CINTA TAK SEIRAMA

CINTA TAK SEIRAMA
Chapter 10


__ADS_3

Acara ulang tahun sekolah Prilla sebentar lagi usai. Jika sesuai jadwal acara akan selesai pukul 12. Prilla senang bisa melihat anak-anak tertawa melihat atraksi sulap dan badut. Orang tua wali murid pun tersenyum puas juga karna bisa melihat anak mereka tampil dipanggung memperlihatkan kemampuan seni mereka. Entah menyanyi maupun menari.


Namun ia juga merasa sedih karna salah satu anak didiknya tidak bisa mengikuti acra ini karna sedang dirawat dirumah sakit. Sudah seminggu ini. Prilla sendiri belum sempat menjengguk karna seminggu terkahir ia sibuk dan guru2 yang lain tengah sibuk mempersiapkan acara sekolah. Oleh sebab itu ia memutuskan untuk menjengguknya hari ini.


"Amanda? "panggil Prilla pada salah satu muridnya yang tengah asik bermain balon


"iya, kenapa bu guru? "tanya anak itu lembut.


"ibu mau tanya, Evan belum pulang kerumah ya nak? "tanya Prilla. Karna Prilla tahu Evan ternyta bertetangga dengan Amanda. Prilla mendengar kabar Evan dirawat juga dari Amanda


"belum bu guru.. "jawab anak itu lembut. Ibu Amanda yang baru datangpun tersenyum kearah Prilla dan menyalaminya.


"Belum bu, tapi kondisinya alhamdulillah udah lumayan baik. "tambah ibu tersebut karna tahu buntut pembicaraan guru dan murid ini.


"boleh minta alamat rumah sakitnya bu? "tanya Prilla


"Dia dirawat dirumah sakit Permata. Ruang anggrek" ucap ibu amanda.


"makasih ya bu, "ucap Prilla sambil tersenyum


"sama sama bu" ucap ibu amanda sambil membalas senyum Prilla.


Setelah itu Prilla pamit dan berlalu.


Hp nya berbunyi menandakan ada pesan masuk. Prilla lngsung membaca pesan tersebut. Ternyta dari Ali. Ia tersenyum simpul


Ali


Maaf kalau sya telat, tadi soalnya ngumpul sama temen sampe lupa waktu. Jalan juga agak macet. Maaf ya.


Prilla yang membaca pesan dari Ali pun tersenyum simpul. Menurut Prilla ini hanya masalah kecil. Lagipula acara ini belum selesai total. Prilla langsung mengetikkan balasan untuk Ali.


"iya gpp mas. Gk usah ngebut. Aku disini juga masih ada kerjaan kok. Nanti kalau udah sampai kabarin aku aja ya, takut nanti kamunya bingung"


Tak lama kemudian Ali membalas


Ali


Oke.. Siap bu guru, gak bakaln ngebut.


Prilla terkekeh geli membaca balasan dari Ali.


Acara masih berlangsung. Anak2 masih antusias melihat berbagai atraksi sulap yang ditunjukkan. Orang tua muridpun dengan sabar menunggu anak2 mereka sambil mengobrol dengan orang tua murid yang lain. Nadia masih sibuk dengan kameranya karna ia menjadi seksi dokumentasi. Ternyta nadia punya hobi fotografi. Beberapa guru juga ikut difoto Nadia. Pak Anton dan Pak Angga yang bisa dibilang komika disekolah ini tak kalah heboh dengan anak2 yang ikut difoto oleh Nadia. Prilla tersenyum senang melihat kedekatan guru dan murid2nya.


"bu Ila ikut foto dong, malah duduk manis aja" celetuk pak Angga. Pak Anton dan Nadia pun mengangguk setuju.


"udah, kalian puas2.in aja fotonya"ucap Ila sambil tertawa.


"anak2..ajakin bu Ila foto yuk" pak Anton mulai menghasut anak-anak didiknya. Muridpun mengangguk setuju. Tak lama murid-muris itu datang menghampiri dan menarik tangan Prilla. Kalau anak-anak yang sudah meminta Prilla tak bisa menolak. Ia pasrah mengikuti kemauan anak muridnya. Sedangkan pak anton, pak angga dan Bu nadia pun tersenyum puas. Nadia langsung menyalakan timer pda kamera agar bisa ikut foto bersama.


