Cinta Terakhir Putra Mahkota

Cinta Terakhir Putra Mahkota
Mutlak Tak Bisa Di Bantah


__ADS_3

Entah takdir baik atau buruk, yang pasti Tuhan selalu memberikan jalan kehidupan terbaik untuk setiap umat nya.


"Apa ??? Tuan Vez apa kau becanda dengan ucapan mu, Minggu depan aku baru ikut magang untuk kelangsungan kuliah ku, tidak mungkin aku akan menikah Tuan"


Dunia Qia kini benar-benar berantakan, bagaimana tidak. Siang ini Vez datang menjumpai nya bahwa minggu depan adalah hari dimana ia akan menikah dengan Sultan.


"Gak bisa gini dong, dia ngak bisa ngatur-ngatur kehidupan ku !!!" Qia berteriak di depan Vez.


"Orang tua ku belum tau tentang ini dan satu lagi mana tuan mu yang bodoh itu, dia benar-benar membawa bencana ke hidup ku" Kini Qia mulai terisak dengan takdir hidup nya.


Maaf Nona, mungkin ini yang terbaik untuk mu.Vez.


Qia berlari meninggalkan Vez yang masih mematung.


Aku harus bertemu dengan nya, ini tak bisa di biarkan.


"Apa-apaan kau memutuskan sepihak tentang sebuah pernikahan bahkan aku saja belum memberi tau orang tua ku perihal ini"


"Kau datang marah-marah apa kau tidak lihat pekerjaan ku sedang menumpuk ?" Sultan menunjuk ke arah dokumen yang ada di depan nya.


"Persetan dengan pekerjaan mu" Qia mulai emosi.


"hei gadis semekot, kau tenang lah bukan aku yang meminta pernikahan ini di percepat tapi ibu ku, kau boleh bertanya pada nya di rumah sakit perihal ini" ujar Sultan kembali memeriksa berkas yang ada di tangan nya.


"Huftttt" Qia menghembuskan nafas nya dengan kasar.


Kalau sudah kehendak Ibu Sekar aku bisa apa, bukan kah semua ini aku sendiri yang memutuskan nya, Keinginan nya tak akan bisa di tolak, mutlak tak bisa di bantah.


Qia keluar dari ruangan Sultan berjalan gontai tanpa pamit sepatah kata pun.


Bu, maaf kali ini aku memakai nama mu, aku tak ingin menantu mu hancur setelah mengetahui kebenaran hidup nya.


Sultan menarik nafas lalu membuang nya, ia merasa lega karena tak ada lagi bantahan dari Qia. Kini tinggal satu pekerjaan lagi yaitu menemui Tuan Sinaga dan Nyonya Silta.


"Hallo kak, apa kakak di kantor ? Aku rindu" Suara dari penelvon.


" Aku di kantor" jawab Sultan ketus.


"30 menit lagi aku kesana ya kak, aku datang bersama kakak Amvli" si penelvon itu adalah Amara.


Sebenar nya Sultan tak punya waktu tapi berhubung yang datang adalah Amvli ia tak punya pilihan lain selain mengiyakan ucapan Amara.


Ah padahal 45 menit lagi pesawat ku akan berangkat.


Sultan telah menunggu lebih dari 30 menit namun Amara dan Amvli tak kunjung datang.


Saat Sultan keluar ruangan nya ,ia tak menemukan sekretaris nya, ia melihat jam di tangan nya tanpa pikir panjang ia berlalu pergi menuju bandara, Tanpa di sadari nya bahwa ia telah membuat janji dengan Amara dan Amvli yang lebih fatal ia lupa mematikan barang elektronik nya yang menyimpan fakta keluarga Fris.


Karena macet Amara dan Amvli baru sampai di kantor Sultan,

__ADS_1


"Nona Amara,Tuan Amvli tadi Tuan Sultan sudah mengabarkan akan kedatangan kalian, Silahkan langsung ke ruangan Tuan Sultan" Ucap sekretaris cantik itu.


Amara dan Amvli hanya mengangguk lalu masuk ke ruangan.


"Lah kok Sultan nya ngak ada dek ?"


"Mungkin lagi keluar kak, kita tunggu aja" ucap Amara.


Ponsel Amvli berdering, ia mengangkat nya, setelah menutup telvon Amvli mendekati Amara.


"Dek, Kakak duluan ya. Di kantor ada kedatangan tamu penting" ujar Amvli.


"Ahhh kakak mah gitu, tapi yaudah deh hati-hati ya" rungut Amara.


"Iya ,maaf ya dek, Sampaikan salam kakak sama Sultan" ucap Amvli dan berlalu.


Amara yang masih menunggu Sultan berjalan mengelilingi ruangan megah tersebut.


Sangat mewah dan bersih. eh itu laptop Sultan kenapa masih nyala, aaa pasti dia lupa mematikan nya.


Amara berjalan menuju meja Presdir Vender tersebut, Niat nya yang hanya ingin mematika laptop malah terhenti.


keluarga Fris,bukan kah gadis yang akan menjadi calon istri Sultan bernama Shidqia Fris ya.


Dengan penasaran Amara membaca kata demi kata. Cihhhh kau memalukan sekali, kau lahir dari keluarga yang begini, sungguh kau tak pantas menyandang status Nona Muda Vender,


Amara mulai menyalin semua nya ke dalam ponsel milik nya, Bersiap lah denga kehancuran mu Nona Fris, Kau salah jika ingin melawan Nona Biraste,


" O iya itu, Sultan seperti nya masih lama kembali Saya pulang saja masih ada keperluan lain" Ucap Amara.


