CINTA TAK SEIRAMA

CINTA TAK SEIRAMA
Chapter 7


__ADS_3

Tak lam kemudian mereka sampai didepan rumah Ali. Ali langusung memencet bel sambil ,mengetuk pintu dan mengucap salam.


Tak lama kemudian Bundanya datang membuakkan pintu dengan raut wajah keheranan. Mereka lantas mencium punggung tangan bunda Resi bergantian.


"Nanti Ali critain, kasihan Ila udah kedinginan bun" ucap Ali saat melihat wajah keheranan bundanya. Prilla tersenyum kikuk.


Bunda Resi mengangguk. Ia lalu menyilahkan Prilla masuk dan mengantar Prilla kekamar tamu untuk mandi disitu.


Sedangkan Ali langsun menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Bunda cariin baju kaia dulu ya? " ucap bunda Resi saat sudah mengantarkan Prilla didepan kamar tamu.


Prilla tersenyum. " terima kasih tante." balas Prilla. Prilla langsung masuk kekamar untuk membersihkan diri. Sedangkan Bunda Resi mencarikan pakaian ganti untuk Prilla.


Prilla memakai gamis berwarna abu-abu milik kaia yang sudah bunda Resi carikan. Sedikit kebesaran, tapi Ila tak mempermasalhkan. Ia lantas mengambil hpnya yang tadi dicas, ia segera mengabari orang tuanya perihal keadaanya sekarang. Setelah mendapat balasan dari orang tuanya ia pun bergegas keluar kamar.


Prilla mengedarkan pandangannya kerumah Ali.


Rumah Ali didominasi cat warna putih dengan ruang tamu yang lumayn besar dan terlihat nyaman. Sebuah foto ukuran besar yang memperlihatkan keluarga besar Ali tmapak terpasang disalah satu dinding. Juga beberapa bingkai foto ukuran kecil dan sedang yang menampakkan berbagai foto Ali dan kaia sewaktu kecil yang terlihat sangat menggemaskan, juga foto Fikri dan pernikahan kaia juga ikut terpajang rapi disebuah meja televisi.


Sambil berjalan pelan Prilla terus memandangi jajaran foto-foto yang terpajang di sebuah lemari kaca. Tapi tiba-tiba matanya terfokus pada sebuah foto ukuran sedang yang menampkkan sesosok laki-laki tengah tersenyum lembut didalam kokpit pesawat, ya itu Ali. Dan ada pula beberapa foto Ali dan teman-teman pilot serta pramugari yang tertata rapi dilemari itu.  Dan ada juga miniatur pesawat yang ikut mengisi lemari bening itu.


Setelah puas memandangi foto-foto itu. Ila pun bergegas menuju kedapur. Terlihat tante Resi tengah sibuk menyiapkan makan malam. Melihat tante resi seperti ini, ia jadi teringat dengsn mamahnya.


"maaf tante, ada yang mau dibantu? "tanya ila menawarkan diri. Bunda resi yang baru saja mematikan kompor, berbalik badan dan tersenyum ke arahnya.


"eh, sayang. Udah sholat maghrib belum?".


"alhamdulillh udah tan. Mana yang mau dibantu? "tanya ila lagi dengan lembut.


"Alhamdulillah kalau begitu. Enggak ada. Cuma tinggal numis jamur doang kok. Habis tu beres. " jawab bunda Resi.


Karna acara masak sudah hampir selesai, Prilla memilih untuk membantu menyiapkan makan malam dimeja makan saja. Mengambil piring dan gelas dan merapikannya dimeja makan. Seenteng itu.


Sebenarnya Prilla sendiri sudah sangat gugup karna ini pengalaman pertamanya.  Ia sunggu merasa gerogi. Tapi semoga calon mertuanya itu tidak menangkap gelagat kalau dia sedang gerogi.


"Ila, tante minta tolong boleh? "Tanya bunda resi yang tengah mengambil air dingin dari lemari es


"iya Tan, boleh kok" jawab ila lembut .


"Panggilin Ali suruh makan dulu, Kamarnya dilantas atas. Pintu pertama dari tangga. "ucap Bunda Resi sambil tersenyum ramah padanya.


Ila sempat ragu,ia merasa malu. Tapi jika menolak ,ia takut membuat tante resi kecewa. Tanpa berpikir panjang, ila pun berlalu menuju kamar Ali.


Saat sampai didepan kamar Ali, sayup sayup terdengar ada orang mengaji. Tangan Ila yang sudah berisap mengetuk pintupun,ia urungkan. Ia lebih memilih untuk menunggu Ali selesai mengaji. Tak lama setelah itu suara Ali mengaji sudah tak terdengar lagi.


Saat tangannya terangkat hendak mengetuk pintu, tanpa diduga Ali sudah lebih dulu membukanya. Mereka yang sama-sama terkejut, diam untuk beberapa saat. Jarak wajah mereka tak terlalu jauh membuat mereka saling adu pandang beberapa saat. Saling menatap binar mata satu sama lain dalam keterdiaman yang disertai irama detak jantung yang semakin terpompa kencang. Merek sama-sama bisa melihat binar mata satu sama lain dengan jelas, sama-samq mengagumi keindahan yang sulit untuk terdefinisikan.

__ADS_1


Prilla yang lebih dulu sadar segera mengerjapkan matanya dan langsung menundukan matanya.


"maaf mas, Tante nyuruh makan malam dulu"ucap ila dengan tetap menunduk . Sambil berusaha untuk menenangkan kembali irama jantungngnya yang sempat melonjak tak terkontrol.


Ali pun merasa salah tingkah, ia mengaruk tengkuknya yang tak gatal.


