Cinta Pejuang Al-Aqsha

Cinta Pejuang Al-Aqsha
CPA 13: Selamat Jalan, Izal


__ADS_3

Meski laut sedang ramah dan Allah bermurah rezeki kepada Afrizal, tapi Kamis malam ia memutuskan tidak turun melaut. Justru Karahang yang turun melaut memakai bagan Afrizal. Hasilnya, Jumat pagi Karahang pulang dengan sorak kegirangan. Sebanyak 33 rombong ikan teri ia dulang dari malam hingga Jumat subuh.


Limpahan ikan yang terus-menerus masuk ke jala bagan Afrizal, menimbulkan rumor gaib di kalangan para nelayan hingga ceritanya sampai ke mana-mana setingkat Kecamatan Kalianda. Dari sebutan sebagai “Anak Laut” hingga dugaan pakai jimat atau main pesugihan, beredar liar di kalangan warga pesisir tersebut.


Namun, bagi Karahang, ia sangat gembira, karena mendapat hasil tangkapan yang melimpah di malam Jumat tersebut. Tak henti-hentinya Karahang tertawa saat di pelelangan. Sebab, ketika ia memakai bagannya sendiri, ikan seakan tidak betah berenang di bawah penerangan lampu patromaknya.


Sementara itu, Afrizal memilih melakukan perenungan di malam Jumat. Salat 11 rakaat ia lakoni di tengah malam. Renungan yang dalam dan panjang ia pikirkan dengan kusyuk. Ia berdoa panjang kepada Rabb-nya, bahkan tangisnya pun meleleh menjelang langkah nekat yang akan ia lakukan di esok hari.


Pulang dari laut, Karahang tidak langsung tidur sebagaimana kebiasaan para nelayan setelah semalaman berjaga memantau ikan. Ia telah berjanji untuk menemani Afrizal ke pasar.


Afrizal wajib membeli ponsel. Itu kata Karahang. Dengan penghasilan laut yang sedang berkah, tak sulit bagi Afrizal membeli ponsel seharga beberapa juta. Dengan adanya alat komunikasi tersebut, maka keluarga dan orang-orang terdekat tidak akan kehilangan kontak dengan Afrizal selama ia pergi berjalan.


Afrizal pun membeli sepatu, tas ransel baru dan botol air minum. Seorang pengembara wajib membawa bekal air putih, meski yang dilaluinya bukan gurun pasir nan tandus.


Bendera Indonesia dan Palestina ukuran mini yang Afrizal pesan di penjahit juga sudah selesai, termasuk dua helai pita yang memiliki tulisan bordiran Arab berbunyi “Al-Aqsha Haqquna” (Masjid Al-Aqsha milik kami).


Afrizal juga mem-photocopy selebaran yang berisikan tulisan tentang status Masjid Al-Aqsha dan kondisinya. Sebuah buku Atlas lengkap ia beli sebagai peta perjalanan.


“Dengan adanya hp ini, kamu tidak akan susah. Kalau kamu mau kasih kabar ke Emak, tinggal telepon. Kalau kamu kangen sama Wetto, tinggal video call. Mau lihat peta juga ada. Dijamin kamu tidak akan hilang di jalan,” kata Karahang saat sibuk mengajari Afrizal penggunaan ponsel barunya.


“Tapi mana bisalah saya hapal dalam waktu sejam dua jam begini. Sebentar lagi azan Jumat,” kata Afrizal.


“Salah kamu sendiri tidak kursus hp sejak kecil!” rutuk Karahang dengan nada keras tapi bermakna bercanda.


Sementara di depan rumah, beberapa orang sibuk merapikan kursi-kursi plastik dan memasang terpal seperti orang sedang mau hajatan.


“Jangan lupa, ini nomor Wetto!” tandas Karahang sambil menunjukkan nama yang sudah terdaftar di nomor kontak.


“Iya, itu ada namanya,” kata Afrizal yang membuat Karahang hanya tertawa.


“Tinggal beberapa jam lagi kamu berangkat. Sudah tekad bulat hati kamu itu, Izal?” tanya Karahang, serius.


“Insyaallah, bismillah (bila kehendak Allah, dengan nama Allah),” jawab Afrizal mantap.


