
"Apa kakimu masih sakit? "Tanya Ali yang baru saja kembali dari dapur untuk menaruh piring bekas mereka makan.
"sudah mendingan, tadi sudah aku olesi minyak urut" jawab Prilly.
Ali menghampiri Prilly kesofa dan berlutut hendak melihat pergelangan kaki Prilly yang kesleo. Terlihat membengkak. Ali langsung mencari minyak urut dimeja rias Prilly. Setelah mendapatkannya ia kembali menghampirinya. Ia lalu duduk disamping Prilly dan langsung mengangkat kaki Prilly yang kesleo pelan,meletakkannya dipangkuan Ali. Prilly agak terkejut mendapati perlakuan Ali yang tiba2
"emang kamu bisa ngurut? "Tanya Prilly penuh keraguan.
"aku dulu pernah diajari temanku, "jawab Ali datar .
"awalnya agak sakit, tapi nanti enakan"imbuh Ali sambil mengoleskan minyak urut pada pergelangan kaki Prilly.
Baru pertama Ali memijit, Prilly langsung merasakan sakit dipergelangan kakinya. Ia refleks mencengkram lengan Ali kuat. Sambil menahan sakitnya.
"auww.. Udah mas.. Sakit"pekik Prilly saat Ali terus mengurut kakinya.
Namun Ali tak menghiraukan. Ia tetap melanjutkan. Ali yang melihat Prilly pun tersenyum tipis.
Prilly terus saja mencengkram lengan Ali kuat .ia mengertakkan giginya.Sesekali ie memukul lengan Ali agar berhenti mengurutnya. Namun Ali tak kunjung menghentikan.
Susah payah Prilly menahan mulutnya agar tak menjerit terlalu keras. Takut jika nanti orang tuanya mengira yang tidak2.
Tak berselang lama, Ali akhirnya selesai. Sungguh, ingin rasanya Prilly menjitak kepala Ali karna telah membuatnya menderita karna aksi urutnya yang sangat menyakitkan.
"coba kamu gerakkan" kata Ali sambil menurunkan kaki Prilly.
Prilly pun mencoba menggerak2kan kakinya dan mencoba untuk berjalan. Hasilnya bagus, Prilly sudah tak terlalu merasakan sakit. Kakinya juga terasa lebih enakan. Ia tersenyum senang dan kembali duduk disofa.
"makasih ya, "ucap Prilly sambil tersenyum senang pada Ali.
Ali yang melihat Prilly tersenyum pun tak kalah bahagia. Setidaknya ia bisa melihat senyum Prilly, yang sejak tadi hanya tangis yang mendominasi. Ali mengangguk sambil tersenyum tipis.
"pasti lengan kamu sakit ya gara2 tadi?"Prilly merasa bersalah.
"tidak apa2,aku tahu kmu hanya menahan sakit"ucap Ali santai.
"lebih baik kamu mandi,habis itu kita sholat maghrib bersama"suruh Ali.
karna sejak pulang dari pemakaman Prilly belum juga berganti pakaian.Prilly mengangguk menuruti.
*****
Terlihat mama dan Papa tengah duduk diruang tamu sambil menonton tv, saat Ali dan Prilly turun. Raut wajah mereka masih terlihat sendu. Jejak kesedihan masih teihat jelas . Namun mau bagaimana pun mereka harus ikhlas menerima.
Ali dan Prilly lalu ikut duduk disofa.
"udah sembuh kesleonya? "Tanya Papa Rizal yang melihat Prilly sudah bisa berjalan seperti biasa.
"udah pah, tadi diurut sama Ali"jawab Prilly sambil menoleh kearah Ali yang berada disampingnya
"ngak nyangka mama, ternyta pilot ada yang jago ngurut"celetuk mama uly, mencoba menghangatkan suasana.
Ali yang mendengarnya pun hanya terkekeh. Begitupun papa Rizal dan Prilly.
Mereka sama-sama tidak fokus pada acara yang ditonton. Mereka sebenarnya masih s fokus pada pikiran masing-masing tentang kepergian Prilla. Mereka lebih sering diam ketimbang mengobrol. Apalagi Prilly. Dia terlihat diam tak bersuara saat mama dan Papanya mengajak bercanda, sekedar untuk menghibur satu sama lain.
