
Darmawan dan Irwan mendadak mengerem tawanya, ketika melihat kemunculan seorang wanita muda nan cantik cemerlang dalam balutan hijab kuning. Muslimah berwajah putih bersih beralis panjang laksana bentangan sayap burung elang itu, muncul dari ruang dalam. Di awal kemunculannya, paras jelitanya sudah berhias senyum semanis gula aren, seolah senyum itu bawaan sejak lahir.
“Abi!” panggilnya kepada sang ustaz yang duduknya menyampingi kedatangannya.
Ustaz Abu Rosyid berhenti tertawa dan berpaling kepada si gadis yang usianya mungkin lebih muda dari Darmawan, tapi selevel Irwan.
“Hidangannya sudah siap,” lanjut gadis tersebut kepada sang ustaz.
Ustaz Abu Rosyid mengangguk tanda mengerti. Anggukan itu membuat si muslimah cantik berbalik pergi, masuk ke ruang dalam.
“Mari, Nak. Kita makan!” kata Ustaz Abu kepada Darmawan dan Irwan yang sempat mematung dalam masa penyaksian munculnya sesosok makhluk indah yang tidak terduga di masa yang begitu ringkas.
Ustaz Abu bangkit terlebih dulu lalu berjalan masuk. Darmawan dan Irwan bangkit pula dan mengikuti ke ruang dalam.
Masuknya mereka lebih dalam di rumah besar itu, membuat keduanya menyaksikan sebuah rumah yang cukup megah dengan berbagai perlengkapan dan hiasan rumah yang tergolong mewah atau mahal.
Meski ada ruang makan yang memiliki meja makan yang lengkap dengan kursinya, tapi Darmawan dan Irwan disuguhkan hidangan lesehan di atas karpet hijau di ruangan lain yang memiliki dua aquarium besar lengkap dengan ikan hiasnya yang menarik.
Di salah satu sisi ruangan ad arak besar dan lebar yang penuh berisi susunan kitab-kitab tebal, baik itu Al-Quran dengan berbagai corak pada cover-nya, maupun kitab-kitab ilmu yang berjilid-jilid jumlahnya.
Di pinggiran hidangan telah duduk Gofur, menunggu Darmawan dan Irwan tiba.
Sebelum Ustaz Abu Rosyid dan kedua tamunya turut duduk, menghadapi hidangan yang berlauk tampak lezat dengan lalapan sayur yang segar, muslimah cantik tadi masih sempat datang meletakkan serbet makan di tengah-tengah hidangan. Gerak anggun dari si gadis mau tidak mau sangat menarik perhatian Darmawan dan Irwan selaku orang muda. Namun, ketertarikan itu mereka sembunyikan sedalam mungkin dan setidak kentara mungkin.
“Ummi ke mana, Izzah?” tanya Ustaz Abu kepada si gadis yang merupakan anak keduanya, namanya Azizah Dinarahmah, panggilannya Izzah. Ia kakak dari Gofur.
“Ke rumah Umi Dina sebentar, Bi. Ada yang mau dipinjam,” jawab Azizah dengan lembut, memberi daya tarik tersendiri di dalam benak Darmawan dan Irwan yang sudah duduk menghadap piring dan hidangan.
“Coba beri tahu Sigar, ada dua ikhwan yang harus diurut, habis jatuh di jalan!” perintah Ustaz Abu.
“Iya, Bi,” patuh Azizah lalu beranjak pergi.
__ADS_1
Ustaz Abu lalu turut duduk di pinggiran hidangan, tapi tidak menghadapi sebuah piring dan tidak bergerak mengambil piring yang disiapkan.
“Silakan, jangan sungkan, Darmawan, Irwan. Muslim itu satu tubuh, jadi tidak usah sungkan dan menahan diri, meski baru kenal Ustaz dan baru hari ini makan di rumah Ustaz,” kata Ustaz Abu.
“Iya, Ustaz!” jawab keduanya berbarengan.
“Mari!” kata Gofur pula sambil bergerak menyendokkan nasi ke piring Darmawan, lalu ke piring Irwan. Sementara piring ia sendiri sudah penuh oleh nasi dan lauknya.
“Ustaz tidak makan?” tanya Darmawan.
“Sudah bersama tamu-tamu sebelumnya,” jawab Ustaz Abu.
Darmawan dan Irwan pun segera melengkapi nasinya dengan lauk ikan dan daging ayam goreng.
Sambil berproses mengisi perut serta menikmatkan lidah dan tenggorokan, Ustaz Abu Rosyid menyampaikan sedikit perihal pertemuan yang terjadi beberapa saat yang lalu di rumahnya, bersama sejumlah ulama dan tokoh perjuangan kebebasan Masjid Al-Aqsha.
“Aksi jalan kaki atau longmarch akan start dari Islamic Center Bekasi ke Islamic Center Jakarta Utara, kemudian finish di Kedutaan Amerika Serikat sekaligus menyerahkan surat statemen kepada bonekanya Israel. Jika kalian berdua mau dan bisa eksis dalam agenda ini, nanti Ustaz akan tempatkan di pos yang bisa kalian lakukan tanpa merusak aktivitas pekerjaan keseharian kalian. Darmawan pekerjaan kesehariannya apa?”
