CINTA TAK SEIRAMA

CINTA TAK SEIRAMA
Chapter 12


__ADS_3

  Hari2 berjalan seperti biasa. Komunikasi yang terjalin antara Prilla dan Ali pun kini sudah semakin baik.  Tak jarang mereka saling mengingatkan dan saling memberi semangat.


Entah kenapa, Prilla hari ini nampak bahagia dan berbeda. Senyum manisnya nampak selalu mengembang diwajah cantiknya kala berpapasan dengan orang-orang.


 


 Suasana ruang guru seperti biasanya. Selalu ramai oleh candaan pak Anton dan Pak Angga yang tak henti-hentinya membuat lelucon. Tapi itu hiburan tersendiri untuk mereka karna bisa sebagai hiburan sederhana.


Prilla langsung duduk dikursinya, mempersiapkan materi pembelajran yang akan diajarkan setelah sebelumnya menyapa guru-guru yang lain.


"Ni foto buat kenang-kenangaan." Nadia mengulurkan sebuah amplop coklat dengan senyum yang sulit diartikan.


Prilla menaikkan sebelah alisnya.


Prilla lalu membukanya. Dan tersenyum kecil melihat sebuah foto yang terlihat sangat canggung. Apa lagi kalo bukan fotonya dan Ali yang diambil tempo hari.  Ia tidak menyangka kalau Nadia akan mencetaknya.


Senyumnya dan Ali memang terlihat natural, tapi bahasa tubuh mereka masih terlihat kaku. Lagi-lagi Prilla menarik seulas senyumnya.


"ciee,,senyum senyum." goda Nadia yang sedari tadi ternyata memperhatikannya.


"itu pipi kenapa jadi kek tomat gitu La" ledek Nadia ,menoel pipi Prilla dengan telunjuknya.


"iishh.. Apa sih Nad." sangkal Prilla dengan pipi yang sedikit merona.


Nadia pun tertawa melihat Prilla yang menjadi salah tingkah.


                                     ****


Prilla menuruni anak tangga dan langsung berjalan menuju dapur. Terlihat mamanya tengah serius memasak untuk makan malam.


Prilla menghampiri mamanya dan menghadiahi kecupan singkat dipipi mamanya.  Mamanya pun kaget.


"eh sayang, ngagetin mama tau"ucap mama uly sambil menoleh kearah anaknya yang malah tertawa.


"bentar deh, kamu hari ini kok keliatan cantik banget sih? Berseri gitu mukanya".puji mama uly sambil mencubit pipi anaknya itu. Karna ia melihat Prilla yang sedikit berbeda.


"biasa aja ma"ucap Prilla sambil membawa sayuran yang akan dimasak.


"gimana ngak berseri, bentar lagi kan mau nikah mah" sahut Papa rizal  yang baru turun dari lantai atas. Mama uly pun tertawa mendengar ucapan suaminya


"ih.. Papa apaan sih, jangan gitu. Prilla malu." rengek Prilla dengan pipi merona.


Papa rizal dan mama uly terkekeh melihat tingkah anaknya tersebut.


Suasana makan malam hari kali ini terasa begitu hangat.  Tapi tetap saja mereka merasa kurang karna tidak ada Prilly ditengah-tengah mereka.


Selesai makan malam, Prilla membantu mamahnya membereskan piring-piring. Setelah itu ia pamit pada mama dan papanya untuk masuk kekamar karna hendak mengistirahatkan badannya yang terasa sangat lelah.


  Ia melepskan kaca mata bacanya, meletakknnya dinakas samping tempat tidur. Ia  merebahkan badannya diranjang .saat matanya sudah mulai terpejam, ia dikagetkan dengan suara dering ponselnya.  Namun saat melihat nama yang terpampang dilayar, senyum sumringah terukir diwajah cantiknya.


"Assalamualaikum adek tercinta"


"waalakumussalm kakak tersayang"


"ngak sibuk dek? "tanya Ila pada adiknya


"alhamdulillah enggak kak, makannya langsung telfon kakak"kata Ily.


"kamu pulang kapan? "tanya Ila kemudian.


"insyaallah aku pulang 3 hari sebelum acara akad nikah kakak"jawab Prilly girang.


"yang bener dek?  Gak bohong kan?" tanya Ila meyakinkan.


"buat apa bohong, "jawab Prilly yakin


"syukur deh, kok bisa cepet gitu dek?"tanya Ila


"iya kak, soalnya udah seminggu ini ada kiriman dokter lagi buat bantuin. Trus aku minta ijin buat pulang lebih awal karna ada acara nikahan kakak, dan alhamdulillah dikasih"


"seneng kakak dengernya"


Perbincangan mereka terus berlanjut. Memperbincangkan segala hal dengan berbagai topik. Saling menyalurkan kerinduan lewat angin yang berhembus.


