CINTA TAK SEIRAMA

CINTA TAK SEIRAMA
Chapter 14


__ADS_3

Prilly langsung mendekati ranjang kakaknya diikuti Ali dibelakangnya. Ali mempersilahkan Prilly untuk duduk karna hanya ada satu bangku.  Sedangkan Ali memilih untuk tetap berdiri Disamping Prilly.


  Karna efek obat tidur yang masih kuat, Prilla terlelap kembali.  Ia terlihat damai dalam tidurnya. Terlihat seperti tidak merasakan apapun. Prilly kembali menanggis melihat kondisi kakaknya.  Ia memegang tangan kakaknya, mengelus dan menciuminya berulang kali.


  Tak jauh berbeda dengan Prilly.  Alipun sedih melihat keadaan calon istiranya yang  terbaring lemah. Masker oksigen dan berbagai peralatan medis masih menancap ditubuh mungilnya.  Ia nampak cantik dan damai ditidurnya, walau dengan perban yang melilit di rambut indahnya.


  Ali hanya bisa memandang iba pada Prilly yang terus menitihkan air mata tanpa suara.  Hatinya tersayat.  Melihat Prilly yang seperti ini, ia seperti melihat Prilla yang menanggis.  Ingin rasanya ia memeluk untuk sekedar menenangkannya agar hatinya tak juga ikut larut dalam tangisan itu.


"kak, ini aku udah dateng.  Kakak harus sembuh.  Kan bentar lagi kakak nikah.  Ini kak Ali nya udah dateng lho kak" ucap Prilly dengan nada bergetar menahan isakan tangisnya. Ali hanya ikut menyimak dan tersenyum getir.


"aku janji deh, kalau kakak bangun aku bakalan ngurangin makan lolipop"ucap Prilly sambil terkekeh kecil .


"oh iya, aku kan masih punya janji sama kakak, kalau aku udah nikah aku bakalan jadi istri yang baik buat suami aku.  Kalau kakak ngak sembuh2 nanti kakak ngk bisa liat aku kalau udah jadi istri idaman." cerocos  Prilly dengan kekehan kecil yang menyuratkan kepedihan juga kerapuhan.


Prilly masih setia mengamati wajah kakaknya itu. Mengelus lembut punggung tangan kakaknya.  Wajah cantiknya terlihat ada bilur-bilur karna bergesekan dengan aspal.


"bangun kak? "ucap Prilly lirih dengan penuh pengharapan. Air mata tak henti2nya berhenti mengalir.


Menggapa kakaknya lama sekali, bukankah tadi papanya bilang kalau kakanya sudah siuman.


  Ali hanya diam .  Ia lalu mengambilkan tissue untuk diberikan pada Prilly.  Prilly menerimanya dengan tersenyum tipis.


Prilly sudah mulai lelah menunggu kakaknya siuman kembali, ia memilih untuk menelungkupkan wajahnya diantara lipatan tangannya. Menangis terisak kembali.


Prilla yang tadi sudah siuman pun kembali membuka matanya saat mendengar ada suara adik tercintanya yang menyapa gendang telinganya. Kepalanya masih terasa pusing dan berat, tapi kesadarannya masih sempurna.


Ali yang menyadari Prilla sadar nampak sangat senang. Ali menepuk bahu Prilly. Prilly yang melihat kakaknya siuman langsung berjingkat bahagia. Ia menyeka sisa air matanya, ia tak ingin kakaknya melihat ia bersedih.


"jangan banyak gerak dulu kak" ucap prilly sambil mengelus pucuk kepala kakaknya. Kakaknya hanya bisa diam tak menyahut karna terhalang masker oksigen.


Menyadari kakaknya ingin bicara dan hendak melepas masker oksigen. Prilly melarangnya, namun kakaknya menolak, Prilly langsung membantunya.


Sekarang terlihat jelas wajah pucat kakaknya. Namun tak mengurangi kecantikannya. Senyum indahnya terukir menatap Prilly dan Ali. Ali dan Prilly pun membalas dengan senyum lembut


"A..pa kalian mau mee.. nuruti satu permintaan kakak? "Tanya Prilla dengan sedikit terbata. Ali dan Prilly terdiam sesaat, mereka saling pandang.


