
Sabtu pagi yang cerah. Afrizal telah kembali berjalan menuju Pelabuhan Bakauheni. Ia akan naik kapal laut dan menyeberang ke Pelabuhan Merak di Banten.
Afrizal sudah meninggalkan Kalianda. Kini Afrizal berjalan di pinggiran Jalan Trans Sumatera yang melintasi Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan. Kendaraan besar-besar seperti bus dan truk yang masuk ke Pulau Sumatera atau yang mau meninggalkan Provinsi Lampung, melalui jalan tersebut selain Tol Bakauheni yang sudah diresmikan pembangunan proyeknya oleh Presiden Joko Widodo.
Malam pertamanya di dalam perjalanan berlalu dengan aman tapi susah tidur dan merasakan sakit pada otot-otot tubuh, terkhusus kaki. Namun, lelah itu hanyalah rasa sakit yang tidak begitu mengganggu. Ia masih sangat kuat untuk melanjutkan perjalanan yang masih jauh. Itu hanya lelah kejutan yang dialami oleh raga karena memulai satu aktivitas yang baru sepanjang hari. Afrizal yakin bahwa dua atau tiga hari, kaki dan tubuhnya akan terbiasa. Terlebih ia adalah pemuda yang sehari-harinya adalah seorang pekerja keras.
Afrizal bermalam di sebuah masjid yang ada di area rumah makan Padang. Rumah makan yang biasa menjadi tempat singgah bus-bus dan truk barang atau pelaku perjalanan lintas provinsi. Tidak lupa ia meninggalkan jejak misinya dengan membagikan kertas tulisan Al-Aqsha kepada pengurus masjid dan orang-orang yang salat di situ. Setumpuk kertas pun ia tinggalkan di atas tromol kaca masjid di dekat pintu utama, agar bisa diambil dan dibaca oleh jemaah yang datang di kemudian waktu.
Setelah sarapan dengan menu yang berat di rumah makan Padang, Afrizal kembali melanjutkan langkah jihadnya dengan semangat yang tetap tinggi dan menggebu. Tak lupa doa ia lafazkan di dalam dada. Ia sangat berharap kepada Allah agar diberi perjalanan yang aman dan nyaman, tidak seperti hari kemarin yang sampai-sampai digonggongi anjing galak.
Sedikit pun Afrizal tidak bisa membayangkan hal-hal apa yang akan ditemuinya nanti di tengah perjalanan.
Dan memang, di pagi itu, satu godaan datang menghampiri Afrizal.
Afrizal tetap dalam langkahnya, saat tiga siswi berseragam pramuka melintas di jalan itu dengan menduduki sebuah sepeda motor yang suaranya berisik, karena ada suara khas yang ditimbulkan dari knalpot yang bocor. Dua dari siswi itu berjilbab, yang satu tidak berjilbab dengan rambut berkibar duduk paling belakang.
Saat sepintas mereka melihat keberadaan Afrizal, yang berjalan dengan ikat kepala dan dua bendera kecil di punggungnya, siswi berambut panjang buru-buru menepuk bahu temannya yang menyetir sepeda motor kuning itu.
__ADS_1
“Cacacacacacaca! Berhenti berhenti berhenti!” pekik siswi berambut panjang seperti orang panik.
Kedua temannya pun terkejut. Caca Ineke yang menyetir buru-buru mengerem. Akibatnya, motor sempat berlari tidak lurus dan berhenti dengan posisi nyaris jatuh.
“Aaaa!” jerit ketiganya, tapi mereka tidak sampai jatuh, kaki-kaki mereka lebih kuat menahan kemiringan motor.
Cara berhenti motor dan jeritan ketiga siswi itu membuat Afrizal terkejut. Ia buru-buru berlari bermaksud membantu. Namun, ketika Afrizal tiba di dekat mereka, tidak sampai terjadi hal buruk.
“Bena! Apa-apaan sih, kamu?!” bentak Caca Ineke kesal kepada temannya yang berambut panjang yang bernama lengkap Rebena Suraiz.
“Kamu buat kita bahaya!” tukas siswi yang duduk terjepit di tengah, turut memarahi Rebena. Ia bernama Puri Dahlia. Seharusnya “Putri Dahlia”, tapi karena kesalahan bidan, satu huruf tertinggal saat menulis di akte lahir. Puri hanya bisa berseloroh bahwa hurup T dari namanya masuk lagi ke dalam rahim ibunya, yang kemudian lahir kembali bersama adiknya dan menjadi huruf pertama dari nama adiknya, yaitu Timan Abadi.
“Kamu kebelet pipis?!” tanya Caca masih bernada membentak.
“Enggak, tapi itu!” jawan Rebena lalu menunjuk kepada Afrizal yang berdiri tidak jauh dari mereka yang masih duduk berdesak di atas sepeda motor.
Serentak Caca dan Puri menengok memandang kepada Afrizal. Dipandangi bersama oleh ketiga gadis belia itu, Afrizal segera tersenyum kuda lalu bertanya dengan ekspresi turut khawatir, “Kalian tidak apa-apa?”
__ADS_1
Ketiga gadis itu terdiam dingin memandang Afrizal sambil geleng kepala serentak sekali. Namun kemudian, Rebena buru-buru turun dan menghampiri Afrizal dengan senyum dan tatapan senang. Ia juga buru-buru mengeluarkah ponselnya.
“Abang sedang apa ini?” tanya Rebena dengan tatapan serius kepada Afrizal.
Namun, sebelum Afrizal menjawab, Caca sudah berteriak.
“Bena! Kita bakal telaaat!”
“Bukan bakal telat lagi, tapi sudah telat!” timpal Puri.
Rebena tidak langsung menjawab, tapi berbalik menghampiri kedua temannya.
“Ini lebih prioritas. Ayo beraksi untuk Trio Mmmuah Panengahan. Kalau kita terus ke sekolah, Pak Sutrisno Banir yang mengaku punya benang darah dengan Bapak Tri Sutrisno itu tidak akan buka gerbang buat kita. Sampai nangis madu pun, dia pasti bergeming seperti Rajabasa. Yang ini....”
Rebena menunjuk Afrizal tanpa memandangnya.
“Kalau sampai dilewatkan, seumur hidup belum tentu ketemu lagi. Ayo ayo ayo, pada turun. Kita ambil gambar bagus!” kata Rebena penuh semangat.
__ADS_1
Perkataan Rebena ternyata langsung dicerna dan diamini oleh Caca dan Puri. Keduanya segera turun dari motor dan berubah jadi gembira. Ketiganya kemudian mendatangi Afrizal dan mulai menggoda dan mengorek.
Rebena dan Caca sibuk menanyai Afrizal dengan gaya centil dan cerdas mereka. Sementara Puri sibuk merekam dan memotret dengan kamera ponsel bagusnya. Sesekali ketiganya tertawa ramai, centil dan sesekali pula saling mengejek dan bergurau, terlebih Afrizal adalah seorang pemuda, meski tak tampan-tampan sekali. (RH)