"sudah malam, waktunya istirahat"ucap papa rizal .
"iya, udah jam 10malam"ucap mama uly yang baru saja melirik jam dinding.
Ali dan Prilly pun hanya mengangguk.mereka lantas pergi kekamar masing-masing.
Sesampainya dikamar Prilly langsung duduk ditepi ranjang, diikuti Ali disampingnya. Tiba-tiba.dering ponsel Ali terdengar. Ali langsung mengambilnya.
"assalamualaikum li"sapa Andra
"waalaikumussalam. Kenapa ndra? "tanya Ali sambil berjalan menuju sofa untuk mengangkat telfon.
"Gue mau anter koper sama barang2 lu, lu dirumah ngak? "
"gue masih dirumah Prilly, lu kerumah aja. Kalo misal lu ngak ada acara sekalian temenin bunda. Dia dirumah cuma sama Fikri doang" pinta Ali pada sahabatnya tersebut.
"oke deh, gue temenin bunda. "
"makasih ya? "
"sama2,,sabar ya li. Ini udah takdir"ucap Andra lembut
"iya ndra, assalamualaiku"
"waalaikumussalam"
Ali lantas kembali menghampiri Prilly.
"Tidur lah sudah malam." ucap Ali lembut.
"Mas, aku.. Aku... " ucap Prilly tergugup.
"kenapa, katakan saja aku tidak apa-apa" jawab Ali .
"maaf, Aku sepertinya belum bisa jika harus tidur seranjang. Walaupun aku tahu kamu tidak ada niat macam-macam. "ucap Prilly pelan.
Ia hanya menunduk takut jika Ali marah.
Ali yang masih duduk disampingnya pun tersenyum. Ali sudah menebak hal ini sebelumnya. Tangan Ali terulur mengelus pucuk kepala Prilly. Prilly yang heran akan perlakuan Alipun, mendongakan wajahnya dan menatapnya.
"sudah, itu tidak penting. Aku akan tidur disofa."jawab Ali dengan tetap mengelus rambut Prilly.
Prilly tersenyum. Ia lantas berdiri mengambilkan selimut untuk Ali.
"maaf ya mas."ucap Prilly sambil memberikan selimut bermotif doraemon.
Ali hanya membalas dengan anggukan dan menerima selimut itu.
"apa hanya doraemon yang kau punya."tanya Ali heran,mencoba mencairkan ketegangan diantara mereka.
"apa mau aku ambilkan yang bermotif barbie? ."Tanya prilly sambil terkekeh melihat Ali yang bergidik geli.
"tidurlah, sudah malam."ucap Ali, tak menghiraukan ucapan Prilly. Prilly tersenyum mengangguk dan memberikan sebuah bantal untuk Ali.
Ali lantas membaringkan tubuhnya disofa kamar Prilly. Untungnya sofa kamar ini lumayan panjang. Jadi ruang gerak Ali sedikit lebih luas. Ali melihat Prilly sekilas yang sudah mulai memejamkan matanya.
*****
Sebenarnya baik Ali maupun Prilly belum tidur. Mereka masih sama-sama memikirkan tentang kepergian Prilla yang begitu membuat mereka terpukul.
Flashback off
Ali memasuki ruangan itu setelah sebelumnya mencari makanan. Tapi ia sendiri tak bernafsu makan sama sekali.
Mama uly papa rizal dan bundanya terlihat duduk disofa. Sedangkan Ali memilih untuk duduk menemani Prilla.
Ali memandangi Prilla yang terlihat sangat nyaman dalam tidurnya. Nafasnya terdengar tak seperti tadi.
Mata Ali terasa memanas melihat keadaan nya yang seperti ini.
Tiba2 mata Prilla terbuka. Sinar matanya terlihat sangat meredup. Ali langsung berjingkat berdiri, lalu mengelus kening Prilla sambil tersenyum.
__ADS_1
Mama Uly , Papa Rizal dan bunda Resi yang melihat Prilla sadar pun langsung menghampiri.
