CINTA TAK SEIRAMA

CINTA TAK SEIRAMA
Chapter 6


__ADS_3

   Semburat mentari pagi memaksa masuk melalui celah-celah korden kamar Ali.  Ia mengerjap-ngerjapkan matanya,mencoba menyesuaikan cahaya. Ia memutuskan untuk tidur kembali selepas sholat subuh karna masih terasa mengantuk.  Ia lalu beranjak kekamar mandi dan bersiap untuk bertemu dengan teman2nya  ditempat biasa ia berlatih gym.


     Ia memakai celana training berwarna hitam dengan kaos polo berwarna senada pula.  Tak lupa ia membawa earphone dan tas ransel yang berisi beberapa barang keperluannya.  Jam sudah menunjuk pukul 8 pagi saat ia keluar dari kamar.  Ia lantas berlalu menuju kedapur untuk membawa botol air minum dan beberapa potong roti tawar yang sudah bundanya siapkan untuk sarapan paginya.


     Terlihat bundanya sedang menyirami tanaman sambil sesekali menyanyikan lagu yang Ali sendiri tidak tahu.  "Bunda" sapa Ali sambil memeluk bundanya dari belakang.Sedangkan bundanya agak terkejut mendapati tingkah putranya yang memang terkadang suka jail itu. "sarapan dulu"titah bundanya. "tar aja ditempat ngegym, Ali pamit ya? "ucap Ali sambil mencium punggung tangan bundanya.


"Assalamualaikum"ucap Ali kemudian, 


"Waalaikumussalam" jawab Bunda resi lembut.  Ia pun berjalan menuju garasi untuk mengeluarkan mobilnya.


  Jalanan terasa agak lenggang.  Namun kesibukan disana-sini masih terlihat sangat jelas. Suara klakson mobil menjadi lagu sehari-hari dijalanan ibu kota. Pedagang asongan menawarkan berbagi macam dagangannya, para pengamen terlihat naik turun berganti kendaraan untuk menjual suaranya. Melihat hal seperti ini, membuat Ali menjadi bersyukur atas kehidupannya yang lebih baik dari mereka. Saat lampu merah menyala, mereka akan mendatangi mobil2,menawarkan berbagai barang dagangannya. Tiba2 ada 2 orang anak kecil mengetuk2 kaca mobilnya, menawarkan beberapa dagangan yang Ali sendiri sebenarnya tidak ia butuhkan.  Ia lantas membuka dan membeli sebuah tisue dan air mineral,  ia merasa iba. Setelahnya ia memberikan uang 100 ribuan pada anak itu, kedua anak itu terlihat kebingungn karna tidak ada kembalian.  Alipun tersenyum dan mengatkan untuk mengambil saja kembaliannya.  Anak itu tersenyum manis kearahnya, menunjukkan raut bahagia di pagi yang terasa sesak diibu kota.


   Tempat biasa untuk Ali berlatih gym tidak terlalu jauh. Terlihat beberapa mobil temannya yang sudah sangat ia hafal terparkir rapi diparkiran ini. Ia lantas melangkah keluar. Melewati jajaran mobil2 . Hari ini tidak terlalu ramai, biasanya tempat ini akan ramai saat hari sabtu atau hari minggu.  Ia lantas bergegas masuk dan menuju ruang ganti untuk meletakakan tas diloker dan menyantap roti sandwichnya. Terlihat Andra ,dan sebentar, Ali masih belum yakin kalau itu sahabatnya yang hampir 2 tahun tinggal disingapura untuk memegang salah satu cabang perusahaan ayahnya itu.  "kevin?


"Panggil Ali dengan nada tidak percaya.


Kevin yang mendengar namanya dipanggil pun hanya menoleh dan tersenyum santai, seperti tak ada kerinduan sama sekali.  Ali yang sadar dirinya tengah dikacangi pun langsung bergegas menghampirinya dan memeluknya.


"sombong lu"ucap Ali sambil merangkul dan mengacak2 rambut sahabatnya itu.


"elunya aja yang lebay, "cibir kevin sambil membalas pelukan Ali.


"gimana kabarnya? "tanya kevin kemudian.


