CINTA TAK SEIRAMA

CINTA TAK SEIRAMA
Chapter 13


__ADS_3

Ali melangkahkan kakinya lebar-lebar disepanjang koridor rumah sakit. Entah kenapa pikirannya selalu saja memunculkan hal-hal yang tak pernah ingin ia lihat. Sesekali ia menarik nafas perlahan,mencoba menenangkan pikirannya yang tengah berkecamuk karna rasa khawatir.


Saat mendengar kabar itu,ia merasa sangat lemah. Kakinya lemas. Aliran darahnya seperti berhenti,membuatnya menjadi bergeming untuk sesaat.


Ia mencoba menghalau berbagi pikiran buruk. Berdoa agar semuanya akan kembali baik-baik saja.


Saat sampai didepan ruang ICU, terlihat bundanya yang tengah mencoba menenangkan tante uly yang tengah menanggis. Sedangkan Om Rizal terlihat menundukkan kepalanya sambil menyeka air matanya. Sungguh, Ali sangat membenci pemandangan ini.


Mereka yang menyadari kehadiran Ali pun, menatap kearahnya dengan raut wajah sendu. Ia lalu duduk disamping om Rizal mencoba menenangkannya. Bukan waktu yang tepat jika Ali meminta penjelasannya.


"Apa Prilly sudah berangkat pah? "tanya mama Uly ditengah-tengah isakannya.


"udah ma, kita tunggu aja"ucap papa Rizal lirih. Terlihat sekali ia mencoba untuk tegar.


Sedari tadi Ali mencoba untuk tidak membiarkan air matanya keluar. Sesekali ia mendongakan kepalanya. Memejamkan mata hitam legamnya. Berharap pikiran-pikiran buruk tentang Prilla segera enyah dari otaknya.


Hampir satu jam mereka menunggu dokter yang menangani Prilla keluar. Tak lama kemudian seorang dokter laki2 keluar. Peluh didahinya terlihat sangat jelas. Raut wajahnya mengatakan ini tidak baik-baik saja.


"gimana kondisi anak saya dok? "


tanya Mama Uly dengan terisak.


Bunda Resi masih setia disampingnya, mencoba memberi ketenangan.


"Pasien kritis karna mengalami benturan yang lumayan keras dibagian kepala. Sehingga harus dirawat intensif. " balas dokter tersebut .


"Tapi anak saya bisa selamat kan dok?" tanya papa Rizal dengan penuh kekhawatiran


"Berdoa saja pak. Kita para dokter hanya menjadi perantara bukan penentu. Jangan putus berdoa, karna kuasa Tuhan diluar batas kemampuan manusia" ucap dokter itu sambil menyentuh bahu papa Rizal.


"apa sudah bisa dijenguk? " Tanya Ali dengan nada penuh kekhawatiran.


"untuk sekarang belum bisa, kondisi pasien belum stabil. Nanti kalau keadaan sudah mulai stabil kalian boleh menjenguk" jawab dokter itu memberi penjelasan


"makasih dok" ucap Ali singkat


"sama-sama,saya permisi" pamit dokter tersebut yang diangguki oleh Ali dan yang lainnya.


Saat ini mereka hanya bisa melihat Prilla dari balik kaca jendela. Suara isakan mama Uly terdengar, sangat menyayat hati Ali walaupun isakan itu tidak kencang. Papa Rizal terus berusaha tegar didepan istrinya, berulang kali mencoba menenangkan istrinya dengan berbagai cara , yang saat ini tengah duduk dikursi karna tak kuasa melihat anaknya seperti ini.


Sedangkan Ali masih setia menatap Prilla dari balik kaca jendela. Sungguh ia merasa sakit melihat Prilla yang terbaring dengan berbagai peralatan medis yang menancap ditubuhnya.tiba-tiba ingatannya membawanya pada perbincangan ia dan Prilla tadi malam,ia tersenyum tipis mengingatnya. Rasa sesak memenuhi rongga dadanya, membuat ia berulang kali menarik nafas mencoba menenangkan diri sendiri.


Ia sungguh merindukan gadis itu. Ia ingin sekali melihat pipinya yang merona.ia kembali memejamkan matanya sambil menarik nafas perlahan berharap rasa sesak yang ia rasa akan hilang saat ia membuka mata. Namun nihil. Sesak itu masih saja bersemayam dalam hati dan pikirannya.