"apapun akan aku lakukan, asalkan kamu sembuh" jawab Ali dengan nada penuh ketulusan,sambil mendekat dan mengelus dahi Prilla yang terbalut perban. Matanya nampak berkaca-kaca.


Prilly yang melihat Alipun ikut mengangguk ke arah Prilla. Air mata kembali menetes,ia tak pandai menyembunyikan kesedihannya, apalagi didepan kakaknya.


"jangan menanggis" ucap Prilla lemah  .Prilly dan Ali langsung menyeka air mata dan terkekeh kecil mendengar ucapan Prilla. 


Sebenarnya Prilly sendri heran, menggapa kakaknya bisa secepat ini siuman, padahal kecelakaan yang dialami kakaknya lumayan parah.Namun Prilly tak terlalu memikirkannya, ia menganggap ini adalah keajaiban dan pertolongan dari Allah untuk kakaknya.


"kakak ingin kalian menikah"ucap Prilla dengan sangat jelas.


Deg...


Ali dan Prilly diam membeku mendengar kata yang baru saja diucapkan oleh kakaknya. Mereka tak mengira Prilla akan meminta hal yang menurut Ali dan Prilly sendiri sangat mustahil untuk mereka terima.


  Perasaan tenang yang baru saja mereka rasa kembali berubah menjadi perasaan penuh kecamuk didalam hati Ali dan Prilly. Mereka tidak mengira akan dihadapkan dengan hal seperti ini. Pelik sekali.


Bagimana bisa Ali menikahi Prilly, sedangkan Ali mencintai Prilla?


Begitupun Prilly


Ia tak bisa menikah dengan Ali karna ia mempunyai orang pilihannya sendiri.


Untuk Beberapa saat ruangan yang baru saja terisi dengan kebahagiaan, lenyap tergantikan dengan ketegangan.


"Aku mau keluar dulu kak" ucap Prilly yang langsung berjalan keluar dengan raut wajah yang sulit diartikan. Ia masih shock mendengar penuturan kakaknya itu.


Prilla yang sudah paham sifat adiknyapun hanya bisa pasrah dan tak bisa menahan. Sedangkan Ali masih diam tak berucap apa-apa.Ia menggelengkan kepalanya pelan,memijit dahinya. Mencoba mencerna kata yang baru saja membuatnya menjadi diam tak berkutik.  Ia lalu duduk dikursi yang baru saja Prilly pakai.  Ia masih diam. Menopang kepalanya dengan kedua tangannya.  Ali menatap Prilla sendu. Tak mengerti kemana arah pemikiran Prilla saat ini.


"apa kamu serius? "tanya Ali membuka percakapan.


"apa wajahku menunjukkan kalau aku sedang bercanda? "Tanya ila sambil menatap Ali lembut.


"apa kamu tidak mencintaiku? "tanya Ali tanpa mengalihkan tatapannya pada Prilla


Prilla tersenyum sesaat.


"kamu tahu mas? Selama ini aku tak pernah dekat dengan lelaki manapun. Dan kamu, adalah lelaki pertama dan terakhir yang membuatku merasakan degup yang selalu saja membuatku binggung bagaimana menenangkan nya. Kamu adalah satu-satunya lelaki selain papa yang membuat ku merasa nyaman . Karna kamu juga aku merasakan rindu yang berbeda."ucap Prilla pelan. Setetes air matanya meluncur keluar dari matanya. 


Ali yang melihat itu langsung mengsap air mata Prilla dengan ibu jarinya. Ali mendengar nada ketulusan disetiap kata yang Prilla ucapkan. Ia tak tahu harus berkomentar apa lagi.


"lalu kenapa kamu melakukan ini?."  tanya Ali dengan bibir beretar. Air matanya lolos membasahi pipinya. Ia tak lagi bisa berpura-pura kuat dihadapn gadis yang membuat hidupnya berwarna belakangan ini. Gadis yang membuatnya terpana dengan senyum manis dan kesederhanaannya.


Ia menengadahkan wajahnya, menatap langit-langit ruangan yang berbau antiseptik itu.  Bermaksud agar Prilla tak melihat matanya yang pasti sudah sangat memerah.