"seperti yg lu liat, alhamdulillah baik, lu sendiri gimana? "tanya Ali


"alhamdulillah baik juga.


"gue ngak dianggep ni? "celetuk Andra tiba2 sambil melihat sinis kearaha Ali dan kevin.


"kalo ama lu ma gue udah sering liat"jawab Ali santai. "lagian lu kenapa ngak kasih tau gue kalo Kevin udah balik? "tanya Ali.


"biar surprise aja"jawab Andra sambil terkekeh geli.


"udah sih. Kek gitu aja ribut"ucap kevin yang disambut kikikan dari Ali dan Andra.


 


Ali selalu menyempatkan untuk berolahraga disela sela kesibukannya dalam bekerja. Biasanya ia akan menghabiskan waktu sekitar 2 jam ditempat ini. Setelah itu ia akan berkumpul bersama teman2nya  dicafe.


                                       *****


  Jam sudah menunjuk pukul 4 sore saat ila selesai dari meeting untuk acara ulang tahun sekolahnya.  Ia berjalan santai melewati koridor sekolah menuju ruang guru.  Suasana terlihat sudah sangat sepi,ia lantas berjalan menuju mejanya untuk mengambil beberapa dokumen yang akan ia bawa pulang.


"Bu ila.. " sapa bu Nadia tiba2.


"iya, kenapa bu? "tanya ila sambil membereskan meja kerjanya.


"boleh nebeng ngak? Soalnya mobil saya lagi ada dibengkel bu" pinta bu Nadia dengan muka memelasnya. Disekolah ini bu Nadia memang menjadi temannya, walaupun belum terlalu dekat.  Sikapnya yang welcome membuat ila menjadi nyaman berteman dengannya.


"iya, boleh kok. "jawab ila sambil tersenyum dan berjalan keluar.  Diikuti bu Nadia.


Suasana parkiran sudah terlihat sepi. Hanya ada beberapa mobil yang masih terparkir. 


"keknya kita jadi penghuni terakhir disekolah deh bu" celetuk bu Nadia. Sedangkan ila hanya membalas dengan senyuman.


"rumah ibu arah mana? "tanya ila,


"boleh anterin ke bengkel aja ngak bu?  Sekalian mau ambil mobil. "pinta Nadia.


"boleh kok, "ila pun mengiyakan.


  Mereka mengobrol tentang berbagai hal selama dalam perjalanan.  Ternyta Bu Nadia itu sosok yang humoris, namun juga dewasa.


"Bu Nadia udah nikah? "tanya ila ,karna ia memang belum tahu akan hal itu.


"Belum bu, lagian saya ngak mau cepet2 nikah, pingin nikmatin masa muda dulu"ucap Nadia dengan nada santai. 


"Bu Ila udah? "tanya Nadi balik. 


"insyaallah sebentar lagi, doakan lancar ya bu? "jawab ila sambil melirik tersenyum pada Nadia.


"seriusan bu?  Ngak nyesel? "tanya Nadia dengan nada tak percaya.


"ya insyaallah.  Saya dijodohkan bu. Lagipula mungkin ini jalan bakti saya pada orang tua" jawab ila lembut.

__ADS_1


  Sepanjang perjalanan mereka berbincang membicarakan berbagai hal ringan.  Suasana diantara mereka jadi lebih terasa akrab. Tak lama kemudian mereka sampai dibengkel tempat mobil Bu Nadia diperbaiki. Suasananya tidak terlalu ramai, terlihat beberapa montir masih mondar mandir dengan kesibukannya masing2. Ila segera menepikan mobilnya, mencari posisi yang tepat untuk memarkirkan mobil.


"Bu Ila tunggu bentar ngak papa kan? "tanya bu nadia


"iya, santai aja" jawab ila lembut.


Tak lama kemudian Bu Nadia datang kembali.


"Bu ila kalau mau pulang ngk papa, saya nungguin mobilnya jadi dulu. Kata montirnya bentar lagi"ucap bu nadia .


"emang dari tadi belum selesai bu? "


"tadi ngantri katanya" jawab bu nadia.


