CINTA TAK SEIRAMA

CINTA TAK SEIRAMA
Chapter 3


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Setelah kedua orang tua Ali dan Prilla sepakat.  Akhirnya mereka memutuskn untuk melaksankan lamaran sekaligus membahas rencana pernikahan.


 Ila masih bersiap siap didepan cermin. Gamis berwarna putih dengan bordir bunga terlihat begitu indah dan pas dibadannya.  Ia memoleskan make up tipis diwajahnya, karna ia memang tidak suka bermake up yg berlebihan.  Sejenak ia memandangi dirinya dicermin.  "23 tahun, apakah aku siap untuk menikah?  Apakah aku bisa ya Allah? "lirih Prilla sambil memandangi bayangan dirinya sendiri dicermin.


Matanya terasa berkaca kaca memikirkan hal itu. Bukan hal mudah untuk memutuskan suatu hal. Apalagi ini menyangkut kehidupannya. Menikah itu ibadah terus menerus, ia bisa dengan mudah menjadikannua menuju surga-Nya.


Dan setelah 3 hari berturut-turut ia memikirkannya diiringi dengan sholat istikhoroh. Entah bagaimana, hatinya terasa lebih mudah dan nyaman, walaupun rasa cemasnya tak hilang begitu saja.


"mungkin ini saatnya aku berbakti pada orang tuanya"gumam Prilla memantapkan hatinya.


Ketokan dipintu kamar  membuatnya tersadar kembali dari pikirannya.


"ngak dikunci , masuk aja"jawabnya.


Terlihat mamahnya masuk dengan mengenakan pakaian serupa. Senyumannya membuat ila menjadi lebih tenang.


"sayangnya Prilly nggk bisa dateng ya Ma, padahal ini hari yang penting buat ila"ucap ila sedih dengan tetesan air matanya.


Mama Ully menagkup wajah anaknya. Menyeka air mata Prilla dengan ibu jarinya.


"udah sayang, gpp.  Ily juga ngak bisa dateng bukan karna ngk mau kan? Itu karna pekerjaannya mengabdi pada masyarakat, dan dia memang harus siap dengan segala konsekuensinya. "jawab mama Ully lembut.


Sebenarnya rencana pertunangan ini terjadi sangat cepat. Setelah kedua orangtua saling memberi kabar bahwa anak mereka menyetujui perjodohannya, mereka langsung datang melamar. Itupun hanya berjarak  satu hari saja.  Ila lalu mengabari Prilly. Prilly sebenarnya sangat ingin pulang, tapi ia tidak bisa.karna ditempat ia ditugaskan memang sedang benar2 kekurangan tenaga medis. Dalam seharipun kadang Prilly harus berpindah ke 3 sampai 4 desa. Tetapi prilly sudah berjanji bahwa dia pasti akan datang ke pernikahan kakaknya .lagipula penugasan ia dibali hanya satu bulan. Dan itu sudah cukup membuatnya tenang.


                                       ******


Ali tengah bersiap siap dikamarnya.  Ia begitu terlihat tampan dengan setelan jas berwarna hitam yang terlihat begitu pas ditubuh kekarnya.  Ia lantas memandangi dirinya sendiri dicermin, mempertanyakan pada diri sendiri apa keputusan ini benar atau salah. Ia masih belum bisa percaya bahwa sebentar lagi ia akan menikah. Menapaki hidup baru dengan orang yang sama sekali tak ia kenal. Tapi sebisa mungkin ia akan berusah untk mencintai istrinya. Ia memandangi dirinya sekali lagi dicermin dan memutuskan untuk berlalu keluar.


 Terlihat bundanya, kaia, Dani dan Fikri sudah menunggunya.  Senyum tersunging dibibir mereka saat melihat Ali turun dari tangga.


"tumben ganteng ni orang" ledek Dani yang tak lain adalah kakak iparnya sendiri.


"iya lah,, mau ketemu calon istri gitu"timpal kaia dengan nada meledek.


"udah udah.. Ayo berangkat. Takut kesiangan" ucap bunda resi.


Sedangkan Ali hanya mendengus kesal mendengar ejekan mereka.


"ayo jagoan,, "ajak ali pada Fikri dan mengendongnya,untuk menutupi rasa   geroginya. karna bagaimanapun ini adalah kali pertama ia akan bertemu dengan seseorang yang nantinya akan menjadi istrinya. Seseorang yang tak dikenalnya sama sekali.


                                       ****

__ADS_1


 Prilla menuruni tangga dengan anggun, ditemani Mamanya. Terlihat kelurga dari calonnya itu sedang bersendau gurau, mengobrolkan entah apa itu. 


