
Usianya masih muda, baru 32 tahun. Fisiknya sehat, warna kulitnya putih bersih dan parasnya bisa dinilai tampan oleh orang kebanyakan. Kumisnya bersih dan memelihara jenggot tipis membentuk bulan sabit di wilayah dagunya. Hari ini ia mengenakan peci hitam khas orang Indonesia, mempertinggi wibawanya yang sudah tercipta dari pakaian dan jubahnya yang serba hitam. Bahkan ia bisa dinilai mirip sebagai pendekar dari Banten.
Ialah Ustaz Taufik Karomah, dai muda yang sudah langlang buana sampai ke Yaman sebelum masa perang, untuk belajar khusus tentang Al-Quds yang di dalamnya ada Masjid Al-Aqsha, serta mempelajari tentang Zionis dan Yahudi secara detail dari sejarah hingga perkembangan termutakhir.
Ustaz Taufik Karomah telah ditunjuk menjadi Duta Al-Quds oleh sebuah lembaga khusus yang memperjuangkan tentang pembebasan Masjid Al-Aqsha.
Seperti hari ini, Ahad pagi, ia sedang melaksanakan tugasnya untuk mensosialisasikan tentang kondisi Masjid Al-Aqsha di Al-Quds (Yerusalem Timur) kepada ratusan umat Islam yang menghadiri acara Tabligh Al-Aqsha. Acara tersebut di adakan di Masjid Al-Jihad di Kamal Muara, Jakarta Utara, berbatasan langsung dengan Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.
Acara yang diadakan oleh Remaja Masjid Al-Jihad (Remas Jihad) itu, dihadiri oleh ratusan jemaah laki-laki dan wanita, mayoritas adalah kalangan nelayan, karena daerah itu memang terletak di kawasan pelelangan ikan dan di pinggir laut Teluk Jakarta.
Di antara jemaah muslimin, ternyata di sana hadir pula Darmawan Caniago, pedagang es yang beberapa hari lalu diinfokan oleh Hendra tentang acara tersebut. Hari ini ia tampil sederhana tanpa peci dengan baju kemeja bermotif kotak-kotak biru dan putih. Ia duduk dengan khidmat.
Di atas dinding depan masjid, tepatnya di atas mimbar, terbentang spanduk yang menjelaskan nama acara, tema dan pembicaranya.
Agak jauh di saf belakang, hadir pula Irwan, seorang karyawan di pabrik boks speaker. Hari ini ia tidak lembur. Kalaupun seandainya lembur, ia akan memilih izin dengan berbagai alasan demi hadir di acara taklim tersebut. Ia tampil dengan kopiah warna hitam dan mengenakan baju koko warna putih. Di tangannya terpegang beberapa lembar fotocopy-an yang berisi tulisan tentang Masjid Al-Aqsha, baik sisi sejarahnya, kedudukannya di dalam Islam dan perkembangan terkininya. Semua jemaah yang hadir masing-masing sudah memegang dan memiliki makalah tersebut.
Ternyata, di barisan muslimat, turut hadir Nirmala, tanpa sepengetahuan Darmawan, satu-satunya orang yang dikenalnya hadir di masjid itu.
Satu-satunya pembicara untuk majelis itu, Ustaz Taufik Karomah, telah memulai ceramahnya. Semua serius menyimak. Dari penjelasan sang ustaz, para jemaah bisa menciptakan bayangan masing-masing tentang kondisi Masjid Al-Aqsha.
“Para ikhwah (Saudara)! Saya pernah menyurvei 500 pelajar aliyah. Saya hanya berikan satu pertanyaan: Di negara mana Masjid Al-Aqsha berada?” kata Ustaz Taufik dalam ceramahnya. Ia sejenak berhenti berbicara mengambil jeda waktu seraya menatap jemaah muslimin dan muslimat.
Lalu Ustaz Taufik melanjutkan penyampaiannya.
“Hasilnya cukup mengejutkan. Dari 500 pelajar tersebut, yang menjawab benar berjumlah 30 anak. Artinya, dari 500 hanya 6 persen yang tahu di negara mana Masjid Al-Aqsha berada. Ini jelas angka yang sangat memprihatinkan. Persentasenya akan lebih kecil jika saya menanyakan di kota mana Masjid Al-Aqsha berada. Sekarang saya akan bertanya kepada seluruh jamaah yang hadir di Masjid Al-Jihad ini. Hanya tunjuk tangan saja, muslimin dan muslimat. Nanti yang benar, bisa mendatangi panitia selepas salat zuhur untuk minta hadiahnya,” kata Ustaz Taufik yang pada ujungnya memandang kepada pembawa acara.