"bener ni gpp, saya tinggal? "tanya ila meyakinkan.


"iya, gpp bu.  Makasih ya bu buat tebengannya"ucap bu nadia sambil tersenyum ramah kepadanya.


"kek sama siapa aja." jawab Ila dengan tertawa kecil. "kalo gitu saya duluan ya bu.  Assalamualaikum"pamit Ila.


"waalaikumussalm"jawab bu Nadia sambil dada kearahnya.


  Cuaca tiba2 menjadi mendung. Ila lantas memacu mobilnya lebih cepat lagi.  Takut jika nanti keburu hujan jalanan akan terendam banjir dan itu akan membuat perjalanan menjadi semakin lama, tau sendiri kan Jakarta banjirnya gimana.


   Ila masih tetap fokus mengemudikan mobilnya, sambil mendengarkn siaran radio kesukaannya.  Setidaknya itu bisa mengalihkan rasa bosan selama perjalanan.  Tiba-tiba matanya menangkap sosok yang tak asing baginya.  Ia lantas segera menepikan mobilnya ,menekan klakson mobil dan membuka kaca.


"lho, mas Ali? "tanya ila dengan keheranan, betapa ia tidak heran. Laki laki yang berprofesi sebagai pilot ini menggapa bisa berjalan kaki menysuri jalanan  sendirian. Bukankakah ia mempunyai mobil?


Mendengar ada yang memanggil namanya, Ali pun langsung menenggok dan tersenyum setelah tau siapa memanggilnya.


"kok jalan kaki mas? "tanya ila kemudian saat Prilla sudah sempurna memberhentikan mobilnya disis jalan.


"iya, soalnya tadi mobil aku tiba2 mogok. masih dibengkel, kata montirnya besok baru jadi. Mau telfon mama, hp lowbat"jawab Ali panjang lebar diiringi kekehan kecilnya.


"oh gitu, ya udah. Biar aku anter aja mas. Cuacanya juga mendung" ila mencoba menawarkan.  Tidak ada maksud apa-apa . Ini murni keinginannya untuk menolong Ali.  Tidak lebih dan tidak kurang. Apa lagi Ali calon suaminya. Opps? 


"ngak ngrepotin kan? "tanya Ali balik dengan tetap pada posisi berdiri dipinggir jalan.


"enggak kok, udah masuk aja".


"biar aku yang nyetir aja La, masa cewek yang nyetir" ucap Ali sambil tersenyum.  Sementara ila mengangguk mau. Ila lantas keluar untuk berganti posisi. 


  Tak terasa mereka mulai terbawa iringan lagu, ikut bernyanyi walau dengan suara yang terdengar agak samar.


"hafal lagu ini? "tanya Ali mencoba memecah kebisuan diantara mereka.


"hafal, lagu kesukaan"jawab ila sambil tersenyum kearahnya.


"sama dong"jawab Ali dengan sambil fokus pada kegiatan mengemudinya.


"Mas Ali tadi dari mana, kok bawa tas ransel? "tanya ila dengan tetap memandang kedepan.


"tadi habis nge-gym, habis tu ngumpul dulu ama temen2,".


"ohh"jawab ila lembut.


"kan kalo udah nikah ngumpul ama mereka bakalan jarang. Seringnya dirumah nemenin istri"jawab ali sambil terkekeh kecil.


"apa.an sih mas" ucap Ila tersipu malu.


"kamu kok pulang sore, ada rapat disekolah? "tanya Ali kemudian.


"iya, ada beberapa persiapan yang belum beres. Jadi harus diberesin secepetnya"jawab ila .


Alipun hanya mengangguk tanda mengerti.  Merekapun lagi-lagi sibuk dengan fikiran masing-masing karna sebenarnya mereka sendiripun bingung hendak memulai berbincangan ini dari mana lagi.


  Tiba-tiba mobil berhenti mendadak. Ila yang tadi hanya sibuk melihat  keluar jendela, kini menoleh ke arah Ali.


"kayaknya mogok deh La"ucap Ali dengan nada sedikit khawatir. Masalahnya ini sudah mendekati kompleks rumah Ali dan bengkel letaknya lumayan jauh.