Tangan Prilla terulur hendak melepas masker oksigen. Papa Rizal melarangnya, namun Prilla tidak mau.
"jaa.. dii suu.. ami yang baa.. ik ya bu.. at adik.. ku."ali mengangguk sambil menyeka air matanya yang mulai menetes. Papa Rizal dan Mama Uly pun menanggis.
"jaa..ga dia, Ja..ngan sakitin dia, "Ali mengangguk mengiyakan.
"cin.. *** dia, aku titip dia"Ali mengangguk pasti.
"Jangan me.. nangis, jaa.. ngan sedih" ucap Prilla dengan terbata. Menatap Ali,kedua orang tuanya dan bunda Resi, untuk tidak menangisi nya. Mereka mengangguk dengan derai air mata.
"Aa.. Aku meencintaai ka.. Lian semua. Saam.. paikan cinn.. taku unn..tuk Prilly" Mereka mengangguk.
Hingga tak lama setelah itu, matanya perlahan mulai tertutup. Meninggalkan dunia dengan membawa cinta. Dia memang tak salah menempatkan cintanya pada seseorang seperti Ali.
Papa Rizal langsung memasangkan kembali masker oksigen. Ali langsung berlari keluar memanggil dokter. Mama uly kembali menanggis histeris yang langsung dipeluk oleh bunda Resi.
Alat pacu jantung terus ditempelkan pada Dada Prilla. Mencoba mencari detak yang mungkin masih ada. Hingga tak berselang lama. Dokter itu menunduk pasrah, menggeleng pelan kearah mereka ber-4.
Tangis mama uly semakin menjadi-jadi,ia menghambur kearah tubuh Prilla yang semakin lama akan semakin dingin. Papa Rizal terus berusaha menenangkannya. Sedangkan Ali masih belum bisa percaya dengan ini semua. Akal sehatnya tiba2 hilang saat melihat ini,membuatnya tak bisa berpikir apapun. Tubuhnya terasa lemas, ia hanya bisa memandang nanar tubuh mungil gadis yang ia cintai itu yang kini telah pergi untuk selamanya. Ia sulit menerima ini...
Flashback on
Bayangan itu kembali berputar2 dikepala Ali. Matanya terpejam namun tidak dengan pikirannya. Pikirannya masih saja dipenuhi dengan Prilla.
Ia lalu menyingkap selimut yang sejak tadi menutupi seluruh tubuhnya. Ia melihat kearah ranjang Prilly. Apa Prilly sudah tidur? Tanya Ali dalam hati. Tapi kelihatannya belum. Gadis itu kesana kemari mencoba mencari posisi tidur yang nyaman. Ali yakin, Prilly pun masih memikirkan tentang kepergian Prilla.
Cukup lama Ali memandangi Prilly yang terus menerus seperti itu. Lama-lama Ali tidak tega. Ia lalu menghampiri ranjang Prilly dan duduk disampingnya.
Sadar ada yang mendekat, Prilly membuka matanya dan langsung mengambil posisi duduk sambil bersandar pada kepala ranjang.
"Apa kau tidak bisa tidur? "Tanya Ali lembut.
Prilly mengangguk, memandang Ali sejenak lalu menunduk sambil memilin selimutnya.
Ali enggan menanyakan alasan ia tak bisa tidur. Ali sudah bisa menebak. Ali juga tak ingin membahasnya karna ia yakin, Prilly akan kembali menanggis.
"Apa yang biasanya mama atau papa lakukan saat kamu tak bisa tidur? "tanya Ali lagi.
Prilly nampak diam . Ia malu untuk mengatakannya.
Prilly memandang Ali sejenak.
"jangan ragu, katakan saja."ucap Ali
"ehh.. Biasanya kalau aku susah tidur, mama puk puk kaki aku."ucap Prilly lirih sambil menunduk menahan malu.
"Baiklah, aku akan mempuk-puk kakimu, berbaringlah." Prilly nampak ragu dengan tawaran Ali.
"Tenang, aku tidak macam-macam. "ucap Ali meyakinkan.
Prilly lalu berbaring kembali dengan posisi miring membelakangi Ali. Ali membantu menyelimutinya . Dan mulai mempuk-puk telapak kaki Prilly.
