CINTA TAK SEIRAMA

CINTA TAK SEIRAMA
Chapter 1


__ADS_3

~ Siapa yang bisa menebak jalan cinta? Kau bahkan tak bisa memperkirakan kapan ia akan datang. Ingat!!! Segala tentang cinta adalah rasa. Dan kau !! Harus menerima segala rasa itu. ~


In_stories


*****


Bandara terlihat ramai hari ini, lalu lalang para penumpang dengan berbagai barang bawaan memenuhi setiap ruang tunggu bandara. "Akhir tahun yang menyenangkan" gumam Prilla. Ia baru saja tiba dari Kalimantan setelah hampir satu tahun ditugaskan untuk mengajar didaerah perbatasan.


Sebenarnya keputusan menjadi seorang guru tidak terlalu didukung oleh orangtuanya, namun keinginannya akan berbagi ilmu membuatnya kekeuh untk menjadi guru,walaupun begitu orang tuanya tetap mendukungnya walaupun sulit.


Ia memutuskan untuk beristirhat sebentar disebuah cafetaria dibandara, menikmati secangkir kopi sambil melihat pemandangan orang2 dengan kesibukannya masing-masing .Ia sebenarnya sedang menunggu mobil jemputannya, namun entah kenapa lama sekali,ia mencoba menghubungi sopirnya itu namun ponselnya tidak aktif.


Ia akhirnya putuskan tuk naik taxi saja.ia ingin cepat-cepat pulang untuk bertemu orang tuanya dan tak lupa saudara kembarnya, ya Prilly. Prilly sekarang sudah lulus kulih kedokteran, sebenarnya ia kaget saat adiknya itu memutuskan tuk menjadi dokter, karna menurutnya Prilly tidak terlalu telaten dengan hal seperti itu. Tapi dugaannya salah.


Prilla berjalan agak terburu buru sambil memainkan hp hingga tak tak sengaja ada anak kecil yang menubruknya dari belakang.


Brukk.. Prilla terjatuh dengn beberapa barang bawaanya.


"maaf tante, Fikri ngak sengaja." ucap seorang anak kecil yang kira- kira baru berumur 5 tahun itu sambil mencoba membantunya untuk membereskan barang-barangnya yang berceceran.


"iya, gak apa-apa kkok dek"balas Prilla sambil membenarkan letak kacamata bacanya yang sedikit miring.


"eh maafin kelakuan ponakan saya ya, dia emang susah diem "ucap seorang lelaki yang tiba-tiba datang sambil berusaha membantu Prilla memberesi barang-barangnya yang berceceran. Merasa tidak enak hati akan kelaluan ponakannya.


"iya gak apa -apa kok, namanya juga anak anak pasti gitu."balas Prilla mencoba memaklumi dengan tersenyum lembut. Ia mengacak -ngacak rambut anak kecil yang bernama Fikri itu. Dan menatap sekilas lelaki yang membantunya


"Maaf saya buru buru, permisi".ucap prilla sambil berlalu meninggalkan lelaki itu dan anak kecil yang tadi menabraknya. 


*****


Ali berjalan meninggalkan bandara bersama keponakannya dan kakaknya Kaia. Ia baru saja selesai dari penerbangannya ke Inggris selama satu minggu.


Didalam mobil tiba2 ia teringat akan gadis itu, gadis dengan jilbab yang menghiasai wajahnya ditambah dengan bola mata hazel yang dibingkai dengan kaca mata baca membutnya terlihat dewasa namun mengemaskan. Ali tersenyum sambil merutuki kebodohannya karna mengagumi seseorang yang baru ditemuinya, itupun tidak sengaja.


Setelah hampir 30 menit berkendara ia akhirnya sampai didepan pekarangan rumahnya, rumah lantai dua, dihiasai dengan taman dan kolam kecil membuatnya terlihat asri dan sejuk.


Bundanya terlihat sudah menunggu diteras rumah sambil bersiap untk memeluk anak laki laki satu-satunya itu.


"Ali.. Bunda kangen sama kamu"ucap bunda resi ,menyambut kedatangan Ali.


"lebay deh bunda"ledek Ali dengan ekspresi dibuat kesal .sedangkan Kaia dan Fikri yang berada dibelakang Ali tertawa kecil mendengar candaan Ali.


"Dikangenin kok dibilang lebay. " cibir bunda Resi dengan memukul lengan Ali pelan.


*****


Selesai mandi ali beristirahat diruang tamu sambil menonton acara tv. Sesekali ia memindah channel tv untuk mencari siaran yang bisa menghiburnya. Karna tak kunjung dapat ia akhirnya memutuskan untuk melihat acara berita . Tak lama ,bundanya datang sambil membawakan secangkir teh untuknya, Ali pun mengambilnya sambil tersenyum. Bunda Resi lantas mengambil posisi duduk tepat disamping Ali.