"kalo kakak udah nikah, jangan lupain adeknya ya"ucap Prilly tiba-tiba yang ditanggapi dengan kekehan kecil dari kakaknya.


"kok malah ketawa sih? "tanya Prilly sebal


"kamu ngak ada pertanyaan lain apa?  Konyol tau pertanyaan kamu.  Lagian mana mungkin kakak lupain kamu. Kamu itu juga bagian terpenting dalam hidup kakak. Kamu sedih kakak ikut sedih, kamu bahagia kakak lebih bahagia. Jadi jangan berpikir kalau kakak bakal lupain kamu atau cuekin kamu"ucap Prilla memberi pengertian pada Adik satu-satunya itu.


"hehehe,, yang siapa tau nanti kakak lebih asik sama suami kakak"jawab ila


"papa,mama dan kamu itu punya posisi tersendiri dihidup kakak. Begitupun suami kakak kelak. "kata Prilla lembut.


"atau jangan-jangan nanti malah kamu yang jadi cuek sam kakak kalau kamu udah nikah? "Prilla balik bertanya pada adiknya


"ya enggak lah kak. Ngak mungkin"jawab Prilly


"Nanti kalau kamu udah nikah, jadilah istri yang baik. mau semarah apapun kamu sama suami kamu ,jangan jadikan alasan untuk kamu tidak menjalankan kewajiban kamu sebagai seorang istri, hormati suami kamu, hargai suami kamu. Dan yang terpenting jangan ngeyel kalau dibilangin ama suami"ucap Prilla pada adiknya yang diakhiri dengan candaan kecil.

__ADS_1


Mendengar perkataan dari kakaknya prilly tertawa. Sedangkan Prilla heran.


"malah ketawa si, dengerin kakak ngak? "


"gimana ngak ketawa coba? Kan yang mau nikah kakak dulu, kenapa ngasih nasehatnya sama aku "jawab Prilly smbil terkekeh.


Prilla terkekeh mendengar ucapan adiknya. Benar juga. Menggapa malah dia yang memberikan petuah untuk adiknya.


"ya gpp dong, yang penting nasehat kakak baik kan. Inget ya,, jadi istri yang baik"ucap kakaknya penuh penekanan


"iya kakak ku tercinta. "


"janji? "tanya ila meyakinkan


"aku berjanji, jika suatu saat nanti aku menikah aku akan menjadi istri yang baik seperti apa yang dikatakan kakak tercintaku" ucap prilly panjang lebar untuk meyakinkan kakaknya.


Prilla hanya bisa tertawa mendengar kata yang dilontarkan oleh adiknya.


"udah malem dek, istirahat. "


"kakak juga"


"iya,, hati2 ya, jaga diri baik-baik. Kakak akan selalu sayang kamu,Assalamualaikum"ucap Prilla pada adiknya dengan penuh kasih sayng.


"aku juga sayang kakak.  waalaikumussalam"


  Prilly tersenyum mendengar ucapan kakaknya. Ia merasa kali ini kakanya sungguh berbeda dari sebelumnya, entah berbeda bagaimana, prilly hanya merasakan berbeda. "mungkin karna bentar lagi nikah"pikir Prilly dalam hati.


                                     *****


  Ali merapikan barang2 bawaanya kedalam koper. Dan beberapa oleh-oleh untuk mama, kaia, Dani dan Ponakan tercintanya Fikri.


  Andra terlihat sudah terlelap tidur bersama beberapa teman pramugara yang lain. Ali sendiri sebenarnya memperoleh fasilitas kamar sendiri.  Namun hari ini dia ingin berkumpul bersama teman-temannya. Jadi dia memilih untuk tidur bersama yang lainnya.


Wajah lelah terlihat begitu jelas diwajah mereka, padahal waktu masih menunjuk pukul 10 malam waktu Malaysia. Tinggal ia sendiri yang belum tidur. 


Setelah mencuci muka dan menggosok gigi ia memutuskan untuk ikut merebahkan badannya diranjang. Ia mencoba memejamkan matanya namun terasa sangat sulit. 


Ingin rasanya ia menelfon Prilla namun takut menganggu. Berulang kali ia mencoba mencari posisi tidur yang nyaman namun tetap saja ia tak bisa.  Setiap kali memejamkan matanya, bayangan Prilla masuk mengusiknya. Entah, ia merasa sangat ingin mendengar suara Prilla .


Tanpa berpikir panjang Ali langsung mengambil hpnya dan menelfon Prilla.  Tak lama telfon itu terangkat.


"Hallo, assalamualaikum"suara serak khas orang bangun tidur terdengar jelas ditelinga Ali. Ia jadi merasa tak enak.


"waalaikumussalam"jawab Ali lembut sambil berjalan menjauh dari ranjangnya.


