
Berani mengorbankan pekerjaan demi urusan agama adalah prinsip yang dianut oleh Irwan. Karenanya, di hari Jumat itu ia izin tidak masuk kerja.
“Ada urusan sangat penting dan mendesak, Mas,” kata Irwan saat izin kepada mandor Solihin pada Kamis sore menjelang pulang kerja.
“Urusan penting apa sih? Kawin aja belum,” kata Solihin berseloroh yang tandanya mengiyakan.
Irwan yang cukup akrab dengan mandornya itu hanya tertawa cengengesan, tapi tidak menjawab terus-terang.
“Nanti tak kasih buah tangan deh, Mas,” kata Irwan memberi sogokan di belakang.
“Iya, nanti biar saya yang jagain Mpok Syamsiah,” kata Solihin masih berseloroh.
Irwan hanya tertawa saja, ia tidak mau lelah lisan untuk menjelaskan atau menyangkal dugaan mandornya.
Sebagai operator mesin v-cut yang besar, hanya beberapa orang yang bisa menggantikan posisinya jika ia tidak masuk kerja. Selain mandor dan wakilnya, hanya ada satu karyawan yang bisa, itu pun ia memegang pos yang penting di bagian lain. Jika Irwan tidak masuk, biasanya mandor Solihin atau wakilnya yang menggantikannya.
Pada hari Jumat, sebagaimana komunikasi yang tercipta antara Irwan dan Darmawan, keduanya akhirnya bertemu dua jam sebelum waktu azan Jumat. Satu jam perjalanan dengan sepeda motor adalah waktu yang cukup untuk sampai ke masjid tempat sejumlah ulama berkumpul membahas tentang Masjid Al-Aqsha usai salat.
Tanpa aral halangan melanda, Irwan dan Darmawan saling bertemu di tempat yang disepakati. Selanjutnya keduanya pergi berboncengan menelusuri jalan raya Ibu Kota Indonesia.
__ADS_1
Ternyata, Darmawan memiliki cara mengendara yang cukup ekstrem, kencang dan terburu-buru, tapi ia tangkas mengendalikan motornya. Di dalam hati, Irwan berdebar juga naik motor bersama Darmawan, tapi perasaan itu ia tahan dan berusaha untuk tenang dan tidak takut. Ia harus percaya kepada sahabat barunya itu.
Ketika jalan lapang, Darmawan tarik gas kencang. Ketika macet, celah sempit di antara dua mobil pun ia paksakan, yang penting tidak menggores bodi mobil. Berebut peluang dengan motor lain pun ia lakoni. Dalam hati Irwan hanya geleng-geleng tapi tidak komentar.
“Woi! Mau mati!” teriak sopir mobil boks saat Darmawan menyalip dengan peluang yang sempit.
Makian itu sangat jelas terdengar di telinga Darmawan dan Irwan. Namun, Darmawan terus saja melesat tidak peduli. Ia justru tertawa.
“Santai saja, Wan. Kalau di jalan saya memang begini, liar bawaannya,” kata Darmawan kepada Irwan. “Maklum tiap hari semangat jihad, hahaha!”
Irwan pun turut tertawa di belakang tengkuk Darmawan.
Meski demikian, ada yang unik dari seorang Darmawan. Pada satu waktu ia mendadak menepi dari jalan besar dan berhenti.
Irwan pun turun lalu berjalan ke belakang sambil matanya fokus memperhatikan jalan aspal yang ditunjuk oleh Darmawan. Setelah mencari sejenak, akhirnya Irwan menemukan sejumlah tebaran paku-paku yang masih baru. Dengan hati-hati oleh kendaraan yang melesat kencang, Irwan mengangkat tangan kepada kendaraan yang hendak lewat agar memelan, sehingga ia leluasa memungut paku yang agak condong ke tengah. Usai memungut paku tersebut, Irwan membuangnya ke tempat yang aman dari ban kendaraan.
Irwan kembali kepada Darmawan dan melanjutkan perjalanan.