"yang bener mas"


"aku cek dulu coba, siapa tau aku bisa"ucap Ali dan berjalan keluar. Terlihat kepulan asap saat Ali membuka bagian mesin mobil. Ia lantas terlihat sibuk mengutak atiknya. Ali sendiri sebenarnya tidak terlalu mahir tentang mesin mobil. Hey?  Dia pilot bukan montir.


Ali lalu mulai memeriksa bagian yang menjadi sumber kepulan asap. Walaupun tidak tahu tapi Ali tidak bodoh-bodoh amat. Setelah dirasa cukup, Ali lalu memberi perintah pada ila untuk men-starternya. Namun sayang,hasilnya tetep nihil. Beberapa kali mereka mencoba tapi tetap saja tak bisa. Ternyata otak jeniusnya sebagai captain pilot tetap tidak bisa digunakan untuk  menyelesaikan masalah mobil. Tapi yang penting bukan masalah hidup.

__ADS_1


  Ila melirik jam yang melilit ditangannya.  Jam sudah menunjuk pukul 5 seperempat. Ini sudah terlalu sore batinnya.  Ia pun keluar dan menghampiri Ali yang mendengus kesal.


"sepertinya hari ini bukan hari baikku"ucap Ali sambil bersandar pada kap mobil. Ila menatapnya sekilas. "memang kenapa, semua hari itu baik"ucap ila. 


"tadi mobil aku mogok, sekarang mobil kamu yang mogok. Emang nggak pantes ya kalau piloy nyetir mobil. "sungut Ali diiringi candaan ringannya. Ila hanya terkekeh geli melihat ekspresi sebal Ali.


Ali yang melihatnyapun heran. "kenapa tertawa? "tanya Ali karna merasa tidak ada yang lucu


"gpp, lucu aja liat ekspresi muka kamu" jawab ila tanpa bisa menutupi kekehannya.


Tiba2 hujan turun lumayan deras.  Ali dan Prilla langsung berjalan cepat menuju kedalam mobil. Didalam mobil keheningan kembali menyelimuti mereka.  Suara rintik hujan yang menimpa atap mobil menjadi lagu syahdu sore itu. 


"Rumah mas Ali masih jauh ngak? "tanya ila memecah keheningan. Ali yang dari tadi juga fokus pada guyuran hujan kini beralih menatap ila sekilas.


"kurang lebih 200 meteran sih"jawab ali serius. 


"jalan kaki aja yuk mas, takut disangka yang enggak-enggak kalo dimobil berduaan. Lagipula aku bawa payung dimobil"jawab ila pelan, takut kalo Ali akan merasa tersinggung akan ucapannya.


Ali yang mendengar hal itu tersenyum lembut padanya, ila yang melihatnyapun hanya bisa membalas senyuman, tiba2 ia merasa pipinya panas, semoga Ali tidak melihat pipi merahnya.


"payung satu gpp? "tanya Ali meyakinkan saat ia sudah bersiap keluar dari mobil.


"daripada difitnah yg enggak-enggak. " jawab ila . Alipun keluar dari mobil. Membukakan pintu dan memayungi ila agar tidak kehujanan. Ila sendiri sebenarnya risih, tapi mau bagaimana lagi. Sedangkan Ali sendiripun tau Ila akan merasa tidak nyaman. Tapi ini permintaan ila. Kalau dipikir2pun perkataan ila memang benar.


   Mereka lantas berjalan beriringan dibawah rintik hujan yang membungkus langit kota sore itu.  Suara rintik hujan menjadikan suasana terasa lebih syahdu. Jalanan terlihat sudah agak sepi karna ini bukan jalanan utama, hanya terlihat beberapa mobil yang masih berlalu lalang karan hari yang sudah sore ditambah hujan yang terasa makin deras menumpahkan butirannya kebumi.


  Ali dan Prilla masih betah dengan keheningan mereka.  Tak tau harus memecah keheningn dengan cara apalagi. Mereka berdua sama2 merasa malu untuk memulai percakapan.