"Mas, aku hanya merasa hidupku tak lama lagi" ucap Prilla pasrah.


Ali langsung menatap tajam kearahnya.


"urusan hidup dan mati sepenuhnya ditangan Allah, aku tahu kamu lebih paham itu"ucap ali dengan nada tegasnya. Prilla yang mendengarnyapun hanya tersenyum simpul.


"mas, kamu percaya kan kalau cinta datang karna terbiasa? "Ali langsung mengangguk.


"tolong mas, aku mau kamu menikahi adikku. Karna aku percaya kalau kamu bisa menjaganya melebihi aku dan orang tuaku."kata Prilla dengan lelehan air matanya sambil menatap Ali dalam.


Ali masih diam dan bergelut dengan hati dan logikanya.


"Aku mohon mas. " Pinta Prilla.


Ali  masih bergeming. Hati dan logikanya masih sama-sama berucap cinta untuk Prilla. Ia sendiri tak bisa berdusta bahwa ia sangat mencintai gadis didepannya ini. Tapi ia sendiri tak tega jika tak menuruti kemauan Prilla. Tapi apa ia sanggup menjalani rumah tangganya kelak?  Ini sungguh diluar dugaannya ini. Bayangan nya adalah membangun rumah tangga yang indah dengan Prilla, Hanya Prilla. Bukan yang lain. Walaupun itu kembaran Prilla sendiri.


"Mas.. " lirih Prilla penuh pengharapan dengan mengenggam tangan Ali untuk yang pertama kali.


Ali menghela nafas berat. Mencoba sedikit mengurai sesak didadanya.


"baiklah aku akan menikahinya. " Ali akhirnya menyetujui walaupun hatinya masih belum mampu menerima semuanya.


"jangan pernah ingat-ingat aku lagi saat kamu sudah bersama Prilly. Lihatlah Prilly sebagai Prilly, bukan sebagai Prilla. Cintai Prilly sebagai Prilly bukan sebagai Prilla. Aku ikhlas mas. Trima kasih sudah memberikan warna yang indah dihidupku. Aku tahu, kamu adalah lelaki bijaksana. Aku yakin kamu bisa menjadi imam yang baik untuk istri dan anak2mu."ucap Prilla sambil berurai air mata.


Ali yang tak tegapun langsung menyeka air mata Prilla dengan ibu jarinya dengan sangat hati2,karna wajah Prilla penuh dengan luka.


"insyaallah La, "balas Ali lembut. Walau hatinya setengah mati berteriak menolak itu semua.


"apa kamu keberatan mas?  Sungguh aku tidak  ingin memaksamu, karna jika kamu terpaksa itu bukan hanya menyakitimu tapi juga adikku"ucap Prilla sambil memegang wajah Ali sesaat. Ali terpejam menerima elusan dari Prilla.


"Aku keberatan" gumam Ali dalam hati.Namun Ia tak akan mampu berbicara seperti itu pada Prilla yang kini kondisinya tengah terbaring lemah.


Ali berpikir sejenak, mencoba menimbang kembali segala dampak jika ia menerima ini. Dalam pikirannya dampak negatif terlalu banyak bersarang ketimbang positif. Ia takut jika tidak bisa menerima Prilly.  Namun rasa cinta nya untuk Prilla membuatnya tak sampai hati melihat orang yang dicintainya bersedih jika Ali menolaknya. Katakanlah ia kini menjadi pendusta karna berbohong pada Prilla,  namun untuk saat ini kebahagiaan Prilla menjadi hal terpenting untuknya.  Harapannya adalah, agar ia bisa menerima ini dengan ikhlas, dan bisa mencintai Prilly selayaknya istri. Entah kapan saat itu tiba Ali tak perduli. Karna kini Prilla adalah kepentingan utamanya.

__ADS_1


"Bukankah kamu sendiri yang bertanya bahwa cinta datang karna terbiasa, dan aku mengiyakan. Doakan agar aku bisa " balas Ali pelan. Ia mengalihkan kesembarang arah agar tak menatap wajah sendu Prilla.


