
Tulalit... tulalit... tulalit...!
Tiba-tiba nada dering berbunyi di ponsel Karahang.
“Zal, Wetto!” pekik Karahang saat melihat nama peneleponnya. Ia tunjukkan kepada Afrizal.
“Kenapa Wetto telepon kamu, Hang?” tanya Afrizal setengah curiga.
“Hahaha! Jangan cemburu begitu, ini pasti mau pinjam casan hp,” kata Karahang sambil tertawa. Ia lalu memberi isyarat agar Afrizal diam. “Hallo, assalamu ‘alaikum (keselamatan atas kamu).”
“Wa ‘alaikum salam (dan bagi kamu keselamatan),” jawab satu suara perempuan di dalam ponsel Karahang yang speaker-nya ia aktifkan, sehingga Afrizal pun samar-samar mendengarnya.
“Ada apa, To?” tanya Karahang dengan logat bugis yang kental.
“Izal ada sama kamu, Hang?” tanya wanita penelepon itu dengan nada yang lembut.
“Kenapa memangnya?” Karahang justru bertanya balik.
“Katanya dia mau pergi mengembara. Bagaimana bisa tidak bicara sama saya?”
Mendengar kata-kata wanita yang bernama Wetto itu, Karahang tertawa tanpa suara kepada Afrizal. Lalu katanya, “Datang saja ke pantai. Afrizal sedang kerjain bambu di sini!”
“Siapa saja ada di sana?” tanya Wetto.
“Hanya kita berdua, ngobrol-ngobrol masalah rencana Izal merantau,” jawab Karahang.
“Saya ke sana ya, tapi kamu jangan pergi, Hang,” kata Wetto.
“Kalau kamu takut berdua sama Afrizal, datanglah sama daengmu, hahaha!” kata Karahang berseloroh.
Hanya terdengar suara tawa Wetto, lalu ia mengucapkan salam menutup teleponnya.
“Kamu dengar sendiri, Zal, bagaimana bisa kamu tidak bicara sama dia kalau kamu mau pergi?” kata Karahang kepada Afrizal.
“Bagaimana saya mau bicara kepada dia? Saya belum punya ikatan jelas sama Wetto. Saya belum pernah tembak dia, dia pun belum pernah nyatakan diri bahwa saya dan dia pacaran. Apa jadinya kalau saya bicara ke dia lalu dia katakan ‘kita tidak ada hubungan’? Bisa patah hati seribu tahun saya,” kilah Afrizal.
“Itu namanya prasangka buruk, Zal. Emakmu saja tahu kalau Wetto itu suka sama kamu. Kamu saja yang terlalu malu-malu,” kata Karahang sambil berdiri.
“Eh, mau ke mana kamu, Hang?” tanya Afrizal cepat melihat gelagat Karahang.
“Saya harus pulang sebentar, tadi saya lupa matikan kompor!” jawab Karahang pura-pura panik lalu berlari kecil meninggalkan sahabatnya sendirian.
“Hang! Kalau saya kepergok, bagaimana? Tanggung jawab kamu!” teriak Afrizal seraya berdiri dari duduknya.
“Hahaha!” tawa Karahang menjawab teriakan Afrizal. Ia terus berlari hingga hilang di balik tembok rumah di pinggir laut itu.
__ADS_1
Afrizal tahu kalau Karahang pergi bukan untuk mematikan kompor. Ia kembali duduk untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tinggal beberapa potongan bambu.
Namun, Afrizal kembali berhenti mengapak dan cepat menoleh, ketika suara sepeda motor datang mendekat dan berhenti di dekatnya.
Dilihatnya sebuah sepeda motor bebek warna hijau. Motor itu dikendarai oleh seorang wanita berbaju putih dan bercelana gombrong hitam. Namun, wanita berambut sepunggung yang diikat ekor kuda itu tidak jelas wajahnya, muda ataukah tua. Sebab, wajahnya dilapisi masker putih kasar yang tebal hingga ke leher-leher.
Meski yang datang adalah wanita yang menutupi wajahnya dengan masker tebal, tapi Afrizal kenal siapa dia adanya. Wanita itu adalah Wetto, seorang gadis Bugis yang berusia 21 tahun. Gadis yang selama ini bayangannya telah lama bersemayam di hati dan pikirannya. Keterbatasan ekonomi membuat Afrizal tidak berani ambil langkah berani mati untuk membidik hati Wetto. Walaupun belum ada jual beli kata cinta antara keduanya, tapi sudah menjadi rahasia umum bahwa antara hati dan mata kedua muda-mudi itu ada keterikatan.
