CINTA TAK SEIRAMA

CINTA TAK SEIRAMA
Chapter 15


__ADS_3

 


"Jangan pernah lupakan bahwa takdir selalu punya kejutan. Persiapkan dirimu untuk segala kemungkinan baik atau buruknya"


*****


Prilly yang baru datang dari taman belakang pun merasa heran, saat dari kejauhan ia menangkap sosok Ali yang tengah tertunduk dibangku panjang dengan menundukkan kepala dengan kedua tangan sebagai penyangga. Perasaan takut semakin mengerayangi Prilly saat melihat Ali sesekali menengadahkan wajahnya dan mengusap kedua matanya.


Prilly mempercepat langkah kakinya yang semakin terasa nyeri. Namun ia tak memperdulikan. Ia memperdulikan perasaannya yang sejak dari taman belakang hatinya menjadi gelisah dan diliputi kesedihan. Ditambah dengan melihat Ali yang sepertinya sangat frustasi.


Sambil berjalan tertatih, Prilly terus saja menggelengkan kepalanya. Mencoba menepis dan menyingkirkan pikiran-pikiran buruk yang memenuhi otaknya.


Tidak. Itu tidak akan. Tidak akan!  . Jerit hati Prilly dengan rintihan kesakitan yang tertahan karna kesleo.


"Kenapa mas? " Tanya Prilly lirih saat sampai dihadapan Ali.


Ali yang menyadari kedatangan Prillypun, mendongakkan wajahnya yang semula tertunduk. Matanya tampak memerah dan sarat akan kepedihan juga kerapuhan. Menyiratkan akan sesuatu yang sangat menguncang perasaan.


Tubuh Prilly terasa melemas kala melihat wajah pilu. . Ia sudah bisa menangkap maksud dari wajah Ali. Hatinya merasakan kepiluan yang tiba-tiba menjadi terasa sangat nyata


Prilly menggeleng cepat, menutup mulutnya  tak percaya. "enggak. Enggak mungkin. " gumam Prilly tak mengira. Air mata mengalit deras melewati wajah sendunya.


Tak menunggu lama, Prilly segera bemasuk kedalam ruangan kakaknya. Bahkan sakit dipergelangan kakinya pun sampai tak terasa. Ia ingin segera memastikan bahwa perasaan hatinya itu salah besar. Tidak. Prilly tidak akan kehilangan kakaknya.


Ali mencoba menahan Prilly untuk menenangkannya agar tak memberontak didalam. Namun Prilly sudah lebih dulu masuk kedalam ruang yang kini penuh kesedihan.


 Prilly berhenti sejenak melihat pemandangan dihadapnnya. Alat-alat yang menancap ditubuh kakaknya satu persatu mulai dilepaskan oleh suster. Nafas Prilly tampak memburu karna tangisannya. Dia masih belum percaya pemandangan dihadapannya itu.


Mamanya terlihat menanggis tersedu dipelukan bunda Resi. Ayahnya yang selalu terlihat tegar kini ikut menanggis melihat kondisi putrinya yang tak lagi bernyawa.


Saat itu juga, tubuh prilly terasa sangat lemas. Namun ia mencoba untuk kuat. Ia berjalan menghampiri ranjang kakaknya. Ia menanggis memeluk tubuh kakaknya.  Mencoba mengguncang-guncangkan tubuh  kakaknya. Berharap kakaknya tiba-tiba akan sadar dan tersenyum kearahnya.


"kakak.. Kakak... Jangan tinggalin Aku kak. Kakak jangan pergi"jerit Prilly sambil mengguncangkan tubuh Prilla yang semakin lama semakin dingin.


Tangis Prilly begitu menyayat. Ia sangat tidak siap dengan ini.


Ali yang melihat Prilly menjerit seperti itu pun hanya bisa diam. Ia tak bisa berkutik. Ia juga sangat merasakan kehilangan. Orang tua mereka pun juga ikut diam menyaksikan Prilly. Merka juga sama-sama syok. Tak mengira ini semua.