Setelah merapikan serta memastikan perlengkapan dan perbekalannya telah siap semua, Afrizal pun bersiap pergi ke masjid untuk melaksanakan salat jumat. Ia pergi ke masjid dengan pakaian serba putih, berpeci putih, berkoko putih dan bersarung putih.


Ia membawa setumpuk kertas yang merupakan photocopy-an tulisan tentang Masjid Al-Aqsha. Tumpukan kertas itu ia letakkan di atas kotak amal besar yang mematung di dekat pintu masuk utama masjid. Dengan demikian, para jemaah salat bisa mengambilnya selembar-selembar untuk dibaca sambil menunggu waktu azan berkumandang.


Beberapa menit sebelum waktu azan tiba, sekretaris masjid membacakan sejumlah laporan keuangan dan satu pengumuman.


“Hadirin jemaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah, setelah tadi laporan keuangan kas masjid dan imbauan-imbauan demi ketertiban dan kesempurnaan salat berjemaah kita, kami juga ingin menyampaikan bahwa saudara kita, Afrizal, akan melakukan satu perjalanan dengan niat yang suci demi membela kepentingan agama kita, yaitu membela dan menyuarakan tentang kondisi Masjid Al-Aqsha, masjid suci ketiga kita. Karena perjalanannya akan dimulai setelah salat jumat ini, ia meminta sedikit waktu untuk menyampaikan sepatah dua patah kata. Kepada Saudara Afrizal, kami persilakan,” kata Sekretaris Masjid.


Afrizal yang sudah duduk di saf terdepan, segera berdiri dan mengambil alih mic di mimbar. Senyumnya mekar dengan jantung yang berdebar kencang, karena ia saat itu dilanda demam panggung.


Sejenak ia menelan ludah keringnya di balik senyumnya kepada para jemaah yang sudah memenuhi ruang masjid hingga ke teras. Sejumlah orang ia lihat terpejam dalam duduknya, termasuk Karahang yang duduk bersender di tiang tengah, tapi lebih banyak jemaah yang dengan serius memandang kepadanya.


“Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuhu (semoga keselamatan dilimpahkan kepada Anda sekalian, juga rahmat Allah serta barakah-Nya)!” ucap Afrizal.


“Wa ‘alaikum salam warahmatullaahi wa barakatuhu (dan semoga kesejahteraan, rahmat, dan barakah-Nya dilimpahkan kepada Anda sekalian juga)!” jawab para jemaah yang membuat Karahang terkesiap sejenak, lalu terpejam kembali.

__ADS_1


“Saudara-saudara salat jumat sekalian, hari ini saya akan melakukan perjalanan jauh karena Allah,” kata Afrizal lalu berhenti sejenak, seolah diam untuk menyusun dan memilih kata yang tepat untuk disampaikan. Kemudian dia melanjutkan, “Saat ini, kondisi Masjid Al-Aqsha di negeri Palestina sangat buruk, tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk membelanya. Karena itu saya punya gagasan untuk membela dengan cara pergi berjalan kaki. Lalu saya akan memberi tahu orang-orang yang saya jumpai tentang kondisi Masjid Al-Aqsha. Karena ini adalah perjalanan panjang, saya pribadi dan atas nama keluarga saya, memohon maaf kepada saudara-saudara sekalian, jika saya dan keluarga ada salah dan dosa. Saya minta keikhlasannya para jemaah dan saya minta doa dan dukungannya, agar perjalanan saya ini membawa manfaat dan saya bisa pulang kembali dengan selamat.”


“Aamiin!” jawab para jemaah salat jumat.


“Demikian. Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuhu!” kata Afrizal mengakhiri.


“Wa ‘alaikum salam warahmatullaahi wa barakatuhu!” jawab para jemaah.


Setelah Afrizal turun kembali ke safnya, segera muazin bangkit dan mengumandangkan azan.


Usai salat jumat, Afrizal lebih dulu keluar dan berdiri di dekat pintu. Ia menyalami para jemaah yang keluar sampai orang terakhir.


Para jemaah pun ternyata tidak langsung pulang ke rumahnya masing-masing, tapi mereka pergi ke rumah Afrizal.


Di rumah Afrizal telah ramai berkumpul kaum wanita dan anak-anak dari kerabat hingga para tetangga. Selain sibuk menyiapkan makanan untuk para tamu dan warga, mereka juga menunggu-nunggu kepulangan Afrizal.