Ia menatap Ali sekilas. Menguatkan hatinya untuk lekas menyampaikan amanat suaminya sebelum meninggal 5 tahun lalu.  Ia menghela nafas panjang. Sebelum berkata


"Li,.."ucap bunda Resi halus.


Ali yang tengah menyesap tehnya,  menoleh sebentar. Ia lalu meletakkan teh itu dimeja yang berada dihadapannya.

__ADS_1


"kenapa bun? "jawab Ali.


Bunda Resi menatap anak nya itu dalam dan penuh cinta.


"Bunda hanya ingin meyampaikan amanat ayahmu dulu sebelum meninggal, beliau berpesan agar menjodohkanmu dengan anak sahabat dekat ayah saat kamu sudah berumur 25 tahun, apa kamu mau?".tnya bunda Resi sambil memegang tangan Ali.


Ali terlihat kaget dengan hal itu. Ia sama sekali tak ada niatan untuk menikah semuda ini, apalagi saat ini ia sedang menikmati dengan pekerjaannya sebagai pilot yang sudah ia cita citakan sejak dulu.


"Ali coba pikir pikir dulu bun"jawab Ali singkat sambil berlalu menuju kamarnya. Ia sungguh butuh waktu memikirkan ini.


********


Prilla makan malam bersama dengan Prilly,Mama dan Papanya. Sesekali mereka bergurau dengan candaan candaan ringan agar terasa lebih hangat.


"Gimana kesan kamu ngajar di perbatasan La? "tanya papanya .


"asik Pa, banyak pengalaman yang bisa aku ambil, terutama belajar untuk menerima segala keterbatasan, terutama keterbatasan sinyal"canda Prilla sambil diiringi gelak tawa dari mereka.


"Pasien kamu gimana Prill?banyak ngk ibu-ibu rempong? "tanya Prilla sambil tertawa.


"ya gitu deh, kadang ada tau yang nanggis"jawab Prilly sambil terkikik


"nanggis kenapa? "


"nanggis cuma karna suaminya nggak anter buat periksa. "


"kamu tu ya,, kek ngak punya jiwa keibuan"cibir Prilla sambil menonyor jidat Prilly.


Mamah dan Papahnya hanya tersenyum melihat tingkah putri kembar mereka.Mereka kembar identik, namun mereka punya hobi dan kesukaan masing-masing. Dari kecilpun mereka jarang memakai pakaian yang sama, mungkin hanya beberap kali itupun karna acara formal ayahnya, selbihnya mereka punya gaya sendiri2.Prilla dengan pakaian muslimahnya sedangkan Prilly terkesan lebih suka dengan pakain jaman sekarang namun bukan pakaian yang kurang bahan.


*****


Prilla dan Prilly asik mengobrol didalam kamar, tak lama mamah mereka masuk dan mengajak untuk turun ke ruang tengah.


"papa ingin bicara sebentar katanya, ayo turun"


Ucap mama uly.


Prilla dan Prilly langsung mengikutinya tanpa banyak bertanya.


Terlihat papahnya sudah menunggu ,wajahnya terlihat serius saat melihat mereka berdua. Setelah semuanya duduk disofa.


"Papa hanya ingin menyampaikan sesuatu yang bagi Papa ini sangat penting." ucap Papa Rizal kemudian. Dia mengamati ekspresi wajah kedua putri kembarnya yang nampak kebingungan. Sedangkan istrinta biasa saja. "Ini mengenai janji Papa pada almarhum sahabat dekat papa, agar menjodohkan anak papa dengan anaknya." lanjut Papa Rizal serius.


Prilla dan Prilly saling menoleh dengan wajah terkejut. Mereka lalu kembali menatap wajah papanya tersebut dengan seribu tanya yang menggantung dikepala.


"siapa yang akan papa jodohkan? Prilly bertanya lebih dulu. Ia sungguh penasaran. Karna tidak mungkin mereka akan diperistri dua-duanya. Gila. 


Sementara Prilla juga nampak cemas. Ia tak ingin menikah secepat ini. Namun salah satu diantara mereka pasti akan menikah dengan anak sahabat papanya itu. Apa Prilla jahat jika mendoakan Prilly saja yang menikah dengan anak sahabat papanya itu?


Papa Rizal menatap dalam kedua anaknya itu secara bergantian. Ia menegakkan posisi badannya. Sekali lagi dia menatap wajah cemas dari kedua anaknya itu secara bergantian, hingga pandangannya terhenti pada salah satunya


"kamu Prilla. Karna urutannya kamu adalah anak Pertama. " jawab papa rizal dengan suara beratnya.

__ADS_1


Prilla tercekat. Dia menatap ayahnya dengan eskspresi sulit terbaca.


