
Hampir satu jam Araya berkutak di dalam dapur dengan tatapan Nyonya Lusy yang terus menatap nya dengan sinis.
"Ayo letakkan di atas meja" kata nya pada Araya.
Araya mulai menata hidangan sarapan pagi untuk seluruh keluarga dengan rasa takut dan canggung yang luar biasa sedangkan semua pelayan di mansion itu hanya melihat Araya dari kejauhan.
"Biar aku membantu anda Nona" Lili mencoba membantu Araya merapikan piring-piring cantik yang berisikan makanan lalu menata rapi di atas meja.
Tak lama kemudian satu persatu anggota keluarga datang untuk sarapan begitu pun dengan Evan yang datang bersama Vina untuk sarapan.
"Selamat pagi Tuan dan Nona" sapa para pelayan saat Varrel, Vina, Alvin dan Evan melewati mereka semua lalu menghampiri Araya yang masih sibuk menata beberapa alat makan di atas meja.
"Ayo makan, ini semua masakan Araya" kata Nyonya Lusy sembari mengambil sepotong daging lalu meletakan di atas piring Tuan Abraham.
Araya lalu menarik kursi untuk Evan. "Silahkan duduk suami ku" kata Araya lembut lalu duduk di samping Evan.
"Apa Araya yang memasak semua nya" kata Alvin lalu mencoba ayam pedas manis buatan Araya. "Emm ini enak sekali" sambung nya sembari mengunyah.
"Araya sangat pandai memasak. Evan pasti senang punya istri yang cantik dan pintar seperti mu"
Araya melirik Alvin lalu tersenyum dengan malu-malu karena telah memuji masakan Araya.
Brak..
Evan yang ingin mengambil nasi tanpa sengaja menyenggol gelas yang berada di samping nya. "Anda ingin apa" tanyak Araya dengan lembut.
"Araya masakan mu enak sekali"
"Terimakasih kak" kata Araya sembari melirih Alvin lalu kembali tersenyum.
Prang..
Evan lagi-lagi menjadi pusat perhatian seluruh keluarga karena menjatuhkan sendok yang dia gunakan. "Masakan seperti ini kau bilang enak?".
Gleg
Setelah lama diam akhir nya suara Evan yang menggelegar mengunci mulut semua orang. Araya menoleh pada suami nya yang secara langsung mengatakan jika masakan nya tidak enak. "Ada apa dengan nya" batin Araya.
"Kau tidak menyukai nya?" balas Alvin segit.
Evan yang tadi nya sedang mengunyah kini terhenti saat mendengar ucapan Alvin lalu menyunggingkan senyuman tipis yang mematikan.
Semua orang melongo melihat Evan yang tersenyum seperti ini dalam sejarah apapun Evan tidak perna tersenyum dan ini yang pertama kali nya mereka melihat Evan tersenyum walaupun senyuman itu terkesan sinis.
"Jika aku tidak menyukainya, kau ingin mengambil nya dari ku?" Evan menjawab apa yang di tanyakan oleh Alvin setelah mengakhiri senyuman mematikan nya.
Evan dan Alvin saling memberikan tatapan tajam nya. "Mungkin saja. Apa yang tidak mungkin di dunia ini". seketika atmosfer berubah dingin dan panas di saat bersamaan saat kedua saudara tiri itu saling melempar pandangan tajam nya.
Semua orang terbelalak mendengar ucapan mereka berdua lalu beberapa detik kemudian tawa Alvin menggelegar. "Hahaha, aku hanya bercanda makanlah dengan banyak agar cepat sembuh" kata Alvin lalu mengambil lauk di hadapan nya.
Araya terus menatap Evan tanpa bisa berkedip menolak pesona sang suami yang terlihat sedang cemburu karena masakan istri nya di puji oleh pria lain.
Tangan Evan menghancurkan hidangan yang ada di piring nya hingga semua orang yang melihat Evan hanya diam tanpa ingin bertanyak karena saat ini Evan benar-benar terlihat sangat marah.
"Araya kapan kau berencana memiliki seorang anak" pertanyaan Nyonya Lusy sontak mengalihkan asitensi semua orang termasuk Evan.