"mana yang sakit kak? Kasih tahu aku. Biar aku obatin. Aku kan juga dokter kak!!Bangun kak, kasih tahu aku mana yang sakit" ucap Prilly  dengan meniti tubuh kakaknya. Seolah-olah mencari  sumber dari kesakitan Prilla. Air mata deras mengalir tak terkira. " Mana kak... Kasih tau aku" imbuh Prilly dengan tangisan yang semakin terdengar sangat pilu.


Ia memeluk tubuh kakaknya dan menciumi wajah kakaknya yan terpejam.


"itu kenapa alat2nya dilepas, pasang lagi. Kakak aku lagi mau sembuh. Kenapa dilepaasin? "Bentak Prilly pada suster-suster yang hendak melepas melepas berbagai peralatan medis ditubuh Prilla. Menatap dokter dan suster itu dengan tatapan tajam tapi penuh kepiluan.


Dokter dan suster pun langsung diam, menatap iba pada Prilly.


Prilly hanya bisa memeluk tubuh kakaknya, menciumi wajah yang tak akan bisa ia lihat lagi senyum indahnya. Ia masih belum percaya bahwa kakaknya sudah pergi. Padahal dia belum sempat menuntaskan rindunya dengan kakaknya.


"Kenapa kak? Kenapa? " ucap Prilly dengan terisak. Ia sungguh tidak mengira.


Hari ini kepedihan bertubi-tubi datang padanya. Disaat yang sama ia harus merelakan orang yang selama ini menjadi kekasihnya itu sudah membuatnya sedih, ditambah sekarang ia harus kehilangan sosok kakak yang sangat ia cintai pula. Menggapa dunia seolah-olah  memberikan kepedihan yang bertubi? Apa kesalahannya hingga ini menimpanya? Berbagai tanya terus saja bermunculan dihatinya.


"bangun kakak.. Bangun. Aku kan udah nurutin kemauan kakak, kenapa kakak malah ninggalin aku"ucap Prilly ditengah isakan tangisnya yang semakin menjadi-jadi.


Ali yang sedari tadi mencoba menenangkan papa Rizal pun mendekat kearah Prilly karna tangis Prilly yang semakin menjadi. Ia sungguh tidak tega.


Prilly terus memberontak saat Ali hendak memeluknya. Ia ingin terus membangunkan tidur damai kakaknya. Sungguh,  Prilly masih tak percaya.


Namun kekuatan Prilly tak sebanding dengan Ali. Ia akhirnya menyerah dalam dekapan lelaki yang kini menjadi suaminya. Menumpahkan segala tangisnya.


 


Ali mendekap Prilly erat. Memeluknya mencoba memberikan ketenangan dengan mengelus lembut punggung Prilly.


Ia lalu membawa Prilly keluar. Takut jika Prilly akan berontak seperti tadi lagi. Ia sungguh tak bisa melihatnya menanggis.


Ia lantas mendudukan Prilly dikursi tunggu tanpa melepaskan pelukannya. Prilly sendiri tidak menolak, memang saat ini Prilly sangat membutuhkan sandaran.


Bayangan kakaknya menari-nari dalam pikiran Prilly. Senyum lembut kakaknya, tawa renyah mereka berdua, dekapan hangat kakaknya sempurna terlihat dipikirannya. Kaset-kaset lama tentang kenangan mereka berdua tiba-tiba berputar cepat dipikiran Prilly. Membuat Prilly semakin terisak akan rasa kehilangan yang begitu mendalam.


Prilly menggelengkan kepalanya pelan, berusaha untuk menepis bayangan memori itu. Saat ini ia sungguh tak ingin bernostalgia tentang masa mereka berdua.


Isakannya kembli terdengar saat bayang-bayang itu berhasil hilang. Ia semakin menenggelamkan wajahnya didada bidang Ali. Alipun semakin mendekapnya erat, mengelus punggungnya tak henti-henti.


Disadari atau tidak Prilly merasa nyaman dalam dekapan Ali. Mencium aroma tubuh Ali membuatnya nyaman, ia merasa seperti berada dalam dekapan  papanya sendiri.


Tak lama jenazah Prilla keluar dari ruangan diikuti bunda resi, mama uly dan papa rizal. Wajah ketiganya terlihat sangat pilu. Saat ini Ali yang harus bisa kuat ,menginggat apa yang Prilla tadi ucapkan padanya sebelum meninggalkannya untuk selamanya.