"aku tahu, ini tidak mudah untukku


terutama Prilly.  Tapi aku berjanji pada diriku sendiri aku akan menjalani pernikahan ini tanpa ada keterpaksaan. Aku akan mencoba memulai semuanya dari awal. Aku akan mencoba mencintai semua yang ada di diri Prilly sebagai Prilly, bukan sebagai orang lain." tambah Ali .sebisa mungkin meyakinkan Prilla, walau hatinya sangat bertolak belakang denga apa yang baru saja ia ucapkan. Prilla yang mendengar hal itupun tersenyum puas.


  Prilly ternyata mendengar perkataan Ali yang terakhir. Entah ia harus senang atau sedih ia tak tahu. Ia lantas berjalan mendekat dan mengambil posisi bersebrangan dengan Ali.


  Prilla yang melihat adiknya muncul kembalipun tersenyum lembut.


"apa keputusanmu dek? "tanya Prilla sambil memegang pipi adiknya. Tak berbasa-basi.


Prilly menoleh kearahnya lalu ke Ali yang tengah menunduk. Prilly mengatur nafasnya perlahan. Meyakinkan kembali tentang keputusannya.


"insyaallah aku terima kak"ucap Prilly mencoba memberikan senyum terbaiknya. Prilla tersenyum senang.


Ali yang mendengar jawaban Prilly pun diam tak berkomentar apa pun. Ia sendiri belum tahu, menggapa Prilly menerimanya.


"jadi istri yang baik ya dek,kamu udah janji lho sama kakak"ucap Prilla lembut sambil terkekeh walau masih lemah, mencoba mencairkan suasana tegang ini.


"insyaallh kak"jawab prilly sambil mencium lembut dahi kakaknya.


  Perasaan tidak enak masih saja bersemayam dalam hati dan pikiran Prilly. Entah perasaan apa, ia sendiri tidak tahu, yang pasti rasa gelisah yang sedari tadi ia rasakan tak juga hilang.


Bukankah ia harusnya ia senang karna tanpa di duga kakaknya bisa cepat siuman, bahkan kakaknya bisa berbicara lancar. Segera ia menepis segala pikiran buruk. Berharap setelah ini semuanya akan baik2 saja.


"apa orang tua kita sudah tahu?" Tanya Ali memecah kebisuan


"sudah, mereka tengah mempersiapkan pernikahan kalian"ucap Prilla lirih.


"maksud kakak? "Tanya Prilly keheranan, begitupun Ali.


"kakak ingin kalian menikah hari ini. Kakak ingin melihat adik kakak menikah"ucap Prilla.


Mata Ali dan Prilly membola seketika. Mereka saling memandang tak percaya akan permintaan Prilla yang terdengar aneh itu. Mereka sama-sama menerima dengan tepaksa dan lebih parah lagi mereka akan menikah hari ini?  Pikiran Prilly dan Ali blank seketika.


"Berjanjilah kalian tidak akan meninggalkan satu sama lain. Berjanjilah kalian akan selalu bersama2 menghadapi segala suka maupum duka"ucap Prilla sambil menoleh kearah Prilly dan Ali bergantian.  Membuat Ali dan Prilly kembali tersadar.


"kami berjanji" jawab Ali dan Prilly serempak.


Prilly yang menyadari kondisi Kakaknya  semakin lemah pun panik.


"udah, kakak istirahat aja dulu. Jangan banyak bicara. Kakak masih lemah belum stabil total"ucap Prilly sambil memasangkan kembali masker oksigen dan menyelimuti Prilla sebatas dada.


Tak lama, Prilla kembali terlelap dalam tidurnya.


Ali dan Prillypun langsung keluar ruangan. Terlihat papa Rizal dan Mama Uly yang masih setia duduk dikursi tunggu. Mereka mendekat.


"bagaimana? "tanya mama uly tak berbelit-beliy.


"insyaallah tante, "jawab Ali yang diangguki oleh Prilly


"makasih ya nak"ucap Papa Rizal dan mama Uly pada Ali dan Prilly. Lalu memeluk mereka berdua.


Ali dan Prilly hanya pasrah. Tak mungkin mereka mengecewakan Prilla. Orang yang sama-sama mereka sayang dan cintai. Walau mereka harus saling mengorbankan perasaan.