Melihat di tempat itu hanya ada Afrizal, bahasa tubuh Wetto jadi menunjukkan keraguan. Namun, kemudian ia pun bertanya.
“Kak Izal, Karahang ke mana?” tanya Wetto setengah malu.
“Pulang,” jawab Izal singkat.
Wetto jadi terdiam sejenak, seolah berpikir.
“Kamu mau bicara sama Karahang, Dik?” tanya Afrizal.
“Enggak, tapi sama Kakak,” jawab Wetto.
“Mau di sini atau di mana?” tanya Afrizal.
Wetto tidak langsung menjawab. Ia akhirnya memutuskan turun dari sepeda motornya dan mendekati Afrizal. Ia lalu duduk di batu tempat Karahang tadi duduk, karena itu adalah tempat yang paling nyaman untuk diduduki. Rambut panjang Wetto berkibar-kibar tertiup angin bahari. Kulit tangan yang putih menunjukkan bahwa ia tidak sama seperti wanita pesisir kebanyakan yang umumnya berkulit cokelat, warna khas kulit penduduk pesisir.
“Iya,” jawab Afrizal singkat.
“Untuk apa?” tanya Wetto lagi.
“Masjid Al-Aqsha di Palestina,” jawab Afrizal.
“Kakak mau pergi ke sana?”
“Cita-citaku, Dik,” jawab Afrizal seraya tersenyum dan menatap lautan lepas, sama hal yang dilakukan oleh Wetto, memandangi laut lepas kala bertanya kepadanya. “Tapi, saya belum bisa pergi ke sana, saya baru berencana jalan kaki sampai ke ujung Pulau Jawa.”
“Kenapa mesti harus jalan kaki? Kenapa tidak pakai kendaraan saja?” tanya Wetto lagi, kali ini dia memandang wajah samping pemuda yang dicintainya itu.
“Karena itulah ide yang saya dapat untuk berjuang membela Masjid Al-Aqsha. Belum lama ini, saya membaca kisah orang-orang yang memperjuangkan sesuatu dengan berjalan kaki keliling dunia. Orang-orang yang bukan Islam itu mau berjalan kaki demi memperjuangkan dunianya. Saya mau mengikuti cara itu, berjalan kaki tapi untuk memperjuangkan apa yang ada di dalam agama kita, yaitu Masjid Al-Aqsha yang sekarang dijajah orang Yahudi,” jelas Afrizal.
“Emak sudah kasih izin?” tanya Wetto lagi.
“Awalnya Emak menolak keras, tapi alhamdulillah (segala puji bagi Allah), subuhnya Emak merestui. Dulu waktu muda, Emak pernah berbuat gila demi menikah dengan Bapak. Kenangan itu yang akhirnya Emak mengizinkan saya berbuat gila demi agama,” jawab Afrizal.
“Emak berbuat gila apa waktu muda, Kak?”
“Cinta Emak ke Bapak dulu adalah cinta gila. Emak tinggalkan kuliah dan jual tanah demi pergi mencari Bapak ke Makassar seorang diri tanpa tahu alamat jelasnya. Padahal Emak sejak kecil tidak pernah meninggalkan Lampung. Selama sebulan lamanya Emak mencari-cari di seluruh sudut kota Makassar. Ketika ketemu, ternyata Bapak sudah di malam akad nikah dengan gadis lain. Bapak dipaksa nikah sama keluarganya. Emak nekat melabrak wanita itu di malam sebelum akad nikah dan membawa Bapak lari pulang ke Lampung. Tidak mudah perjuangan Emak demi cinta gilanya ke Bapak, sampai-sampai keluarga Bapak mendatangi Emak dengan badik,” kata Afrizal mengisahkan.
__ADS_1
Wetto terdiam kusyuk mendengar cerita itu. Sejuknya angin laut seolah menciptakan imajinasi hebat tentang kehebatan cintanya kepada Afrizal di hari-hari berikutnya.