Prilly yang melihat orang tuanya pun langsung menghambur kearah mereka. Tanggis Prilly kembali pecah ditengah-tengah pelukan kedua orang tuanya.


"sabar sayang, ini sudah ketentuan Allah. Mungkin Allah tidak ingin melihat kakakmu lebih sakit lagi."ucap Papa rizal mencoba memberi pengertian pada Prilly. Walaupun dia juga sama-sama merasakan kehilangan yang begitu dalam.


Mama uly pun hanya bisa diam dengan air mata yang masih bercucuran.


"kita ngak akan bisa  liat kakak lagi pah" ucap Prilly ditengah tanggisnya.


Papa rizal tak lagi bisa berkata-kata. Ia sendiri pun merasa sangat terpukul atas kematian Prilla. 


Bunda Resi terlihat sesekali menyeka air matanya. Menatap iba pada Prilly juga besannya yang terlihat sangat terpukul.


Ali masih diam, tak percaya dengan semua kejadian ini. Ia masih belum percaya, kini Prilla sudah pergi meninggalkannya. Gadis yang berhasil membuatnya jatuh cinta hanya dengan cara sederhana, kini telah pergi selamnya.


Hingga sebuah tangan yang sangat ia hafal, dengan lembut menyentuh  bahunya.


Seulas senyum paksakan untuk memberikan kekuatan pada anaknya itu.


"kamu harus kuat. Ikhlaskan semua tentang Prilla. Kini Prioritasmu adalah Prilly. Jangan kecewakan Prilla"ucap bunda  dan memeluk Ali.


"insyaallh bun"jawab ali sendu.


                                        *****


Setelah menyelesaikan administrasi rumah sakit , mereka memutuskan untuk langsung kembali kerumah. Prilla rencananya akan langsung dimakamkan hari itu juga.


Papa Rizal pulang bersama mama Uly. Ali bersama dengan Prilly. Sedangkan bunda Resi memilih untuk pulang terlebih dulu kerumahnya untuk mengambilkn baju ganti untuk Ali.


Ali memilih untuk langsung kerumah Prilly. Selama dalam perjalanan hanya ada keheningan diantara mereka. Masih sama-sama diam dengan perasaan sedih yang begitu dalam.


Sesampainya dirumah Prilly,terlihat para pelayat sudah ramai. Tetangga, juga kerabat sudah terlihat. Guru-guru tempat Prilla mengajarpun datang melayat.


Ucapan bela sungkawa Ali dapatkan dari teman kerja Prilla disekolah tempat dia mengajar.


Termasuk Pak Anton dan Pak Angga. Wajah yang biasanya sering nyeleneh itupun kini terlihat serius dan terpukul. Tidak menyangka kalau guru yang sering digoda oleh mereka akan pergi secepat itu.


Ali hanya bisa mengucapkan terima kasih atas doa tulus dari mereka.


  "Li.. " Ali yang tengah duduk disalah satu kursi pun menoleh keasal suara. Ali langsung memeluk erat saat tahu siapa yang memanggil.


"sabar ya li. Ini udah takdir Allah"ucap Andra sambil memeluk erat Ali. Ia tahu sahabatnya ini tengah merasakan kesedihan yang luar biasa, walau Ali tidak mengeluarkan tangisnya. Ali mengangguk .


"Cap turut berduka ya. Semoga almarhumah diterima disis Allah. "ucap Ica yanh berdiri disamping Andra.


Ali mengangguk dengan memaksakan seulas senyum tipis diwajahnya.

__ADS_1


"Thanks ca" balas Ali


"oh ya, si kevin ngucapin bela sungkawa. Maaf dia ngak bisa dateng. Soalnya pas gue kabarin dia baru sampe disingapura"ucap Andra .


"iya gpp".jawab ali singkat.


"dia udah nyoba telfon loe. Tapi hp lo mati"imbuh andra


"iya, gue gak sempet charg hp"jawab Ali sambil terkekeh kecil. Menepuk bahu Andra.


"gue gak bakalan marah cuma karna sahabat ngk melayat"ucap Ali. Andra hanya tersenyum sambil memukul pelan lengan Ali.