Tiba-riba sebuah tangan mendarat dibahunya. Mengelusnya lembut menyalurkan rasa hangat. Ia berbalik dan mendapati bundanya yang tersenyum sendu dihadapannya. Bunda resi menangkup wajah Ali, mengelusnya lembut pipinya. Ali memeluk bundanya, mencari ketenangan agar hatinya bisa sedikit lebih baik.


Bunda Resi mengelus rambut putranya lembut. Ia tahu Ali saat ini sangat terpukul. Ini adalah kali ke-2 ia melihat Ali seperti ini, setelah yang pertama saat kepergian sang ayah.


"Berdoa ya nak, minta pertolongan sama Allah. " ucap bunda Resi sambil tetap mengelus putranya.


"Prilla bakalan baik-baik aja kan bun?" tanya Ali lirih


"insyaallh sembuh, harus sembuh"balas bunda Resi penuh keyakinan.


Ali lantas melepaskan pelukannya. Sedari tadi ia terus berusaha untuk tegar. Ia tidak ingin semakin menambah kesedihan dengan ikut menitihkan air mata dihadapan mereka. Cukup ia rasakan sendiri.


"Ali ke toilet dulu bun"ucap Ali yang dibalas anggukan oleh bunda resi.

__ADS_1


Bunda Resi tahu, sedari tadi Ali mencoba menyembunyikan kesedihannya walau kesedihan itu sudah terukir jelas diwajah tampannya.


Ali memandangi dirinya sendiri dicermin toilet. Gurat kesedihan terukir jelas diwajahnya. Mata yang selalu menunjukkan binar kehangatan kini terlihat meredup. Ia tak bisa lagi menahan air matanya, air mata itu mengalir begitu saja. Ia lalu mencuci mukanya kembali untuk menghilangkan jejak-jejak air mata itu. Ia membenci dirinya sendiri yang terlihat lemah. Sebagai lelaki ia harusnya bisa lebih kuat, apalagi dihadapan orang-orang terdekatnya.


Menggapa ini terjadi saat mendekati hari pernikahan? Batinya bertanya.


Pikirannya masih berkecamuk. Entah menggapa ia merasakan hal yang sama seperti saat ayahnya meninggal.ia merasa sangat takut kehilangan Prilla. Walaupun ia baru mengenal Prilla, tak bisa dipungkiri bahwa Prilla adalah wanita pertama yang membuatnya begitu merasa nyaman. Karna Prilla ia merasakan getar cinta. Gadis itu bisa membuatnya bahagia hanya dengan melihat senyum manisnya. Ia menejamkan matanya kembali, mencoba menenangkan pikiran yang tengah berkecamuk dihatinya, menghalau berbagai bayangan negatif tentang Prilla.


Ia membuka matanya, memandangi dirinya sendiri dicermin untuk kesekian kalinya. Ia mengelap sisa -sisa air diwajahnya . Merapikan penampilannya yang agak berantakan. Ia lalu memutuskan kembali, berharap saat ia kembali Prilla sudah melewati masa kritisnya.


Bunda Resi, Mama Uly dan Papa Rizal masih setia duduk dikursi tunggu. Keadaan Mama Uly sudah mulai membaik, ia tak lagi terisak tersedu. Namun gurat kecemasan dan kesedihan masih menyatu diwajahnya. Ali duduk disebelah bunda.menundukkan kepala, menopangnya dengan kedua tangannya. Bunda Resi mengelus punggung Ali, berharap agar putranya bisa kuat menghadapi segala kemungkinan yang akan terjdi.


*****


Ingin rasanya Prilly berteriak agar mobil-mobil dihadapnnya memberikan ia jalan. Berulang kali Prilly menyuruh sopir taxi itu untuk lebih cepat lagi.


Hatinya tak karuan, air mata nya masih setia membasahi pipinya. Ia tidak memperdulikan penampilannya yang ia yakin pasti berantakan. Saat ini pikirannya hanya terisi oleh kakak tercintanya. Ia tak mengira kakaknya akan mengalami musibah kecelakaan.


