
Didalam kamar Ali masih sibuk memasukkan barang-barangnya kedalam koper,karna besok ia ada penerbangan ke Singapura selama 4 hari. Ia terbiasa membereskan senditi seperti ini karna ia lebih tau mana yang ia butuhkan. Selesai menyiapkan segalanya, Ali langsung berbaring diranjangnya. Ia mengamati langit-langit kamarnya sambil memikirkan Prilla, ya siapa lagi. Akhir-akhir ini pikirannya tak pernah lepas dari gadis itu.
Ia tersenyum simpul memikirkannya.
Terkadang perasaan itu memang tak bisa ditebak kapan dan pada siapa. Seperti halnya yang Ali rasakan saat ini. Bahkan ia baru bertemu beberapa kali dengan gadis itu, tapi itu sukses membuatnya merindu secara tiba-tiba . Ali mengusap wajahnya kasar. Ia berpikir apakah ia terlalu berlebihan?
Sungguh, kita sendiri kadang dibuat tak berdaya oleh cinta. Cinta dengan jatuh cinta itu adalah 2 hal yg berbeda. Saat sedang jatuh cinta,kita hanya akan merasa hal yang indah-indah saja. Kita tidak akan memikirkan tentang pahitnya. Tetapi,cinta hal berbeda, saat kita sudah yakin mencintai seseorang. Maka dengan sendirinya kita akan menerima segala bentuk rasanya,entah manis atau pahit maka kita akan bersedia menelannya tanpa ada rasa ragu sedikitpun. Kita akan menerima dengan suka rela segala bentuk kesakitan itu bersama, menjalani segala bentuk bahagia bersama-sama pula. Itulah cinta, bukan jatuh cinta.
Ali masih setia dengan pikirannya sendiri. Tidak menyangka bahwa ia akan mengatakan cinta pada Prilla secepat itu. Hujan telah menjadi saksi bisu dari sekian banyak kenangan yang tak kan pernah bisa Ali lupakan.
*****
Disisi lain. Prilla masih terlihat sibuk dengan beberapa dokumennya. Sungguh ia tak bisa konsen berpikir karna mengingat ucapan Ali tadi sore. Sederhana tapi mengena. Prilla tersenyum sendiri membayangkannya. Jujur, saat Ali mengatakan itu,Prilla sedikit tidak percaya. Pasalnya mereka baru bertemu beberapa kali. Dan Ila akui pula, dia juga merasakan nyaman yang teramat sangat saat berada disisi Ali. Tapi nyaman saja tidak cukup untuk menyimpulkan kalau itu cinta !
Ia lantas mencoba untuk fokus kembali menyelesaikan perkerjaanya. Bukankah acara ulang tahun sekolahnya akan diadakn 5 hari lagi?
Ia lantas mengecek kembali berbagai persiapan dan memberi tanda pada hal yang sudah benar-benar matang. Susunan acara yang ia buat pun sudah ia teliti kembali. Tinggal mencari pesulap untuk menghibur anak-anak dan bermain games disela istirahat acara.
Ia melirik jam yang tergeletak disisi meja. Setengah 9,gumam ila. Ia pu beranjak keranjang dan mengambil hp dinakas. Mencari nomor adiknya. Sungguh ia merindukan suara adik manja tercintanya itu. Harusnya saat ini mereka saling melepas rindu. Berbagi tawa dan cerita, apalagi sebentar lagi Prilla akan menikah. Tapi sayangnya saat ia pulang dari mengajarnya di Kalimantan, selang beberapa hari adiknya ada panggilan bertugas diBali selama sebulan.
Beberapa saat nada sambung terdengar disebrang sana. Ila masih menunggu. Namun tak ada jawaban pula.
"apa dia masih sibuk? "gumam ila dalam hati.
Beberapa kali ia mencoba menghubungi namun tak kunjung dijawab. Ia sungguh khawatir pada adiknya kini.segera ia mengirim pesan pada adiknya untuk segera menghubunginya kalau sudah tidak sibuk.
Ila lantas memutuskan untuk tidur karna memang sudah tak ada yang mau dikerjakan. Mau menonton tv kebawah pun malas rasanya, karna papa dan mamahnya berangkat ke Ambon selepas Ila pulang dari rumah Ali tadi.
*****
Pukul setengah 4 pagi Ali dibangunkan oleh alarm dihpnya. Segera ia mematikan bunyi yang sangat menganggunya. Ia merubah posisi menjadi duduk dan mengumpulkan kesadarannya. Mengucek mata legamnya yang masih terasa malas untuk terbuka. Segera ia menyingkap selimut tebalnya dan berjalan malas kekamar mandi. Sungguh, ia tidak suka dengan jadwal penerbangan yang pagi. Tapi mau bagaimana lagi. Ini sudah kewajibannya bukan?
