
Kini langit sudah menampakkan senja nya dan kedua wanita itu masih sibuk berbelanja dan sekarang mereka berdua berada di butik untuk membeli lingerie yang akan di kenakan saat berada di dalam kamar bersama Revan.
Ya, Alana benar benar akan mencoba saran konyol dari Tamara walaupun harus menjatuhkan harga diri nya namun tidak masalah asal kan Revan ingin membuka hati nya untuk Alana.
Drrrtttt
Drrrtttt
Suara ponsel Alana membuat fokus nya buyar nya apalagi saat melihat nama yang tertera di layar ponsel. "Siapa yang nelfon?" Tanya Tamara.
"Pak Revan"
"Yaudah angkat gih" Alana lalu berdiri dan sedikit menjauh dari Tamara dan si kembar untuk mengangkat telfon dari pak Revan.
Alana lalu menekan tombol hijau pada layar "Ada apa pak?" Tanya Alana.
__ADS_1
"Keluar, saya sudah berada di depan mall" Kata Revan.
"Ngapain bapak ke sini? saya bisa pulang sendiri, tidak usah di jemput" Alana lalu melihat sekitar depan mall dan benar saja mobil Revan sudah terparkir rapi di sana.
"Tidak usah protes, cepat keluar" Kata Revan lalu mematikan sambungan telfon nya. Alana lalu kembali ke meja menemui Tamara dan si kembar. "Ra, gue balik duluan yaa, pak Revan udah nungguin di depan" Kata Alana sembari mengambil beberapa belanjaan nya dan mengajak si kembar mengikuti nya.
Tamara mengangguk pelan "Nanti kita healing lagi" Kata Alana namun sebelum pergi, Tamara berbisik pada Alana. "Jangan lupa entar malam lo mulai rencana nya" ucap Tamara sembari mengedipkan satu mata nya. Membuat Alana bergidik ngeri.
Alana lalu menghampiri mobil Revan sedikit berlari karena hujan tiba tiba saja turun dengan deras. Setelah Alana dan si kembar masuk Revan ke dalam mobil, Revan melajukan mobil nya tampa banyak bicara.
"Kita mau kemana" tanyak Alana karena jalan menuju rumah nya berlawanan arah dengan jalan yang sekarang mereka lalui.
"Rumah bunda" Revan menjawab tanpa melirik Alana sama sekali dan fokus menyetir
Hampir satu jam mereka menempuh perjalanan yang lumayan macet dan akhirnya mereka sampai di rumah orang tua Revan.
__ADS_1
"Wahh cucu oma sudah datang" Lina melebarkan kedua tangan nya untuk menyambut kedatangan cucu kesayangan nya.
"Ayo duduk dulu Van, bunda buatin masakan ke sukaan kamu. Oh iya si kembar masuk ke dalam kamar om Gibran dulu yah" kata Lina lalu mengajak si kembar masuk ke dalam kamar Gibran.
Alana mengikuti langkah Lina menuju dapur setelah mengantar si kembar berniat ingin membantu nya memasak. "Mau ngapain kamu?" Lina nampak merasa risih dengan kehadiran Alana.
Alana menghembuskan napas nya pelan. "Aku ingin bantuin bunda memasak" katanya.
Bunda Lina tertawa. "Memang nya kamu pintar masak? Jangan sampai dapur saya terbakar karena masakan kamu".
Alana hanya tersenyum. "Kalau gitu, bunda duduk saja biar aku yang masak" kata Alana sembari memegang bahu lina dan menuntun nya duduk di kursi meja makan.
Bunda Lina pun hanya diam saja dan mengikuti arahan Alana duduk di meja makan sembari memperhatikan Alana memasak. Alana harus bersikap baik agar bisa mengambil hati mertua nya. Bunda Lina sebenarnya sangat baik hanya saja status Alana yang membuat nya tidak menyukai Alana.
Lina pikir hidup seorang artis itu selalu glamor dan hanya menghabiskan uang untuk membeli barang barang yang kurang bermanfaat menurut nya.
__ADS_1
Artis memang pada umumnya seperti itu tapi berbeda dengan Alana yang hidup mandiri walaupun bergelimang harta. Alana juga tidak sombong seperti artis lain nya.
Sejak menikah dengan Revan, Alana jarang berkomunikasi dengan mertua nya karena sibuk kuliah, bahkan si kembar saja di urus oleh mertua nya tapi kini Alana mulai berfikir untuk merawat si kembar dan Alana ingin si kembar tinggal dengan nya di rumah mereka.