                                          *****


  Semuanya sudah berkumpul. Keluarga dari pihak Ali maupun Prilly sudah lengkap. Saksi dari kedua belah pihak pun sudah siap. Pak penghulu yang akan menikahkan Ali dan Prilly pun juga sudah ada.


Mas kawin yang diminta Prilly pun hanya seperangkat alat sholat.


Prilly merapikan rambutnya, memoleskan sedikit bedak diwajahnya,Dan lipstik berwarna pink agar tak terlihat pucat. Namun sayang, itu tak bisa menyamarkan raut kesedihan wajah nya.


 Prilly tak mengira kalau dirinya akan menikah dengan keadaan seperti ini.Pernikahan ini sama sekali tak pernah ada dalam benaknnya. Tetapi Walau bagaimanapun, ia harus menjalani ini semua dengan ikhlas. Ia sudah berjanji pada Kakanya. Kali ini ia harus bisa dewasa. Ia harus bisa menurunkan egonya.


  Sama halnya dengan Prilly.  Ali juga tak mengira akan menjadi seperti ini. Khayalan tentang pernikahan yang penuh  suka cita lenyap. Namun ia sadar, ia tak bisa menyalahkan siapapun. Mau tidak mau ia harus ikhlas menerima takdir ini. Bukankah ini keputusannya sendiri?, walaupun terselip sebuah keterpaksaan yang tak ia tunjukkan pada Prilla.


             


                                          *****


   Ali dan Prilly didudukan bersama. Ekspresi wajah mereka sama sekali tak bisa terbaca. Raut kebahagiaan tentu tak terpancar sempuran. Mereka hanya mencoba untuk tetap tersenyum di depan Prilla.


Prilla baru beberapa menit yang lalu sadar. Matanya terlihat semakin meredup. Wajahnya terlihat sangat lemah. Nafasnya sudah tak teratur seperti tadi. Prilly memperhatikan wajah cantik kakaknya .seulas senyum lembut terukir diwajahnya saat Prilly mengusap punggung tangannya. Tidak ada air mata yang keluar dari mata indah Prilla. Prilla yakin keputusannya adalah benar.


Prilly yang melihat kakaknya semakin lemah hanya bisa menjerit tanpa suara. Ia menahan air matanya, ia tak ingin kakanya sedih. Ingin rasanya ia menghilang saja dari hadapan kakaknya saat ini, berlari sejauh mungkin agar kakaknya tak lagi bisa mendengar dan melihat tanggis dan air matanya. Namun itu mustahil. Ia sekarang disini, duduk bersama seorang lelaki yang akan menjadi suaminya. Seorang lelaki yang baru beberapa jam lalu ia temui.Berharap semoga keputusan yang ia ambil memang tepat.


  Diwaktu yang sama, Alipun merasakan demikian. Ia sungguh tak bisa melihat kondisi Prilla yang semakin lemah. Sorot matanya semakin meredup. Hatinya seakan tercabik2 melihat Prilla seperti ini. Ia baru sebentar mengenal Prilla, ia takut kehilangan Prilla.


"Mas, aku hanya merasa hidupku tak lama lagi"


  Ucapan Prilla kembali terngiang dikepalanya, membuat sesak dadanya.  Jujur, ia masih mencintai Prilla. Walaupun ia tahu, sebentar lagi ia akan menikahi adiknya.


"sudah bisa dimulai? "tanya Pak penghulu yang membuyarkan pikiran Ali dan Prilly.


Ali dan Prilly saling menoleh. Mencoba meyakinkan hati bahwa semua pasti baik2 saja. Ali mengangguk pelan pada Prilly. Prilly pun balas mengangguk.


"Bisa pak" jawab Ali mantap


 Setelah itu acara ijab qobul dimulai dan ayah Prilly sendiri yang menikahkan.


"SAH"


Setetes air mata Prilly keluar. Menyadari bahwa kini dirinya adalah seorang istri dari Ali Syarief. Seseorang yang seharusnya menjadi kakak iparnya, tetapi kini menjadi suaminya.


  Setelah memakaikan cincin, Prilly mencium tangan Ali sebagai tanda bakti seorang istri. Ali pun lantas mencium kening Prilly lembut.


