CINTA TAK SEIRAMA

CINTA TAK SEIRAMA
Chapter 9


__ADS_3

Ali menyeret kopernya santai sambil sesekali bersendau gurau bersama teman sesama pilot, maupun pramugari dan pramugaranya. Suasana bandara layaknya pasar 24 jam yang tak habis oleh pengunjung. Beberapa orang tersenyum kearahnya, sebenarnya itu hal biasa bagi Ali. Alipun membalas dengan senyuman tipis.


Ia memilih untuk terlebih dahulu membeli secangkir kopi untuk menghilangkan kantuknya. Maklum saat ini jam masih menunjuk pukul 11 malam waktu singapura. Setelah itu ia langsung kembali bergabung dengan temannya untuk mempersiapkan penerbangan kembali ke Jakarta.


Ia memasuki pesawat dengan langkah pasti. Menyapa orang-orang dan membalas senyuman yang diberikan penumpang padanya. Walaupun begitu masih ada saja yang mengatakannya muka datar. Sebenarnya Ali sendiri bukan pribadi yang cuek, ia bisa dibilang cukup ramah. Ia hanya tidak ingin dibilang lelaki yang suka tebar pesona pada orang lain karna sifat ramahnya. Oleh sebab itu ia hanya menunjukkan sikap sebenarnya hanya pada orang terdekat dan orang yang sudah mengenalnya.


Saat didalam pesawat,pandangannya terfokus pada seorang anak yang kira2 baru berumur satu tahun yang tengah digendong oleh ayahnya. Seulas senyum tercipta diwajah Ali, membayangkan bagaimana nanti jika ia sudah menjadi ayah. Pandangannya masih terus memperhatikn orang tersebut, melihat bagaimana sang ayah dengan sabar menenangkan ananknya yang mulai rewel. Entah kemana ibunya.


Karna semakin lama suara tangisan anak itu semakin kencang, Ali tak bisa menahan diri untuk datang menghampiri. Lagipula dia juga sudah terbisa mengendong anak kakaknya dulu saat masih balita.


"hai cantik, kenapa nanggis" ucap Ali sambil tersenyum kearah ayahnya.


Ayahnya dari balita itu membalas senyuman Ali.


"sini sama om sini"tawar Ali mencoba mengendong anak tersebut.


Ayah anak itupun tidak keberatan. Ali mencoba menenangkan anak tersebut. Menimang2nya sambil sesekali mengajak bercanda. Tak berselang lama tangisnyapun mulai reda.


"ibu nya kemana pak? "tanya Ali dengan tetap mengendong bayi dengan pipi gembil dan aksesoris bandana berwarna pink tersebut.


"lagi ketoilet pak,"ucap ayah anak tersebut sopan.


Tanpa Ali sadari, sedari tadi penumpang yang lain terus memperhatikan sikap manis Ali. Mereka tidak mengira jika captain pilot yang tampan ini juga handal dalam meredakan tangis bayi.


"Cap, checking pesawat. " ucap Bayu mengingatkan dari ambang pintu kokpit.


"oke, sebentar"jawab Ali sambil menyerahkan bayi tersebut pada ayahnya.


"terima kasih cap" ucap ayah bayi tersebut ramah.


"sama-sama. " balas Ali. .


kemudian Ia bergegas menuju ruang kokpit. Sedangkan pramugari dan para penumpanh yang melihat Alipun tak kalah terkejutnya melihat Ali yang bisa bersikap sangat manis pada anak kecil. Bisa menenankan tangis bayi.


Tak berselang lama pesawatpun take off dengn lancar.


*****


Prilla masih sibuk disekolahnya bersama guru yang lain untuk mempersiapkan acara ulang tahun sekolah.


Panggung terlihat sudah rapi dengan hiasannya. Kursi tamupun juga sudah berjajar rapi.


Jam sudah menunjuk pukul 4 saat ia berjalan menuju ruang guru. Sudah waktunya pulang, persiapan pun sudah siap semuanya. Saat tiba disana terlihat guru-guru tengah bersiap untuk pulang juga, karna ini memang sudah jam pulang. Ia segera mengambil tas selempangnya dan berpamitan pada guru yg lain.