Afrizal pulang bersama Ustaz Jaya, ketua masjid dan Ustaz Yahya yang mengurus musala seberang jalan depan rumah Afrizal. Bersamanya pula Pak RW dan Pak RT.


“Izal sudah datang, Nur!” teriak seorang ibu memberi tahu ibunya Afrizal.


Nurani yang saat itu tampil dengan pakaian muslimah yang tampak baru, segera berjalan keluar rumah. Ia segera menyambut anaknya dan mencium keningnya dengan senyum keikhlasan.


“Persilakan para lelaki ambil makanan dulu!” teriak Nurani kepada tim ibu-ibu di bagian prasmanan. Lalu katanya kepada Pak RW dan pak ustaz, “Silakan Pak RW, Pak Ustaz!”


“Mari, Pak!” kata Afrizal pula memandu menuju prasmanan untuk mengambil makan siang sekaligus bentuk syukuran dari keluarga Afrizal.


Hamparan karpet telah digelar untuk makan bersama di bawah naungan tenda terpal. Pesta syukuran keberangkatan Afrizal berlangsung meriah.


Kepada para tokoh masyarakat, Afrizal menunjukkan rasa hormat yang tinggi. Terlebih ketika Made Sadika turut hadir.


“Dalam melakukan perjalanan, contohlah lebah, Zal. Lebah itu mengambil apa yang bermanfaat untuk dirinya dan orang lain, tapi tidak merusak bunga yang dia hinggapi,” kata Made memberi pesan sekilas tapi sangat mendalam.


“Insyaallah, Daeng,” jawab Afrizal.


Made menepuk sekali bahu kiri Afrizal lalu berlalu ke prasmanan.


Sejenak Afrizal memandang kepada seorang gadis cantik berkulit putih yang berdiri di dekat pintu rumahnya. Gadis berambut diikat ekor kuda itu tak lain adalah Wetto, kali ini wajahnya tanpa lapisan masker.


Tidak ada sedikit pun senyum di wajah gadis idaman Afrizal itu. Wajah itu lebih terkesan dingin dan murung. Namun, tidak ada waktu bagi Afrizal untuk mencoba membaca arti raut dingin paras Wetto. Ia harus beramah tamah kepada para tamu.


“Coba itu, mujahid kita, harus ikut makan!” teriak Ustaz Yahya. “Bagaimana mau jalan kaki jauh-jauh kalau tidak ikut makan?”


“Iya, Ustaz!” jawab Afrizal seraya tersenyum.


Para tamu sebagian hanya tertawa ringan seraya menikmati menu yang cukup nikmat.


“Sana ambil makan. Setelah itu ganti pakaian dan berangkat!” kata Nurani kepada putranya.


“Iya, Mak.” Afrizal menurut.

__ADS_1


Afrizal pun bergabung bersama para pemimpin dan tokoh masyarakat menikmati makanannya. Dalam perbincangan di sela-sela makan itu, beberapa orang masih mempertanyakan ide Afrizal untuk bersusah payah jalan kaki untuk menyebarkan berita tentang Masjid Al-Aqsha. Namun, justru Ustaz Jaya dan Yahya yang memberi penjelasan yang membenarkan dan mendukung langkah Afrizal.


“Ini langkah besar dan masuk kategori jihad, karena memang baru inilah yang mungkin bisa Afrizal lakukan untuk membela Masjid Al-Aqsha. Dan faktanya, bahwa kita belum bisa berbuat apa yang Afizal akan lakukan. Insyaallah, insyaallah, Allah memberkahi,” ujar Ustaz Jaya dengan bijak.


“Saya setuju, Ustaz. Itu masjid punya kita yang diobok-obok musuh kita. Wajiblah kita bela!” kata Pak RW pula untuk mempertegas posisinya mengenai rencana Afrizal.


Pada akhirnya, Afrizal sudah waktunya berangkat.


Afrizal telah masuk ke dalam rumah dan berganti pakaian. Saat ia keluar melalui pintu rumahnya, semua berdesakan di teras untuk melihat Afrizal dari dekat. Bahkan sejumlah orang berlomba-lomba memfoto Afrizal dengan ponsel mereka.


