
Duduklah"
Alvin yang baru datang dengan sengaja menarik kursi untuk Araya di depan mereka semua. "Terimakasih tapi saya ingin duduk di samping Tuan Muda" Araya menolak niat baik Alvin lalu berjalan menghampiri Evan yang hanya diam seperti patung.
Tak
Tiba-tiba saja sebuah garpu Evan tancap kan dengan kasar pada potongan daging hingga menghasilkan bunyi dentingan yang nyaring. Araya yang duduk di sebelah suami nya merasa terkejut.
"Ya ampun Araya kau tidak mengambilkan nasi dan lauk untuk suami mu yang buta itu" Nyonya Lusy menatap Araya dengan sinis. "Ah iya pasti kan Evan makan makanan yang rendah kalori".
"Tenang saja semua makanan ini aman untuk Evan" bukan Araya yang menjawab nya melain kan Alvin.
Semua orang menatap Alvin dengan tanda tanya di pikiran nya. Sementara Evan hanya diam namun garpu yang berada di tangan nya tiba-tiba saja bengkok.
Brak..
Evan lagi lagi mejadi pusat perhatian seluruh kelurga saat mangkuk yang berada di depan nya itu terjatuh.
"Anda ingin makan apa suami ku" Evan yang sedang berusaha untuk mengambil beberapa lauk terkejut mendengar ucapan Araya.
Evan diam sejenak. "Tidak usah! Aku bisa sendiri" kata Evan lalu menyendokan nasi ke atas piring nya sendiri.
"Biarkan aku membantu anda" meski sangat takut tapi Araya memaksakan diri untuk menyentuh tangan sang suami lalu mengambil alih centong nasi yang tadi Evan pegang.
Dengan cekatan Araya mengambilkan beberapa sendok nasi dan lauk untuk Evan. "Anda ingin makan apa" tanyak Araya pada Evan.
"Bagaimana bisa kamu memanggil Evan dengan sebutan 'Anda' seperti itu" kata Alvin.
Evan diam saja tanpa menjawab perkataan Araya. Araya yang merasa di abaikan hanya tersenyum lalu mengambil beberapa lauk untuk Evan. "Makan yang banyak sayang" kata Araya dengan sangat lembut.
"Uhuk uhuk"
Varrel dan Vina yang sedari tadi sibuk makan kini tersendak saat mendengar ucapan manis Araya. Tuan Abraham tersenyum melihat tingkah manis menantu nya sedangkan Nyonya Lusy merasa panas mendengar kalimat menjijikan itu.
Sedangkan Evan yang mendengar kata-kata romantis Araya hanya diam saja tanpa expresi walapun saat ini jantung Evan sedang berdegup sangat kencang.
"Ternyata kau sangat manis" Alvin tertawa sembari menatap Araya dengan insten.
Brakk..
Evan yang berniat mengambil air kini tanpa sengaja menyenggol gelas yang berada di dekat nya. Sontak semua mata kembali tertuju pada Evan yang lagi-lagi menjatuh nya barang di sekitar nya.
"Biar aku ambil kan"
__ADS_1
"Tidak usah!" Araya tidak perduli dan tetap mengambil kan segelas air untuk Evan. "Minumlah" Araya menyodorkan air tepat di hadapan Evan namun Evan mengabaikan niat baik Araya.
Tuan Abraham yang melihat Evan pun merasa khawatir. "Evan, apa kau tidak sehat" tanyak Tuan Abraham pada putra nya.
"Aku selalu sehat, apa ayah lupa?" Evan menyindir Tuan Abraham dan seketika raut wajah Tuan Abraham berubah sendu. Ya bagaimana mungkin orang yang sehat harus mengomsumsi obat setiap hari.
Pandangan Araya terus tertuju pada Evan yang mulai manyantap makanan nya. Gerakan bibir Evan mencuri perhatian Araya membuat detak jantung Araya bertambah dua kali lipat dari sebelum nya.
Berbeda dengan Araya yang sibuk memandangi Evan tanpa sadar ada sepasang mata yang sedari tadi juga menatap nya, siapa lagi kalau bukan Alvin.
"June" June yang sigap segera menghampiri Evan.
"Ya Tuan Muda"
"Antar aku ke kamar"
Semua orang menatap Evan yang tiba-tiba saja ingin ke kamar padahal makanan nya belum habis dan masih sangat banyak.
"Evan habiskan makanan mu" kata Tuan Abraham namun Evan terus melangkah tanpa perduli ucapan Tuan Abraham.
"Aku sudah kenyang" kata Araya berbohong padahal sedari tadi Araya belum makan. "Aku akan menyusul suami ku, selamat malam" Araya membungkuk kan tubuh nya sedikit memberi hormat untuk kelurga besar Evan.