"oh jadi ini calon mantu saya" ucap mama resi sambil menghampiri Prilla dan memeluknya. Prilla tersenyum ramah dan membalas pelukan calon mertuanya itu. Setelah melepas pelukannya, Prilla memberikan anggukan dengan senyum manisnya untuk orang-orang yang hadir diacara lamaran itu.


Tiba-tiba matanya tertuju pada sosok lelaki dan seorang anak kecil yang tengah bermain hp disofa yang letaknya agak terpojok. "bukankah itu lelaki dan anak yang ditemuinya dibandara? " gumam Prilla dalam hati.


"Ali..ini lho calon kamu"ucap bunda resi sambil membawa Prilla untuk duduk didekatnya yang juga berdekatan dengan Ali


.


Spontan Ali menoleh dan mengamati wajah gadis itu.untuk beberpa saat Ali terpana dengan keanggunan wanita dihadapannya. Bukankah dia orang yang prnah ia temui dibandara?  Batin Ali.


"Anda" ucap Ali dan Prilla serempak dengan ekspresi agak terkejut.


"jadi sudah saling kenal? " tanya papa Rizal.


"pernah ketemu dibandara om"jawab Ali tanpa mengalihkan pandangannya,sedangkan Prilla yang sadar tengah ditatap Ali langsung menunduk malu.


"udah jodoh kali" ceplos Kaia yang diiringi gelak tawa. Sedangkan Ali dan Prilla hanya tersenyum simpul. Lebih tepatnya tersenyum malu.


"ya sudah ayo kita laksanakan acaranya! " ucap mama resi yang membuat Ali tersadar kembali.


Acara dimulai dengan saling berkenalan satu sama lain dilanjutkan dengan inti acara.  Acara berjalan dengan lancar.  Suara tawa dengan berbagai canda gurau dua keluarga kini lebih mendominasi ruang tamu rumah Prilla.  Sedangkan Ali dan Prilla masih dengan sikap bingung  hendak berbuat apa.


"calon pengantin jangan diam-diam aja. Ajakin keliling rumah sana La" tutur mamahnya lembut,mencoba untuk membuat mereka lebih dekat lagi. Tentu saja langsung mendapat persetujuan dari bunda resi,papa rizal,kaia dan Dani.


Tanpa bisa menolak, Ali dan Prilla menyetujuinya dengan senyum kikuk.


Prilla berjalan kearah taman belakang rumah, sedangkan Ali mengekor dibelakangnya dengan jarak tak terlalu jauh.  Sesampai ditaman Ila memilih untuk langsung duduk dikursi taman yang menghadap langsung kearah kolam kecik dengn air mancur tepat ditengah2nya.  Ali mengikuti dan duduk bersebelahan,dan tetap menjaga jarak.  Untuk beberapa saat suasana hening menyelimuti mereka berdua. Sesekali suara kicau burung beo milik  papa Rizal yang mengisi suasana.


"Ekhmmm " Ali berdehem. "Katanya punya kembaran ya?"tanya Ali 


"Iya.. " jawab ila singkat.


"kok ngak ada? " Tanya Ali.


" sekarang lagi ditugasin diBali. Tadinya mau pulang, tapi ngk bisa karna disana lagi kekurangan tenaga medis " jawab ila lembut.


"dia pakek jilbab sama pakek kaca mata ngk? "tanya Ali lagi dan membuat ila heran.


"kenapa emang? " tanya ila dengan ekspresi heran sambil membetulkan letak kaca matanya.


"klo iya.. Takut nanti ngk bisa bedain mana istri mana ipar,kan bahaya" jawab Ali sambil tertawa kecil.Mendengar hal itu Prilla tertawa, dan tanpa ia sadari sepasang mata Ali memperhatikannya. Memperhatikan senyum yang begitu mempesona.  Ia sudah sering meliahat wanita yang lebih cantik darinya,tapi tak ada yg bisa membutnya terpana. Dia tidak seperti kebanyakan wanita yang pernah ia temui. Cara dia berpenampilan pun berbeda. Dia terlihat begitu cantik walau dengan polesan make up sederhana. Ali  kemudian menyadarkan dirinya kembali.

__ADS_1


"kok malah ketawa?" tanya Ali .


"lucu aja.. Alesan konyol tau."


"adekku dia ngk berjilbab dan ngk pakek kaca mata, tapi jangan pernah berpikiran klo adekku akan berpenampilan seksi, karna dia tidak suka seperti itu.  Dia tetap menjaga kesopanan walaupun tidak berjilbab sekalipun " Prilla menjelaskan. Ali mangut-mangut tanda mengerti.


