
Pagi ini sangat cerah desiran angin meniup tirai-tirai kamar kedua insan yang masih terlelap dalam tidur nyenyak nya.
Perlahan lahan Araya membuka mata nya. "Emm sudah pagi yah" kata Araya masih setengah sadar lalu menoleh samping dan kembali memejam kan mata nya.
"Ya ampun" dengan spontan puing-puing kesadaran Araya lansung kembali saat sadar jika sekarang dia masih berada di pelukan Evan. Araya mendongak dan melihat Evan masih tertidur dengan nyenyak.
Sungguh pemandangan pagi yang sangat indah menurut Araya. Evan masih tertidur di samping Araya dengan tangan yang dari semalam terus melingkar di pinggang kecil Araya.
Araya terus menatap wajah Evan yang sangat teduh dan tampan saat sedang tidur. Kulit Evan sangat bersih dan mulus cukup lama Araya memandangi wajah Evan hingga sebuah senyuman manis terukir di wajah cantik nya. "Kalau seperti ini rasa nya kita seperti suami istri beneran" kata Araya dengan tersenyum lebar.
Perlahan lahan Araya menurun kan tangan Evan dari pinggang nya lalu turun dari ranjang dengan hati-hati agar Evan tidak terbangun.
Baru lima langkah, Araya kembali menghampiri Evan lalu mencium kening Evan dengan lembut dan agak lama. "Good morning my husband" Araya mengelus kening Evan lalu kembali melangkah menuju kamar mandi.
Setelah kepergian Araya, Evan diam-diam tersenyum. "Gadis bodoh" kata Evan lalu kembali memejam kan mata nya.
Sebenarnya Evan lebih dulu bangun di banding Araya namun enggan untuk beranjak dari ranjang dan malah keenakan memeluk tubuh kecil istri nya sembari terus mengendus rambut Araya.
Tak butuh waktu lama bagi Araya untuk segera bersiap dan keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaiaan yang sudah rapi. "Tuan masih tidur" kata Araya saat melihat Evan masih tertidur pulas.
Setelah membuka horden jendela Araya keluar dari kamar untuk menenangkan pikiran dan rasa malu saat mengingat kejadian semalam. Namun langkah Araya terhenti saat berpapasan dengan Nyonya Lusy dan Tuan Abraham.
"Araya" baru saja Araya ingin memutar badan nya dan kembali berjalan menaiki anak tangga namun suara Tuan Abraham menghentikan langkah Araya.
"Ya Tuan" jawab Araya dengan gugup.
"Mengapa masih memanggil ku dengan sebutan itu? Panggil aku Ayah" kata Tuan Abraham dengan tegas.
"Baik ayah" kalimat ini membuat Nyonya Lusy menatap Araya dengan sinis. "Araya mari ikut dengan ku" Nyonya Lusy berjalan lebih dulu menghampiri sebuah sofa lalu duduk dengan angkuh nya sedangkan Tuan Abraham masuk ke sebuah ruangan.
"Sini duduk" Nyonya Lusy menepuk sofa kosong di sebelah nya. Araya duduk di samping Nyonya Lusy dengan keraguan.
"Bisa tolong lepaskan sepatu ku? Kaki ku sangat pegal setelah olahraga" kata Nyonya Lusy dan menggeser tubuh nya sedikit menjauh lalu dengan lancang menaikan kaki nya di atas paha Araya.
Araya yang polos hanya memberikan senyuman paling manis lalu perlahan lahan melepas sepatu Nyonya Lusy namun tiba-tiba saja Nyonya Lusy menyemburkan air di wajah Araya dengan sengaja.
"Akh maaf sayang, aku tidak sengaja"
"Tidak apa-apa bu" Araya melap wajah nya dengan tisu kering. Araya tau jika Nyonya Lusy memang sengaja melakukan nya tapi Araya hanya diam.
"Nona sebaiknya anda ganti pakaiaan dulu" Lili yang melihat kejadian ini dari jauh segera menghampiri Araya.
__ADS_1
"Tidak usah, kau pakai baju kering atau basah kau tetap saja terlihat miskin" Nyonya Lusy tersenyum ramah pada Araya namun kata-kata nya sangat menyayat hati Araya.
"Oh iya, bisa tidak kau buat kan sarapan untuk kita semua" kata Nyonya Lusy sembari tersenyum manis.
"Apa!" Araya melongo.
"Apa kau tidak pintar memasak?" Nyonya Lusy menatap Araya. "Rasa nya tidak mungkin, kau kan tidak punya koki atau pembantu di rumah dan otomanis semua pekerjaan kau lakukan termasuk memasak kan?" Nyonya Lusy kembali tersenyum dengan ramah.
Araya mencoba menarik dalam nafas nya. "Anda ingin makan apa bu" Araya mencoba menekan perasaan kesal dan sedih bersamaan.
"Terserah" Nyonya Lusy menatap semua para pelayan. "Kalian jangan ada yang membantu nya! Aku tidak ingin tangan kalian mengotori masakan menantuku, faham" tegas Nyonya Lusy.
.
.
.
Evan terbangun dengan pemandangan yang sangat indah. Tirai-tirai kamar yang terbuka dan pintu beranda yang terbuka lebar. Angin sejuk dan sinar mentari pagi menusuk kulit nya yang terbungkus selimut putih.
Evan duduk nengendarkan pandangan nya di seisi kamar dan melihat tepat di meja samping tempat tidur nya ada sepasang kemeja dan celanan panjang untuk Evan.
Evan lalu turun dari ranjang dan mengambil celana yang sudah di siap kan oleh Araya lalu memakainya dan berjalan ke beranda kamar. Baru kali ini Evan terbangun dengan suasana yang sangat indah karena biasa nya Evan terbangun dengan sebuah ikatan tangan dan rasa sakit di sekujur tubuh nya.