Jam 5 ia berangkat menuju bandara setelah sebelumnya berpamitan pada Bundanya. Biasanya kakaknya akan menemani bundanya saat ia Flight, kasihan jika bundanya harus sendiri kesepian dirumah.
Hari ini ia memutuskan untuk menaiki mobil jemputan saja. Ia merasa malas mengemudikan mobil. Ia mengecek ponselnya. Ada notif dari Andra.
Andra
Ke apartemen dulu ngak?
Ali
Enggak, mau lngsung bandara. Kenapa emang?
Andra
Tolong beliin obat mencret dong? Sumpah, gue udah ngak tahan ni. Mules 😫
Ali terkekeh membaca pesan dari Andra. Saat sedang sakit perut pun dia masih sempat-sempatnya menyertakan emot itu. Ali geleng-geleng kepala.
Ali
Ampun deh Ndra, lo sms gue pagi2 cuma buat nyuruh itu?
Andra
Buru ah,, pokoknya lu harus ke aprtemen dulu.
Ali
Iya.. Tar gue beliin.
Andra
Sekalian bubur ayam yg depn apartemen ya.buat sarapan
Ali
Iya..
Andra
Makasih cap sayang.. Tmbh sayang deh...
__ADS_1
Ali
Najis..
Ali lalu menyuruh sopir untuk berhenti disupermarket yang buka 24 jam untuk membeli pesanan Andra. Ia sebenarnya kasihan. Andra tinggal dijakarta sendiri. Sedangkan orang tuanya diBandung untuk mengurus binis usaha yang berpusat disana. Keluarga mereka memang sudah dekat. Bundanya dengan ibu Andra juga sahabat baik dan sepertinya persahabatan orang tua itu menurun keanak mereka. Sebenarnya dia orang yang asik, namun kadang-kadang berubah menjadi sangat menyebalkan,seperti yang sedang ia lakukan saat ini. Menyuruh Ali untuk membelikan obat mencret dan bubur ayam.
Tapi walaupun begitu,Ali tak menampik kalau Andra adalah sahabat baiknya. Bahkan bunda dan kakaknya pun sudah menganggap Andra keluarga sendiri. Bahkan bunda dan kaia pernah menawarkan Andra untuk tinggal bersama, tapi Andra tidak mau dengan alasan ingin belajar mandiri. Padahal alasan sebenarnya ia hanya ingin menghindar dari pengawasan bundanya agar bisa hang out keluar setiap waktu. Walaupun begitu, Andra dan Ali tidak pernah main ke klub malam. Mereka masih mengerti dan menjaga serta mempertahankan batas-batas wajar.
Tak berselang lama Ali sampai didepan apartemen. Ia lantas membelikan bubur ayam pesanan andra. Ia menyuruh sopir untuk menunggunya sebentar. Mungkin hari ini ia akan datang sedikit terlambat dari jam biasa ia datang, tapi yg terpenting tidak mengacaukan jadwal terbang.
Terlihat Andra sedang meringkuk disofa sambil meringis kesakitan memegangi perutnya saat Ali sudah masuk kedalam. Entah ia salah makan apa hingga seperti ini. Wajah tampan yang biasanya terlihat cool kini terlihat sangat kusut dengan rintihan kesakitan yang menambah kesan aneh diwajahnya. Membuat wibawanya menjadi pilot don juan yang selaku tampak macho hilang seketika. Oh.. Bolehkah Ali tertawa?
Sebenarnya Ali hendak menanykan penyebab ia bisa seperti ini, tapi urung ia lakukan. Ia tahu andra akan sewot. Sebisa mungkin Ali menahan tawanya saat ia mendekat ke arah Andra.
"apa lu, seneng liat gue kek gini? "ketus andra sambil terus memegangi perutnya.
Ali yang sedari tadi menahan tawa kini tak bisa menahan lagi. Sungguh ia tertawa diatas penderitaan teman sendiri.
"mana obatnya? "ucap Andra ketus.
Ali langsung menyerahkan obat sekaligus bubur ayam pesannya.
"mau dibantu? "tanya Ali sambil mengikuti andra ke arah dapur sambil mencoba untuk terus menahan senyumnya.
"bantu doa"jawab andra sambil meminum obatnya.
"udah sono lu berangkat, tar telat penumpang ngamuk"ucap Andra sedikit halus dengan melirik ali.
"iya m gue otw dulu. Kalo kenapa2 telfon Bunda aja. "ucap Ali sambil berlalu kearah pintu diikuti andra dibelakangnya.
"iya beres,Li..salam buat ica"ucap andra sambil tersenyum .
"iya kalo ketemu ya? "ucap Ali sambil berlalu pergi.