  Ada setitik rasa bahagia saat Ali menciumnya, apakah ini karna kakaknya bahagia? . Prilly lantas menoleh kearah Kakaknya. Pancaran kebahagiaan terpancar jelas diwajah yang terlihat pucat dan lemah. Prilly lantas mendekat dan mencium kening kakak tercintanya dengan berurai air mata.


Kakaknya menariknya mendekat hendak membisikkan sesuatu.Prillpun mengikuti.


"Trima kasih,  jadilah istri yang baik"ucap Prilla dengan nada yang lemah namun masih terdengar jelas ditelinga Prilly. Prilly tersenyum dan mengangguk lalu mencium kening kakaknya lagi dengan air mata yang masih saja keluar.


   Hanya menyisahkan  Prilly, Bunda Resi, mama Uly dan papa Rizal diruangan ini. Kaia,Dani serta fikri ijin pulang terlebih dahulu karna fikri yang sangat rewel. Begitupun yang lainnya, yang menjadi saksi pernikahan mereka.


  Prilly masih setia duduk disamping kakaknya yang kembali tertidur lelap. Ali keluar ijin untuk mencari makanan.


  "Bunda yakin, kamu bisa menjalani ini semua"ucap bunda Resi lembut sambil memeluk Prilly. Prilly membalas pelukan ibu mertuanya itu. Matanya kembali berkaca-kaca .


"makasih bunda"ucap Prilly lembut.


"Jangan sedih. Segala hal yang sudah terjadi adalah takdir Allah yang harus kita jalani dengan ikhlas"ucap bunda Resi sambil mengelus kedua pipi chubby milik Prilly dan menyeka air matanya.

__ADS_1


Prilly tersenyum mengangguk dan bergantian menyeka air mata yang keluar dari mata mertuanya itu.


  Papa Rizal dan Mama Uly yang melihatnya pun tersenyum haru namun juga penuh kepedihan.Berdoa agar rumah tangga anaknya bisa harmonis walaupun mereka tahu, ini semua dilandaskan keterpaksaan.


  Terdengar bunyi ponsel milik Prilly. Prilly langsung mengambil dan membaca pesan dari kekasihnya. Matanya lagi-lagi berkaca-kaca. ini waktunya, mau tidak mau ia harus melakukan ini.


"aku tunggu ditaman belakang rumah sakit"


Prilly langsung mengetikkan balasan


"sebentar lagi aku kesana".


Setelah mengetikkan balasan ia berisap untuk menemui kekasihnya. Ia mencium kening kakaknya cukup lama dan mengamati wajah damai kakaknya.


"aku keluar sebentar ya"Pamit  Prilly pada orang tua dan mertuanya, dan berlalu.


Saat membuka pintu ,secara bersamaan Ali juga hendak masuk, Prilly pun agak terkejut.


  Ia mendongakkan kepalanya dan menatap Ali yang memasang wajah datar.


"Aa..aku ijin mau keluar sebentar mas"ucap Prilly gugup karna terkejut.


"tidak makan dulu? "ucap Ali sambil memperlihatkan bingkisan yang ia bawa


"nanti saja mas, "


"ya sudah, hati2"ucap Ali yang diangguki oleh Prilly.


                                        *****


  Seorang lelaki dengan setelan kemeja berwarna hitam terlihat tengah duduk sendiri disalah satu bangku taman rumah sakit.  Sepucuk bunga mawar merah dan sebuah cincin indah tergenggam kuat ditangannya.  Matanya terpejam. Mencoba menenagkan pikirannya yang sedang berkecamuk. Juga hatinya yang bergemuruh hebat karna sakit.


  Ia memijit pangkal hidungnya pelan.  Berdoa agar semua yang beberapa saat lalu ia dengar adalah mimpi buruk. Berdoa agar wanita yang ia cintai belum sepenuhnya dimiliki oleh orang lain.


  Dadanya sesak. Ia sungguh tak menyangka akan mengalami hal ini.


"Maafkan aku... "suara yang sangat ia kenal mengalihkan pikirannya.


"aku tahu, ini bukan kemauanmu"ucap lelaki itu datar. Tanpa menoleh sedikitpun kearah sumber suara.