"nanti Ila pikir pikir dulu pa." jawab Prilla karna tak punya jawaban yang lebih baik dari itu.  Papa Rizal mengangguk memaklumi. Karna ia juga sangat mendadak membicarakannya.


"Dan kamu Prill, apa kamu setuju, kakakmu sekligus kembaranmu ini akan menikah?" tanya papa Rizal. 


Prilly melirik kearah kakaknya yang duduk disampingnya dengan wajah tertunduk. Ia tahu kakaknya pasti dilema.


Sedangkan mamah uly hanya menyimak karna tidak tahu harus berkomentar apa. Ia memilih untuk memperhatikan kedua anaknya itu.


"kalo ily terserah gimana kakak ila aja pa. Kalo itu bagus buat kak ila,ily gak apa-apa kok.yang penting kak ily bahagia."jawab prilly sambil merengkuh bahu Prilla.  Kedua orang tua mereka yang duduk bersebelahan disebrangnya mengangguk.


"papa tunggu jawaban kamu 3 hari lagi ya nak? " ucap papa rizal yang tertuju pada Prilaa.


Prilla mendongakkan wajahnya.


"insyaallah pah.", jawab ila sambil berlalu menuju kamarnya disusul Prilly.


Kedua orang tua itu hanya bisa menghembuskan nafas berat saat melihat sikap Prilla. Mereka tahu bahwa anaknya itu akan sangat terkejut, karna bagaimanapun juga ila masih ingin fokus pada pekerjaan mengajarnya. Tapi mau bagaimana lagi, janji adalah janji yang harus ditepati.


*********


Prilla langsung merebahkan tubuhnya dikasur. Air mata tak lagi bisa ia tahan. Ia masih sangat ingin fokus pada kegiatan mengajarnya. Ia takut jika nantinya calon suaminya melarang dia untuk menjadi guru. Ia juga belum siap untuk menikah. Menikah  itu juga harus mempersiapkan mental.


Terdengar pintu kamar dibuka, ternyata prilly. Ia langsung menghampiri kakaknya itu lalu memeluknya, ia tahu bahwa kakanya tak ingin menikah dulu, ia masih ingin fokus untuk mengajar.


"ily akan dukung apapun keputusan kakak, ily tahu kakak bisa mengambil keputusan yang tepat dalam urusan ini" ucap prilly sambil mencium pucuk kepala kakaknya.


*****


Prilly lebih memilih untuk diam dibalkon kamarnya. Menikmati langit dengan sejuta pesona bintang gemintangnya,yang  membuatnya betah berlama-lama walau sekedar melihat.


Ia masih memikirkan rencana perjodohan itu. Ia sendiri masih bingung dengan apa yang ia rasakan. Separuh hatinya bersorak gembira karna bukan dia yang akan menikah. Namun separuh hatinya yang lain menangis sedih melihat kembarannya sedih menerima ini. Ia tahu betul bagaimana kakaknya itu.


Prilly menghembuskan nafas frustasi. Ia memejamkan matanya.


Jujur,  ia akan sangat merasa kehilangan kakaknya nanti.mungkin nantinya ia tak lagi bisa berlama2 walau untuk sekedar bercanda dan bergelayut manja pada kakaknya itu jika sudah menikah. Mungkin nanti kakaknya tidak akan bisa lagi ia ajak curhat dan bercerita karna kakaknya sudah punya suami. Walapun umur merekat terpaut 2 menit saja, tapi bagi Prilly kakanya jauh lebih dewasa. Jauh lebih bisa menimbang segala resiko sebab akibat akan sebuah keputusan yang diambil. Air matanya jatuh seketika saat membayangkan itu. Namun ia tak boleh egois. Ini adalah tentang janji yang harus dilaksanakan.


***************


Ali masih belum bisa memejamkan matanya. Pikirannya masih saja terganggu dengan perjodohan itu.


"menyebalkan..."gerutu ali dengan mengusap wajahnya frustasi.


Tapi dilain sisi ia juga harus memikirkan janji orangtuanya itu. Janji adalah hutang, dan hutang harus dibayar. "tapi kan yang utang bukan gue" gerutu ali.


Tapi saat itu juga ia teringat bundanya, mata bundanya mengtakan bahwa bunda menginginkannya  berucap "iya".Disinilah posisi terlemah Ali, ia paling tidak bisa melihat orang2 yang ia cintai kecewa karnanya.


Tapi ini bukan hal yang mudah, ini tentang pernikhan, dan Ali tidak ingin salah mengambil keputusan. Seumur hidupnya ia hanya ingin menikah satu kali.


"semoga keputusanku tepat"gumam ali,hingga secara perlhana ia mulai terlelap bersama mimpinya.


****

__ADS_1


for your info, story ini sebelumnya sudah saya publish diwattpad , dan di fanpage facebook saya dengan nama akun in_stories.


__ADS_2