Dengan sabar Ali mempuk-puk kaki Prilly hingga ia sendiri terkantuk-kantuk. Setelah merasa Prilly sudah tertidur pulas. Ia lalu kembali kesofa. Entah menggapa setelah menidurkan Prilly, ia merasa sangat mengantuk. Mungkin karna sudah terlalu larut. Ia langsung membaringkan tubuhnya, menarik selimut dan memejamkan matanya. Tak lama, ia akhirnya tertidur juga.
*****
Hari ini Ali memutuskan untuk membawa Prilly kerumahnya.Padahal mereka baru menginap selama 2 hari. Baik Ali maupun prilly sama-sam sulit untuk melupakan Prilla jika berlama-lama disini. Apalagi prilly. Setip melihat barang atau apa saja yang berhubungan dengan Prilla, gadis itu akan langsung menanggis.
Mama uly dan papa Rizal pun setuju dengan usul Ali. Karna diantara mereka, hanya Prilly yang terlihat paling rapuh.
Ali tengah membantu Prilly merapikan barang-barang yang akan dibawa. Ali sebenarnya heran dengan Prilly, menggapa gadis ini sangat menyukai Doraemon. Semua yang ada dikamarnya penuh dengan nuansa doraemon. Bahkan bisa dibilang seperti kamar anak kecil, bukan gadis dewasa yang sudah bekerja. Tapi Ali tak mempermasalhkan hal itu.
Selesai membereskan barang yang akan dibawa, Ali membawanya keluar untuk dimasukkan kedalam mobil.
"iya mas, bentar lagi aku nyusul ."ucap Prilly sambil menoleh kearah Ali sebentar.
Alipun membawa 2 koper besar berisi semua barang2 milik Prilly. Terlihat mertuanya tengah menunggunya diruang tamu.
Mereka lalu mengantar Ali sampai depan rumah.
"Prilly mana li, kok lama? ."tanya mama Uly yang juga menunggu Prilly diteras rumah
"lagi beresin barang2nya mah, bentar lagi juga kesini."ucap Ali sambil menutup bagasi mobil.
"ya udah, mama samperin dulu ya."
Alipun mengangguk. Dan duduk bersama papa Rizal dikursi teras depan.
*****
Mama Uly berhenti bukan didepan kamar Prilly, tapi didepan kamar Prilla yang sedikit terbuka. Mama uly membukanya dan melihat Prilly tengah menanggis sambil memeluk bingkai foto dan memandanginya.
Mama uly menghampiri Prilly dan memeluknya. Air matanya kembali mengalir melihat kondisi putrinya. Ia juga merasakan hal yang sama. Mama uly lantas menangkup kedua pipi Prilly. Menyeka air mata yang selalu saja mengalir setiap teringat Prilla.
"Jangan merasa sendiri, kamu masih ada mama, papa juga Ali, kasihan kakakmu jika kamu terus bersedih"ucap mama Ali lembut pada Prilly. Prilly hanya memandang mamanya dengan sendu.
"ingat kan,? Kakakmu sangat tidak suka melihatmu menanggis? Apa kau masih ingat saat dulu waktu kecil kakakmu bertengkar dengan anak laki2 yang menjaili mu dan membuatmu menanggis? "tanya mama uly.
Prillypun mengangguk
"itu tandanya, kakakmu tidak suka adik manjanya menanggis. Sampai kakakmu yang tidak bisa bela diri sama sekali berani bertengkar dengan anak laki"kata mama uly sambil terkekeh kecil. Mencoba menghangatkan suasana
"semua sudah ditakdirkan seperti ini sayang, menanggis sekencang apapun tidak akan bisa mengembalikan kakak. Semua pasti baik-baik saja. Percaya kan sama mama? "imbuh mama Uly.
Prilly hanya menyimak setiap kata yang keluar dari mamanya. Ia juga berusaha untuk mengikhlaskan semuanya. Mencoba menerima takdir perpisahan yang sangat menyakiti hatinya. Ia sadar, jika ia terus menerus seperti ini, ia juga akan membuat sedih orang tuanya.