                                    *****


Suasana pemakaman sore ini begitu terasa sangat Pilu. Prilly berulang kali mencoba untuk tetap tegar menyaksikan saat-saat terakhir ia melihat jenazah kakaknya. Setelah itu selamanya ia tak akan bisa lagi melihatnya. Ia tak akan lagi bisa melihat senyum manis kakaknya yang sama dengannya. Selamanya ia tak akan lagi bisa merasakan dekap hangat itu.


  Air matanya kembali menetes mengingat kakaknya.


  Satu persatu para pelayat mulai meninggalkan pemakaman. Menyisahkan Ali dan Prilly. Orang tua mereka lebih dulu pulang Karna Prilly masih enggan untuk meninggalkan pusara kakaknya.


  Ali setia menemaninya. Berulang kali ia mencoba membujuk Prilly. Namu sejauh itu juga Prilly hanya menggelengkan kepalanya. Tak ada kata yang terucap dari Prilly. Air mata tak henti-hentinya keluar dari mata hazelnya.


  Ali sungguh tak tega. Tapi ia sendiri binggung harus melakukan apa.  Ali lantas ikut berjongkok disamping Prilly. Pakaian pilotnya terlihat agak kotor karna tadi ia ikut turun kebawah untuk menguburkan Prilla.  Ia menarik nafasnya pelan. Menoleh kearah Prilly yang masih terisak. Terlihat jelas mata Prilly membengkak karna terus menerus menangis juga hidung runcingnya yang ikut memerah .


"ayo pulanglah, tidak baik terlalu meratapi kepergian seseorang.itu malah akan membuat kakakmu sengsara dialam sana"ucap Ali lembut sambil menyentuh bahu Prilly.


Prilly tahu akan hal itu, tapi entah menggapa rasanya sulit sekali untuk meninggalkan kakaknya disini sendiri.


"kenapa dia pergi secepat ini? "tanya Prilly sambil mengelus papan nisan kakaknya. Tak mengindahkan ucapan Ali.


"bersyukurlah, setidaknya Allah masih memberikanmu kesempatan untuk melihatnya hingga dewasa secara bersama-sama, coba kamu bayangkan, mereka yang kehilangan anak ataupun saudara saat masih kecil"ucap Ali memberi pengertian


"seperti apa kata papamu, mungkin Allah memang tidak ingin melihat Prilla terlalu lama merasakan sakit. Bukankah segala sesuatu yang Allah berikan untuk kita adalah yang terbaik?  Walaupun kadang kita mengira itu tidak baik untuk kita. Sebaik-baik perencana adalah rencana Allah, dan ini adalah rencana Allah yang terbaik. Kita hanya harus belajar ikhlas dan menerima semuanya dengan lapang dada" imbuh ali lembut.


Mendengar ucapan Ali,ia menjadi teringat akan apa yang ia sendiri ucapkan pada kakaknya saat kakaknya merasa bimbang tentang perjodohan itu. Prilla sedikit tersadar.


Prilly menoleh ke arah Ali.


"kamu benar mas, ngak seharusnya aku seperti ini"ucap Prilly lirih. Ia masih sesengukan, menyeka butir air mata yang tak hentinya surut.


Alipun mengulurkan tangannya membantu Prilly berdiri. Prilly yang mencoba hendak berdiri pun kembali merasakan nyeri dipergelangan kakinya, bahkan ini terasa lebih nyeri lagi .


"sshhhh.. "ringis Prilly menahan sakit . Tangannya reflek menyentuh bagian kakinya yang kesleo.


"Kamu kenapa? " Tanya Ali cemas saat ia mendengar rintihan dari bibir Prilly.


"gpp, tadi cuma kesleo" ucap Prilly seraya bibirnya menahan sakit.


Ali pun menurunkan pandangannya kearah kaki Prilly.


"ini sampe bengkak gini sih? "


"nanti juga sembuh kok mas"ucap Prilly meyakinkan.


Tanpa aba-aba ali langsung mengendong Prilly. Ali yakin Prilly akan susah berjalan.


Prilly yang kaget pun langsung melingkarkan tangannya keleher Ali. Tak ingin membantah karna ia memang membutuhkan gendongan.


Sesampainya dimobil, Ali langsung mendudukkan Prilly dengan hati-hati dan memasangkan sabuk pengaman.