Panitia dan para jemaah tertawa rendah mendengar candaan ringan sang ustaz.
“Coba para ikhwan (saudara), tunjuk tangan bagi yang benar-benar tahu, negara mana tempat Masjid Al-Aqsha berada?” tanya Ustaz Taufik.
__ADS_1
Irwan dan Darmawan yang merasa yakin tahu, segera angkat tangan laksana sedang lomba cerdas dan cermat. Ia melihat, sejumlah jemaah juga angkat tangan tanda mereka tahu. Termasuk di jajaran muslimat, sejumlah wanita juga angkat tangan. Bahkan ada yang terlihat ragu-ragu. Namun, jumlah yang tunjuk tangan jauh lebih sedikit dari mereka yang hadir.
“Alhamdulillah, umat Islam di sini banyak yang tahu, meski masih kurang banyak,” kata Ustaz Taufik yang ujungnya membuat hadirin tertawa rendah.
Ustaz muda yang berceramah memilih berdiri bebas di depan jemaah, bergerak mendekati seorang pria bertubuh gempal berkoko putih bersih, memakai songkok khas suku Bugis. Usianya sudah lima puluh lebih. Ia termasuk salah satu yang tunjuk tangan.
“Baik, dengan pak haji siapa saya bertanya?” tanya Ustaz Taufik lembut sambil menjabat tangan pria berkulit hitam itu.
“Haji Daeng Petandre!” jawab pria tersebut dengan lantang dan bangga, terlebih pelantang (mic) disodorkan di depan mulutnya.
“Di negara mana, Haji Daeng?” tanya Ustaz Taufik lagi dengan nada yang lembut dan hormat.
“Timur Tengah!” jawab Haji Daeng Petandre mantap, yakin 100 persen benar.
“Benar!” seru Ustaz Taufik agak keras, lalu kembali ke area berdirinya.
“Tapi kurang spesifik,” kata Ustaz Taufik dengan nada lebih rendah tapi terdengar jelas. “Timur Tengah bukan nama negara, tapi nama kawasan tempat Al-Aqsha berada. Coba, akhi (saudaraku) yang kemeja kotak-kotak biru!”
Ustaz Taufik menunjuk Darmawan, membuat si pemuda agak tersentak jantungnya.
“Di negara mana?” tanya Ustaz Taufik lagi.
“Palestina, Ustaz!” jawab Darmawan.
“Tepat!” pekik Ustaz Taufik penuh semangat. “Palestina. Al-Aqsha ada di Al-Quds, di Palestina.”
“Ustaz!” seru seorang pemuda sambil tunjuk tangan. Ketika Ustaz Taufik memandangnya, ia langsung bertanya, “Bukankah Palestina masih dijajah, Ustaz?”
“Na’am (iya). Meski faktanya Palestina adalah tanah terjajah oleh Israel, tapi hakekatnya itu adalah negara Palestina. Maka wujud solidaritas kita untuk tanah yang diberkahi tersebut, kita harus mengakuinya sebagai sebuah negara dan Israel adalah negara yang ilegal, karena mereka adalah penjajah. Dan kita sebagai bangsa Indonesia, berutang besar kepada bangsa Palestina, karena Palestina adalah salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia.
__ADS_1
Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia dimulai dari Palestina dan Mesir, sebagaimana yang diungkapkan di dalam buku Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri karya Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia, M. Zein Hassan Lc. Bapak Zein ini adalah pelaku sejarah. Ketika Ir. Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, dunia belum mengakui kemerdekaan kita.
Haji Agus Salim pun ditugaskan untuk menggalang dukungan ke negara-negara Timur Tengah, tapi saat itu belum juga mendapat dukungan signifikan. Palestina tampil sebagai bangsa pertama yang mengakuinya. Bahkan, sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, seorang mufti besar Palestina sudah tampil mendorong pengakuan terhadap kemerdekaan Indonesia. Mufti Muhammad Amin Al-Husaini secara terbuka mendukung kemerdekaan Indonesia pada 6 September 1944, setahun sebelum proklamasi. Pernyataan Mufti Muhammad Amin disiarkan oleh radio Berlin berbahasa Arab. Radio itu menyiarkan ucapan selamat dari Mufti. Mufti pergi menghindar ke Jerman pada permulaan Perang Dunia II.
Syeikh Muhammad Amin pun mendesak negara-negara Timur Tengah agar mengakui kemerdekaan Indonesia, sehingga berhasil meyakinkan Mesir, kemudian diikuti oleh Suriah, Irak, Lebanon, Yaman, Arab Saudi, dan Afghanistan,” jawab Ustaz Taufik.