Ia membuka hpnya dan segera membaca notif pesan dari bu nadia. Ternyta bu Nadia sudah menunggunya diparkiran. Karna hari ini Ila tidak membawa mobil. Dan kebetulan sekali bu nadia menawarkan tumpangan padanya.


Setelah melihat mobil bu nadia, ia lngsung bergegas menujunya dan memasuki mobil. Tak berselang lama mobil merah itupun melaju meninggalkan area parkir yang semakin lama akan semakin sepi.


Selama perjalanan mereka saling bertukar cerita dan bersendau gurau. Kini mereka terlihat semakin akrab. Jika diluar lingkungan sekolahpun mereka memanggil cukup dengan nama.


Tiba2 Prilla teringat akan sahabatnya semasa SMA yang bernama Keke. Sudah lama sekali ia tak bertemu. Terahir bertemu saat wisuda kelulusan sekolah. Setelahnya mereka tak bertemu lagi. Bisa dikatakan mereka lost contac. Terkahir Prilla mendengar bahwa sahabatnya itu kuliah di Amerika karna desakan orang tua. Lamunannya tentang Keke tiba2 buyar saat Nadia menginjak rem dengan tiba-tiba.


"astaghfirullah" ucap mereka bersamaan.


"kenapa Nad? " tanya Ila dengan raut wajah cemas.


"enggak La, gpp. Tadi gue tadi refleks aja ada orang main nylonong .untung ngak ketabrak."jawab Nadia sambil menyingkap rambutnya yang agak berantakan.


"udah Nad, yang penting ngak ada yang terluka"jawab ila kemudian. Nadia pun melanjutkan perjalanannya yang sempat terganggu tadi.


"eh Nad, mau nanya ni, tapi janji jangan marah ya? Tanya ila sambil melirik ke arah Nadia. Nadia yang mendengar ada nada keseriusan segera melirik ila sambil mengangguk.


"kapan punya rencana nikah? "tanya ila sambil terkekeh melihat ekspresi Nadia yang langsung berubah sebal.


"ah, lu ma. Kan gue udah pernh bilang. Gue belum mau mikirin itu. Gue masih pingin happy menikmati masa muda gue" jawab Nadia santai.


"tapi pacar pasti ada dong? "tanya Prilla.


"apaan sih La, gue jelasin ni ya. Gue akui gue tu emang cantik. Banyak yang ngantri didepan rumah gue. Tpi ya itu, gue belum nemu yang cocok aja"jelas Nadia panjang lebar dengan banganya. Prilla tertawa geli mendengar penjelasan temannya itu.


"palingan yang ngantri juga tukang sayur depan kompleks" timoal Ila sambil tertawa.


"enak aja." protes Nadi. "Lagian ni ya La. Gue tu emang ngak terlalu suka sama yang namanya pacaran. Bagi gue pacaran tu ngak perlu. Yang diperlukan dalam menjalin hubungan tu komitmen yang kuat. Orang seusia kita tu udah nggak jaman main pacara-pacaran terus ngambek-ngambekan karna alasan gak jelas. " cibir Nadia dengan tatapan fokus pada jalanan. "Kalo disuruh milih, gue milih kayak lu aja La. Ngak pacaran,tapi lamaran trus nikah." imbuh Nadia .


"emang bener sih ucapan kamu Nad. Komitmen itu lebih dibutuhkan ketimbang sebuah status pacaran. " sahut ila, nadia yang mendengarnya pun mengangguk setuju.


Sisa perjalanan mereka isi dengan berbagai obrolan sambil mendengarkan lagu2 dari radio.


****


Ali merebahkn badannya diranjang sekedar untuk merileks kan otot2nya.Ia kemudian mengambil hp dinakas. Mencari no kevin untuk mengajaknya nongkrong ditempat biasa mereka berkumpul


Ali


Masih diindo kan?


Tak berselang lama Kevin membalasnya.


Kevin


Iya, gimana bro?


Ali


Besok ngumpul yuk, ditempat biasa. Sama Andra juga


Kevin


Oke, jam berapa?