Mencari tempat yang nyaman untuk menelfon.


"eh, mas ali, kenapa mas? "tanya Prilla to the point seperti biasa, sambil menyandarkan tubuhnya dikepala ranjang


"ganggu tidur kamu ya? "tanya Ali dengan nada penuh penyesalan


"engga mas, ini juga baru tidur. Habis telfonan sama Prilly"kata Prilla menjelaskan


"maaf ya"


"santai aja mas"jawab Prilla sambil terkekeh kecil


"ada apa ya mas nelfon malem gini?"tnya Prilla lagi.


"eh.. Gak tau kenapa tiba-tiba kangen suara kamu aja.. Hehehe" jawab Ali.


"ya ampun mas, jangan mulai gombal lagi deh" ucap Prilla terkekeh kecil.


"siapa yang gombal, beneran"ucap Ali meyakinkan.


Sedangkan Prilla disebrang sana hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum


"udah ya mas, kamu tu istirahat. Udah malem. Jangan sampe besok pas nyetir pesawat malah ngantuk."ucap ila dengan tertawa.


"kan masih ada kopi"jawab Ali santai.


"dasar pilot ngeyel"


"ngeyel-ngeyel gini juga calon suami kamu kan?" balas Ali menggoda.


Ia yakin disana Prilla pasti sedang tersipu.


"apaan sih,?  udah sekarang kamu tidur. Istirahat yang cukup. "


Ali hanya terkekeh mendengar perhatian yang ia peroleh dari Prilla.


"iya iya.. Assalamualaikum. Good night?"pamit Ali


"waalaikumussaalm, good night too"ucap Prilla lirih yang masih terdengar jelas ditelinga Ali.


  Setelah menelfon Prilla, Ali langsung merebahkan badannya diranjang. Dan benar saja, tak lama kemudian ia sudah terlelap dengan mudahnya. Padahal perbincangannya dengan Prilla hanya sebentar saja.


                                      *****

__ADS_1


 Ali menyeret koper hitamnya dengan langkah santai. Andra yang disampingnya pun sibuk memainkan ponselnya. Jam menunjuk pukul 07.30 saat Ali merlirik arlojinya. Karna masih pagi, Ali dan Andra memutuskan untuk mampir sebentar dikafe bandara untuk mencari santap pagi.


  "Captain Ali? " terdengar suara yang tak asing baginya memanggil dari arah belakang. Andra yang paham suara itupun ikut berhenti dan menoleh kebelakang.


Ica terlihat jalan agak tergesa dengan menyeret koper hitam ditangan kanannya dan tas selempang yang menggantung dibahu kirinya serta beberapa paper bag yang ia bawa ditangan kirinya. Terlihat agak kesusahan.walaupun begitu, ia tetap terlihat cantik dengan  sanggul yang memperlihatkan leher jenjangnya dan baju seragam yang terlihat pas sekali ditubuh langsingnya.


Sedangkan Ali dan Andra hanya tersenyum geli melihat Ica yang tengah kerepotan. Mereka memang sudah kenal akrab.


"Dasar wanita" gumam Andra pelan.


"kenapa Ndra? "tanya Ali sambil terkekeh kecil


"Biasa Li,  ratunya belanja"jawab Andra santai dengan memgarahkan dagunga pada tas belanja yang ada ditangan Ica.


Ica nampak mengerucutkan bibirnya saat sampai dihadapan Ali dan Andra.


"eh, itu kenapa bibir dimaju-majuin? Minta cium?" seloroh Andra yang langsung mendapat pelototan tajam dari Ica.


"ngak tau kalau lagi kesel apa? "jawab Ica ketus sambil menyerahkan bungkusan belanjaan pada Ali.


Ali baru ingat kalau tadi sebelum penerbangan ia menitipkan oleh-oleh pada Ica karna kopernya tidak muat. Ali menepuk jidatnya pelan sambil cengegesan.


"sorry ca,  gue lupa"jawab Ali sambil menerima bungkusan itu.


Andra yang melihatnya pun hanya tersenyum sambil mengelus pelipisnya pelan. Walaupun tampan, tapi terkadang Ali juga bisa bersikap rese.


"ngapain lu senyum-senyum? Bukannya bantuin bawa barang bawaan malah diem aja  disini! " omel Ica kearah Andra.


"kok marah ke gue sih, emang gue nitip barang sama lu." elak Andra tak mau kalah.


"udah-udah. klian tu dari dulu sampe sekarang jarang banget akur. Apa mau dinikahin dulu biar bisa akur?" Sela Ali melerai aksi debat mendebat kedua temannya ini.


"ngak mau"pekik ica


"gue mau" ucap Andra.


Ucap mereka bersamaan, Ali yang mendengarnyapun tertawa melihat tingkah mereka.