“Beri jalan dan ruang! Beri jalan dan ruang!” teriak Karahang mencoba menertibkan massa.


Warga yang ada pun perlahan bergerak memberi ruang lebih luas. Sejumlah pria turut mengatur warga agar tidak berdesakan.


Kini Afrizal tampil dengan mengenakan kaos putih bersablon gambar pejuang mengangkat bendera merah putih. Ia mengenakan celana jeans warna hitam dengan sepatu baru warna hitam pula. Kepalanya diikat dengan pita putih yang memiliki bordiran hitam tulisan Arab berbunyi “Al-Aqsha haqquna” (Al-Aqsha hak kami). Tas ransel tebal dan besar yang disandang di punggungnya berwarna hijau gelap seperti warisan dari akademi militer. Dua bendera, Indonesia dan Palestina, bertangkai kecil dipasang di ransel, sehingga berdiri menyilang di belakang punggung Afrizal.


Semangat menggebu-gebu dengan jantung terus berdebar kencang melanda semangat Afrizal. Rasa harunya pecah dengan air mata ketika ia memeluk sang ibu yang dicintainya. Nurani memeluk erat tubuh putranya, ia tidak menangis seperti putranya saat itu.


“Ingat, Allah ada sampingmu!” bisik Nurani memberi dukungan moril dan keimanan kepada putranya. “Jangan buat Emak jadi menyesal dengan melepas kamu, Izal.”


“Iya, Mak,” jawab Afrizal tak kuasa menahan air matanya.


“Saya yang akan jaga Emak, saya juga akan jaga Wetto untuk Kakak!” kata Suryani, adik perempuan Afrizal, saat ia memeluk kakak lelakinya itu.


“Cieeee!” sahut sejumlah kaum hawa mendengar kata-kata terakhir Suryani lalu tertawa riuh.


“Bicara apa, kamu!” hardik Afrizal pelan sambil mendorong pelan jidat adiknya dengan telunjuk.


Suryani hanya tertawa panjang sambil melirik kepada Wetto yang ada di sudut sana, menyaksikan pelepasan pemuda itu dari jarak jauh.


Setelah peluk-peluk pelepasan dengan para kerabat, para pemimpin warga dan tokoh, Afrizal menyalami kembali kaum lelaki satu per satu.


“Doakan Afrizal, Mak, Ustaz, Pak RW, Pak RT!” teriak Afrizal keras lalu menyeka air matanya. Ia akhirnya memberi salam, “Assalamu ‘alaikum!”


“Wa ‘alaikum salam!”


Dengan meluruskan niat hanya untuk Allah, dengan ketekadan yang bulat demi agama Islam, dengan semangat membara demi memperjuangkan Masjid Al-Aqsha, dan dengan gagah berani melangkah ke depan, Afrizal berjalan dengan wajah tegak meninggalkan halaman rumahnya.


Untuk beberapa saat ia melangkah sambil menatap Wetto yang berdiri di bawah pohon pinggir jalan raya. Gadis cantik itu hanya menatapnya dengan dingin. Namun kemudian, Wetto menggerakkan tangan kanannya ke wajahnya, memberi isyarat agar Afrizal meneleponnya.


Senyum Afrizal pun mengembang dengan perasaan yang berbunga. Wetto memberi respon yang membuyarkan kedinginan sikapnya. Afrizal mengangguk lalu melambaikan tangan kepada Wetto. Namun, gadis itu hanya diam memandangi kepergian Afrizal menyusuri jalan raya di kaki Gunung Rajabasa itu.


“Al-Aqsha! Al-Aqsha! Al-Aqsha!”


Sekelompok anak-anak berjalan di belakang Afrizal sambil kompak meneriakkan slogan “Al-Aqsha”. Mereka dipandu oleh Karahang yang turut mengiringi perjalanan Afrizal.


Sementara orang-orang yang berada di rumah yang ditinggalkan terus memandang kepergian Afrizal yang kemudian hilang di balik tikungan jalan raya.


Warga-warga di rumah-rumah di pinggir jalan yang dilalui Afrizal dan rombongan bocahnya, memandangi langkah Afrizal yang lewat di depan mereka kemudian hilang menuju kampung sebelah. (RH)

__ADS_1


__ADS_2