Untung hari ini Andra libur. Coba kalo ngak. Bisa2 dia memintaku untuk membuatkan surat izinnya juga. Gumam Ali dalam hati.
Ia pun melanjutkan perjalanan ke bandara.
*****
Pukul 6 ila turun kebawah. Masih ada roti tawar dan selai coklat.
"cukup untuk sarapan"ucap ila dalam hati.
Ia pun mengolskan beberapa lembat roti tawar dengan selai. Memaknnya sendirian. Ya, karna mamah dan papanya baru akan pulang lusa nanti.
terlihat beberapa notif balasan dari Prilly, ia pun langsung membukanya.
Prilla tersenyum gemas membaca rentetan demi rentetan pesan dari adiknya itu.
Adek
Kak,, maaf ya. Telfon ngak keangkat. Soalnya aku lagi sibuk. Terus pas mau tlfon balik udah malem, kakak pastinya udah tidur juga kan. Aku disini baik2 aja, alhamdulillah. Warga sekitar juga ramah2.temen2 juga baik. Aku kangen tau sama kakak sama mama sama papa.
Tar klo aku pulang pokoknya aku mau tidur dipeluk kakak. Sekalian mau minta lolipop sama kakak.
Oh ya, gimana calon kakak, ganteng ngak? Baik ngak?
Prilla gemas sekali membacanya. Apalagi sikap manja adiknya ini tak kunjung hilang walau dia sudah dewasa. Dengan segera ia segera mengetik balasan untuk adiknya.
Prilla
Alhamdulillah kalo kamu baik. Pokoknya jaga kesehtan selama jauh dari kita.
Iya, nnti klo pulang tidurnya kakak peluk deh, tar sekalian kakak belin lolipop satu biji, takut gigi kamu ompong.
Kalo soal calon kakak, nanti kakak tflon kamu aja buat cerita.
Setelah mengetik balasan. Ila bergegas menuju sekolahnya. Ia tidak ingin datang terlambat. Karna dari kecil dia sudah diajarakan sikap disiplin. Hari ini ia memakai mobil papahnya. Mobilnya belum selesai karna suku cadang untuk mobilnya belum tersedia, mungkin 5 hari kemudian baru akan dikirim. Prilla sendiri tidak sempat jika harus mencari bengkel lain untuk memperbaikinya.
Ia lantas menjalankan mobil hitam papahnya. Mengejar waktu sebelum macet terlalu parah. Karna ia paling tidak suka dengan acara macet-macetan. bukan apa-apa,ila hanya tidak terlalu suka mendengar bunyi klakson kendaraan yang selalu saja mendominasi saat macet tiba. Harusnya mereka juga sadar bahwa sekeras apapun bunyi klakson yang mereka keluarkan, itu tidak akan langsung bisa mengurai kemacetan. Om telolet om..
Baru terlihat beberapa kendaraan yang terparkir diarea parkir sekolah saat Prilla sampai. Murid-murid pun juga baru nampak beberapa. Ila berjalan santai melewati area parkir sekolah. Menikmati masa-masa ini, masa dimana ia akhirnya bisa mewujudkan cita2nya menjadi seorang guru.
__ADS_1
Ia masih fokus pada pikirannya sendiri saat menyusuri lorong sekolah yang masih sepi. Melihat kelas-kelas anak TK membuatnya teringat masa kanak-kanak dulu.
Ia tersenyum mengingat dulu ia dan Prilly saat baru pertama sekolah. Prilla saat itu sangat pemalu, namun berbeda dengan adiknya. Adiknya bisa dibilang sangat aktif. Bahkan Prilly yang mengajaknya untuk masuk kekelas dan berkenalan dengan teman-teman yang lain. Mamah yang saat itu mengantarkan hanya tersenyum melihat 2 anaknya yang sama namun berbeda. Bagi orang tuanya, Prilla dan Prilly saling melengkapi dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing Orang tua mereka pun sama sekali tidak pernah membeda-bedakankan dalam segala hal. Mereka mendidiknya untuk tidak saling iri satu sama lain, harus saling berbagi entah suka maupun duka. Oleh sebab itu dia dan adiknya jarang bertengkar.
Ia lantas masuk menuju ruang guru, segera ia menuju mejanya. Tak lupa ia menyapa teman sesama gurunya.
"pagi bidadari? "goda pak Anton yang tiba-tiba muncul.
Yang membuat ila seketika melihat kearah suara. Ila hanya menanggapi dengan senyuman.
"Jangan mau digombalin bu, korban dia banyak" timpal bu Melda yang tengah asik menyantap sarapan paginya sambil tertawa.
"Ibu melda kalo cemburu bilang aja. Nanti ada gilirannya kok buat ibu"jawab Pak anton dengan santainya sambil mengedipkan sebelah matanya kearah bu Melda.
