Cinta Sang Penguasa

Cinta Sang Penguasa
Part 1 _ Awal dari segala nya


__ADS_3

Hari kini menanjak siang, Gadis mungil nan lusuh itu kini membawa kaki kecil nya ke sebuah warung tempat ia bekerja, wajah yang pucat, rambut yang sedikit berantakan, dan pakaian yang sudah pudar lusuh di tangan nya terdapat banyak bahan bahan dapur


" Dari mana saja kau," sentakan kasar itu terdengar menggema


" Maaf, nyonya, tadi sepeda ku ban nya bocor jadi aku jalan kaki "


" Alasan saja, saya potong gaji mu hari ini, sana ke belakang beres beres, banyak piring kotor tuh," lagi lagi sentakan kasar terdengar di telinga nya


beginilah hidup ku,


perkenalkan Nama ku Arnetta Issabella gadis yatim piatu yang orang tua nya meninggal karna korban banjir dengan meninggal kan gadis kecil usia 5 tahun menjadi gembel tanpa ada sanak saudara yang mau menampungnya,


dengan hati sakit aku seret kaki ku yang lecet ini ke arah dapur, piring piring bekas makan pembeli berderet penuh membuat aku harus kerja ektra dan cepat,

__ADS_1


hampir dua jam ku cuci piring piring itu, rasa nya piring itu terus bertambah tak ada luang untuk istirahat


hari kini memasuki sore,


" Bu, saya pamit pulang " izin ku pada ibu pemilik warung nasi


" Hemm, Ini gaji mu," dengan hati bahagia, aku terima uang nya tapi kini hanya senyum kecut yang dapat ku berikan, 35 ribu gaji yang ku dapatkan, bekerja dari pagi sampe magrib,


" Alah kerja mu lelet, hanya cuci piring doank, gaji mu ku potong karna terlambat tadi siang, sampai kedepan gaji mu segitu per hari nya kalau mau silah kan datang lagi kalau gak kamu berhenti," kecam Bu pemilik warung itu tanpa hati


'' terima saja derita mu, gadis udik," tambah rekannya


dengan mata berkaca kaca ku masuki uang itu ke kantung celana kain ku yang kini mulai pudar dan berlalu kembali ke gubuk ku, 15 menit berjalan memasuki gang sebuah rumah bekas postu 5 kali 5 ini terlihat rapi meskipun kecil, sebuah kamar, dapur dan kamar mandi dekat dapur, ruang tengah yang di sekat kain dengan dapur, inilah rumah ku gubuk ku, yang untung bantuan dari pemerintah setempat dulu pada orang tua ku, meski kini kayu nya mulai lapuk dan gentengnya mulai bocor setidak nya aku tak perlu membayar sewanya

__ADS_1


ku jalani hidup ini dengan senyuman penuh ria, meski derita yang ku rasakan


membersihkan diri, mandi sekedarnya dengan menimba air nya, tanpa sabun dan sampo, merebus mie instan untuk makan malam, sekedar berhemat,


kegiatan ini ku lakukan berulang ulang, tanpa jenuh dan bosan, sahabat, teman, sayang nya tak ku miliki, ingin rasanya aku mengadu, tapi pada siapa, aku hanya bisa memendamnya sendiri


esok harinya di warung ku bekerja,


prannggg,, suara gelas dan piring terjatuh membuat pemilik warung marah besar dia membentak, mencaci maki aku dengan sumpah serapah nya menarik rambutku kencang, menampar, dan menghantam kepalaku ke tembok dapur


" Dasar wanita sialan, pembawa sial pergi kau dari sini, aku tak sudi punya pekerja seperti mu cih," cerca dengan tajam sambil melempar ku ke jalanan, membuat aku terluka di lutut dan telapak tangan ku, dengan air mata yang berderai aku menjauh dari tempat itu, lama berjalan, ku lihat ada tong sampah di dekat restoran itu dengan segera ku kais kais tong tersebut untuk mendapat kan nasi sisa meski itu sudah basi, tapi yang kudapatkan hanya sepotong roti yang sudah berjamur, dengan lahap aku langsung memakannya, untuk menyangga kelaparan ku, setelah itu aku beranjak pergi sebelum di caci maki pemilik restoran itu


dengan tertatih ku berniat pulang sebelum hari menjelang malam, meskipun hati dan jiwa raga ini mulai tak sanggup bertahan,

__ADS_1


__ADS_2