Ali

__ADS_1


Pagi jam 9


Kevin


Oke siap


Ali memutuskan untuk keluar kamar mencari udara segar. Terlihat bundanya tengah menonton tv sendirian. Alipun menghampiri dan mengurungkan niatnya untuk ketaman belakang rumah. Bunda Resi yang menyadari kedatangannya pun tersenyum. Ali langsung mengambil posisi duduk disebelah bundanya.


"Li, nanti setelah kamu nikah,bunda mau tinggal diBandung ya? "ucap bunda resi pelan.


Dahi Ali tampak terlipat.


"lho, kok gitu? Emang kenapa bun?kan kalau disini bunda bisa deket sama Kakak, Ali, Bang Dani, fikri" jelas Ali


"Bukannya gitu, butik bunda yang dibandung kan udah terlalu lama bunda tinggal. Bunda pingin punya kesibukan Al. Lagian kalau dibandung kan udaranya seger. Baik buat kesehatan bunda" ucap bunda resi lembut.


Ali pun tampak berpikir sejenak. Sebenarnya apa yang bunda katakan ada benarnya juga. Mengingat bundanya memiliki penyakit pernapasan membuat Ali tidak tega jika tidak menuruti kemauan bundanya. Lagipula yang dikatkan bundanya memang benar.


"bunda udah bilang ke kakak sama abang?"tanya Ali lagi.


"udah, mereka awalnya juga ngak bolehin. Tapi akhirny mereka mau. "


"kalau itu baik buat bunda gpp. Tapi bunda ngak boleh sendiri.harus ada yang nemenin. Terus ngurus butiknya juga jangan sampai kecapean"tambah Ali panjang lebar.


"kamu lupa ya, kan disana ada Baja ada Bik Rum juga "jawab bundanya sambil terkekeh kecil.


Sedangkan Ali baru mengingat bahwa disana juga ada sepupunya. Ali hanya khawatir pada kondisi bundanya. Mendengar jawaban bundanya Ali tersenyum. Lalu membawa bundanya kedalam pelukannya. Ia begitu menyanyangi bundanya. Ia hanya tidak ingin bundanya kenapa2.


Karna merasa acara tv membosankan,Ali lebih memilih untuk kembali kekamar.


Ia menyandarkan punggungnya dikepala ranjang sambil menatap layar handphonenya dengan raut wajah binggung.


"telfon-engga, telfon-engga"Ali berdebat dengan dirinya sendiri. Ia ingin menelfon Ila untuk mengabari bahwa mobilnya telah selesai dan ia sendiri yang akan mengantarkannya. Namun ia malu, ia takut disangka terlalu mencari perhatiannya. Selama kurang lebih 10 menit,Ali hanya memandangi ponselnya dengan ekspresi datar. Sesulit itukah hanya untuk memutuskn sebuah urusan kecil? Ali mengusap wajahnya kasar.


Kenapa harus malu? Lu kan cowok. Sisi lain dari hatinya berkata demikian. Tanpa pikir panjang Ali langsung memncet no ila dan menelfonnya. Nada sambung terdengar beberapa saat. Tak lama suara sapaan membekukan tubuhnya. Hany mendengar suaranya jantungnya sudah berdetak dua kali lebih cepat.


"halo assalamualaikum? "sapa ila untuk yang kedua kalinya. Yang berhasil mengembalikan Ali kealam sadarnya.


" wa.. waalaikumussalam"jawab Ali dengan teragap.


"kenapa mas? Tumben malem2 telfon?"tanya Prilla lembut dari sebrang sana.


"oh iya, mobil kamu udah jadi. Besok mau aku anterin. "ucap ali


"ngrepotin mas, nanti biar saya saja yang mengambilnya"tolak ila dengan lembut.


"enggak kok, lagipula besok saya ngak ada jadwal flight"ucap Ali


"maaf ya Mas, jadi sering ngrepotin"


"saya ngak merasa direpotin kok. Mau saya antarkan jam berapa? "tanya Ali lagi.