" oh iya.. Ayo"jawab Ali sambil menyilahkan Prilla untuk berjalan lebih dulu. Ali sendiri pun sama. Dia menghela nafas pelan untuk menenangkan detak jantungnya.


Mereka pun berjalan tanpa ada perbincangan.


Bunda Resi yang melihat kedatangan Ali dan Prilla pun tersenyum sumringah. Mereka lantas makan bersama.


"oh iya, tadi katanya mau cerita, "ucap bunda resi menagih janji Ali.


Ali yang baru saja menyelesaikan makannya pun tersenyum simpul,begitupuan Prilla. Ali pun menceritakan perihal mobilnya yang mogok hingga bertemu dengan Ila dan tak lupa menceritakan mobil Ila yang ikut mogok juga. Bunda Resi yang mendengarnya pun terkekeh.


"terus mobil Prilla gimana? "tanya bunda resi kemudian


"Tadi Ali udah nyuruh orang bengekel buat ngambil bun. Sekalian buat benerin"jawab Ali singkat.


"Tapi kok Prilla bisa lewat sini? "tanya bunda resi Pada Prilla


"iya tan, soalnya tadi ila habis nganterin temen ngambil mobil dibengkel, dan arahnya sini."jawab ila lembut.


"Itu tandanya Allah mau mendekatkan kalian" ucap bunda resi diiringi kekehannya. Ali dan Prilla hanya tersenyum kikuk.


Begitu pun Prilla. Pipinya terasa memanas mendengar ucapan bunda Resi. Tak jauh berbeda dengan Ali, Prilla pun tiba-tiba teringat kejadian tadi. Kata cinta dan rintik hujan. Ah.. Terasa begitu hangat.


Ali yang tak ingin ada godaan lagi dari bundanya pun memilih berlalu untuk menuju ruang tamu. Sedangkan Prilla ikut membereskan tumpukan piring kotor dan membawanya kewashtafel.


"Tante, habis ini Ila langsung pamit pulang ya? "ucap ila sambil mengelap piring yang baru ia cuci.


"kok buru-buru sih? Tante masih pingin ngobrol sama kamu lho? "


"takut kemaleman tante, "jawab ila sambil tersenyum


"ya udah gpp, biar nanti Ali yang anter pakai mobil tante"ucap bunda resi.


"gak usah tante, ngrepotin. Ila naik taxi aja." ucap ila tidak enak.


"anak gadis ngak baik pulang malem sendiri. Nanti Ali biar anterin pake mobil bunda. " jawab Bunda resi sambil mengelus bahu Prilla.


"maaf ya tante, ngrepotin"


"udah sih, tante kan bentar lagi juga jadi mamah kamu" ucap bunda resi.


Ila yang mendengar hal itupun hanya bisa tersenyum tersipu malu.

__ADS_1


*****


Didalam mobil mereka sama-sama diam. Bingung hendak memulai percakapan dari mana. Ila pun hanya terlihat fokus menatap jalanan yang masih menyisakan air hujan yang sudah reda beberapa saat yang lalu.


Alipun demikian, ia lebih fokus menyetir mobil. Dan seperti biasa, ia selalu mencuri pandang kearah Ila.


Prilla memilin ujung gamis yang dipakainya.


Sebenarnya Ila ingin menanykan sesuatu yang selalu mengganjalnya. Namun ia takut Ali menganggap ia berlebihan. Ila pun binggung sendiri. Dan setelah berpikir beberapa saat Ila pun memberanikan diri untuk bertanya. Ia memperbaiki posisi duduknya, menarik nafas perlahan.


"Mas, ehh... "ucap ila gugup.


Ali pun menoleh kearah ila sebentar.


"iya, kenapa? "tanya Ali sambil fokus menyetir


"boleh nanya ngak? "tanya ila dengan nada gugup. Ia terlihat membetulkan letak kacamatanya.


"silahkan"jawab Ali lembut. Ila pun menarik nafas perlahan dan menghembuskannya.


"kalo kita udah nikah, apa mas Ali bakalan nyuruh Aku berhenti jadi guru ?"tanya ila sambil melirik ke arah Ali.


Ali yang mendengarnya pun tersenyum simpul padanya.


"menggapa ia tersenyum? "tanya ila dalam hati.


"jawab dong mas? "ucap ila yang tak kunjung mendapat jawaban dari Ali.


"kalau kamu masih nyaman sama pekerjaan kamu, silahkan. Asalkan kamu bisa tahu posisi kamu sebagai apa. Aku ngk bakal melarang selagi kamu bisa membagi waktu antara pekerjaan,suami dan tentunya urusan rumah. Apalagi kalau nanti udah punya anak. Mau ngak mau kamu harus lebih pandai membagi waktu." Jawab Ali lembut.


Ila yang mendengar hal itupun tersenyum sumringah pada Ali.


"makasih mas"ucap ila.


"makasih buat apa? "tanya Ali yang keheranan.


"pokoknya makasih aja"ucap Ila sambil melemparkan pandangannya ke arah jalanan.


Ali pun hanya terkekeh mendengar jawaban Ila.


Selama perjalanan sesekali mereka saling melempar tanya. Dan itu membuat keduanya sudah tidak terlalu sungkan lagi untuk memulai pembicaraan.


Tak terasa mereka sudah sampi didepan rumah Prilla. Prilla menawarkan pada Ali untuk mampir terlebih dahulu. Tapi Ali menolaknya karna sudah terlalu malam. ila pun tak keberatn.


"titip salam aja buat om sama tante" ucap Ali dari dalam mobil.


"iya, nanti Ila sampaikan"ucap ila lembut.

__ADS_1


Ila pun menunggu hingga mobil Ali hilang dari pandangan. Setelahnya ia pun bergegas masuk kedalam rumah.


__ADS_2