Setelah puas ikut berfoto, Prilla kembali kekursinya. Sedangkan guru2 yang lain masih asik berfoto selfi begitupun nadia. Beberapa murid dan orangtuanya juga sudah mulai meninggalkan sekolah karna acara yang memang telah usai. Ia merogoh saku roknya, mengmbil hp dan membaca pesan dari Ali. Ternyta ia sudah sampai. Prilla bergegas menemuinya. Ternyta Ali sudah memasuki halaman sekolahnya. Ia memakai celana jeans berwana hitam dengan kaos berwanra navy dipadukan dengan jaket yang berwana senada dengan celananya. Kaca mata hitamnya bertengger sempurna dihidung mancung miliknya. Tetapi bukan itu yang mencuri fokus Prilla. Prilla terfokus pada raut wajah Ali yang kebinggungan sekaligus risih karna dikerubuti oleh orang tua siswa yang ingin berfoto dengannya. Melihat sikap ibu2 yang genit padanya membuat Ali semakin risih karna merasa tidak enak.ada yang mencubit pipinya ada pula yang bergelayut manja dilengannya. Prilla hnya memandanginya dan tertawa geli. Setelah kumpulan para ibu2 itu puas berfoto dan satu persatu pergi, Prilla berjalan menghampirinya.


Prilla mencoba menahan tawanya melihat ekspresi kesal Ali.


"sabar ya pak,maklum ibu-ibu. " ucap Prilla sambil menutup mulutnya menahan tawa.


Ali yang melihat Prilla pun hanya tersenyum kecut.


"Untung stok kesabaran aku banya. " ucap Ali sambil melepas kaca mata hitamnya.Prilla terkekeh geli mendengarnya .


"lama ya nunggunya" tanya Prilla kemudian.


"enggak kok, santai aja" jawab Ali sambil tersenyum lembut padanya.


"aku mau ambil tas dulu, sekalin pamit sama guru yang lain. Acaranya udah selesai juga. Mau nungguin disini apa ikut?" tawar Prilla.Ali tampak berpikir sejenak. Kemudian ia mengangguk, ia tidak ingin menjadi korban ibu2 alay lagi. Alipun mengikuti langkah Prilla.


Ali menunggu Prilla didepan ruang guru. Suasana diruang guru sepi. Tidak terlihat satupun guru disini. "mungkin masih asik diaula" gumam Prilla. Setelah mengambil tasnya Prilla menuju aula yang letaknya dekat dengan perpus diikuti Ali disampingnya. Mereka tidak berbincang apapun. Hanya sesekali sling melirik dan mencuri pandang.


Benar dugaan Prilla, guru2 masih diaula. Terlihat beberapa masih asik mengobrol dan berfoto selfi ria.


Sedangkan Ali lebih memilih untuk menunggunya dideapan ambang pintu.


"Bu, saya pamit ya? Udah ditungguin soalnya" pamit Prilla pada guru2 yang lain. "kok buru2 amat bu, siapa sih yang nungguin? "tanya Bu Ana yang tak lain adalah kepala sekolah.


Bu Ana lantas menenggok kearah pintu. Dan terbelalak kagum melihat pria tampan tengah berdiri sambil tersenyum ramah padanya. Tanpa berpikir panjang Bu Ana langsung berjalan tergesa menuju kearah Ali dan menariknya untuk masuk kedalm. Ali yang terkejutpun hanya pasrah mengikuti ibu2 yang kira2 sudah berumur 45 tahun ini.


"subhanallah.. "ucap guru2 yang lain setelah melihat kedatangan Ali. Bu Melda dan Bu Nadi yang notabenya memang belum menikah terbenggong melihat kehadiran Ali. Benar dugaan Ali, tak lama kemudian guru2 yang didominasi oleh ibu2 langsung berjalan kearahnya.Tak ketinggalan, Nadia dan Melda pun ikut bersama yang lain. Mereka melupakan obrolan mereka . Menghampri Ali sambil berfoto dengannya. Beberapa mencubit pipi Ali dengan gemas hingga ada bekas merah dipipinya. Prilla yang melihat hal itu hanya bisa menepuk dahinya pelan sambil geleng kepala. Aih.. Pesonamu li, mengalihkan dunia.