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Tak ada obrolan apapun.  Sesampainya didepan rumah Ali hendak mengendong Prilly. Namun Prilly menolak.


"Bantu aku jalan aja mas"Ali pun mengikuti kemauan Prilly.


Hanya ada bunda Resi dan kedua orang tua Prilly saat mereka sampai diruang tamu karna pelayat sudah pulang. Ali dan Prilly pun mendekat kearah mereka. Duduk bersama disalah satu sofa yang kosong.


"Nanti diurut aja " saran bunda Resi saat melihat Prilly yang masih kesakitan.


"Dia ngeyek mbak kalo disuruh begituan. " sahut mama uly yang diangguki oleh papa Rizal.


"Nanti aku kompres pakai air hangat sama diolesin balsem insyaalllah sembu kok." Prilly menjawab.


"Gimana baiknya aja.Kamu lebih paham soal itu nak." balas bunda Resi dengan tersenyum kearah Prilly. " kalau gitu bunda pamit dulu ya? "


"kok ngak nginep  bun? "tanya Prilly.


"iya?  Kok nggak nginep? " Ali ikut bertanya.


"engga, kapan-kapan aja ya sayang. Kata kaia, Fikrinya mau dititipin dulu ke bunda. Soalnya mama papanya mau ke Bandung"ucap bunda resi menjelaskan.


"Ali telfonin Andra ya bun ,buat nemenin" kata Ali. Krna Ali tidak tega melihat bundaya sendiri dan hanya ditemani Fikri


"ngak usah, tar kalau bunda perlu ,biar bunda sendiri aja yang nelfon Andra" .ucap bunda nya lembut.


"aku pamit ya? " ucap bunda Resi yang diangguki oleh besannya.


"hati-hati bun, Prilly ngak bisa ikut nganter kedepan. Kaki Prilly masih sakit" .Bunda Resi yang sudah tahu pun tersenyum .


"gpp, cuma kedepan teras doang kok.


Kalau ngak sembuh-sembuh coba diurut aja".  saran bunda resi pada Prilly.  Prillpun mengangguk.


Ia lantas mencium punggung tangan bunda Resi.  Sementara Ali, papa dan mamanya keluar, mengantarkan mertuanya.


Karna rasa lelah yang teramat sangat, Prilly mencoba berjalan menaiki anak tangga rumahnya dengan berpegang pada tangga untuk kekamarnya. Tidak terlalu sulit ,namun terasa sakit ternyata, gumam prilly.


                                          *****


"lho, Prilly mana pah? "tanya Ali pada papanya yang juga baru saja masuk kedalam rumah. Papa Rizal juga nampak binggung.


"mungkin kekamarnya li,di atas"ucap bunda Resi.


"iya li, coba kamu liat dulu,pintu kamarnya yang ada gambar doraemon"suruh papa Rizal pada Ali.  Alipun langsung berjalan menaiki anak tangga.


Pintu dengan sticker doraemon itu terbuka sedikit. Ali masuk perlahan. Terlihat Prilly yang tengah duduk ditepi ranjang menghadap kearah jendela, membelakanginya. Suara isakan terdengar jelas oleh telinga Ali. Tubuh Prilly bergetar karna menanggis.


Ali masih terpaku berdiri diambang pintu. Beberapa kali ia menarik nafas perlahan. Mencoba untuk kuat dihadapan semuanya.  Ali sendiri merasa sangat kehilangan Prilla.  Ia tidak menyangka akan kehilangan Prilla secepat ini. Ia merasa baru kemarin ia berjumpa dengan Prilla.Bayang kenangan saat bersama dengan Prilla kembali berputar dikepalanya. Ia memejamkan mata mengingat kenangan itu. Ali masih ingat betul pertemuan pertama mereka di Bandara waktu itu. Ali tersenyum getir mengingat momen hujan disore hari yang membuatnya mengungkapkan perasaannya pada Prilla, bahkan wajah Prilla yang bersemu saat itupun masih terpahat jelas dihati dan pikirannya.