"emangnya saya apaan hah? Digilir-gilir. " ucap bu melda tak terima.
"emang mau dianggep apa bu? Istri?
Tenang, sepulang mengajar saya akan langsung melamar ibu" ucap pak anton dengan gaya sok coolnya.
Bu Melda memutar bola matanya malas dan kembali melanjutkan santap paginya.
"istri keberapa pak anton?ke 2 "Pak Angga yang sejatinya teman sepermainan pak Anton iku menyahut.
"berapa lagi? "jawab pak anton sambil tertawa diikuti pak Angga secara bersamaan.
"dasar playboy"gerutu bu melda sambil melemprkan kertas kearah pak Anton dan pak Angga.
Prilla hanya tersenyum melihat drama yang sudah sering kali terjadi ini. Walaupun sering bercanda tidak jelas, mereka akan baikan kembali. Mereka juga tau batas-batas dalam bercanda. Mereka memahami bahwa dari mereka sudah ada yang berkeluarga. Jadi harus sesuai batas-batas wajarnya.
Ila berjalan menuju kelasnya bersama bu Nadia. Setelah beberapa hari berkenalan kini mereka terlihat lebih akrab. Mereka sudah tidak canggung lagi untuk sekedar bertanya dan sesekali melontarkan guyonan satu sama lain.
"saya kekelas dulu ya bu? "pamit ila pada nadia saat tiba dipersimpangn.
"oh ya, saya mau keperpus dulu. "ucap bu Nadia kemudian.
Suasana terlihat ramai, maklum ini taman kanak-kanak. Beberapa terlihat asik mengobrol bercerita yang lainnya bermain. Tidak menyadari bahwa gurunya sudah duduk dan bertopang dagu sambil tersenyum memandngi murid2nya.
"Assalmualaikum"sapa ila. Yang seketika membuat perhatian anak-anak tertuju padanya.
"waalaikumussalam"jawab mereka serempak sambil tersenyum.
Setelah itu mereka berdoa sesuai dengan pembiasaan sehari-hati.Selesai mengabsen dan sedikit mengajak bercanda pada murid ya ia lantas melanjutkan materi pembelajarannya. Hari ini pembelajaran membaca. Dengan sabar dan telaten Prilla mengajari mereka. Interkasi antara guru dan murid ini sangat aktif. Oleh sebab itu Prilla mudah sekali akrab dengan mereka. Begitupun sebaliknya.
Pembelajaran berjalan dengan lancar seperti biasa. Sendau gurau dengan anak2 selalu Prilla lakukan agar anak2 tak mudah bosan.
"Bu cantik.. "panggil salah satu anak murid lakin2nya dengan antusias.
Prilla yang tengah asik mengajari murid lain yang belum bisa menengok kearahnya.
"kenapa sayang? Ada yang belum bisa?" tanya Ila lembut sambil berjalan menghampirinya.
"lanjutin crita yang tidur digua"ucap anak itu dengan memperlihatkan puppy eyesnya. Ila yang terlihat gemaspun tak kuasa untuk mencubit pelan pipinya. Anak2 lain yang mendengar itupun seketika menoleh pada Ila.
"iya bu lanjutin" rengek mereka dengan nada manja.
Ila menghembuskan nafas pelan sambil tersenyum kearah anak muridnya.
"baiklah, tapi tugas kalian harus selesai terlebih dul" ucap ila
"yah... "keluh mereka serempak
"enggak boleh gitu. Kita ngak boleh menunda -nunda tugas. "jelas Prilla pada anak muridnya yang tertunduk lesu
"ibu janji deh, kalo kalian udah selesai nanti langsung ibu lanjutin sampai habis ceritanya"sambung Prilla kemudian yang diiringi suara girang dari anak muridnya.
Prilla melihat arloji yang melingkar ditangannya, "setengah 12" gumam ila dalam hati. Siang ini akan ada rapat lagi sampai hari acara ulang tahun sekolahnya benar-benar siap. Ia berjalan melewati kelas-kelas yang sudah dibubarkan setengah jam yang lalu.
Karna jam mengajarnya sudah habis ia memutuskan untuk kemusholla sekolah sambil menunggu azan dzuhur. Setelah sebelumnya ia terlebih dahulu meletakkan buku2 mengajarnya kemeja kerjanya.
Terlihat beberapa guru juga tengah asik duduk sambil mengobrol. Prilla pun langsung bergabung bersama mereka karna memang sudah saling mengenal.
*****
__ADS_1
Please. Tinggalin jejak.
Jangan lupa buat follow akun aku. Instagram juga boleh(@inda_r99), kalo ada yg mau.. Wkwkwk