Tapi saat melihat Nadia Dan melda ikut selfi dengan Ali terbesit sedikit rasa tidak suka, apa ia cemburu? Tanya Prilla dalam hati. Ia kemudian menepis jauh-jauh pikiran itu. Lagipula ia sudah tahu kalau guru disini memang suka bercanda. Prilla lantas memilih duduk disalah satu kursi.


Tak lama kemudian muncul pak Angga dan Pak anton dari ambang pintu dengn wajah keheranan.


"ada apa ni? "ucap mereka bersaamaan. Ucapan mereka seketika terhenti saat melihat Ali. Mereka langsung bergegas menuju Ali dan menariknya untuk menjauh dari ibu guru alay ini.


"jangan deket2 bro, mereka bawa virus"celetuk pak Angga yang dihadiahi pelototan tajam dari guru yang lain.


Drama stand up komedi penuh kegaringan dimulai.


"kita kurang sempurna apa sih sampai kalian menduakan saya dengan Angga" ucap Pak anton dengan wajah yang dibuat dramatis.


"kurang tampan"ucap guru2 itu serempak sambil menuju kursi masing2 yang tadi ditinggalkan.


"busett dahhh.. "ucap pak Anton dan pak Angga dengan ekspresi wajah terkejut dengan berjingkat kget.


"emang anda siap sih? " tanya Pak Angga penasaran. Ali mengaruk tengkuknya yang tak gatal. Pak Anton menyikut lengan Ali meminta jawaban.


"ehh.. Saya..saya Ali. tunangannya Bu Prilla" ucap Ali sedikti gugup sambil melirik Prilla sekilas tapi terdengar jelas oleh guru2 yang lain.


"hah... ??"ucap mereka serempak sambil melirik Ali dan Prilla secara bergantian. Prilla hanya tersenyum simpul dan mengangguk, mengiyakan ucapan Ali.


Pak Anton langsung mengajak Ali duduk dikuri kosong diikuti Pak Angga. Tiba2 tatapan guru2 yang lain tertuju pada dia dan Prilla. Prilla hanya menunduk tersenyum. Sedangkan Ali juga binggung.


" Bu Ila nemu pangeran dari mana sih? "


tanya Bu ine sambil terus memandangi


wajah Ali . Prilla hanya tersenyum kikuk.


"apa sih bu, emang barang nemu" jawab Prilla sekenanya.

__ADS_1


"eh Bro, lu gimana caranya bisa dapetin bidadari inceran gue? "celetuk pak Anton sambil menaikturunkan alisnya.


"inget yang diruamh!! " celetuk pak Angga sambil menjitak dahiPak Anton. Pak Anton meringis kesakitan sambil memperlihatkan cengirannya.


"kenalan dulu dong? "ucap Melda tiba2 yang diangguki setuju oleh guru yg lain. Setelah berkenalan mereka kembali melanjutkan perbincangan mereka. Yaitu menggoda Prilla dan Ali. Tak sulit bagi Ali untuk akrab dengan mereka karna mereka sendiri sangat ramah. Terlebih Prilla juga sangat ramah pada guru2 yang lain.


Saat bu Ana menanyakan bagaimana mereka bertemu, Ali dan Prilla tampak kebinggungn. Karna bagi Prilla itu urusan pribadi yang tak harus semua orang tahu. Begitpun Ali.


Karna tak kunjung mendapatkan jawaban, mereka mendesah pasrah. Merek juga menghormati privasi orang lain.


"kapan nih resminya? "tanya Nadia yang memang sudah tahu cerita mereka berdua dari Prilla sendiri.


"insyaallah akhir bulan ini, doakan saja bu" ucap Prilla lembut.


"semoga lancar ya bu? "ucap bu Ina yang diamni oleh guru2 yang lain. Juga Ali dan Prilla.