“Berarti punya waktu yang tidak terikat dengan orang lain?” terka Ustaz Abu.
“Iya, Ustaz. Saya bos diri saya sendiri,” kata Darmawan sambil tertawa kecil.
“Kalau Nak Irwan?” tanya Ustaz Abu.
“Buruh pabrik, Ustaz,” jawab Irwan.
“Buruh pabrik tapi bisa datang di hari ini?” tanya Ustaz Abu lagi.
“Curi-curi izin, Ustaz. Tapi di pabrik ada yang bisa gantikan tugas saya sesekali,” kilah Irwan.
“Meski ini untuk kepentingan Islam, tapi diusahakan jangan sampai mengganggu sumber dana penunjang dari jihad ini. Terlebih Nak Irwan masih mandiri? Mandi makan dan tidur masih sendiri, belum ada temannya.”
__ADS_1
“Iya, Ustaz,” jawab Irwan seraya mengangguk malu-malu sedikit.
“Itu artinya, seorang mujahid lebih utama yang kuat finansialnya daripada mujahid yang nol sama sekali infak maal-nya (hartanya). Jangan sampai gara-gara fi sabilillah (di jalan Allah) lalu sumber nafkah utamanya tergadaikan. Kalau satu mujahid tanpa nafkah, Ustaz masih bisa santuni. Tapi kalau semua mujahid minta disantuni, bisa-bisa dana jihadnya habis buat alokasi makan mujahidnya,” kata Ustaz. “Seorang karyawan memang memiliki tanggung jawab kepada atasan dan perusahaan, tapi tanggung jawab kepada Allah lebih utama. Namun, jika kedua tanggung jawab itu bisa tertunaikan tanpa ada yang harus dikorbankan, sehingga justru bisa saling menguatkan dalam keseimbangan, itu kondisi yang jauh lebih utama.”
“Iya, Ustaz,” Irwan manggut mengerti.
“Namun, terkadang ada masa yang memaksa kita harus memilih antara Allah dan Rasul-Nya dengan tanggung jawab muamalah itu, tanpa bisa ditoleransi. Maka Allah dan Rasul-Nya lah yang harus diutamakan. Sebab, urusan Anda dengan si perusahaan dan atasan, ada di dalam urusan Allah. Bagaimana bisa kita mengabaikan Allah yang memegang urusan kita dengan atasan kita?”
“Iya, Ustaz,” Irwan manggut lagi sambil mengunyah makanannya.
“Katanya ada saudara saya yang mau diurut, Ustaz?” tanya seseorang begitu saja sambil berjalan muncul mendekat ke zona santap. Pria gemuk sedang itu mengenakan kaos T-Shirt putih bercelana hitam gombrong. Meski tampilannya jauh dari perawakan seorang ustaz, tapi ia bersorban dengan kain corak kotak-kotak merah putih khas bawaan ole-ole jemaah haji. Pria berkulit sawo matang itu berusia di atas 40-an. Namanya Sigar Brajamusti.
“Boleh nih!” kata Sigar sambil senyum-senyum langsung duduk mengambil piring dan sendok nasi.
“Saya itu menyaksikan, Mang Sigar tadi sudah makan di periode awal,” kata Gofur.
“Aah, satu saksi mah belum cukup. Lagi pula, makanan akan berlebih. Saya hanya membantu mengurangi jumlah yang akan tersisah. Lagi pula, satu lelaki perlu 2.500 kalori per hari. Untuk mengurut satu pasien saja, saya membutuhkan cadangan 1.000 kalori. Dua pasien berarti 2.000 kalori. Berarti harus tambah 2.000 kalori lagi untuk tetap fit sepanjang hari,” ujar Sigar menghitung sambil tangannya aktif bekerja di hidangan.
Ustaz Abu Rosyid hanya tertawa. Lalu katanya, “Ini dua saudara kita baru mendapat insiden. Urutnya pelan-pelan, biar tidak kaget.”
“Ustaz sudah kenal saya sebagai pakar urusan otot, urat dan tulang. Pokoknya dijamin, nanti pulang dengan terkenang-kenang,” kata Sigar dengan gaya yang begitu akrab dengan Ustaz Abu, seperti berbicara dengan rekan sejawat.
“Kalian berdua selesaikan makan, lalu berurusan dengan Pak Gisar. Sekali lagi jangan sungkan, anggap kerabat sendiri karena memang dasarnya kita ini saudara seakidah. Ustaz harus pergi untuk tugas lain,” kata Ustaz Abu kepada Darmawan dan Irwan. “Sebelum pulang, Gofur akan beri gambaran tentang program aksi kita dan melihat di pos mana kalian bisa bersinergi.”
“Baik, Ustaz,” ucap Darmawan.
“Ustaz tinggal ya,” kata Ustaz Abu seraya bangkit berdiri.
“Iya, Ustaz. Jazakallahu khairan atas jamuannya,” kata Darmawan.
“Wa iyyakum, semoga berkah buat kita semua,” kata Ustaz Abu lalu berbalik pergi masuk ke ruang lain dari rumah tersebut. (RH)
__ADS_1