"kalau sekitar jam setengah 12 gimana mas? Tapi maaf sekali lagi, tolong anterin kesekolah saya saja. Bisa ngak? "ucap Ila .karna jika Prilla menyuruh untuk mengantar pagi, ila tidak enak dengan Ali. Masa pagi-pagi udah nyuruh-nyuruh aja. Jadi suami aja belum.  Pikir ila.


"makasih ya mas. Maaf sekali lagi"Ali terkekeh mendengar jawaban Ila.


"iya sama2. Udah malem. Tidur"saran


Ali yang tanpa Ali tau, Ila disana tersenyum mendengar ucapannya


"iya mas, "


"sebelum kamu tidur aku boleh ijin ngak?"  Tanya Ali.


"maksud mas? "tanya Ila dengan nada keheranan.


"aku mau ijin buat masuk kemimpi kamu" gombalan receh Ali keluar juga.


Disisi lain, Prilla tersenyum mendengar gombalan dari Ali. Ia tidak menyangk bahwa lelaki seperti Ali ternyta bisa juga bersikap gombal. Padahal wajahnya terlalu didominasi ekspresi datar.


"udah ya mas, udah malem." jawab Prilla diiringi kekehan kecilnya. Assalamualaiku" imbuh Prilla. .


Ali yang mendengar kekehan Prilla menjadi malu sendiri. Dia sendiri tidak tahu, kenapa dia bisa bersikap seperti itu pada Prilla. Padahal dirinya tak pernah menggoda wanita diluar sana.


"Waalaikumussalam"jawab Ali.


Seulas senyum tercipta disudut bibir Ali. Setelah itu ia memutuskan untuk tidur. Tak lama matanya terpejam. Menuju alam bawah sadarnya.


****


Sedangkan Prilla ia masih duduk sambil bersandar dikepala ranjang. Menunggu telfon dari adik tercintanya. Akhir2 ini adiknya sangat sibuk sehingga sangat sulit untk dihubungi.


Sesekali pikirannya melayang pada Ali. Sosok yang baru ia kenal beberapa minggu ini. Bahkan sebentar lagi acara pernikahannya pun akan digelar. Persiapan sudah 50%, sebenarnya urusan pernikahan sudah ia serahkan pda mama dan calon mertuanya. Karna ia sendiri sibuk. Tidak enak sebenarnya tapi mereka sendiri yang meminta untuk mengerjakannya. Ila sendirpun tak bisa menolak dan pasrah. Lagipula tamu undangan juga dari kerabat dn sahabt dekat. Jadi tidak terlalu menguras tenaga.


Tak lama kemudin hp nya berdering. Ia langsung mengangatnya. Tak lama kemudian, terpampang wajah yang sangat mirip dengan dirinya. Senyumnya merekah dengan pipi chubby yang semakin menambah kesan imut pada wajahnya.


"assalamualaikum kakak tercinta" sapanya antusias sambil memperlihatkan senyum manisnya.


"waalaikumussalam adik manjaku" jawab ila gemas. Prilly terlihat mengerucutkan bibirnya karna dibilang manja.


"gimana kabar kakak? "tanyanya sambil bersandar pada kursi kerjanya.


"alhamdulillah baik., ngak nanyain kabar mama papa? "Tanya Ila menggoda.


"aku udah telfon mama papa dulu,,, wleee"ucap Prilly sambil menjulurkan lidahnya. Ila tertawa melihat tingkah adiknya.


"eh,, gimana calon kakak, katanya mau cerita? "tanya Prilly penuh selidik pada kakaknya. Prilla hanya tersipu malu karna digoda adiknya sendiri.


"ihhh,, ciee malu.. "ledek Prilly pada kakaknya.


"udah ahhh dek.. "ucap ila sambil menutup wajahnya.

__ADS_1


"ayo dong cerita, gak sabar nih! Orangnya baik kan? " ucap Prilly mendesaknya untuk segera bercerita.


"sejauh ini klihatannya baik dek, dia tu bisa dibilang muka datar, tapi kadang2 dia tu bisa bercanda juga. Terus kemarin kakak nanya soal dia bakalan ngalarang kakak jadi guru apa ngk klo udah jadi istrinya, trus kata dia, dia ngk bkaln larang selama kakak bisa bagi waktu. Sejauh yang kakak liat dia juga sopan dek, dewasa, bisa menghargai wanita" ucap Prilla panjang lebar.