Saat ia mendapat kabar itu dari papahnya, ia seperti disambar petir disiang bolong. Badannya terasa lemas seperti tak mempunyai penyangga. Air mata mengalir deras tanpa dikomando. Ia segera menjelaskan dan berpamitan pada penanggung jawabnya selama bertugas di Bali. Ia bahkan meninggalkan barang-barangnya di sana,menitipkan pada temannya untuk membawakan nya saat kembali ke Jakarta. Ia hanya membawa tas slempang dan jas dokternya. Ia hanya berpikir untuk bisa cepat sampai Jakarta dan bisa melihat kakaknya.


Ia semakin sedih saat mengingat obrolan tadi malam dengan kakaknya. Bayangan buruk masih saja berkelabet diotaknya. Ia menggelengkan kepalanya frustasi. Mencoba mengusir pikiran buruk itu.


Ia mengambil ponselnya yang sedari tadi belum ia nyalakan. Sebuah pesan dari kekasihnya. Ia membacanya.


"kasih tahu alamat rumah sakitnya, nnti kalau urusan kantor udah selesai aku mau langsung jengguk,keep smile baby, keep strong"


Prilly tersenyum tipis membaca pesan dari kekasihnya itu. Ia langsung mengetikkan balasan untuknya berupa alamat rumah sakit kakakanya.


20 menit berkendara terasa sangat lama. Setelah membayar argo taxi,Prilly langsung berjalan cepat memasuki rumah sakit.


Sesekali ia menyeka air matanya yang masih saja keluar.


Sesekali ia mencium pucuk kepala putri tercintanya. Setelah tangis Prilly mereda, ia melepaskan pelukan dari papanya, papanya menyeka air mata Prilly. Dan tersenyum lemah kearahnya, mencoba untuk saling memberi ketenangan yang mustahil dirasakan untuk saat ini.


"sabar ya nak, "ucap seorang ibu paruh baya yang tiba2 sudah berada didekatnya,memeluknya sesaat dan mengelus pipinya.


Prilly membalas dengan anggukan dan senyum tipis.


"ini calon mertua kakakmu, Bunda Resi" ucap mama uly memperkenalkan.


Prilly lantas mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan bunda Resi. Dari awal melihatnya, Prilly sebenarnya sudah mengira bahwa dia adalah calon mertua kakaknya, karna ada Ali. Prilly sendiri sudah paham wajah Ali karna kakaknya pernah mengirimkan fotonya.


"kalau itu Ali, calon kakakmu"tunjuk mama Uly pada seorang lelaki yang duduk dikuris tunggu tak jauh dari mereka.


Merasa ada yang menyebut namanya, Ali langsung menoleh keasal suara dan tersenyum sekilas pada Prilly. Prilly pun hanya membalas dengan senyum tipis pula.


"apa udah bisa dijengguk ma? "tanya Prilly sambil menoleh kearah mamanya


"belum sayang, 2 jam lagi dokter akan kembali untuk memeriksanya"jelas mama Uly sambil memeluk anaknya.


"kenapa kakak bisa kecelakaan ma? "tanya Prilly yang tak bisa lagi menahan rasa penasarannya.


Isakan kecil mulai terdengar lagi disuaranya.


"kakakmu tadi mau menyebrang jalan, tapi mungkin kakakmu tidak melihat ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi, dan terjadilah.. "bunda uly tak sanggup melanjutkan ceritanya,air matanya kembali merembes.


Air mata yang tadi mulai mereda kini muncul kembli. Papa rizal menatap sendu, memeluk mereka berdua. Mencoba tegar dihadapan istri dan anaknya, walaupun ia sendiri juga sangat merasakan kesedihan. Sedangkan Bunda Resi dan Ali hanya bisa menatap iba. Mereka tak bisa membantu apapun selain doa agar Prilla bisa melewati masa kritisnya dan kembali lagi seperti dulu.

__ADS_1


"kamu pulang dulu aja li,istirahat dulu, nanti kalau Prilla sudah siuman Tante kabari"ucap Tante Uly yang mengambil posisi duduk disamping Ali.


Ali hanya menggeleng pelan


"ngak mau dianya mbk, aku tadi udah nyuruh"ucap bunda resi menjelaskan.


Merekapun hanya bisa pasrah menuruti kemauan Ali.


Sama halnya dengan Ali, Prilly pun enggan pulang kerumah sebelum melihat kakaknya sadar.