Entah menggapa Ali merasa nyaman saat berada didekat Prilla. Rasa nyaman yang tak pernah ia rasakan dari siapapun selain keluarganya. Sesekali ia mencuri pandang kearah ila, memperhatikan setiap detail wajahnya, dan diam2 memahatnya dalam ruang hati yang sudah sekian lama tak terjamah itu. Udara dingin karna hujan bahkan tak terasa baginya, hatinya menghangat saat melihat Prilla, hatinya seperti menyalurkan hawa hangat pada organ tubuhnya yang lain. Lalu Alipun kembali fokus pada jalannya, memegangi payung hitam. Tak membiarkan gadisnya itu terlalu banyak terkena percik air hujan.


Tanpa Ali tau, Prilla juga merasakan hal sama. Ila merasakan rasa nyaman sekaligus aman saat berada disamping Ali. Perhatian kecil yang Ali berikan saat ini, seperti Ali lebih menyodrokan payung itu kearahnya ketimbang ke arah Ali membuat ila merasa  terenyuh, bukan hal yang besar memang. Tapi itu cukup untuk membuat ila yang terkenal tak mudah kena bujuk rayu lelaki menjdi sedikit tersentuh. Laki-laki ini tak membuatnya takut untuk mencoba merasakan perasaan yang lama tak ia rasakan. Bahkan ila sndiri lupa, kapan terakhir ia merasakn hal seperti ini.  Jikapun pernah rasa2nya tak sekuat sekarang ini. Degup jantungya berdetak lebih cepat saat ia tahu diam-diam Ali mencuri pandang kearahnya. Hatinya menghangat saat berada didekat Ali. "Apa ini cinta?  Ah, konyol sekali pertanyaanku"gumam Ila dalam hati .


"apa kamu pernah mendapati cuaca buruk saat penerbangan? "tanya ila sambil melirik kearah Ali. Kali ini dia yang memulai percakapan.


"pernah, dan aku paling tidak suka akan hal itu"jawab Ali sambil terus berjalan .ila lantas mendengarkan beberapa hal tentang dunia penerbangan yang jarang ia dengar sebelumnya. Ia tertawa geli saat melihat ekspresi Ali yang kesal karna ternyata penerbangan perdananya dulu pernah tertunda karna cuaca buruk. Sungguh ila tak bisa menutupi tertawanya.


"Tau ngak, ini adalah cuaca buruk pertama yang paling aku suka dan tak kan kulupa?" ucap Ali tiba-tiba sambil menatap kearah ila .Prilla heran mendengar ucapan Ali.


"Kok bisa? "tanya ila dengan menaikkan satu alisnya.


"karna aku baru sadar, mendung dan hujan tak selamanya mengajarkan tentang kepedihan. Ada kalanya mendung dan rintik hujan itu menjadi hal yang sangat romantis dan penuh rasa bahagia. Seperti halnya saat ini. Saat aku bisa menikmati rintik hujan bersamamu. "ucap Ali sambil tersenyum lembut kearah Ila. Ila tak bisa menyembunyikan rona merah dipipinya, ia dibuat malu oleh ucapan Ali sendiri. Ia segera memalingkan mukanya, menatap rintik hujan yang tak kunjung reda.


Ali yang melihat sikap Prilla hanya bisa tersenyum senang.  Sungguh ia bahagia melihat ila tersenyum tersipu seperti itu, terlihat mengemaskan.


Meraka pun melanjutkan perjalanan. Hujan masih belum ada tanda2 hendak berhenti.


Ali tiba tiba berhenti "ila... "panggil Ali lembut. Prilla yang menyadari Ali berhentipun ikut berhenti. Ali memandang Ila begitu dalam. Untuk beberapa saat pandang mata mereka mengunci satu sama lain. Sepasang retina mereka saling bertatapan. Menunjukkan binar kekaguman yang belum terucapkan. Suara rintik hujan mengalun merdu bak simfoni yang mengiringi suasana syahdu sore itu.