Prilly terbelalak kaget mendengar ucapan lelaki itu. Ia lantas berjalan mendekatinya dan duduk disampingnya dengan jarak yang tidak terlalu dekat.


"Dari mana kamu tahu? "Tanya Prilly sambil melirik kearahnya.


Prilly tidak tega melihat wajahnya, gurat kesedihan terpahat jelas diwajah tampannya. Sejahat inikah hingga ia menyakiti lelaki ini?  Tanya Prilly dalam hati.


Flashback off


Lelaki  itu berjalan cepat menyusuri lorong-lorong rumah sakit.  Mencari kamar tempat kakak kekasihnya itu dirawat.


Ia merencanakan kejutan kecil untuk kekasihnya itu. Berharap dengan kejutan kecilnya kekasihnya akan sedikit terhibur. Karna ia tahu, kekasihnya itu sangat mudah menanggis, apalagi jika menyangkut keluarganya.


  Ia sungguh merindukan wajah kekasihnya itu. Sudah setahun ini mereka LDR.an dan hanya berkomunikasi lewat hp. Tapi itu tak mengurangi kepercayaan mereka satu sama lain. Hubungn mereka tetap baik2 saja walaupun terkadang ada masalah kecil yang menganggu, tapi mereka bisa menyelesaikannya.


Ia dan kekasihnya bertemu karna dicomblangin oleh teman mereka. Awalnya mereka malu tapi semakin lama mereka semakin dekat dan akhirnya jadian.


   Ia mempercepat langkahnya,dan setelah menemukan ruangan itu ia hendak masuk.  Tapi ia urungkan karna suasana didalam sangat ramai. Karna penasaran ia mencoba untuk melihat dan mendengarkan buntut percakapannya dari celah pintu yang tidak tertutup sempurna. Perasaan tidak enak masuk kedalam hati dan pikirannya, apalagi saat melihat kekasihnya duduk dan bersanding dengan lelaki .ia terus melihat dan mendengarkan.


  Tubuhnya seperti mati rasa saat ayah dari kekasihnya dengan jelas dan lantang mengucapkan ijab atas nama Prilly Anastasya


Seketika badannya seperti tak punya tulang belulang. Tubuhnya bergetar hebat. Ia tidak menyangka akan seperti ini. Hatinya sakit seperti dihujami beribu-ribu tombak mematikan. Seketika ia menitihkan air mata, ia merasa menjadi sangat lemah.


Tanpa berpikir panjang ia langsung bergegas mencari tempat untuk menenangkan hati dan pikirannya, setelah itu ia akan membicarakan baik-baik hal ini dengan kekasihnya. Ia tahu, ini bukan kemauan kekasihnya"


FlashbackOn


Prilly tak lagi bisa berkata apa2 mendengar penjelasan itu. Lidahnya terasa kelu.


"aku tahu, kamu juga terpaksa melakukan ini. Tapi jangan buat keterpaksaan itu membuatmu menjadi istri yang tidak baik,jadilah istri yang baik untuk suamimu"ucap lelaki itu datar namun penuh ketulusan tapi juga sarat akan kepiluan


Prilly semakin terisak mendengar ucapannya. Prilly masih tetap diam.


"mungkin ini memang bukan untukmu"ucap lelaki itu sambil memperlihatkan sebuah cincin  ditangannya dengan diringi senyuman getir.


Prilly semakin terisak. Ia tak menyangka bahwa lelaki ini akan melamarnya.


"tadinya aku berniat hendak memberikanmu kejutan kecil, sebagai tanda bahwa aku memang serius kepadamu, juga sebagai penghibur agar kamu tidak terlalu larut dalam kesedihan karna musibah yang menimpa kembaranmu"  imbuh Lelaki itu sendu.


Prilly masih tetap diam. Hatinya berkata bahwa ini adalah kejutan besar yang sangat menyakitkan. Jujur, saat ini ia masih mencintainya. Tapi ia tahu, saat ini juga ia sudah sepenuhnya milik orang lain.


"Aku tidak akan menyalahkanmu ataupun suamimu ataupun kakakmu. Karna bagiku ini adalah takdir yang harus aku terima dengan lapang dada"ucapnya sambil menarik nafas pelan. Namun terdengar sangat berat.


