Cinta Seiring Waktu

Cinta Seiring Waktu
Gibran


__ADS_3

Gibran yang sedang tertidur pulas di buat kaget dengan kehadiran ponakan nya. "Jangan ganggu uncle" kata Gibran sembari menutup wajah nya dengan bantal.


Namun si kembar tidak perduli dan terus mengganggu tidur Gibran. bahkan si kembar sampai naik ke punggung Gibran yang sedang tidur dengan posisi tengkurap.


"Azzam, Azzura" teriak Gibran namun si kembar malah tertawa bukan nya takut.


"Banun" kata Azzura dengan cara bicara khas anak kecil berusia tiga tahun.


"Uncle masih ngantuk"


"Udah sole antel" Azzam menarik selimut yang di pakai oleh Gibran.


"Kalau uncle bangun, awas kalian yah" mendengar ancaman Gibran, si kembar ingin berlari turun dari ranjang namun dengan cepat Gibran menarik belakang kerah baju mereka seperti menangkap seorang kucing. "Mau ke mana kalian" kata nya sembari menggeser tubuh si kembar agar lebih dekat lagi dengan nya.


"Antel, lepasin"


"Ngak mau, kalian sudah ganggu tidur uncle jadi jangan harap uncle lepasin kalian" Gibran lalu bangun dan menggelitik si kembar.

__ADS_1


"Hahahhaha.. ampun antel"


"hahha.. deli antel"


"Rasain, siapa suruh ganggu singa yang sedang tertidur"


"Antel sina jeyek"


Saat sedang bercanda dengan kedua ponakan nya tiba tiba saja terdengar suara pintu yang terbuka. "Gibran, ikut ayah sebentar" kata sang ayah dengan wajah serius.


Gibran yang tadi nya sedang menggelitik si kembar kini terhenti, menatap ayah nya sebentar lalu mengikuti langkah ayah nya menuju ruang kerja nya.


Ayah Gibran lalu memberikan amplop putih kehadapan Gibran. "Baca gib" ucap sang ayah.


Ternyata amplop itu itu dari sekolah nya. Gibran mendapat kan surat peringatan lagi oleh guru nya karena kemarin terlambat ke sekolah dan ketahuan merokok di kantin.


"Ayah sudah capek hadapin kelakuan kamu gib" kata sang ayah dengan depresi. "Mungkin jalan satu satu nya agar kamu bisa lebih baik lagi yaitu tinggal di asrama".

__ADS_1


" Tidak, Gibran tidak mau yah"


"Lalu kau mau apa! Ayah sudah bener bener capek hadapi kamu gib! jika kau tidak mau ke asrama lebih baik kau keluar dari rumah ini, terserah kau mau hidup di mana saja ayah sudah tidak perduli!!" emosi yang sedari tadi di tahan kini mulai tak terkontrol.


"Ayah, ngusir Gibran?" tanya Gibran tak percaya dengan keputusan sang ayah.


"Ayah tidak akan mengusir mu jika kau ingin mendengar ucapan ayah, Gibran"


Gibran tersenyum sinis. "Baiklah, Gibran akan keluar dari rumah ini jika ini mau ayah" tanpa banyak bicara lagi, Gibran lalu berdiri dan pergi meninggalkan sang ayah di ruangan itu.


Saat keluar dari pintu, Gibran di buat kaget karena ternyata Revan sedang berdiri di sana sembari menatap Gibran. Gibran hanya lewat begitu saja tanpa menyapa sang kakak yang sudah beberapa bulan tidak kembali ke rumah.


Kadang Gibran merasa iri dengan kakak nya yang bisa melakukan apapun tanpa larangan dari ayah nya tapi Gibran tidak tahu apa yang di korban kan kakak nya agar bisa meraih cita cita nya.


Gibran berjalan menuju kolam renang lalu duduk di tepi kolam sembari mendengar kan musik.


Revan menyusul Gibran lalu duduk di samping Gibran "Gue udah dengar apa yang kalian omongin di dalam" ucapan Revan yang tidak di indahkan oleh Gibran yang hanya fokus menatap si kembar yang sedang bermain bola tidak jauh dari kolam renang.

__ADS_1


Revan mematikan musik Gibran lalu berkata. "Gue juga perna berada di posisi lo gib, gue pernah di kekang agar bisa menjadi seperti yang ayah ingin kan" Revan tersenyum miris. "Gue tau rasa nya pasti ngak enak tapi mau gimana lagi, setiap impian pasti butuh pengorbanan gib".


__ADS_2