Hati Ali semakin perih saat mengingat semalam ia masih bisa mendengar suaranya.Mengucapkan good night untuknya. Tapi sekarang gadis itu sudah pergi untuk selamanya. Ia tak lagi bisa melihat senyum indah itu, ia tak lagi bisa melihat mata hazel miliknya, ia tak lagi bisa melihat pipi chubby yang selalu saja merona jika Ali melontarkan gombalan kecilnya yang membuat Ali harus mengigit bibir karna gemas.


Prilla pergi saat Ali benar-benar merasa yakin bahwa Ali memang mencintainya. Hati Ali tak bisa dibohongi jika ia sangat mencintai Prilla walaupun mereka belum lama mengenal. Hatinya seakan remuk saat  dokter menggelengkan kepalanya, dan mengatakan bahwa Prilla tak bisa diselamatkan. Ia merasa saat itu juga jiwanya lari dari raganya, meninggalkan raga yang tak bisa apa-apa.


Ali menarik nafas perlahan, mencoba untuk tidak menginggat detik-detik Prilla akan meninggal.  itu sudah terjadi, tak ada yang bisa mengembalikan Prilla.  Ali hanya bisa mencoba untuk mengikhlaskan semuanya, dan mencoba meninggalkan perasaan cintanya pada Prilla. Jika kamu percaya padaku aku bisa, semoga Allah mudahkan hatiku untuk menerimanya La ,ucap Ali dalam hati.


  Sudah cukup ia meratapi kepergian Prilla. Sekarang ia disini,  ia harus membuka buku baru bersama orang yang kini telah resmi menjadi istrinya.


Ali masih memandangi punggung Prilly, isakannya masih terdengar dan namun sudah tidak terlalu keras. Mungkin karna lelah.


Bagaimanapun juga Ali sudah harus belajar mencintai Prilly seperti apa yang dikatakan Prilla. Ia akan berusaha untuk melihat Prilly sebagai Prilly bukan sebagai Prilla. Prilly adalah istrinya, sepenuhnya Prilly menjadi tanggung jawabnya.  Dan memang seharusnya Prilly yang memperoleh cintanya, walaupun Ali tahu, dihati Prilly pun belum ada cinta untuknya. Ia akan mencoba mempertahankan rumah tangganya. Ia akan mencoba menjalankannya dengan ikhlas walaupun pernikahan mereka ada karna sebuah keterpaksaan.


Ia sudah harus menjadi rumah untuk Prilly. Menjadi tempat bersandar suka maupun duka. Tempat berbagi manis ataupun pahit getirnya kehidupan.


Ali menarik nafas perlahan. Ia berjalan pelan kearah Prilly. Prilly sepertinya sedari tadi tidak menyadari kehadiran Ali yang berdiri cukup lama diambang pintu. Mungkin ia terlalu larut dalam tangisnya. Ali langsung mengambil posisi duduk disamping Prilly, mengikuti arah pandang Prilly kearah luar jendela.

__ADS_1


Ali lantas menoleh kearah Prilly, matanya sudah bengkak karna terlalu lama menanggis, hidungnya sudah memerah. Ali sungguh tak tega melihat wanita seperti ini.


Ia menarik Prilly perlahan kedalam dekapannya. Bukankah sekarang ia adalah suaminya, ia harus bisa membuat istrinya nyaman walaupun Ali tahu, diantara mereka belum ada cinta. Ini bukanlah waktu yang tepat untuk memperdebatkan tentang cinta. Sekarang mereka harus sama-sama saling menguatkan, karna mereka sama-sama kehilangan orang yang sangat dikasihi.


  Tanggis Prilly kembali pecah dalam dekapan Ali. Ia menenggelamkan wajahnya semakin dalam kedada Ali. Ia sungguh sangat membutuhkan sandaran. Ia memerlukan tempat untuk berkeluh kesah mencurahkan segala isi hatinya.kehilangan Prilla secepat ini sungguh tak pernah sedikitpun terlintas dalam benaknya. Bahkan ia selalu membayangkan jika suatu saat nanti mereka sudah sama-sama menikah dan mempunyai anak yang lucu-lucu ,maka keluarga ini akan terasa lebih ramai. Ia membayangkan anaknya dengan anak Prilla bermain bersama dan tertawa bersama. Air matanya semakin deras mengalir menginggat itu semua yang kini hanya menjadi rencana yang tak  pernah bisa diwujudkan.