  Dahi Prilly berkerenyit. Alisnya nampak bertautan.


"Bagaimana kamu tahu tentang hubungan suamiku dan kakakku?" Tanya Prilly penasaran.


"itu tidak penting. Jadilah istri yang berbakti pada suamimu, aku tahu suamimu adalah lelaki baik dan bertanggung jawab. Lupakan jika kita pernah saling menyimpan rasa. Anggap semua tidak pernah terjadi. Aku yakin, suamimu akan memberikan kebahagiaan yang tak seorangpun pernah berikan termasuk diriku." dalam hati, lelaki itu hanya bisa menjerit tanpa suara. Mulut dan hatinya berjalan bersebragan.


Melihat Prillya yang menangis, Ingin rasanya lelaki itu memeluk Prilly. Mendekapnya dan menenangkannya. Tapi itu tidak mungkin. Prilly kini sudah milik orang lain. Orang lain yang tak ia sangka akan memiliki wanita yang ia cintai.


"jangan menanggis. Lupakan rasa cintamu untukku.  Aku ikhlas kamu bersama dia. Karna aku tahu, lelaki yang menjadi suamimu adalah lelaki baik-baik.Aku akan mencoba ikhlas ,selamat tinggal Prill. Hubungan kita cukup sampai disini. Doakan agar aku  bisa baik2 saja tanpamu. Trima kasih untuk segala rasa yang pernah kamu berikan.Jadilah istri yang berbakti pada suamimu. Aku pamit"  Lagi.  Lelaki itu mengucapkan kata yang tak sinkron dengan hatinya dengan senyum. Senyum lembut yang berisi kepedihan juga rasa sakit yang tak terbayangkan sebelumnya.


Lantas beranjak pergi meninggalkan Prilly karna tak ingin semakin sakit.


Saat berlalu, lelaki itu menitihkan air matanya kembali. Berusaha untuk ikhlas menerima takdir yang sangat menyayat hatinya.


"maafin Aku kevin, Terima kasih"ucap Prilly lirih dalam isakannya. Ya, orang yang selama ini menjadi kekasih Prilly adalah Kevin. Sahabat dari orang yang kini sudah menjadi sumi Prilly, yaitu Ali.


Prilly tidak tahu, apakah dia harus senang atau sedih. Ia tidak menyangka Kevin bisa bersikap dewasa seperti tadi, yang membuatnya tidak harus mengatakan hal yang sangat tidak ingin ia katakan. Namun ia juga teramat sakit saat kevin mengucapkan kata yang sebenarnya tak pernah sama sekali ingin ia dengar. Ia mencintai Kevin, tapi Prilly sadar kini dia sepenuhnya sudah milik orang lain. Dia dibimbing oleh orang tua dengan ajaran agama,jadi mau tidak mau dia juga harus mulai menerima Ali sebagai suaminya. Terlebih ia sudah berjanji pada kakaknya.


Ia menenagkan dirinya sejenak ditaman. Menyeka sisa air mata diwajahnya. Setelah cukup tenang ia bergegas kembali kekamar kakaknya.


  Ia berjalan cepat, hatinya menuntut nya untuk segera kembali ke ruang rawat kakaknya. Entahlah, tiba-tiba perasaan tidak enak mengerayangi sel-sel ditubuhnya.


"auwww"pekik Prilly merintih kesakitan karna terjatuh.


Kakinya kesleo. Ia melihat heels sepatunya patah. padahal sepatu ini baru ia beli beberapa hari yang lalu dengan merk ternama menggapa mudah sekali patah?  Umpat prilly dalam hati.


Ia segera membuang sepatu itu ke tong sampah dan berjalan dengan bertelanjang kaki dengan agak tertatih. Ia tidak memperdulikan tatapan aneh orang-orang kepadanya.


    Perasaan tidak enak lagi2 kembali mengerubungi hatinya. Tapi kali ini berbeda. Tiba-tiba air matanya kembali menetes tanpa dikomando. Ia memaki dirinya sendiri yang sangat mudah menanggis. Ia mencoba berjalan lebih cepat lagi, mencoba tak menghiraukan rasa sakit dipergelangan kakinya .


                               *****

__ADS_1


 


__ADS_2