Tak berapa lama saat sedang melaju, Darmawan kembali memelan tiba-tiba. Setelah memastikan posisinya aman, ia berhenti agak di pinggir lalu turun sendiri memungut sebuah batu sebesar genggaman yang termenung agak ke tengah jalan.
__ADS_1
Melihat reaksi Darmawan terhadap hal-hal yang kadang dipandang remeh seperti itu, muncul kekaguman di dalah hati Irwan. Ia tidak perlu bertanya kepada Darmawan, sebab hal itu memang yang Allah perintahkan kepada seorang Muslim dalam bersikap di jalan.
“Ini kan hari kerja, antum gak masalah tidak kerja, Wan?” tanya Darmawan, ketika mereka kembali melaju kencang.
“Demi untuk Islam dan umat, saya tidak keberatan korbankan pekerjaan. Rezeki Allah tersebar di mana-mana, Dar. Jangan sampai kita berpahaman bahwa sumber uang atau rezeki hanya berpusat di satu tempat. Rezeki kita Allah yang pegang dan atur, bukan kita. Kalau kita menyenangkan Allah, tentunya sangat mudah kita diberi rezeki berlimpah dari mana saja,” jawab Irwan sekaligus penjelasan.
“Allahuakbar! Mantap jiwa!” seru Darmawan lalu tertawa. “Betul, Wan. Tauhid harus ditanam sedalam-dalamnya lalu terus siram. Saya bersyukur, meski kerja hanya jualan es di depan sekolah SD, tapi saya bisa mengatur usaha saya semau saya. Jadi tidak menghalangi saya jika ada urusan jihad seperti ini.”
“Kamu sudah lama aktif dalam urusan Al-Aqsha ini?” tanya Irwan.
“Baru mulai Ahad kemarin. Hanya saja saya dekat sama Hendra, wartawan media Islam kemarin yang kasih alamat ke antum. Dia suka mampir ke rumah dan banyak cerita tentang Masjid Al-Aqsha dan perjuangan-perjuangan umat Islam di Indonesia. Lama-lama ruhul jihad saya kebakar juga.”
“Kalau dengar pemaparan Ustaz Taufik Ahad kemarin, rasanya tidak ada alasan bagi umat Islam untuk tidak peduli dengan kondisi masjid ketiga kita itu. Namun yang saya tangkap, pada umumnya banyak umat ini, bahkan para ulamanya, masih berpikiran skala lokal. Mereka lebih cenderung berpikir bahwa sebelum membantu umat Islam yang jauh seperti di Palestina atau Suriah, membantu umat Islam yang kesusahan di negeri sendiri jauh lebih penting.”
“Benar benar benar. Saya pernah menemui tokoh yang dipanggil ustaz, mengajukan pertanyaan semacam itu. Saya kan masih awam tentang ilmu perjuangan ini, jadi tidak bisa lawan balik argumennya. Bagaimana bisa tukang es adu debat sama ustaz yang hapal Al-Quran?”
“Tapi jika dipikir lagi, tentunya ustaz-ustaz yang berjuang di jalan ini memiliki dalih yang kuat pula. Di makalah kemarin saya baca tuh, jelas-jelas tanggung jawab semua umat Islam dunia. Kalau nanti di akherat kita ditanya Allah, ‘Apa yang sudah kamu perbuat untuk membela Al-Aqsha?’ Bisa mati kutu kita kalau tidak berbuat apa-apa. Rasul dan para sahabat saja melakukan pembelaan kok, jadi harus ikut sunnah Rasulullah dan para sahabat.”
“Benar benar benar. Allahuakbar!” kata Darmawan lalu tiba-tiba berteriak kaget.
__ADS_1
Brak! Sreeet! Brakr!
“Innalillah!” pekik Irwan pula seiring tiba-tiba pandangan dan kepalanya yang berhelm terbanting ke aspal lalu bergerak liar tanpa jelas wujudnya. (RH)