Uhuk.!!
Araya tiba-tiba saja terbatuk saat Nyonya Lusy menanyakan seorang anak. "Aku akan memberikan anak untuk nya" bukan Araya yang menjawab melain kan Evan yang menjawab dengan tegas.
Araya yang sedari tadi menatap Evan kini mata nya membola dengan sempurna saat sebuah kalimat tegas Evan katakan.
__ADS_1
"Pelayan" teriak Evan sembari berdiri dari duduk nya.
"Ya Tuan" jawab salah satu pelayan dengan menunduk saat berada di samping Evan.
"Bawakan masakan istri ku ke dalam kamar, aku ingin makan berdua dengan nya".
Deg
Deg
Araya mematung diam dengan tangan yang menggenggam sendok dan garpu dengan kokoh. Baru kali ini Araya mendengar kata manis Evan. Pria itu apakah benar ingin sarapan dengan nya berdua saja?.
"Kenapa harus ke kamar? Lebih baik kita sarapan bersama.."
"Araya antar aku ke kamar" Evan menyelah ucapan Alvin. Dengan spontan Araya berdiri lalu menggandeng tangan Evan.
Rasa nya Araya ingin berteriak dengan keras saat Evan berkata manis seperti ini pada nya. Sungguh jantung Araya saat ini seperti ingin melompat keluar dari tempat nya. Evan seperti memberi kan lampu hijau pada Araya untuk menyentuh tubuh nya yang selama ini tidak ingin di sentuh oleh siapa pun.
"Ayo suami ku" dengan sekuat tenaga Araya menahan senyuman nya. "Mengapa jantung ku berdetak seperti ini" batin Araya.
Araya melirik yang lain nya lalu sedikit membungkuk memberi hormat pada kedua mertua nya dan perlahan lahan menuntun Evan.
"Araya" suara Tuan Abraham sontak menghentikan langkah Evan dan Araya lalu kembali menoleh pada Tuan Abraham. "Duduk dan lanjut kan sarapan kalian" semua orang tahu betapa Tuan Abraham sangat berkuasa dan tak ada seorang pun yang berani melawan perintah nya.
"Jalan Araya" Araya terlihat bingung karena dua perintah ini tidak mungkin dia tolak dan harus memilih antara mertua atau sang suami.
Merasa istri kecil nya diam saja dan sudah pasti akan memilih Tuan Abraham. "Tidak perlu mengantar ku" Evan menepis tangan Araya.
Araya malah menggenggam dengan kuat lengan Evan. "Maaf ayah, aku akan makan bersama suami ku di dalam kamar" semua orang menatap Araya tidak percaya apa yang sudah Araya katakan.
Vina dan Varrel yang sedari tadi sibuk menyantap makanan nya kini menghentikan kegiatan mereka dan menatap Araya dengan mata terbelalak.
"Araya kembali" Tuan Abraham tidak mau kalah dan terus memaksa Araya untuk kembali.
"Biarkan saja mereka sarapan di kamar" Vina yang sedari tadi hanya diam kini mulai membuka suara.
"Aku hanya kasihan pada Araya yang harus mendampingi pria buta dan arrogant seperti nya"
"Mereka memang cocok. Bukan kah Araya juga sama bodoh nya dengan Evan yang malang? Araya mungkin kasihan pada Evan jadi biarkan saja"
Evan yang sudah muak mendengar hinaan mereka menepis tangan Araya lalu berdiri dan berbalik arah.
Buk
.
.
.
Buk..
Satu pukulan mendarat di wajah tampan Alvin hingga terjatuh bersama kursi nya di lantai. "Kak Alvin" Vina yang panik berlari menghampiri Alvin.
Entah mengapa tubuh Araya tidak bisa bergerak sama sekali sejak tadi. Araya terdiam saat sang suami memberikan bogeman mentah pada adik tiri nya.
Tuan Abraham yang sedari tadi menahan emosi kini menggenggam kemeja Evan dengan tangan yang bergetar juga wajah yang penuh kemurkaan lalu mendorong tubuh Evan hingga terjatuh ke lantai.
"Ayah" teriak Varrel lalu menghampiri Evan.