Prilly mengangguk Pelan. Ia harus mencoba tegar seperti orang tuanya.
"insyaallah ma. Prilly akan belajar ikhlas"jawab Prilly lirih.
"Ali sudah menunggu ,ayo keluar"
" iya ma"
*****
Keluarga Ali terlihat sudah siap menyambut kedatangan mereka. Ali langsung mencium punggung tangan bundanya diikuti Prilly.
"eh,, mantu bunda udah dateng"sapa bunda resi dengan senyum ramah. Mencoba untuk menyamarkan kedukaan yang masih terasa jelas.
"sini Prill gue bantu."ucap Kaia yang melihat Prilly membawa beberapa barang bawaanya.
"makasih ya kak "balas Prilly sambil tersenyum.
Sedangkan Ali masih menurunkan koper dari bagasi mobil.
"Bang, lu ngak ada niat buat bantuin?"celetuk Ali pada Dani yang malah asik berbincang dengan istrinya
"ah, ribet lu li, timbang koper 2 juga" Protes Dani yang berjalan menghampiri Ali.
Ali hanya terkekeh. Ia dan Kakak iparnya ini memang dekat seperti ia dan Andra. Bunda Resi,Kaia,dan Prilly yang melihatnya pun hanya tersenyum.
"Fikri mana kak, kok ngak keliatan?" Tanya Ali saat tiba diruang tamu.
"lagi tidur. Kecapekan main dianya"jawab Kaia.
__ADS_1
"ohh, Ali ke kamar dulu ya. Mau naruh barang-barang. " pamit Ali. Mereka pun mengangguk.
Ali langsung meletakkan koper-koper itu. Dan beberapa barang bawaan milik Prilly kedalam lemarinya.
"kalau capek tidur aja."ucap Ali pada Prilly yang tengah duduk ditepi ranjang.
"Mas, bisa ngomong sebentar ngak?" Tanya Prilly.
Ali pun menghampiri Prilly. Ikut duduk disampingnya. Ali menunggu Prilly berbicara.
Prilly menatap Ali sebentar, melihat mata yang begitu meneduhkan. Prilly akui, Ali lebih tampan dari Kevin. Tapi bukan berarti ia mudah melupakan kevin.
Prilly menarik nafas perlahan. Ia memilin ujung bajunya. Ia nampak gugup. Prilly merubah posisi duduknya menjadi menghadap Ali.
"Mas, aku minta maaf, kalau aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu. Maaf kalau aku belum bisa memberikan hak yang seharusnya sudah menjadi milikmu"ucap Prilly dengan bibir bergetar. Ia takut berdosa tapi ia sendiri belum siap. Terlebih ia belum mempunyai perasaan apapun pada Ali.
Ali paham apa maksud Prilly. Ali memberanikan diri memegang dagu Prilly, membuatnya agar menatap Ali. Ali melihat mata Prilly yang berkaca-kaca.
"Dengerin Aku baik2. Aku paham apa maksud kamu. Aku juga ngak akan melakukan itu jika belum ada rasa cinta diantara kita. Aku ngak mau terbawa nafsu. Aku tidak ingin menyakitimu. Aku ingin melakukannya saat kita sudah saling cinta. Untuk sekarang, biarkan semua berjalan apa adanya."ucap Ali lembut sambil tetap menatap mata hazel milik Prilly yang sekarang sudah sangat berkac-kaca.
Ali lantas mengusap air mata Prilly yang sebentar lagi akan meluncur. Ia sungguh tidak suka melihat Prilly menanggis. Kecuali menanggis bahagia. Ia sudah berjanji pada Prilla.
Tanggis Prilly tak bisa ditahan saat mendengat kata demi kata yang Ali ucapkan. Tapi sbelum air mata itu keluar Ali lebih dulu mengusapnya.
Ia tidak menyangka Ali bisa berkata seperti itu. Ali sungguh sangat sabar. Prilly sendiri bisa melihat jelas binar ketulusan dimata indah Ali. Ia merasa senang, karna Ali bisa menerima keputusannya itu.