Ali terus saja mencoba memberi ketenangan pada Prilly dengan tetap mengelus punggungnya tanpa henti.


Prilly tahu Ali juga sangat kehilangan Prilla. Ali hanya berpura2 tegar dihadapan semuanya termasuk dirinya, dan Prilly tahu itu.


Bagaimanapun juga sekarang Ali adalah suaminya. Mau tidak mau Prilly harus menerima Ali. Prilly paham diantara mereka masih sama-sama mencintai orang lain. Namun Prilly juga harus bisa bersikap dewasa, ia harus bisa melupakan kevin dan menerima Ali sebagai suaminya. Belajar menjadi istri yang baik untuk Ali. Belajar membuka hatinya untuk Ali.


  Cukup lama Prilly menanggis dalam dekapan Ali. Alipun tidak mempermasalahkannya karna ini sudah kewajibnnya. Saat tanggisnya mereda. Ia mendongakkan kepalanya menatap Ali. Memperhatikan wajah tampan yang saat ini terlihat datar. Tidak ada ekspresi yang dapat dibaca selain raut kesedihan yang mendominasi.


"Trima kasih"ucap Prilly pelan.


"sudah kewajibanku"jawab Ali


lembut sambil menoleh kearah Prilly.


Prilly lantas melepaskan pelukannya. Ia yang menyadari bawa Ali sejak tadi belum berganti baju pun menyuruhnya untuk mandi, bukankah ia harus jadi istri yang baik?


"kamu bersih-bersih dulu aja mas. Tadi bunda udah bawain baju ganti buat kamu"suruh Prilly pada Ali.


Ali yang menyadari itupun tersenyum tipis dan langsung menuju kamar mandi yang berada dikamar Prilly. Selama Ali mandi Prilly menyiapkan baju untuk Ali .


  Prilly lantas keluar kamar untuk mengambilkan makan untuk Ali. Ia harus bisa menerima Ali. Untuk kali ini ia harus bisa bersikap dewasa. Ia harus bisa belajar ikhlas seperti apa yang Kevin ucapkan padanya.


Dengan hati-hati ia berjalan menuruni anak tangga.


"aduh, sayang. Kamu tar jatuh. Kenapa ngak minta tolong Ali? "tanya mama uly yang baru datang dari arah dapur dengan  cemas.


Ia langsung menyuruh Prilly berhenti dan ia langsung mendekat. Prilly pun hanya cengengesan.


"gpp mah, Prilly cuma mau ngambilin makanan buat Ali. Alinya juga lagi mandi." ucap Prilly sendu.


"Prilly mau jadi istri yang baik mah, seperti kata kakak"imbuh Prilly


dengan nada bergetar dan mata yang kembali berkaca-kaca.


Mama uly pun sama. Ia memeluk putrinya itu sesaat dan mengelus pipi chubbnya.


"kamu pasti bisa.  Biar mama ambilin makanan buat Ali. Kamu disini aja. Tar jatuh malah tambah parah kesleonya" ucap mama uly dan berlalu.


Prilly hanya mengangguk. Tak berselang lama mama uly datang dengan membawa makanan. Mama uly membantu Prilly untuk naik ketangga.


"makasih ya mah"ucap Prilly lembut


"iya sama-sama. Mama mau turun dulu, mau beres-beres. "


"maaf prilly ngak bisa bantu"


"mamah nggak nyuruhkamu. "ucap mama uly sambil mengelus pipi chubby putrinya.


 Saat membuka pintu Prilly terkejut melihat Ali yang baru selesai mandi dan hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya. Prilly pun langsung menutup pintu kembali.


"nanti kalau udah pakek baju bilang "ucap Prilly dari balik pintu.


Sedangkan Ali hanya tersenyum kecil, ia tahu pasti Prilly tak pernah melihat seperti itu.


 


Tak lama Ali membuka kan pintu. Terlihat Prilly tengah bersandar pada tembok sambil memegang nampan berisi makanan.  Ali pun langsung  membantu Prilly berjalan.


"apa kamu turun kebawah sendiri? "tanya Ali sambil mendudukan prilly disofa kamar.


Alipun ikut duduk disamping Prilly.