"Pengawal" teriak Tuan Abraham yang menggelegar di seluruh mansion dan beberapa pengawal pun menghampiri Tuan Abraham.
__ADS_1
"Bawa mereka semua pergi dari sini, kecuali Evan" perintah Tuan Abraham dengan tegas.
"Ayah apa yang akan kau lakukan" kata Varrel dengan cemas saat beberapa pengawal menarik nya dengan paksa.
"Lepaskan aku" Vina memberontak.
"Jangan menyentuh ku, aku bisa jalan sendiri" kata Nyonya Lusy lalu membantu Alvin untuk berdiri dan pergi meninggalkan Tuan Abraham bersam Evan.
Sedangkan Araya yang sedari tadi hanya diam kini mulai memberontak saat dua orang pengawal memegang tangan nya dengan paksa lalu menuntun nya kembali ke dalam kamar.
Byurr..
Tuan Abraham menyiram wajah Evan dengan segelas susu hangat yang barada di atas meja. "Kau pikir kau siapa? Hah!" kata Tuan Abraham lalu kembali menarik kerah kemeja Evan.
Buk..
Buk..
Buk..
Tuan Abraham meninju wajah Evan berkali kali. Jika Evan mau Evan bisa saja membalas pukulan ayah nya berkali kali lipat namun Evan hanya diam saat ayah nya terus menghujani wajah nya dengan pukulan.
Gadis nakal itu menoleh saat suara beberapa barang berjatuhan dan betapa kaget nya Araya saat melihat Tuan Abraham yang sedang memukul Evan tanpa ampun hingga Evan lemas tak berdaya di atas lantai.
Dengan spontan Araya mendorong kedua pengawal itu hingga terjatuh dari tangga lalu menerobos semua pengawal dan pelayan yang berjaga.
Bahkan Nyonya Lusy, Vina, Varrel dan Alvin terperanjak mendegar suara kegaduhan dan segera menoleh melihat Araya yang berlari menghampiri Evan.
"Ya ampun" ucap Nyonya Lusy kaget dengan mata yang membola sempurna.
"Hentikan Tuan"
Buk.
Pukulan yang harus nya untuk Evan kini salah sasaran saat gadis nakal itu berdiri di hadapan Tuan Abraham dan menjadi tameng untuk Evan. Araya yang terkena pukulan lansung tersungkur di samping Evan dengan hidung yang mengeluarkan banyak darah.
"Apa yang dia lakukan" Tuan Abraham tergucang hebat saat menyadari kepada siapa pukulan itu mendarat.
"Araya" Evan dengan cepat menghampiri sang istri yang tidak jauh dari nya tergeletak lalu meraih tubuh sang istri dan menggendong nya.
Brak.
Evan manabrak Tuan Abraham lalu menggendong sang istri menuju kamar nya. Semua orang sangat kaget hingga tidak bisa melakukan apapun dan hanya diam di tempat memandang Evan yang dengan gagah nya menggendong sang istri.
Padahal baru saja mereka melihat Evan lemas tak berdaya setelah di hantam beberapa kali pukulan oleh Tuan Abraham dan lihat lah kini keajaiban cinta mereka yang mampu mengalah kan rasa sakit itu.
"Pelayan, ambilkan kompres untuk istri ku" teriak Evan menggema lalu membaring kan tubuh Araya dengan sangat lembut di atas ranjang.
Araya yang sebenarnya masih setengah sadar dapat melihat raut wajah Evan yang sangat khawatir dan mendengar suara Evan yang terdengar panik.
Evan meletakan tangan nya di atas hidung Araya mengusap darah yang terus keluar dari hidung Araya menggunakan tisu. "Kenapa kau bodoh sekali" lirih Evan namun Araya masih dapat mendengar nya dengan baik.
Setelah membersihkan darah Araya. Evan lalu menatap Araya cukup lama dan memberikan kecupan agak lama di kening Araya lalu berdiri untuk menghampiri sang ayah di ruang tamu.
Meski mata Araya terpejam dan bibir nya bungkam tanpa suara. Araya dapat merasakan nafas Evan yang mencium kening nya. Lalu setelah itu Araya pun pinsang.
.
.
.
__ADS_1