Tanpa menunggu jawaban dari mereka Araya berlari kecil mengikuti langkah Evan yang sudah berada di lantai atas. "Biar aku saja yang mengantarnya" kata Araya saat sudah berada di samping Evan dan June.
Araya mengambil napas panjang lalu menghembuskan nya perlahan. "Dia suami ku. Minggir" kata Araya lalu menggeser tubuh June kesamping memberi ruang untuk Araya menggandeng tangan sang suami.
Evan melirik tangan mungil istri kecil nya lalu mengikuti langkah Araya yang menuntun nya masuk ke dalam kamar. "Mengapa anda pergi padahal makanan anda belum habis". Araya menuntun Evan duduk di pinggir ranjang lalu berjongkok di hadapan Evan.
"Jangan sok peduli"
"Sampai kapan anda akan bersikap dingin pada ku" tanyak Araya sembari melepaskan sepatu yang di kenakan oleh Evan.
Baru kali ini Evan di perlakukan sangat istimewa oleh seseorang, Evan tidak menyangkah jika istri kecil nya yang dia nikahi beberapa minggu lalu kini memegang kaki nya tanpa rasa jijik.
Evan tidak menjawab ucapan Araya saat mata nya fokus menatap wajah istri nya yang berjongkok di depan nya hingga suara perut Araya yang lapar terdengar oleh Evan membuat Araya sangat malu.
"Akh memalukan sekali" gumam Araya namun Evan masih bisa mendengar nya.
"Pergilah"
Araya menggeleng. "Aku tidak mau pergi" kata nya dengan lukas.
"Jika kau lapar suruh pelayan untuk mengantarkan makanan"
__ADS_1
Entah mengapa terukir senyuman lebar di wajah Araya saat Evan mulai perhatian pada nya. "Aku akan makan jika anda juga ikut makan" kata nya dengan manja.
Evan diam sejenak lalu akhir nya menganggukan kepala nya dengan pelan. Araya kembali tersenyum lebar saat suami nya mau makan bersama nya.
Araya berdiri dari jongkok nya. "Tunggu di sini, aku akan segera kembali" dengan semangat gadis nakal itu berlari keluar.
Deg
Deg
Deg
Tangan Evan yang sejak tadi bergetar menyentuh dada nya sendiri. Selama ini Evan tidak perna merasakan perasaan seperti ini. Entah mengapa saat berada di samping Araya membuat jantung nya berdetak tiga kali lebih cepat. Evan menyentuh dada nya agak lama hingga sebuah senyuman tipis nampak di wajah nya tampan.
Brak
Dengan cepat Evan mengubah expresi nya stay cool saat Araya datang dengan mendorong meja yang berisi penuh hidangan. Evan menoleh pada Araya yang sedang tersenyum melihat nya lalu dengan cepat Evan mengalihkan pandangan nya.
"Tuan, ayo kita makan, biar aku suap kan" kata nya sembari menaruh beberapa menu lauk ke dalam piring mereka.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri" tanpa memandang wajah istri kecil nya Evan menolak niat baik Araya.
Gadis nakal itu dengan lancang menyentuh pipi Evan lalu mengarahkan wajah Evan tepat di depan nya hingga mereka pun saling tatap. "Sayang nya anda tidak bisa menolak karena piring nya hanya ada satu jadi kita saling berbagi" kata Araya dengan senyuman termanis nya.
Evan di buat melongo dengan keberanian istri kecil nya. Araya mengulurkan sesendok nasi di hadapan Evan namun Evan enggan untuk membuka mulut tapi beberapa saat kemudian akhir nya Evan membuka mulut nya lalu menerima suapan Araya.
Evan terus menatap Araya hingga kejadian beberapa saat yang lalu saat mereka berciuman di bawah deras nya hujan kembali berputar di pikiran Evan membuat wajah Evan memerah dengan cepat.
"Tuan, mengapa wajah anda memerah seperti itu, apakah anda sakit" tanyak Araya dengan wajah khawatir.
Tangan Araya replex menyentuh kening Evan dengan lembut merasakan hawa tubuh Evan. "Anda tidak demam" kata nya setelah memastikan suhu tubuh Evan.
"Aku baik-baik saja" Evan dengan cepat menepis tangan Araya karena entah mengapa jantung nya saat ini seperti sedang berolahraga di dalam.
"Keluar!" Evan yang gugup segera mengambil air yang berada di atas meja.
"Kenapa aku harus keluar? Aku juga akan tidur di kamar ini"
Byurrr
Setelah mendengar jawaban Araya secara tidak sadar Evan menyemburkan air nya.
Uhuk!
__ADS_1
Uhuk!