Sedangkan Prilly setia menyimak setiap kata yang terucap dari kakaknya tanpa sedikitpun ingin menyela.


"alhamdulillah kak, berarti sekarang kakak bisa terima perjodohan ini dengan lapang hati. Lagipula aku yakin, papah ngak bakalan salah pilih orang" imbuh Prilly yang diangguki oleh Prilla.


"semoga tar calonnya Prilly juga gitu ya kak? "ucap Prilly sambil terkekeh yang langsung diamini oleh kakaknya.


"tar kalo udah nikah sikap manjanya kurangin ya dek? "ucap ila dengan tertawa geli. Ia membayangkan bagaimana nanti suami adiknya itu menghadapi sikap manja Prilly yang kadang seperti anak kecil.


"gak lah, itu tu udah cetakan dari lahir" jawab Prilly sambil memanyunkan bibirnya.


Prilly sebenarnya ingin menceriakan perihal lelaki yang akan menjadi pilihannya, namun urung ia lakukan. Ia hanya merasa belum siap saja. Baru kali ini pula Prilly menyembunyikan hal yang penting dari kakaknya.


"udah malem dek, kamu istirahat gih. Inget kesehatan sendiri juga" ucap kakanya tegas.


"siap kakak bos, udah ya. Assalamualaikum" pamit prilly


"waalaikumussalam"jawab Prilla lembut.


Sambungan telfonpun diakhiri. Prilla langsung memutskan untuk tidur karn memang sudah larut.


*****


Ali mengendarai mobil  dengan santai sambil mendengarkan radio yang selalu menjadi teman setia saat dimobil.


Hari ini ia sengaja mengendarai mobil Prilla karna setelah berkumpul bersama teman-temannya ia akan langsung menuju kesekolah Prilla. Mengingat obrolan ditelfon semalam Ali terkekeh geli. Ia sendiri masih heran,kenapa bisa melontarkan gombalan yang ngak bermutu itu. Sungguh ini bukan Ali yang sesungguhnya. Apalagi terhadap perempuan. Bisa dibilang ia tak pernah mengoda wanita, ia sangat menjaga komunikasi dengan wanita. Bukan sombong atau bagaimana, Ali paham bahwa wanita lebih sering menggunakan perasaan ketimbang logika. Ia tidak ingin dicap sebagai lelaki yang mudah memberi harapan tapi juga mudah meninggalkan. Bukankah wanita itu harus dijaga dan dilindungi? Pikir Ali.


Jalanan sudah terlihat ramai. Sinar matahari sudah mulai terasa panasnya. Ali mengetuk2kan jemarinya dikemudi mobil sambil sesekali bersenandung mengikuti lagu yang terputar dari radio.


Tak lama kemudian ia sampai dikafe yang menjadi tempat ia dan teman-temannya berkumpul bersama untuk sekedar melepas rindu dan mengingat masa2 sekolah dulu. Terlihat Andra dan Kevin sudah menunggunya disalah satu meja. Mereka yang melihat Alipun terlihat cemberut.


"yang ngajakin siapa, yang telat dateng siapa" sindir Andra . Ali hanya terkekeh sambil menyalami ke-2 sahabatnya itu.


"sorry2..." ucap Ali dengan memperlihatan cengiran kudanya.


"udah pesen belum? "tanya Ali kemudian. Andra dan kevin menggeleng bersamaan. Tak lam merekapun memesan pesanan. Smbil menunggu pesanan mereka selingi dengan mengobrol sambil bersendau gurau.


"eh Li, gue denger lu mau nikah ya? "tanya Kevin dengan menaik turunkan kedua alisnya.


"tau dari mana lu? "tanya Ali sambil menyesap cappucino miliknya.


"Dari Andra lah siapa lagi? " ucap Kevin sambil menonyor jidat Ali.