"eh,, foto bareng lagi yuk. Tadi belum sempet foto bareng semua guru"ucap Nadia yang diangguki guru yang lain.


"sini biar saya yang fotoin" tawar Ali ramah.


"ihh.. Mas ganteng ikutan foto dong. "ucap Bu Ana


"yang penting guru2 dulu" jawab Ali sambil tersenyum simpul.


Bu ana pun menyetujui.


Bisa dibilang kehadiran Ali membuat heboh suasana. Selepas mereka berfoto bersama, kini merek bergantian untuk berfoto dengan Ali lagi. Dan kali ini Pak anton yang menjadi korban untuk menjadi fotografer dadakan. Guru2 yang melihat hasil fotonya kurang bagus mencibir Anton dan menyuruhnya untuk terus memfotonya sampai hasilnya bagus.sedangkan Ali Dengan sabar meladeni ibu- ibu tersebut. Jika bukan karna Prilla, Ali pasti akan segera beralari dan mencari berbagai alasan untuk keluar dari situasi menjengkelkan ini. Hey?? Ali bukan artis!


"lu gak cemburu la? "tanya nadia yang tiba2 sudah duduk disampingnya.


"untk apa cemburu? "jawab Prilla santai.


"sekarang aja lu bilang gak cemburu. Tar kalo udah sah tu, tiap hari lu bisa kenyang makan cemburu" ucap Nadia sambil terkekeh.


"kamu tu ya, bisa aja" ucap Prilla sambil menoel pipi Nadia. Nadia tertawa.


"eh,, calon pengantin foto dong" ucap Pak anton . Prilla dan Alipun saling berpandangan.


"iya tu... " ucap guru yang lain serempak. Prilla mengaruk tengkuknya yang tak gatal.


"nanti aja pas resepsi pak"elak Prilla sambil terkekeh. Tiba-tuba Nadia menarik tangannya menuju panggung. Prilla yang tau maksud Nadia pun sempat menolak. Namun guru-guru yang lain terus saja memojokkannya. Karna merasa tidak enak Prilla pun menurut saja dengan setengah hati


Ali merasa canggung saat ia kembali berdekatan dengan Prilla. Jantung mereka kembali berdetak dua kali lebih cepat. Lidah terasa kelu untuk berbicara karna memang tak tau harus berucap apa kecuali seulas senyum yang sama-sama mereka sunggingkan. Tanpa mereka sadari Nadia mengambil foto candid mereka.


"deketan lagi tu posisinya, "Pak Anton mengarahkan. Guru yang lain pun hanya tersenyum melihat tingkah canggung mereka yang terkesan malu-malu.


"kurang deket" Prilla menatap tajam pada Nadia . Namun Nadia acuh, dia sepertinya menikmati acara mengerjai temannya itu. Nadia tahu kalau Prilla tengah gugup.


Prilla yang tidak terbisa dekat dengn lelaki pun sangat gugup. Ia merasa tidak enak dengan Ali. Alipun merasakan demikian, ia paham betul bagaimana sikap wanita yang seperti Prilla ini jika harus dekat dengan lelaki. Karna tak kunjung mendapat posisi yang bagus. Pak Anton yang merasa gemas pum naik kepanggung dan mendekatkan Ali dengn Prilla. Dengan santai pak anton melingkarkan tangan Ali ke bahu Ila, .


"deketan lagi, terus rangkulannya eratin lagi" ucap pak anton mengarahkan.


"sebenatar, sebentar" ucap nadia sambil berjalan kearah panggung merapikan jilbab Ila dibagian depannya yang agak


kurang rapi.setelah itu ia langsung bergegas turun panggung.


Seperti akan prewedding saja. Gumam Prilla dalam hati.


Prilla sendiri bingung. Ia hanya mengedipkan matanya sekali dan memalingkan wajahnya kearah kamera.


Saat Ali mengeratkan rangkulannya. Seketika tubuh Ila menegang karna baru kali ini ia dirangkul dengan pria selain papanya sendiri. Desiran hangat menjalar ketubuhnya. Namun perlahahan tubuhnya kembali rileks lagi. Rasa nyaman merasuk bersama aliran darah ke sel otaknya.namun tidak dengan detak jantungnya yang kembali terpompa cepat. Sel-sel dan fungsinya seakan tertidur nyenyak. Ia merasakan kenyamanan seperti yang ia dapatkan saat bersama orangtuanya.