Prilly masih setia menatap kakanya yang terbaring lemah dari balik kaca jendela. Perasaan sesak memenuhi rongga dadanya melihat sang kakak. Air matanya kembali mengalir tanpa henti. Berulang kali ia memanjatkan doa agar kakaknya bisa cepat melewati masa kritisnya dan lekas siuman. Ia tak sanggup jika harus kehilangan kakak satu2nya itu.


Baginya, Prilla adalah bagian dari jiwanya. Mereka terlahir dengan wajah yang sama walaupun mempunyai karakter yang berbeda, mereka melalui segala hal bersama-sama.Sungguh ia tak sanggup jika ada hal buruk yang menimpa kakaknya.


Prilly lantas memutuskan untuk ke toilet. Sekedar untuk memcuci mukanya. Berharap agar pikirannya bisa sedikit tenang. Walaupun ia tahu itu mustahil.


*****


Dokter yang tadi menanggani Prilla sudah datang . Ia segera masuk kedalam untuk melihat kondisi Prilla.


Tak berselang lama, Dokter itu keluar dengan wajah berseri. Ali, mama Resi dan kedua orng tua Prilla langsung menghampiri.


"Tenang. Ini sungguh diluar dugaan. Pasien sudah melewati masa kritisnya dengan cepat" kata dokter itu dengan tersenyum lembut


"Pasien sudah bisa dijengguk, kalian bisa bergantian" imbuhnya.


"makasih Dok" ucap Papa Rizal tanpa bisa menyembunyikan rona bahagia diwajahnya.


"mama, om sama tante aja dulu"ucap Ali menyilahkan yang lebih tua terlebih dulu. Mereka membalas dengan anggukan dan langsung masuk kedalam.


Sambil menunggu, Ali memilih untuk duduk. Wajah yang tadi didominasi kesenduan kini sudah muali menampakkan serinya lagi. Mata yang tadi meredup, kini sudah nampak berbinar. Didalam hati Ali tak henti-hentinya mengucap rasa syukur pada yang maha kuasa atas karunianya.


"kok cuma kamu? "Tanya Prilly heran yang baru saja dari Toilet.


Ali yang sadar kehadiran Prilly langsung mengangkat wajahnya . Sejenak Ali menatap Prilly. Ia sungguh mirip dengan Prilla. Bahkan wajahnya masih terlihat cantik tanpa polesan make up sekalipun.


"Prilla sudah melewati masa kritisnya. Kata dokter sudah bisa dijngguk tapi harus bergantian"ucap Ali .


Prilly yang mendengar hal itu menutup mulutnya tak percaya. Rasa cemas dan khawatir tiba-tiba seperti menguap hilang digantikan rasa syukur dan bahagia. Air matanya kembali mengalir, bukan air mata kesedihan. Melainkan air mata bahagia.


Ali dan Prilly duduk bersebelahan selama menunggu orang tua mereka keluar dari ruang Prilla dirawat. Hanya ada kebisuan diantara mereka. Tidak ada yang berniat membuka percakapan, baik Ali maupun Prilly.


Setelah cukup lama menunggu. Akhirnya mereka keluar juga. Namun, entah menggapa Prilly melihat ada kejanggalan diraut wajah ketiganya. Namun Prilly tak ambil pusing.


"kakak gimana pah? "tanya Prilly pada papanya. Papanya menatap Prilly dengan tatapan yang sulit diartikan. Bukankah kakaknya sudah melewati masa kritisnya? Tanya Prilly dalam hati .


"pah gimana? " Prilly mengulangi pertanyaannya sekali lagi karna tak kunjung mendapat jawabannya


"ohh.. Itu.. Apa"jawab papa rizal agak tergagap.


"itu, alhamdulillah kakakmu sudah melewati masa kritisnya, tadi dia sudah sadar. "ucap papa Rizal.


Prilly dan Ali yang mendengar hal itupun nampak berseri. Mereka lantas masuk keruangan untuk segera menemui Prilla. Bunda Resi, Mama Uly dan Papa Rizal hanya bisa saling berpandangan dengan tatapan sulit diartikan.


"aku akan mempersiapkannya" ucap Bunda Resi memecah kebisuan .


Mama Uly dan Papa Rizal mengangguk pelan. Setelahnya bunda Resi pun berlalu untuk menyuruh kaia agar mempersiapkan segalanya.

__ADS_1


*****


__ADS_2