
Revan mematikan musik Gibran lalu berkata. "Gue juga perna berada di posisi lo gib, gue pernah di kekang agar bisa menjadi seperti yang ayah ingin kan" Revan tersenyum miris. "Gue tau rasa nya ngak enak tapi mau gimana lagi, setiap impian pasti butuh pengorbanan gib"
Gibran melirik Revan sekilas. "Maksud bang Revan?"
Revan tersenyum. "Sebelum lo, gue pernah di posisi lo. Ayah nyuruh gue jadi dokter tapi gue selalu menolak hingga akhirnya ayah bilang gini ke gue" Revan menirukan gaya bicara sang ayah. "Jika kau tidak ingin menjadi dokter maka ayah akan menjodohkan mu dengan adel" kata Revan sembari mengingat ingat kembali ucapan sang ayah.
"Bukan kah, Bang Revan juga mau? toh kalian memang sangat dekat dari dulu"
"Kami memang bersahabat tapi kami hanya sebatas sahabat tanpa memiliki perasaan sama sekali" Revan lalu menatap jauh ke depan mengingat kembali momen kebersamaan nya saat bersama dengan adel.
__ADS_1
"Kau tau tidak bagaimana rasa nya jika kita mulai sayang dengan seseorang tapi sial nya orang itu malah selingkuh dari kita di saat kita udah membuka hati dan udah terlanjur sayang. Hahaha sakit banget gib"
Gibran menatap Revan cukup lama. "Jadi itu sebab nya bang Revan bercerai?" Revan hanya mengangguk sebagai jawaban untuk gibran.
"Dan di saat gue mulai membuka hati untuk Alana, dia kembali menumbuhkan rasa cinta yang pernah padam membuat aku dilema karena di satu sisi gue masih mencintai adel tapi di sisi lain gue udah punya istri yaitu Alana yang belum bisa menganti posisi adel"
Ternyata tanpa mereka sadari sedari tadi Alana menguping pembicaraan mereka dari balik pintu. Alana hanya tersenyum miris dengan air mata yang jatuh perlahan di kedua pipi nya.
Alana mengatur nafas perlahan lalu berjalan menghampiri si kembar yang masih bermain bola. "Sayang, ayo kita masuk. Mama udah masakin makanan kesukaan kalian" ucap Alana sembari tersenyum lepas.
__ADS_1
Azzam dan Azzura bersorak senang. "Yeeeyy ayo tita matan Ma" celoteh Azzura sembari menarii tangan Alana.
Dari kejauhan Gibran dan Revan melihat Alana yang begitu perhatian dengan si kembar. "Jangan sampai bang Revan menyesal. menurut Gibran lebih baik bang Revan lupain mbak adel dan fokus dengan keluarga kecil bang Revan dengan mbak Alana. Gibran lihat mbak Alana lumayan baik dan sayang juga dengan si kembar."
"Dia memang baik, tidak pernah marah atau menuntut banyak hal tapi gue belum mencintai nya dan jujur hingga saat ini nama adel masih terukir indah di hati gue"
"Cinta bakal terasa seiring nya berjalan waktu. Mungkin sekarang bang Revan belum mencintai mbak Alana tapi enggak tahu besok atau lusa kan kali aja bang Revan jadi bucin"
"Dia hanya orang lain tapi dia mampu menyayangi si kembar seperti anak kandung nya sendiri" kata Gibran sembari menepuk pundak Revan. "Gue yakin, bang Revan bakal cinta dengan mbak Alana seiring berjalan nya waktu" Revan lalu melirik Gibran yang sudah berdiri dan berlalu meninggalkan Revan sendirian di tepi kolam renang."
__ADS_1
Revan berfikir sejenak lalu masuk menyusul Gibran ke meja makan. Revan lalu mengambil posisi duduk di samping Azzura. "Ayah di sana saja, Bial mama bisa duduk di sini" Baru kali ini si kembar tidak ingin jika Revan duduk di samping nya pasal nya mereka selalu bertengkar jika Revan duduk berjauhan dengan mereka.