Afrizal yang sudah berhenti bercerita, Wetto yang juga belum bertanya lagi, menciptakan keheningan di antara mereka, tapi degup jantung mereka membuat keriuhan sendiri di dalam dada masing-masing. Sebab selama ini, terlalu jarang mereka bisa duduk hanya berdua seperti itu, terlebih membicarakan hal yang serius.
“Tapi, kenapa Kakak tidak bicara kepada saya tentang rencana Kakak itu?”
“Bagaimana bisa saya bicara ke Dik Wetto? Sampai saat ini saya belum punya keberanian untuk bicara kepada Daeng Made. Jadi sampai sekarang, siapalah saya bagi Dik Wetto,” kilah Afrizal.
“Itu artinya...” ucap Wetto lalu terputus, seolah ragu menyebutkan kalimat berikutnya. Dengan nada yang lebih pelan dan ekspresi wajah yang malu di balik masker tebalnya ia kemudian bertanya, “Kakak benar cinta Wetto?”
Pertanyaan itu membuat semangat perjuangan membela Masjid Al-Aqsha yang menggebu-gebu di dalam dada Afrizal, seketika berganti dengan alunan lagu cinta Raja Dangdut Rhoma Irama. Desiran indah yang disertai taburan bunga mawar wangi semerbak kini mengaliri pembuluh darah si pemuda, terutama di wilayah sekitar jantung dan hati.
Berbeda cerita dengan apa yang dirasakan oleh Wetto. Rasa was-was bahwa terkaannya salah, itu yang bercokol di dalam hatinya. Namun di balik itu, segunung harapan rasa cinta untuknya telah ia nantikan selama ini akan terucap dari bibir Afrizal. Mudah-mudahan inilah waktunya ia akan mendengar kata-kata yang ia nanti selama ini.
“Yaaa, sebenarnya...” ucap Afrizal dengan gerakan bibir yang terasa berat, seolah apa yang akan diucapkannya itu berisiko besar untuk dirinya.
Namun kemudian, suasana hati Afrizal berubah 360 derajat, tatkala matanya menangkap sosok seorang lelaki kurus jangkung berjalan dari sisi pantai sebelah barat menuju ke arah mereka berdua. Hatinya jadi bertanya-tanya, hal buruk apa yana akan dialaminya dalam hitungan kurang dari semenit ke depan.
“Daengmu datang, Dik,” ucap Afrizal pelan.
Wetto pun terkejut ketika baru melihat keberadaan lelaki kurus berkaos hitam yang datang ke arah mereka. Jantungnya pun berdetak kencang, khawatir lelaki yang adalah ayahnya itu, menjadi marah. Selama ini, ia sendiri tidak tahu, apakah ayahnya menyukai Afrizal atau tidak.
“Masih mau turun ke laut nanti sore, Zal?” tanya pria kurus tinggi itu setibanya di antara mereka. Ia tidak lain adalah Made Sadika, ayah Wetto.
Dalam hati lega perasaan Afrizal saat Made hanya bertanya seperti itu, tidak melabraknya. Sementara Wetto terdiam tegang, meski baru dilirik sekali oleh ayahnya.
“Masih, Daeng,” jawab Afrizal seraya senyum kaku, agak sedikit salah tingkah karena kepergok berduaan dengan anak gadis lelaki jangkung itu.
“Katanya kamu mau pergi?” tanya Made dengan raut wajah yang dingin.
“Insyaallah usai salat Jumat, Daeng,” jawab Afrizal.
Made lalu melangkah dan beralih kepada putrinya.
“Kunci!” pinta Made seraya menadahkan tangan kanannya di depan wajah Wetto.
Wetto tanpa kata berdiri dan memberikan kunci motornya kepada sang ayah.
“Pulang!” perintah Made sambil berjalan naik ke posisi motor yang diparkir.
Wetto pun berjalan mengikuti ayahnya. Sempat ia menatap sejenak Afrizal dengan wajah cemberut. Afrizal hanya diam tanpa reaksi.
Wetto pulang dengan membawa rasa hati yang begitu kesal, karena ia belum sempat mendengar pernyataan cinta Afrizal kepadanya. Ingin rasanya dia marah, tapi harus kepada siapa. Apakah harus kepada ayahnya yang muncul di saat yang sangat tidak tepat?
Dengan pikiran sedikit kalut memikirkan Wetto dan ayahnya, Afrizal melanjutkan pekerjaannya. (RH)
__ADS_1