"niatnya begitu, tapi ketahuan mama. Jadi mama yang ngambilin"ucap prilly .


"ni makanan kamu,  kamu pasti capek ngurusin pemakaman"kata Prilly sambil menyodorkan makanan itu pada Ali.


"Apa kamu sudah makan? "tanya Ali


"aku tidak lapar"


"aku bertanya apa kamu sudah makan? Aku tidak menanyakan kamu lapar atau tidak"ucap Ali sambil melirik kearah Prilly dengan ekspresi datarnya.


"Aku belum melihatmu makan sejak tadi"imbuh Ali, karna Prilly memang belum makan sejak kedatangannya pagi tadi.


Prilly sendiri tidak merasa lapar. Nafsu makannya hilang entah kemana.


Prilly menggeleng pelan.


"kalau begitu kamu yang harusnya makan".ucap Ali memberikan piring nasi pada Prilly.


Prilly menggeleng pelan pada Ali.


"aku tidak lapar mas". Balas Prilly


meyakinkan.


"kalau begitu aku juga tidak akan makan"ucap Ali sambil meletakkan makanan itu dimeja.


Prilly hanya melirik Ali sekilas.


"aku ini sekarang sudah menjadi suamimu, kamu tanggung jawabku. Walaupun aku tahu diantara kita belum ada cinta"imbuh Ali dengan menatap sejenak pada Prilly.


  Prilly diam . Matanya terasa memanas menahan air mata.


"aku tahu Prill, kita menikah bukan atas dasar suka sama suka. Aku tahu diantara kita belum ada cinta sedikitpun. Tetapi aku hanya ingin mencoba menjadi suami yang bertanggung jawab untukmu,"ucap Ali lirih sambil menundukkan kepalanya.


"maafin aku mas.aku nggak bermaksud  menyinggung soal hal itu."ucap Prilly sambil mengambil makanan diatas meja itu kembali.


"kita makan sama-sama. bukankah kita harus lebih dekat satu sama lain ? Bantu aku untuk belajar ikhlas menjalani ini mas."ucap prilly bergetar sambil menoleh kearah Ali.


Ali menatap Prilly. Tak percaya mendengar kata yang baru saja diucapkan Prilly. Ali tersenyum tipis.


"Kita sama-sama belajar. "jawab Ali singkat.


 Mereka sama-sama mencoba untuk membangun sebuah kebersamaan. Mereka mencoba menghilangkan ego masing-masing .mereka yakin, bahwa kebersamaan akan menumbuhkan perasaan senang, memberikan kenyamanan dan berharap bisa menumbuhkan cinta dikemudian hari.


Ini adalah jalan yang harus mereka jalani, mencoba mengikhlaskan orang yang mereka cintai dan mencoba menerima orang baru untuk dicintai. Bukan karna sudah tidak lagi mencintai orang itu, melainkan karna keadaan yang mendorong mereka untuk melakukan ini.  Mereka tahu hubungan yang mereka jalani saat ini bukan lah pcaran, ini adalah sebuah rumah tangga.


Bukankah rumah tangga yang kuat harus mempunyai pondasi yang kuat juga?  Dan salah satu pondasi yang kuat itu adalah cinta. Namun jika cinta belum mereka miliki, setidaknya mereka punya rasa percaya yang kuat bahwa suatu saat cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Menjadikan pondasi rumah tangga yang baru berdiri ini menjadi lebih kuat dihari yang akan datang.


Kehilangan orang yang kita cinta memang sangat berat. Namun kita tak  bisa menyalahkan siapa-siapa.Takdir ada untuk kita terima dan belajar menjalaninya walau dengan susah payah. Takdir ada bukan untuk disalahkan,lagipula menyalahkan takdir tidak akan merubah apa-apa.Itu hanya akan membuat hati semakin terpuruk tak berdaya.


Kita tidak akan bisa melupakan hal yang sangat berarti. Kita hanya harus mengikhlaskan semuanya. Jika rasa ikhlas itu sudah kuat kita rasakan, maka kita tidak akan takut dan tidak akan merasa sakit jika melihat masa sakit itu kembali. Percayalah.


                                        *****


jangan lupa follow akun aku. wattpad juga bisa di in_stories

__ADS_1


__ADS_2