"Makasih mas udah mau bersabar. Walaupun aku belum bisa menjadi istri idaman, aku akan tetap berusaha untuk menjadi istri yang baik buat kamu mas." ucap Prilly dengan terisak.
Prilly lantas memeluk Ali tiba-tiba. Ia menenggelamkan wajahnya didada bidang Ali. Ia semakin mengeratkan pelukannya saat Ali juga membalas pelukannya.
Ali meletakkan dagunya dikepala Prilly. Seperti biasa, tangannya tak akan berhenti mengelus punggung Prilly, jika isakan tanggis Prilly belum mereda.
Prilly mendongakkan wajahnya menatap Ali.
"sekali lagi, makasih."ucap Prilly pelan sambil kembali menenggelamkan wajahnya didada Ali.
"sama-sama" ucap Ali lembut .
Tok tok tok
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka. Ali lantas melepaskan pelukannya dan berjalan untuk membukakan pintu.
Anak itu tersenyum senang saat melihat Ali membukakan pintu.
"Papa captain"Pekik Fikri Girang sambil mengulurkan kedua tangannya meminta gendong.
"Hai jagoan."balas Ali senang, sambil membawa Fikri kedalam gendongannya dan membawanya masuk.
Prilly pun dikenalkan dengan Fikri karna memang Prilly belum mengenalnya. Ia hanya bertemu saat dirumah sakit . Dan saat pemakaman kakaknya.
"Hai tante cantik? "sapa Fikri sambil mencium punggung tangan Prilly.
"hai jagoan, "balas Prilly sambil mengambil alih gendongan Fikri dari Ali.
"kok tante ngak pakek kacamata sih?" tanya Fikri polos sambil mengmati wajah Prilly . Lucu.
Prilly terdiam sesaat. Ia tahu, yang dimaksud Fikri adalah Prilla.
"Beli es krim yuk? "bujuk Ali mencoba mngalihkan perhatian Fikri.
"ayo.. Tapi tante cantik ikut ya? "pinta Fikri sambil menunjukkan puppy eyesnya.
Prilly yang gemaspun langsung mencium fikri bertubi-tubi. Fikri terkekeh geli. Setidaknya Fikri bisa membuatnya sedikit terhibur, pikir Prilly.
Ali yang melihat Prilly tersenyum pun senang.
"ayoo beli es krim" ucap Ali girang.
Mereka pun berjalan menuruni tangga bersama.
Jika dilihat mereka seperti keluarga bahagia.
Bunda Resi, Kaia dan Dani yang melihatnya pun ikut senang bisa melihat Ali dan Prilly tersenyum.
*****
Suasana makan malam terasa hangat. Walaupun mereka tahu kalau Ali dan Prilly masih terlihat berduka atas kepergian Prilla.
Fikri yang baru tadi mengenal Prilly sekarang tak ingin lepas darinya. Bahkan saat makan pun inginnya duduk dipangkuan Prilly. Prilly yang memang suka akan anak kecil pun merasa senang.
Ali yang duduk disamping Prilly ikut tersenyum . Satu yang Ali tangkap, bahwa Prilly dan Prilla sama2 penyuka anak kecil.
Setelah makan malam,kini mereka berkumpul dirung tamu sambil menonton tv. Candaan2 ringan sedikit demi sedikit meluncur keluar untuk mengurangi rasa sedih. Prilly pun sesekali ikut tertawa melihat Ali dan Dani yang selalu saja bercanda. Sedangkan Fikri masih asik dengan mainan pesawatnya.
"Bunda besok mau pulang ke Bandung ya? "ucap bunda Resi. Dani dan Kaia yang sudah tahu rencana bundanya pun hanya bisa pasrah mengikuti.
"Pulang? Maksud bunda? "Tanya Prilly heran.
"iya sayang, Bunda mau pulang ke Bandung. Butik bunda yang diBandung udah lama ngak bunda handle. Disini bunda juga ngak punya kesibukan. Bosen. Perusahaan juga udah ada Dani yang ngurusin. Lagi pula Ali udah ada kamu. Jadi bunda ngak khawatir "ucap bunda Resi menjelaskan.
"Apa ngak terlalu cepet bun? "Tanya Prilly lagi.
