ada di dekat lokasi segera berdatangan setelah mereka dikejutkan oleh insiden yang terjadi. Tiga pria segera membantu Irwan dengan mengangkat motor lalu mendorongnya dan memarkirnya di pinggir. Selanjutnya Irwan bisa bergerak dan berdiri. Dua orang setempat pun membantu Darmawan untuk berdiri.


Darmawan memberi jawaban bahwa ia tidak apa-apa ketika orang yang membantunya bertanya keadaannya. Ia segera mendatangi Irwan dengan langkah sedikit terpincang dan meringis menahan sakit. Rasa perih mendera lutut dan siku kanannya. Celana pada bagian lutut dan lengan jaket robek tergesek aspal.


Sementara kaki kiri Irwan berdarah pada bagian pergelangan. Termasuk dua jari tangan kanannya berdarah. Kaca helm yang dikenakannya pun pecah, tapi kepala dan wajah tetap terjaga. Rasa pegal yang cukup menyiksa dirasakan leher Irwan.


“Bagaimana? Perlu ke klinik?” tanya salah satu warga yang menolong.


“Tidak apa-apa, Pak. Nanti kami ke klinik sendiri,” jawab Darmawan setelah mengetahui luka Irwan.


“Iya, Pak. Lukanya tidak terlalu parah, hanya luka lecet,” kata Irwan yang langsung memikirkan tentang bisa tidaknya mereka sampai tepat waktu ke tujuan.


“Nih, kuncinya, Mas!” kata seorang lelaki separuh baya yang tadi mendorong motor Darmawan dan mengamankan kuncinya agar tidak didahului oleh orang jahat yang memanfaatkan kemalangan orang lain.


“Terima kasih, Pak,” ucap Darmawan.


“Minum dulu, Dik!” kata warga lain yang segera mengambilkan air minum kemasan bagi keduanya. “Hati-hati!”

__ADS_1


“Iya, Pak. Itu ibu-ibu di depan saya, lampu sennya ke kiri malah belok kanan,” kata Darmawan.


“Duduk dulu, biar perasaan dan pikirannya tenang dulu!” kata warga yang lain.


Irwan memilih duduk di pinggiran trotoar. Sementara Darmawan memeriksa kondisi motornya. Kaca spion kiri pecah, bodi motor lecet parah, lampu sen kiri juga pecah, dan pijakan kaki agak bengkok. Darmawan mencoba menghidupkan mesinnya.


“Alhamdulillah, masih bisa jalan,” kata Darmawan.


Darmawan kembali mematikan mesin motornya dan menghampiri Irwan.


Melihat luka yang dialami Darmawan dan Irwan tidak begitu serius, warga pun mulai membubarkan diri. Irwan sudah menutup luka di pergelangannya dengan ikatan kain sapu tangan yang ada di tas selempangnya.


“Kenapa bisa jatuh?” tanya pria yang punya dagangan kecil di atas trotoar.


“Ibunya cuma nengok kaget lalu wa ‘alaikum salam!” timpal Irwan pula, merasa kesal pula.


“Masyaallah, ujian buat kita,” ucap Darmawan seraya tersenyum dalam rasa perihnya. “Kita ke klinik dulu, Wan, takutnya infeksi luka antum.”


“Tapi nanti keburu gak?” tanya Irwan.


“Kalau tidak keburu, kita salat di masjid terdekat saja. Habis salat kita langsung ke sana, semoga saja bisa ikut pertemuannya,” kata Darmawan.

__ADS_1


“Kita ke klinik sebentar,” kata Irwan setuju.


Darmawan lalu menanyakan letak klinik terdekat kepada pemilik warung. Usai bayar apa yang diambil, keduanya pun pergi naik motor menuju klinik yang ditunjukkan.


“Alhamdulillah jalannya gak masalah,” kata Darmawan saat merasakan kenormalan laju motornya.


Di klinik ternyata cukup memakan waktu, karena harus melalui proses daftar dan menunggu. Tepat setelah luka Darmawan dan Irwan dibersihkan dan diperban, waktu azan salat jumat tinggal sepuluh menit lagi. Keduanya pun memutuskan mampir salat di masjid terdekat.


Usai salat mereka melanjutkan perjalanan.


“Jangan asal seruduk, Dar!” Irwan kali ini berani menasehati Darmawan.


“Baik, baik,” kata Darmawan menurut sambil tertawa kecil. Ia coba mengerti kekhawatiran Irwan, masalahnya sudah terbukti baru saja mereka jatuh, meski itu bukan kesalahan Darmawan. “Tapi antum tidak ada yang keseleo, kan?”


“Gak, hanya leher pegal betul. Kepala saya menghantam aspal, keras. Coba kalau gak pakai helm, innalillahi,” jawab Irwan.


“Innalilahi kalau syahid, ya gak apa-apa,” kata Darmawan lalu tertawa lepas, seolah tanpa beban lagi.


Irwan pun turut tertawa. Kecelakaan yang baru saja mereka alami seolah kian mengeraskan semangat mereka. Entah bagaimana, insiden itu justru memberi kenikmatan dalam hati mereka di saat sedang dalam perjalanan yang mereka yakini adalah fii sabilillah (di jalan Allah).


“Anggap saja kita mencium debu jihad, Dar,” kata Irwan menghibur.

__ADS_1


“Sepakat!” teriak Darmawan lalu kembali tertawa lepas.


“Fokus, fokus! Jangan sampai syahid sebelum bela Al-Aqsha!” kata Irwan yang membuat keduanya kembali tertawa. (RH)


__ADS_2