"insyaallah akhir bulan ini. Doain ya? "


"muke gile, lu mau nikah ngak cerita-cerita. "tambah kevin dengan ketus. Andra yang menyimak pun mengangkat bahu.


"lu gak nanya" ucap Ali santai.


"buruan critain"desak Kevin antusias.


"critain Ndra" celetuk Ali tiba2. Andra yang mendengarnyapun terbelalak bingung.


"kenapa gue, emang yang mau nikah gue"jawb andra . Ali tertawa melihat ekspresi Andra yg sebal.


Setelah itu Ali menceritakan pada kevin bahwa sebenarnya ia dijodohkan. Awalnya ia juga menolak tapi lama2 dia bisa menerima. Kevin yang mendengarnyapun mengangguk paham. Sedangan andra sibuk dengan makanany sendiri, tak menghiraukan obrolan itu karna Andra memang sudah tau.


"Tau gak Vin, calonnya si Ali ...beuhh.. Muslimah banget. " ucap Andra dengan takjub disela-sela makannya.


Kevin yang mendengar ucapan Andra tampak membulatkan matanya lebar -lebar. Tak lama ia langsung tertawa terpingkal hingga membuat Andra dan Ali saling pandang karna heran.


"kenapa lu ketawa? "tanya andra. Alipun menatap heran ke arah kevin.


"pantes Li, dari dulu lu gak prnh dapet cewek. Ternyta tipe lu yang  muslimah. Kan dari dulu yg ngejar lu cewek sexy-sexy"ucap Kevin dengan sisa tawanya itu. Wajahnya nampak merah padam karna tawa.


Andra yang mendengarnya ikut lalu tertawa terpingkal diikuti Kevin yang kembali tak bisa menahan tawanya. Andra baru ingat kalau dulu diantara mereka bertiga hanya Ali yang tidak pernah pacaran, padahal banyak perempuan yang mengejarnya. Tapi tak satupun yang bisa mengambil hati Ali.


"iya ya, kenapa gue baru sadar Vin. Ternyta tipe lu yang begituan"ucap Andra menambahkan. Ali yang mendengarnya hanya bisa mendengus kesal sambil memakan kentang gorengnya, menunggu Andra dan Kevin menyelesaikan tawa mereka yang sangat menganggu gendang telinga Ali.


"lu kapan ada rencana nikah Vin,?"tanya Ali saat mereka berdua meredakan tawanya.


Kevin yang mendengarnyapun hanya tersenyum simpul.


"gue masih mantepin hati, doain aja" ucap Kevin santai, yang diangguki oleh Ali dan Andra.


"mantepin aja bro, tar keburu dicomot orang"celetuk Andra.


"bener tu. "imbuh Ali


"gue lagi nunggu momen yang ps aja, lah,, lu kapan Ndra? Tanya kevin membalikkan suasana. .Andra yang mendengarnyapun tersedak. Ali lngsung memberikannya minum.


"belum ada. Ngejar satu orang aja gak dapet2" ucap Andra ketus. Kevin yang mendngarnya tertawa terbahak.


"yang bener?. Muka ganteng gini trnyta ngak menjamin laku ya li" celetuk Kevin yang langsung dihadiahi jitakan dari Andra.


Ali yang sudah tahu andrapun hanya tertawa melihat tingkah mereka.


"udah sih, kek anak kecil tau. Doain aja. Moga si Andra cepet dapet" ucap Ali sambil terkekeh kecil. Yang diamini oleh mereka.


Ali melirik arloji hitamnya. Ia terlonjak kaget, ternyta sudah jam 11 lewat 20. Ia bergegas pamit pada kedua sahabatnya.


"mampus gue, gue duluan ya. Mau nganterin mobil punya calon gue. Janjinya setengh 12 soalnya"ucap Ali tergesa sambil menyalami kedua sahabatnya.


"bilang aja kangen"celetuk kevin. Ali yang mendengarnyapun hanya tersenyum simpul.


"udah sono buru, tar dia nungguin" ucap andra yang diangguki pula oleh kevin.


Ali mempercepat langkahnya menuju tempat parkir. Ia tidak ingin Prilla membuatnya menunggu.

__ADS_1


*****


__ADS_2