Cinta Seiring Waktu

Cinta Seiring Waktu
Gajelas


__ADS_3

Skip..


Tanpa terasa usia pernikahan Alana dan Revan sudah berjalan selama dua tahun. Namun sayang nya hingga saat ini Revan belum juga mencintai Alana hingga membuat Alana putus asa dan mulai menyerah.


"Mas Revan"


"Hemm" gumam Revan tanpa melirik Alana sedikit pun yang sedang berdiri di samping meja nya.


"Aku mau ngomong sesuatu Mas"


"Ngomong aja" jawabnya yang lagi lagi tidak menatap Alana dan malah fokus dengan laptop nya.


Alana menghela nafas perlahan lahan. "Aku mau cerai, Mas" kata nya sembari menatap Revan.


Revan yang tadi nya fokus dengan laptop nya kini menatap Alana dengan pikiran yang seketika blenk. Otak Revan terlalu syok mencerna ucapan Alana.


Revan tidak menyangka jika Alana akan meminta cerai pada nya. "Kenapa?" hanya kata itu yang keluar dari mulut Revan karena tidak percaya Alana meminta cerai.


Alana tersenyum miris. "Aku lelah" kata nya.


"Kan aku sudah bilang, sewa saja babysitter agar kamu tidak kesusahan mengurus Azzam dan Azzura"


"Aku tidak pernah lelah mengurus mereka, aku menyayangi mereka seperti anak kandung ku sendiri"


"Lalu apa yang membuat mu lelah?" tanya Revan dengan polos nya membuat Alana ingin mencakar wajah Revan sangking kesal nya.


"Kamu"


Revan menautkan kedua alis nya. "Aku?" kata Revan yang terlibat bingung sedang kan hanya Alana hanya tersnyum miris.


"Apa yang aku lakukan hingga membuat mu lelah? Aku membebaskan semua apa pun yang kamu lakukan tapi kamu sendiri yang memilih berhenti kuliah demi menjaga si kembar" Revan mengambil nafas sejenak. "Alana, tolong jangan seperti ini, kasian Azzam dan Azzura mereka sangat menyayangi mu" kata nya.


"Kalau kamu? apakah kamu menyayangi ku?"


"Apa itu penting? yang terpenting semua nya baik baik saja"


Alana menghela nafas jegah, menurut nya percuma bicara dengan suami nya yang tidak peka. Alana memilih mengabaikan Revan dan berjalan keluar dari ruang kerja Revan.

__ADS_1


Namun Revan dengan cepat menahan tangan Alana. "Alana, lihat aku" Revan mengarahkan wajah Alana agar menatap nya. Revan tersentak saat melihat air mata Alana.


Selama dua tahun menikah, Revan tidak perna melihat Alana menangis. "Kamu menangis?"


Alana menepis tangan Revan. "Tanpa kamu sadari tiap malam aku nangis Mas" selama ini Alana selalu terlihat baik baik saja tapi siapa sangka jika di balik tawa nya terdapat luka yang begitu sakit.


Setiap hari Alana selalu tersenyum, menyiapkan keperluan Revan saat ingin ke kampus, menyiapkan sarapan, mengurus Azzam dan Azzura. Alana melakukan itu semua dengan ceria tanpa pernah protes atau mengeluh.


Revan menatap Alana dengan perasaan iba. "Kenapa kamu tidak bilang?" tanya Revan dengn nada lembut.


Alana menatap Revan dengan mata berkaca kaca menahan tangis. "Bagaimana aku mau bilang jika kamu terlalu sibuk" Alana tersenyum miris. "Kamu terlalu dingin dan cuek pada ku Mas dan yang paling yang menyakitkan untuk ku. Kamu selalu saja memprioritaskan mantan istri mu tanpa perduli perasaan ku bagaimana"


June yang mendengar kalimat terakhir Evan di buat melongo sangking kaget nya. June sudah beberapa tahun mendampingi Evan namun baru kali ini ada yang menganggu pikiran nya karena selama ini walaupun Evan terus di hina dan di kucil kan, Evan tidak perna perduli ucapan mereka.