Saat merangkul Prilla. Ali bisa merasakan kecanggungan ditubuh gadis ini. Apalagi saat ia memulai mengeratkan rangkulannya. Tubuh gadis ini menegang, Ali paham kalau Prilla tidak terbiasa. Namun Ali bisa sedikit tenang saat tubuh Prilla sedikit demi sedikit rileks kembali. Mungkinkah Prilla nyaman? Tanya Ali dalam hati.


"wihhh.. Keren ni" ucap Nadai membuyarkan lamuman Ali dan Prilla. Seketika Ali langsung melepaskan rangkulannya.


"maaf" bisik Ali pada Ila. Ila hanya tersenyum sambil mengangguk pada Ali. Mereka lantas turun dari panggung. Ali sekilas melihat hasil jepretan Nadia. Ia tersenyum melihat dirinya dan prilla yang baru kali ini foto bersama. Raut canggung mereka berdua agak terlihat jelas. Namun senyum mereka berdua mengalihkan raut canggung itu.


Prilla lantas berpamitan kepada guru2 yang lain dengan alsan hendak menjengguk Evan. Guru2 yang lainpun memaklumi. Dan membiarkan Prilla dan Ali pergi.


"mas ganteng sering2 jemput bu Ila ya, bir tiap hari bisa liat wajah mas gnteng" ucap Bu Ana dengan nada menggoda. Guru2 yang lain hany tertawa. Ali hanya mengedipkan sebelah matanya dengan seulas senyum.


Sepanjang melewati koridor sekolah. Mereka kembali diselimuti kebisuan.


"maafin guru2 disini ya mas" ucap Ila tiba2 . Ali yang paham arah pembicaraanpun teesenyum.


"udah gk papa. Aku seneng kok. Mereka orangnya baik2,welcome"ucap Ali sambil melirik kearah Prilla dan tersenyum. Ila pun hanya bisa membalas dengan senyuman. Sungguh, ila tak pndai untuk memulai sebuah pembicaraan. Berbeda saat dengan anak2,saat dengan anak2 ia bisa dengan mudah memulai pembicaraan.


"cuma.. "ucapan Ali menggantung diudara yang membuat Prilla berhenti seketika dan melihat kearah Ali.


"kenapa mas? "


"cuma cubitannya aja yang masih kerasa banget. " ucap Ali sambil mengelus pipinya dengan meringis kesakitan, yang memang masih terlihat sedikit memerah.


Sepontan Prilla memegang pipi Ali dan melihatnya. Raut kekhawatiran tergambar jelas diwajahnya. Ali yang mendapati respon mendadak Prilla terkejut. Perasaan hangat menjalar diwajahnya merasakan usapan lembut Prilla. Dibalik kacmata hitamnya, Ali menatap mata hazel Prilla. Keindahan matanya masih terlihat jelas walau tertutup kaca mata bacanya.


Prilla yang sadar akan tingkahnya langsung melepaskan usapannya pada wajah Ali. Ia merutuki kebodohannya sendiri. Ia merasa harga dirinya jatuh dihadapan Ali. Ia langsung tertunduk malu.


"maaf mas,aku refleks. Maaf gara2 mas kesini, pipinya jadi merah gitu"


Nada penyesalan terdengar jelas disetiap kata yang baru saja Prilla ucapkan. Ali tersenyum.


"hey... Sudah.. Aku baik2 saja. Usapan tanganmu sudah lebih dari cukup untuk mengobatinya"ucap Ali spontan sambil tersenyum lembut pada Prilla.


Prilla tersenyum kearah Ali. Pipinya memanas mendengar gombalan dari Ali. Ia langsung menundukkan wajahnya.ia yakin kini wajahnya seperti kepiting rebus. Ia langsung melanjutkan perjalannya.ia tak ingin Ali melihat wajah bersemunya. Tanpa Prilla tahu, Ali tahu jika prilla tengah malu. Wajah memerahnya tertangkap jelas oleh retina mata Ali. Ali sendiri sangat gemas melihat Prilla,ia mengigit bibir bawahnya. Mengemaskan.