“Dengan begitu minimnya pengetahuan muslimin dunia, khususnya umat Islam di Indonesia, tentang Masjid Al-Aqsha, maka perlu ada berbagai upaya untuk mensosialisasikan, mengabarkan, mengingatkan dan mengampanyekan Masjid Al-Aqsha kepada seluruh umat Islam. Banyak saudara-saudara seiman yang bertanya kepada saya, ‘Ustaz, untuk apa kita mengurusi orang Palestina dan Al-Aqsha yang jauh di sana, orang Islam di Indonesia saja banyak yang butuh bantuan?’ Maka, salah satu tugas saya, dan nanti akan menjadi tugas Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu, adalah menjelaskan, mengapa pembelaan kepada Masjid Al-Aqsha menjadi tanggung jawab kita.”
Ustaz Taufik lalu bergerak mengambil lembaran makalah miliknya di atas meja pembawa acara.
“Di tangan jamaah sekalian telah ada makalah yang di dalamnya terdapat kedudukan Masjid Al-Aqsha di dalam Islam yang dilengkapi dengan ayat dan haditsnya. Ada dua masjid yang disebut namanya dan diabadikan di dalam Al-Quran oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. A’udzu billahi minasysyaithaanirrajiim ....”
Ustaz Taufik kemudian melafaz Al-Quran Surat ke-17 (Al-Israa’) ayat 1.
“Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsha yang diberkahi sekelilingnya untuk Kami perlihatkan tanda-tanda kekuasaan Kami, bahwasanya Dia itu Maha Mendengar dan Maha Melihat. Al-Israa’ ayat 1,” kata Ustaz Taufik menerjemahkan lafaz Arab yang tadi dibacanya. Lalu tanyanya kepada jemaah, “Ayat ini menceritakan kisah sejarah apa?”
“Isra’ mi’raj!” jawab sejumlah jemaah kencang dan penuh semangat.
“Jadi, Al-Aqsha disebut oleh Allah sebagai sebuah masjid, berarti milik orang Islam. Berdasarkan ayat tersebut, menunjukkan bahwa Allah sendiri yang memberi nama kepada Masjid Al-Aqsha, sama seperti Masjidil Haram di Makkah, Arab Saudi. Al-Aqsha pun merupakan tempat singgah isra’ dan mi’raj Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan merupakan tempat yang diberkahi Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Selain ketiga kedudukan yang disebutkan Allah di dalam Surah Al-Israa’ ayat 1 itu, kedudukan dan keutamaan lainnya disebutkan di dalam hadits-hadits Rasulullah. Para ikhwan sekalian, saya hanya akan baca terjemahannya saja, para ikhwan yang baca haditsnya. Kalau Ustaz kan sudah hapal.”
Terdengar suara tawa rendah jemaah.
“Pertama, Masjid Al-Aqsha di Palestina adalah kiblat pertama umat Islam. Sebelum Allah Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan menghadap ke Masjidil Haram di Makkah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menunaikan salat menghadap Masjid Al-Aqsha sewaktu berada di Makkah sebelum hijrah, hingga hijrah ke Madinah, dalam kurun waktu 16 bulan. Kemudian atas perintah Allah, beliau salat menghadap Ka'bah (Masjidil Haram) di Makkah. Bukti peninggalan adanya peralihan kiblat dari Masjid Al-Aqsha ke Masjid Al-Haram, terbukti dengan adanya Masjid Qiblatain di Madinah. Masjid Qiblatain merupakan masjid tempat di mana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menerima perintah pemindahan arah kiblat itu. Maka disebut Masjid Qiblatain, artinya masjid dua kiblat!” seru Ustaz Taufik lantang menjelaskan. Lalu tanyanya kepada jemaah dengan nada datar, “Bisa dimengerti Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, Bujang-Bujang, Gadis-Gadis?”
“Bisaaa!” jawab jemaah serentak dan panjang.
“Al-Aqsha kiblat leluhur, Ka’bah kiblat yang sempurna. Sekarang yang kedua. Silakan para jamaah membaca haditsnya, boleh siir (pelan) boleh jahr (keras).”
Maka sebagian jemaah membaca lafaz Arab dari sebuah hadits yang ada di dalam makalah yang mereka pegang. Sejenak terdengar riuh seperti suasana pasar, karena pembacaan mereka tidak bersamaan. Namun tak lama, suasana kembali tenang, semua mata kembali tertuju kepada Ustaz Taufik. (RH)
__ADS_1