Amara bergegas meninggalkan kantor Sultan dan menemui seorang wartawan.


"Kau buat berita tentang ini dan ini bayaran mu, jangan pernah sebut nama ku" Amara memberikan sebuah dokumen dan amplop berisi uang pada laki-laki itu.


"Baik Nona". Setelah itu Amara berlalu masuk dalam mobil nya dan pergi meninggalkan laki-laki yang tengah senang tersebut karena baru mendapatkan uang yang begitu banyak.


Sultan sudah sampai di kota T, ia bergegas ke sebuah restoran bintang lima.


"Sudah lama ya" ucap nya.


"Sudah 20 menit yang lalu" Ucap Silta yang masih merasa aneh dengan pertemuan mendadak dengan orang terkaya di negeri nya ini.


"Langsung saja Tuan Vender apa yang ingin kau katakan pada kami" Ujar Sinaga.


"Hahaha buru-buru sekali Tuan Sinaga, Tapi lebih cepat lebih bagus" Ucap Sultan sinis.


"Katakan apa tujuan mu menemui kami"


"Begini tuan Sinaga, Aku menginginkan anak mu"

__ADS_1


"Hahah Anak ku yang mana Tuan Vender yang terhormat, aku tak punya anak, bukan kah begitu Silta" Lirik Sinaga pada istri nya yang di jawab anggukan oleh sang istri.


"Tak usah banyak bicara tuan Sinaga, kau punya seorang putri bernama Shidqia Fris, Aku ingin menikahi nya" Ucap Sultan mantap.


Dorrrr bak tertembak peluru Silta yang awal nya tenang kini air muka nya berubah,


Apa yang telah terjadi pada putri kesayangan ku, kenapa Tuan Vender ini menginginkan nya.


"Dari mana kau tau tentang putri ku" Jawab Sinaga emosi ia mulai khawatir pada putri kesayangan nya itu ,anak yang selalu di jaga nya.


"Tenang lah Tuan Sinaga, Aku tak menyakiti putri mu aku hanya ingin menikahi nya"


"Tidak. Putri ku tak akan menikah dengan mu" Sengit Sinaga.


"Baiklah jika itu mau mu, aku tak meminta mu merestui, aku hanya memberitahu mu Tuan Sinaga dan jika kau berani menentang keputusan ku yang mutlak ini maka kau akan ku jeblos kan ke penjara atas dasar bisnis perdagangan manusia yang kau jalani selama ini" Ucap Sultan penuh penekanan.


Sinaga dan Silta langsung memucat, Ia tak tau harus melakukan apa, Putri kesayangan nya, bisnis nya, nama baik nya semua berlarian di kepala nya.Tak ada pilihan lain ,ia harus melepaskan putri satu-satu nya itu.


"Baiklah tuan Vender, aku setuju kau menikahi putri ku tapi kau harus menjaga nya dengan baik mencintai nya dengan tulus, jangan membuat putri ku menderita" Sinaga kini sudah mulai menurun kan suara nya seraya memohon sedangkan Silta sudah menangis, Ia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan gadis kecil nya itu saat ini.


**Maafkan Ayah nak. ayah terpaksa.


Qia, Maafkan bunda ,maaf Qia, jangan membenci bunda.


"Kau tak perlu meminta karena aku tak akan pernah menyakiti Qia, Aku juga sangat menyayangi nya, Bereskan lah bisnis haram kalian ini, hidup lah lebih baik, Aku tunggu kedatangan kalian di pernikahan kami" Ucap Sultan yang hendak berdiri namun ia kembali duduk karena ada notifikasi email dari Vez.


"Keparatttttttt" teriak Sultan sontak membuat Sinaga dan Silta kaget.


"Ada apa Tuan ?" tutur Silta khawatir.


" Kalian bersiap lah berita tentang bisnis haram kalian sudah beredar, bersembunyi lah aku akan mengurus ini agar Qia tak mengetahui hal ini" Ucap Sultan yang sudah panik.


Mendengar hal Itu Sinaga dan Silta berdiri "Lindungi Qia Tuan kami mohon, kami akan segera kembali" mereka berdiri dan mulai meninggalkan Sultan.


"Kita harus cepat Yah, Sebelum pihak kepolisian mengetahui keberadaan kita" Ucap Silta sudah mulai ketakutan.


"Tenang lah, kalian bisa ke pulau pribadi ku, tinggal lah disana sampai suasana sudah mereda" teriak Sultan, Kedua nya menoleh dan mengangguk patuh.


Setelah kedua orang tua Qia berlalu Sultan mulai menghubungi satu persatu orang nya untuk menekan berita yang muncul.


Jika terjadi hal buruk pada gadis ku, siapa pun itu di balik muncul nya berita ini akan ku beri pelajaran ucap Sultan dengan tangan yang sudah mengepal.


Shidqia yang merasa pusing terus memegangi kepala nya di sebuah taman, Ia masih tak percaya dengan jalan hidup nya saat ini.


"Ku hubungi Ayah dan Bunda saja"


Namun ketika ia membuka ponsel nya, ia merasakan hidup nya benar-benar sebuah kutukan, Setelah membaca semua isi berita yang sedang trending topik tubuh nya seakan tak lagi berada di bumi.


Ia menangis dan mulai berjalan tanpa tau arah dan tujuan tatapan nya kosong.

__ADS_1


Boleh kah aku mendahului takdir mu Tuhan ucap nya lirih.


__ADS_2