"Iya bun, setidaknya tunggu bebrapa hari lagi"imbuh Ali
"engga, Bunda udah terlalu kangen Bandung. Kasihan sepupumu Baja ngak ada yang nemenin"ucap bunda Resi sambil terkekeh.
"Kalau aku sama Dani sih, oke2 aja Li. Disana ada Baja sama bik Rum. Lgian kasihan Baja ngak ada yang nemenin"ucap kaia yang diangguki oleh Dani.
Ali berpikir sebentar. Tapi apa yang bundanya ucapkan ada benarnya juga. Baja diBandung hanya berdua dengan Bik rum. Orang tua baja meninggal saat Baja lulus SMA. Sejak saat itulah bundanya merawat baja seperti anak sendiri. Awalnya bunda juga mengajak Baja untuk ikut ke jakarta tpi dia memilih untuk menetap diBandung.
"ya sudah, Ali setuju. Kalau itu baik menurut Bunda. "ucap Ali. Prilly pun mengangguk tak bisa menahan.
*****
Prilly tengah memasukkan baju2nya kedalam lemari. Melihat kamar Ali yang rapi, Prilly bisa menebak kalau Ali tipe orang yang disiplin. Bahkan lemari pakaiannya pun tertata sangat rapi.
Prilly menoleh kearah pintu saat mendengar derit pintu terbuka. Melihat Ali yang datang ia tersenyum.
"Udah mas? "Tanya Prilly pada Ali yang baru saja selesai membantu Dani memeriksa file perusahaan.
Walaupun Ali seorang Pilot, tapi kemampuan berbisnis yang ayah dan bundanya milik ikut menurun padanya. Bahkan saat tidak ada jadwal flight ia kadang pergi ke kantor untuk membantu Dani.
"udah ni. Udah malem Prill. Lanjut besok aja."ucap Ali sambil Memandangi Prilly yang terus saja merapikan baju2nya.
"Tanggung, bentar lagi."ucap Prilly tanpa menoleh kearah Ali.
Ali pun berjalan mendekat hendak membantu Prilly. Namun tidak diperbolehkan oleh Prilly.
"mas, ini tu kerjaannya cewek, bukan cowok. Kamu mendingan istirahat aja."Ucap Prilly dengan tersenyum. Ali bernafas kasar. Ia mengalah, ia tak ingin berdebat dengan masalah kecil.
Ali lantas berjalan keranjang. Merebahkan tubuhnya sambil memainkan hp agar tak merasa bosan saat menunggu Prilly berkemas.
"akhirnya"ucap Prilly puas karna telah selesai membereskan barang2nya. Saat ia berbalik, ia mendapati Ali sudah tertidur diranjang nya. Nafasnya teratur. Prilly berjalan mendekat, duduk disampingnya. Ia menatap wajah tampan Ali. Wajahnya terlihat begitu damai. Bulu mata lentiknya terlihat sangat jelas saat tertidur.Prilly tersenyum. Ia tahu, ia belum merasakan cinta pada Ali, namun tak bisa dipungkiri bahwa saat dipeluk Ali ia merasa sangat nyaman, bahkan ia tak pernah merasakan kenyamanan itu saat dipeluk kevin. Apakah ia sudah mulai menerima Ali? Tanyanya dalam hati. Lalu bagaimana dengan Ali? . Prilly tahu Ali selalu memberikan perhatian kepadanya, walau kadang dengan ekspresi yang datar. Ia hanya takut saat ia sudah bisa mencintai Ali, Ali malah belum bisa mencintainya. Prilly takut, kalau perhatian yang sudah Ali berikan padanya karna Ali menganggap dirinya Prilla.
Setetes air mata kembali mengalir dari pelupuk matanya. Ia lalu menyeka air matanya. Mengambil hp yang masih ada dalam genggaman Ali dan menyelimutinya sebatas dada. Prilly lalu mengambil bantal dan seprei. Biarkan kali ini ia yang tidur disofa. Ia tak tega melihat Ali yang harus menahan sakit badan karna 2 hari terakhir harus tidur disofa.
"selamat malam"ucapnya lirih sambil mengelus rambut Ali pelan.
__ADS_1
*****