Dalam hati Prilla agak heran, mendapati fakta bahwa Ali punya selera humor juga.  Padahal kalo dilihat,wajahnya didominasi oleh sikap beku dan jarang senyum. Namun itu membuatnya tak menampik bahwa aura ketampananya tetap terpancar sekalipun ia memasang muka paling datar.


 Keheningan sudah mulai lenyap diantara mereka. Dan entah menggapa obrolan obrolan diantara merek mengalir begitu saja walaupun masih terkesan garing.   Mereka saling bertanya satu sama lain, entah tentang pekerjaan ataupun hobi. Tak terasa mereka sudah mengobrol cukup lama.  Tiba-tiba terlihat fikri datang menghampiri mereka dengan berlari lari kecil.


"papa.. Papa.. "panggil fikri sambil berlari menuju Ali. Prilla yang mendengar hal itu heran. Melihat raut wajah ila yang keheranan, Ali tersenyum dan berkata" aku yang menyuruhnya.biar lebih akrab aja sama ponakan"ucap Ali menjelaskan. 


Mendengar hal itu ila menganguk tanda mengerti.


"Hai fikri.. "sapa ila sambil mencubit pipi anak umur 5 tahun itu.


"Hai tante. " balas Fikir dengan senyum 5 jari yang memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Dipanggil oma" kata Fikri sambil menarik tangan Ali.


Prilla dan Ali mengikuti.


 Dirung tamu mereka masih asik mengobrol dengan diirngi gelak tawa.  Suasana terasa sangat bersahabat.


"nah.. Itu mereka"ucap Bunda resi saat melihat mereka muncul dari arah pintu depan. Mereka hanya tersenyum dan berjalan kearah sofa yang kosong sedangkan Ali duduk didekat bundanya sambil mengendong Fikri.


"Prilla  Ali,kita sudah putuskan bahwa pernikahan kalian akan dilaksankan akhir bulan depan. Biar ngak terlalu ribet, rencananya kita cuma mau undang kerabat sama sahabat deket aja, kalian setuju ngak?" ucap papa rizal. Prilla dan Ali hanya mengangguk setuju walau sebenarnya mereka sangat terkejut karna rencana pernikahan yang sangay cepat itu.


Lagipula bulan depan Prilly sudah datang. Jadi dia pasti bisa hadir. Gumam ila dalam hati.


Rombongan keluarga Ali pulang sekitar pukul 11 siang.  Setelah  selesai beres2 ,ila langsung menuju kamar untuk mandi dan bersiap untuk sholat zuhur.


Prilla menghempaskan tubuhnya keranjang dengan seprei berwarna biru itu. Pikiranya tiba-tiba melayang pada sosok Ali.  Sosok yang ditemuinya dibandara itu ternyata akan jadi calon suaminya, sesempit itukah dunia?  Tanya ila sambil terkekeh kecil. Dilihat dari cara dia bicara sepertinya dia orang baik, walaupun memang agak terlihat jelas kalo dia jarang senyum. Mata hitam legam dengn alis tebal dan bulu mata lentik terasa begitu sempurna menghiasai wajahnya.


"astaghfirullah". Ucap ila tiba2 karna menyadari bahwa ia tengah membayangkan laki-laki yang belum jadi mahromnya itu.  Baru kali ini ia merasa bodoh karna lelaki. Padahal sebelum sebelumnya ia tak pernah seperti ini.  Apa ini cinta?  Gumam ila lirih.  Ia lalu bersiap untuk mandi dan sholat.


                                          *****


Selesai sholat Ali merebahkan badannya diranjang bermotif klub Barcelona itu.  Ia kemudian terbayang wajah Prilla, gadis yang membuatnya terpana walau sekedar menatap mata hazel yang terbingkai kaca mata itu.  Ia tersenyum mengingat tingkahnya yang sedang memandangi Prilla kepergok oleh sang empu. Walaupun tampan dan punya jabatan bagus, Ali bukan tipe orang yang suka tebar pesona pada wanita.Bahkan dikalangan teman sepekerjaanya, Ali terkenal sangat susah bergaul dan akrab pada wanita. Tapi walaupun sudah begitu masih banyak saja wanita yang menggodanya. Ia bergidik membayangkan hal itu.  Lalu pikirannya kembali pada Ila. Ia masih terkagum dengan cara ila tertawa, tak berlebihan dan terlihat mengemaskan. Penampilannya yang muslimah membuat Ali semakin terpana padanya. "calon istri idaman"gumam Ali. Lalu ia memutuskan untuk tidur beristirahat setelah tadi ia belum sempat beristirahat selepas penerbangan.


                                        ****


 

__ADS_1


  


__ADS_2