Ia lantas bergegas menyusul Prilla yang sudah berjalan terlebih dahulu.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, hening masih saja mendominasi. Siaran radiopun tak mampu membuat suasana berubah. Masing2 dari mereka fokus pada pikiran masing. Tiba2 Ali teringat sesuatu. Ia segera menepikan mobilnya sebentar. Mengambil paper bag yang berada dijok mobil belakang. Prilla yang sempat heran kenapa Ali berhenti mendadak pun, paham saat Ali mengambil paper bag berwana coklat dan menyerahkannya pada Prilla. Prilla nampak heran.


"ini oleh2 dari Singapura" ucap Ali sambil tersenyum lembut kearah Ila. Ia lantas melajukan mobilnya kembali. Ila nampak keheranan. Segera ia membuka isi paper bag tersebut.


"jilbab? "tanya Prilla sambil menoleh kearah Ali. Alipun tersenyum sambil melirik kearah Ila.


"iya, kemarin pas jalan2 ngak sengaja liat toko jilbab. Tiba2 keinget kamu aja. Ya udah deh, aku beliin buat kamu" jelas Ali pada Ila. Ila melihat 2 jilbab dengan warna biru dan abu2 itu. Entah, ini sesuai dengan seleranya. Simple, dengan hiasan gambar bunga yang tidak terlalu mencolok.


" makasih mas, ngomonh2 ini kamu yang milih sendiri? "tanya Ila penasaran. Ali hanya terkekeh mendengar ucapan ila yang membuat ila menjadi tambah penasaran.


"ehh.. Sebenernya Aku dibantu sama penjaga tokonya, kebetulan ibu2"jawab Ali sambil cengar cengir. "Mau minta tolong temen aku yang cewek2, ngak ada yang pakek jilbab."imbuhnya lagi.

__ADS_1


"kamu suka kan? "tanya Ali sambil melirik Prilla yang tengah melipat jilbab itu kembali.


"suka mas. Makasih bnyak ya. Maaf ngrepotin" jawab Prilla lembut


"sama2"jawab Ali tak kalah lembut.


"mas, bisa berhenti ditoko buah ngak? Aku belum beli apa2 buat jengguk Evan" ucap Ila yang langsung diangguki oleh Ali.


Tak lama mereka akhirnya menemukan toko buah. Dan langsung membeli parcel buah. Prilla melihat arlojinya. Jam satu seperempat. Ia menepuk dahinya.


"mas sholat dzuhur dulu yuk, udah mau setengah 2," ucap Ila. Alipun mengangguk setuju. Mereka lantas menaiki mobil dan berhenti disalah satu POM bensin teedekat karna memang tidak menemukan masjid ataupun musholla.


Selesai berwudhu, Mereka lantas sholat dzuhur bersama dengan Ali sebagai imam.


Selesai sholat mereka langsung bergegas menuju rumah sakit.


Tak lama kemudian mereka sampai dipelataran rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya Ali dan Prilla berjalan beriringan memasuki rumah sakit dan langsung menuju ruangan Evan.


Tok tok tok


Prilla mengetuk pintu. Tak lama kemudian seorang wanita berumur sekitar 30 tahun membukakan pintu. Seulas senyum terukir dibibirnya, namun raut kesedihan masih terlihat jelas di wajahnya. Ia mempersilahkan masuk. Ali mengikutiku dibelakang.


Evan masih terlelap tidur.badannya terlihat kurus Selang infus terlihat menancap ditangannya. Tiba2 air mata Prilla tak bisa lagi tertahan. Sungguh walaupun ia baru mengajar beberapa minggu disekolah itu dan baru mengenal anak2 muridnya tapi mereka sangat baik pada Prilla. Mereka menganggap seolah2 Prilla adalah guru mereka sejak lama. Bayangan Evan yang ceria terlintas tiba2 dipikiran Prilla. Ia kemudian menyeka air matanya. Mendekat keranjang Evan. Duduk dan mengelus rambut anak tersebut.