Evan hanya diam tanpa membalas sapaan adik tiri nya dan malah ingin kembali masuk kedalam kamar namun suara Vina menghentikan langkah nya.
"Ayolah kak Evan. Sampai kapan kau akan terus berpura pura seperti ini"
"Urus saja urusan mu" kata Evan dengan sinis.
"Itu sama saja kau tidak menghargai pengorbanan kak Ivan" kata Vina dengan menatapa langit biru dengan sendu.
Evan terdiam cukup lama lalu kembali melangkah masuk ke dalam kamar menuju kamar mandi untuk membersihkan diri nya.
****
FLASH BACK SAAT IVAN KECELAKAAN.
Ivan yang saat itu sedang berkunjung ke mansion Evan dengan senang nya memberi kabar bahagia jika sebentar lagi diri nya akan di angkat menjadi Ceo di perusahaan sang ayah.
Dan beberapa bulan ke depan akan ke Prancis untuk melakukan perjalanan bisnis sekaligus bertemu dengan Vina sang pujaan hati.
__ADS_1
Namun entah mengapa saat pulang dari mansion Evan tiba-tiba saja mobil yang di kendarai oleh Ivan mengalami rem blong dan mengakibatkan mobil Ivan jatuh ke jurang yang sangat dalam saat menghindari sebuah mobil yang berlawanan arah dengan nya.
Sedangkan saat itu Nyonya Lusy dan Tuan Abraham sedang berada di luar negri dan butuh waktu dua hari untuk sampai di indonesia karena banyak nya kendala.
Namun siapa sangka setelah Ivan berada di rumah sakit, Vina datang dari Prancis untuk menjenguk sang kakak sekaligus penyemangat hidup nya.
Di sebuah ruangan Ivan terbaring dengan alat medis yang sangat banyak dan luka di sekujur tubuh nya.
Vina masuk ke dalam ruangan dengan kaki yang sangat lemas namun tetap melangkah menghampiri ranjang Ivan lalu duduk di samping ranjang Ivan
Dengan air mata yang terus mengalir dan tubuh yang bergetar Vina mengelus rambut Ivan dengan lembut. "Aku datang kak, bangun lah" kata Vina dengan suara yang bergetar lalu menunduk agar tangisan nya tidak terlihat oleh Ivan.
"Jangan menangis" Ivan mengelus rambut Vina perlahan lahan dengan tangan yang bergetar.
"Kak Ivan" Vina tidak bisa lagi menahan tangis nya dan menangis histeris di depan sang kakak sakaligus sang pujaan hati nya.
"Jika aku tidak selamat, tolong berikan mata ku untuk Evan biar kan dia melihat indah nya alam" kata Ivan dengan terbata bata dan suara yang berat.
"Jaga diri kamu baik-baik, kakak sangat mencintai mu" kata Evan dengan nafas yang tersenggal senggal.
"Tidak! Kak Ivan pasti akan sembuh dan kembali berkumpul bersama kita semua" tangis Vina semakin menjadi jadi di pelukan Ivan. Hingga akhirnya Ivan menghembuskan nafas terakhir di pelukan Vina.
"Kak Ivaaaaannnn" teriakan Vina menggema di ruangan Ivan membuat Alvin yang saat itu bertugas mengurus Ivan sontak berhenti di depan pintu ruangan Ivan dan melihat bagaimana terpuruk nya Vina saat itu dan tanpa Alvin sadari air mata juga mengalir di pelupuk mata nya melihat sang adik yang begitu rapuh saat ini.
Alvin yang saat itu hendak masuk ke dalam ruangan Ivan mengurungkan niat nya lalu kembali melangkah ke dalam ruangan pribadi nya.
Hampir satu jam Vina berada di ruangan Ivan tanpa ingin melepaskan tangan Ivan dari genggaman nya hingga akhir nya Vina juga ikut berbaring di samping Ivan. "Apakah kakak kedinginan" bisik Vina pelan di telinga Ivan lalu merapikan rambut Ivan yang berantakan menggunakan tangan nya sendiri.
"Bangun lah kak" Vina memakai kan selimut pada tubuh Ivan lalu memeluk nya dengan erat.
"Aku sangat mencintai mu kak, bangun lah demi aku" lirih Vina seperti wanita putus asa yang tidak bisa melalukan apapun.
Vina yang hampir saja kehilangan kesadaran menekan keras perasaan kacau dan kehancuran yang hampir membuat nya hilang akal.
Perlahan lahan Vina mencium kening Ivan agak lama dengan air mata yang berlimpah dan tangan yang bergetar. "Bukan kah kakak merindukan ku? Ayo bangun dan lihat aku kak, aku sekarang berada di samping kakak" Vina berusah menahan tangis nya.
"Dek kamu yang sabar" kata Alvin sangat lembut membuat Vina kembali menitikan air mata tanpa suara dan dengan cepat Alvin memeluk tubuh Vina memberikan sedikit kekuatan untuk sang adik.
Vina diam menatap wajah tampan Ivan yang penuh dengan luka dan tangan yang juga penuh luka tanpa sadar Vina kembali menangis di pelukan Ivan dengan tersendu sendu.
Beberapa menit kemudian Vina mencerita kan pada Alvin permintaam terakhir Ivan yaitu mendonorkan mata nya untuk Evan. Awal nya Evan tidak terima tapi dengan rayuan dan bujukan dari Vina yang mengatakan jika ini adalah keinginan Ivan alhasil Evan pun setuju untuk melakukan operasi.
__ADS_1
FLASH BACK OFF