Brukk..


Lamunan June buyar saat menoleh ke belakang dan melihat tubuh Evan yang jatuh tersungkur ke lantai. "Tuan Muda" June sedikit berlari menghampiri Evan.


Entah mengapa Evan yang tadi nya baik-baik saja kini merasakan sakit dan sesak di dada nya. Hingga tubuh nya jatuh tersungkur di lantai depan kamar mandi.


"Akhh.." Evan terus saja mengiris kesakitan.


Brak..


Evan melempar semua barang yang ada di atas meja samping tempat tidur nya. Evan mulai memberontak. June yang melihat tanda-tanda penyakit Evan mulai kambuh dengan cepat mengambil tali lalu mengikat kedua tangan Evan di sisi ranjang.


"Maaf Tuan Muda" June tidak tega mengikat Evan namun ini semua June lakukan agar Evan tidak melukai diri nya saat penyakit nya sedang kambuh.


———


Kini jam sudah menunjukan pukul dua dini hari namun Araya belum juga bisa tertidur. Araya terus berguling ke kiri dan kanan mencari posisi yang nyaman saat tidur namun tetap saja mata Araya sulit terpejam.


"Menyebalkan!! Mengapa ciuman Evan terus saja berputar di kapala ku" Araya merasa aneh dengan pikiran kotor nya itu. "Dasar Mr.Arrogant" pekik Araya dengan suara tertahan.


Araya yang merasa kesal mencoba memejam kan mata nya kembali dengan mematikan lampu kamar dan menutup wajah nya menggunakan selimut. Hingga beberapa saat Araya pun tertidur dengan pulas.


****

__ADS_1


Malam pun berganti pagi yang sangat cerah namun seorang gadis kecil enggan untuk bangun dari tidur nyenyak nya.


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan pintu membuat Araya merasa kesal karena tidur nyenyak nya terganggu. Tidak berapa lama setelah pintu di ketuk dari luar, Lili masuk dengan membawa sarapan pagi untuk Araya.


"Ada apa? Mengapa membawa sarapan nya ke sini?" tanyak Araya heran.


"Maaf Nona tapi hari ini anda di larang keluar kamar oleh Tuan Muda" Lili sedikit menunduk menjawab pertanyaan Araya.


"Apa!!" pekik Araya tak percaya dengan ucapan Lili.


"Di mana dia? Aku ingin berbicara pada nya!" kesal Araya.


"Tuan sedang sarapan" jawab Lili seadanya.


"Minggir" Araya yang kesal mendorong tubuh Lili ke samping dan berlari menuruni anak tangga menuju ruang makan namun saat sampai di ruang makan Evan sudah tidak ada di sana.


"Nona tenanglah" Lili menghampiri Araya dan berusaha menenangkan Araya yang sedang kesal.


Araya tidak perduli pada ucapan Lili dan terus mencari keberadaan Evan hingga tanpa sengaja mata Araya menangkap sosok yang sedari tadi dia cari.


Araya yang kesal menghampiri Evan yang sedang duduk di pinggir kolam dengan santai nya. "Tuan Muda Evan" teriak Araya membuat semua penghuni mansion menatap nya.


Evan yang mendengar nama nya di panggil tidak menoleh sama sekali dan mengabaikan istri kecil nya.


Mengapa anda ingin mengurung ku di dalam kamar" tanyak Araya sembari berdiri berkacak pinggang di depan Evan yang sedang duduk.


"Ada masalah?" tanyak Evan lalu berdiri menatap Araya.


"Jelas ada" Araya terus menatang Evan. "Anda pikir aku seorang tahanan yang harus di kurung di dalam kamar! Apakah belum cukup anda mengisolasi aku di dalam mansion seram ini!!" ucap Araya dengan emosional.


"Mengapa kau nakal sekali?" tanyak Evan sembari meletakkan jari telunjuk nya di bawah dagu Araya lalu mengangkat sedikit dagu itu dengan angkuh. "Gadis bodoh" desis Evan.

__ADS_1


__ADS_2