"alhamdulillah keadaanya udah agak mendingan bu,"ucap ibunda Evan.


"sykurlah kalau begitu bu" jawab Prilla dengan tangan masih tetap mengelus rambut Evan. Ibunda Evan membiarkan Prilla untuk bersam Evan. Ia kemudian menyuguhkan botol air mineral beserta beberapa camilan pada Ali yang tengah duduk disofa sambil terus memperhatikan Ila.


"gak usah repot2 bu" ucap Ali lembut


"ngak mas. Maaf ya, seadanya"ucap ibunda Evan pada Ali.


"maaf, kalau boleh tau, mas ini siapany Bu Ila ya? "tanyanya kemudian.


"saya tunangannya bu" ucap Ali. Ibunda Evan yang mendengar hal itupun tersenyum.


"dijaga baik2 ya bu gurunya. Dia orangnya baik banget. Penyayang sama anak2. Dijamin gak bakalan nyesel nikah ama bu guru cantik" ucap ibunda Evan sambil tersenyum dan berlalu kembali kearah Ila dan Evan.


Melihat Prilla yang menanggis melihat keadaan Evan. Membuat Ali sedih sekaligus senang. Sedih karna melihat gadis yang ia cintai menanggis. Senang karna melihat ternyta Prilla begitu sangat menyayangi anak2. Sifat keibuannya terlihat sangat jelas. Dalam hati, Ali mengucap syukur karna Allah telah mempertmukannya dengan gadis seperti Prilla. Seulas senyum bahagia kembali tercipta diwajah tampannya.


"Evan cepat sembuh ya, biar bisa main sama temen2 lagi, bu guru sepi lho ngak ada Evan dikelas"ucap Prilla sambil mengelus wajah Evan. Matanya masih terpejam.


Tiba2 Evan mengerjap2kan matanya. Mendengar suara yang tak asing baginya ia lantas menoleh kearah suara, dan tersenyum pada Ila. Ila yang menyadari bahwa Evan bangun pun tampak senang. Dan langsung mencium tangan mungil Evan.


"maaf ya, bu guru ganggu tidur siang evan" ucap Ila sambil mengelus2 tangan Evan.


"Evan kangen bu guru cantik"ucap Evan tiba2. Prilla yang mendegarnya pun kaget dan tersenyum. Ibunda evan pun tersenyum melihat anaknya bahagi. Ali pun demikian.


"ibu juga kangen sama Evan" ucap Ila sambil memeluk evan. Evan pun membalas pelukan Prilla.


"udah, Evan jangan bnyak gerak dulu. Tiduran lagi ya? Mau makan buah ngak? Tadi ibu bawain buah buat evan" ucap prilla . Evanpun mengangguk senang mendengar tawaran Prilla. Dengan telaten Prilla mengupas dan menyuapi Evan sambil sesekali mereka bercanda. Ibunda Evan yang melihat hal itupun tak sanggup menyembunyikan air matanya. Melihat anaknya tertawa lepas adalah kebahagiaan yang berarti baginya.


Sedangkan Ali tersenyum melihat Prilla. Rasa kagumnya pada Prilla semakin bertambh. Sejak awal mereka masuk keruangan ini pandangan Ali tak pernah lepas dari Prilla. Senyumnya, suara tawannya sudah terpahat sempurna dihati juga pikiran Ali. "istri idaman" gumam ali dalam hati.


Tak lama berselang, mereka berpamitan pada ibunda Evan. Sedangkan Evan sudah kembali terlelap.


"makasih banyak ya bu,udah bikin Evan ketawa"ucap ibunda Evan yang langsung memeluk ila. Tanpa pikir panjang, Ila langsung membalas pelukan itu.


"sama2 bu, sudah kewajiban saya. Saya juga senang bisa melihat Evan bahagia" ucap Ila sambil mengusap punggung ibunda Evan.


Saya pamit ya, takut kesorean. Ucap Ila sopan.


"oh iya, mas ganteng jagain bu guru ya, jangan dijahilin" ucap ibunda evan denan nada menggoda. Ali yang mendengarnya pun terkekeh.