Tak lama,  Ila  tersadar dari tingkahnya yang memandangi Ali. Ia pun segera menunduk, sedangkan Ali masih setia dengan tatapannya. Rasanya Ali tak pernah bosan untuk berlama-lama menatap mata hazel yang terbingkai kaca mata itu. Ali berjalan mendekat, hingga jarak antara dia dan Ila hanya berkisar kurang lebih sejengkal. Hembus nafas mereka terkalahkan oleh angin dan hujan. Namun itu tak menghilangkan rasa gugup diantara mereka berdua. Apalagi Prilla. Ini adalah pengalaman pertamanya ditatap sedemikian dekat oleh lelaki.


Suasana jalanan yang sepi karna hari sudah sore ditambah dengan hujan, membuat suasana diantara mereka terasa hening bagi mereka walau suara rintik hujan yang bertubrukan dengan aspal dan dedaunan masih mengalun begitu memekakakan telinga.


"Prilla... " lirih Ali memanggil Prilla. Prilla yang tadinya menunduk pun memberanikan diri menatap Ali. Menatap mata hitam yang kini tengah memandangnya begitu dalam dan penuh kelembutan.


Ali memajukan tubuhnya agar lebih dekat. Ia menghembuskan nafas pelan. Dengan jarak yang begitu dekat, Prilla bisa merasakan aroma mint dari hembusan nafas Ali. Prilla dibuat sangat gugup, nafasnya tercekat dan tertaha . Dengan posisi masih saling berpandangan,  Ali memberanikan diri..


" Aku mencintaimu" lirih Ali, namun masih bisa terdengar jelas oleh Prilla.


Dibawah riuh renyai rintik hujan, Ali memberanikan diri mengungkapkan perasaanya. Biarlah awan menertawakannya atau jalanan akan mencibirnya.  Ucapan itu keluar begitu saja, saat ia sudah mendapat keyakinan saat melihat binar dimata Prilla.


Prilla membulatkan matanya. Prilla yang mendengar hal itu sungguh tak menyangka, bukan tidak suka. Sungguh ia menyukainya. Nada ketulusan begitu terdengar jelas disuara Ali. Pembuluh darahnya berdesir hebat mendengar ucapan itu. 


Dan mata itu, mata hitam legam dengan bulu mata lentiknya,memperlihatkan sorot penuh ketulusan. Sorot mata yang membuat ila ingin menatapnya lama.


  Ali binggung melihat sikap Ila yang diam dan menatapnya dengan eksprei yang tak terbaca. "Apa prilla tidak suka? Bukankah sebentar lagi mereka akan menikah?  Apa aku salah? "berbagai tanya mengmpiri hati Ali. 


"Maaf kalau aku salah." ucap Ali penuh sesal. Walau sebenarnya dalam hatinya mengatakan bahwa bukankah hal yang wajar kalau seorang lelaki mengutarakan cintanya?  Terlebih dengan wanita yang sebentar lagi akan dinikahinya? Gumam hati Ali.


Prilla tersenyum menanggapi ucapan Ali. Sedetik kemudia,  seulas senyum lembut tercipta dibibir tipis Prilla.


  "mas, cinta itu adalah perbuatan dan bukti  nyata.  tulisan dan kata kata indah adalah omong kosong belaka. buktiin ke aku setelah ijab qobul kita nanti mas"jawab ila dengan seulas senyum lembut .  Ali yang mengerti akan jawaban Prilla pun mengangguk dan tersenyum lembut.


Ya, Prilla benar. Tulisan dan kata-kata indah hanya akan mejadi seongok hal yang tak berguna kalau tanpa ada aksi nyata untuk membuktikan cinta.


 Memang benar, hujan itu selalu menyimpan kenangan. Dan yang baru saja terjadi adalah kenangan yang tak akan pernah terlupa.  Lantas mereka pun melanjutkan perjalanan yang tinggal bebrapa puluh meter lagi. Setidaknya udara dingin tidak begitu terasa oleh dua jiwa yang baru saja merasa hangat oleh pernytaan cinta yang  tak pernah terduga sebelumnya. Lebih tepatnya pernyataan cinta Ali, namun bisa membuat hati Prilla menghangat.

__ADS_1


  Ah hujan,  kau selalu saja membuatku diam terpana. (author)


             


__ADS_2