Berbeda dengan Ica yang masih sebal, Andra malah terlihat tertawa sambil menatap Ica dengan tatapan jailnya.


"sekali lagi maaksih ya ca" ucap Ali.


"oke, tapi traktir gue Kopi  dulu "tawar Ila pada Ali.


"kebetulan tu, kita rencananya juga mau  ngopi dulu" ucap Andra.


Mereka bertiga pun berjalan bersama menuju kafe yang ada dibandara sambil sesekali bersendau gurau.


  Mereka menikmati pesanan masing-masing sambil bertukar cerita.  Ali sendiri kadang binggung melihat Andra dan Ica,mereka sering sekali bertengkar dan saling jail satu sama lain tapi mereka cepat berbaikan pula. Seperti sekarang, tadi mereka bertengkar, tapi sekarang malah asik mengobrol dan tertawa melihat vidio dihp Andra. Dan mengabaikan Ali. Tapi Ali tidak mempermasalahkan hal itu.


Saat Ali tengah asik menyesap kopinya,tiba-tiba ponselnya berbunyi. Terlihat nomor kakaknya. Dahi ali berkerinyit. Tiba-tiba perasaan tidak enak menyeruak masuk kedalam hati dan pikirannya. Entah perasaan khawatir karna apa, Ali juga tidak tahu. Ia hanya merasakan perasaan yang membuatnya menjadi gelisah.


"gue mau angkat telfon dulu" ucap Ali pada Andra dan Ica sambil berlalu menjauh.


Ica dan Andra yang tengah asik pun hanya mengangguk tak menyadari raut kecemasan di wajah Ali.


Tak berselang lama Ali kembali. Raut wajahnya berubah. Andra yang menangkap kejanggalan dari wajah sahabatnya itupun langsung menatapnya meminta penjelasan.


"gue mau balik dulu, lu pulangnya naik taxi dulu ya?  Sekalian  gue nitip barang-barang . Taruh aja di apartemen nanti gue ambil." ucap Ali tergesa-gesa.  Pikirannya sudah kalang kabut menerima berita itu.


"kenapa al? "tanya andra. Ica pun yang penasaran ikut menatap kearah Ali


"tar gue jelasin, gue buru-buru"ucap Ali singkat.


"oke, take care bro" ucap Andra sambil menatap kepergian Ali dengan raut wajah penuh tanda tanya dan juga kecemasan karna melihat Ali yang tiba-tiba menjadi terlihat cemas dan sedih.


                                    *****


Gadis itu terburu-buru memasuki area bandara. Ia hanya membawa tas selempang hitam miliknya dan jas putih yang tersampir dilengan kirinya.  Beberapa kali ia mencoba menyeka air mata yang terus saja keluar tak henti-hentinya dari pelupuk matanya. Ia segera menuju loket penjulan karcis.  Mencari informasi keberangkatan tercepat ke Jakarta. Nada kekhawatiran dan kesedihan menyatu menjadi isakan yang tak kunjung henti.


"ada mbak, keberangkatan 20 menit lagi" ucap seorang petugas yang melayani penjualan tiket. Wanita bersanggul itu menatap iba pada gadis didepannya. 


"oke gpp" jawab Prilly dengan lelehan air mata yang terus ia seka. Tak memperdulikan  tatapan aneh orang-orang yang sedari tadi tertuju padanya.


 Setelah mendapatkan tiket ia lantas duduk dikursi tunggu bandara. Tubuhnya masih terasa bergetar. Langkahnya terasa sangat lemah. Pipinya terasa lengket karna bekas air mata yang terus saja membanjiri kedua pipinya.


Pikirannya melayang kemana - mana, membayangkan segala hal buruk yang akan menimpa.  Berusaha keras agar bayangan-bayangan buruk itu hilang dari pikirannya. Sungguh jika disini tidak ada orang, ingin rasanya ia menanggis kencang dan menjerit sekeras-kerasnya.


Suara pemberitahuan keberangkatan pesawat membuyarkan pikirannya sejenak. Ia berjalan dengan agak tergesa. Bersiap untuk boarding pas setelah sebelumnya sudah check in terlebih dulu.


  Ia mengambil ponselnya. Terdapat notif dari kekasihnya yang menanyakan jam keberangkatnnya. Ia lantas mengetikan balasan sambil sesekali menyeka air mata yang tak henti- hentinya keluar.


"bentar lagi take off. Kamu gak usah jemput gpp. Kamu urusin kantor dulu aja.  Insyaallah aku baik2 aja. "


Tak berselang lama balasan sms muncul


"aku yakin semua akan baik2 aja. "


Ia tersenyum getir membaca pesan balasan dari kekasihnya tersebut. Berharap semoga apa yang dikatakan kekasihnya tersebut menjadi kenyataan.

__ADS_1


                                         *****


__ADS_2