"saya ngak bakalan nyakitin bidadari saya" ucap Ali sambil melirik kearah Prilla. Prilla hanya tertunduk malu menyembunyikan pipi merah dan senyumnya.


"ah,, mas ganteng ternyta bisa gombal" ucap ibunda Evan memecah kebekuan.


"saya pamit ya, Assalamualaikum" ucap ila, karna tak ingin mendengar godaan dari ibunda Evan.


"waalaikumussalam. Hati2" jawab ibunda Evan. Ali dan Prilla tersenyum dan berlalu meninggalkan ruang rawat Evan.


Sepanjang melewati lorong rumah sakit. Prilla tak berani menatap Ali. Ia malu. Entah menggapa ia tak kuat jika harus berlama2 menatap mata hitam legam milik Ali. Mengingat gombalan2 yang dilontarkan Ali membuat pipi Prilla merona. Padahal ia sering digombalin oleh teman2nya, tapi itu malah membuat Ila menjadi sebal .tapi dngan Ali berbeda. Ia merasa tersipu.


"udah gak usah sembunyiin pipi merahnya,udah ketahuan" ucap Ali sambil melihat Prilla yang semakin bersemu. Ali terkekeh melihat sikap mengemaskan Prilla.


"apaan sih mas? Udah ah. Keburu sore ni" ucap Ila sambil terus berusaha menahan degup jantungnya. Berusaha untuk tidak menoleh dan melihat senyum Ali.


Ali yang melihat tingkah Ila pun mengigit bibir bawahny gemas.


"mas aku anterin pulang ya? "tawar Ila pada Ali.


"udah, nanti biar aku nyuruh supir Aku buat jemput kerumah kamu aja" jawab Ali sambil foku mengemudikan mobil itu.


"jangan gitu mas. Sekali ini aja ya"pinta ila dengn muka memelas yang terlihat mengemaskan bagi Ali. Ali tersenyum mengangguk.


"makasih mas"


"sama2"


Sepanjang perjalanan mereka hanya mengobrol sesekali saja. Ali yang fokus menyetir sedangkan Prilla fokus memperhatikan jalanan.


"makan dulu yuk, belum makan siang"pinta Ali sambil tersenyum kikuk. Ila lupa jika tadi Ali belum makan siang. Begitupun dirinya. Ila pun mengangguk. Tak enak jika menolak. Apalagi ia sudah terlalu banyak merepotkan Ali.


Setelah menemukan restoran terdekat mereka langsung turun dan masuk kedalam. Mencari meja yang kosong.


Tak berselang lama pelayan datang. Setelah memesan makanan mereka pun menunggu sambil sesekali mengobrolkan hal2 yang tidak terlalu penting. Jari jemari Ali tampak mengetuk2 dimeja. Menandakan bahwa ia sudah sangat lapar.


"sabar, sebentar lagi. "ucap Ila lembut. Ali hanya tekekeh.


Tak berselang lama pelayan datang membawa pesanan mereka. Ali yang sudah sangat lapar langsung mengambil makananya.


"mas... Berdoa dulu"Ila memperingatkan dengan lembut sambil menatap Ali dengan raut wajah menahan tawa. Ali sangat malu dan merutuki kebodohanny.


"eh iya.. Maaf lupa bu guru"jawab ali sambil tersenyum .Prilla hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat Ali yang malu.


Hanya ada suara sendok dengan piring yang menemani mereka saat makan. Ali yang lebih dulu menghabiskan makananya menopang dagu sambil memperhatikan Prilla makan. Prilla lama2 tersadar kalau sedang diperhatikan . Ia lantas mendongakan kepala kearah Ali. Ali yang ketahuan sedang menatap Ila pun menjadi salah tingkah.


Tiba2 tangan Ila maju kewajahnya. Membersihkan sisa makanan yang tertinggal disudut bibir dengan tissue. Ali hanya bisa terdiam membeku menerima sikap Prilla yang diluar kendalinya. Setelah Prilla selesai membersihkannya, Ali menjadi semakin salah tingkah dan mengarahkan pandangnnya keluar jendela. Prilla pun hanya tersenyum geli melihat tingkah Ali.

__ADS_1


*****


__ADS_2