
Terkadang cinta memang bukan soal harus memiliki walaupun hati menginginkan perasaan yang saling berbalas bukan maksud memaksakan kehendak, Bukan kah perasaan perlu di perjuangkan. Namun terkadang seseorang juga harus sadar diri tentang sebuah kenyataan. Sakit memang, Tapi itulah kenyataan.
"Kak, Amara kurang apa ? Amara cantik, Semua orang menginginkan Amara, Mendambakan Amara, tapi mengapa Sultan tak pernah melihat Amara sedikit saja kak???
" Dek, Kadang bukan hanya kata hati yang harus kita dengarkan. Dalam mencintai seseorang kau juga harus melibatkan pikiran mu"
"Tapi kak Amara mencintai Sultan dengan tulus kak, Amara setia menunggu Sultan selama ini kak, Tapi mengapa kak ,mengapa harus gadis lain yang Sultan genggam kak, Kurang Amara dimana kak ?
" Coba tatap kakak dek. Bagi kakak kau tak ada kurang bahkan seujung kuku pun, Tapi dek kau harus tau, Tak semua yang kita inginkan akan kita dapatkan, Kau tau bahkan romeo dan juliet saja yang saling mencintai tak bisa bersatu dalam sebuah ikatan dek, Hidup ini pilihan dek. Jika kau tetap menuruti hati mu saja, Bersiaplah patah berkali-kali"
"Lalu Amara harus bagaimana kak ? Amara sangat mencintai Sultan kak"
"Kau hanya perlu menerima kenyataan dek, Tak usah lupakan dia, tetap lah cintai ia sebagaimana dari awal kau mencintai nya tapi mulai lah menerima kenyataan dek bahwa dia tak menginginkan mu, Berusahalah untuk tidak lagi menambah kadar perasaan mu pada nya"
"Amara belum bisa kak"
"Tenang lah ,tak perlu cepat-cepat, merangkak lah walaupun lambat tapi pasti" Amvli mengusap kepala adik nya dengan lembut.
"Satu pesan kakak dek, Jangan pernah berbuat hal bodoh hanya karena cinta. Jangan pernah menyakiti diri mu sendiri dan jangan pernah mencoba menyakiti orang lain. Jika kau beruntung, kau akan menemukan orang baik, tapi jika kau tak beruntung, orang baik yang akan menemukan mu"
__ADS_1
Bahkan kau sudah tau apa yang akan ku lakukan setelah ini kak, kau bisa menjinakan amarah ku dari pada aku kak. Amara
;,..........
Amara yang tadi nya sangat terguncang dan penuh amarah kini sedikit tenang,mengeratkan pelukan nya pada sang kakak dan akhirnya tertidur pulas.
Amvli membawa adik tercinta nya ke dalam kamar milik nya dan menyuruh para pelayan rumah untuk membereskan kamar Amara yang sangat berantakan.
Inilah alasan kenapa aku takut mencintai seseorang, Aku takut menjadi orang bodoh seperti ini. Amvli.
Ya Tuhan, Apa yang sudah terjadi pada nona Amara, kenapa kamar ini sehancur ini, Semoga kau baik-baik saja nona. Bi Asti
"Tuan, Apa yang sudah terjadi pada nona Amara, Bibi lihat amarah nya tak terkendalikan kali ini" Ujar Bi Asti pada Amvli yang dari tadi menatap nanar kamar sang adik yang hancur lebur.
"Aaaa Bibi kan tau sendiri bagaimana Amara, Apa yang ia inginkan harus di dapatkan nya"
Ya.. tentu saja Bi Asti tau bagaimana sifat nona muda Biraste tersebut, Amara dewasa sama saja dengan Amara kecil dulu tak banyak yang berubah dari gadis cantik tersebut, Selalu ingin menang sendiri, Apa yang ia mau harus ia dapatkan, amarah nya yang tak bisa di kendalikan jika ada sedikit saja masalah.
"Nona tidak banyak berubah ya tuan. Masih seperti dulu" ucap Bi Asti dengan senyum di bibir nya, Sedangkan pelayan lain nya memasang kuping selebar mungkin untuk mendengar percakapan antara tuan dan kepala pelayan wanita itu.
__ADS_1
"Pasti Bi, Bibi sih terlalu memanjakan Amara dari kecil, Lihat tuh kelakuan nya selalu bikin kepala Amvli mau pecah" Amvli memandang Bi Asih dan tertawa,
Ia sangat ingat bagaimana manja nya sang adik pada Bi Asih, Bahkan Amara lebih manja pada pengasuh nya itu ketimbang sang Mama kandung nya. Jika Mama mereka pergi keluar negeri atau keluar kota, Amara akan melambaikan tangan nya dengan senyum paling manis.Namun jika Bi Asih yang kadang hanya pergi ke supermarket untuk membeli kebutuhan bahan makanan, Amara akan menangis sejadinya seperti Bi Asih akan pergi jauh saja.
Dia bahkan lebih menyayangi mu dari pada ibu yang melahirkan nya Bi, Terimakasih sudah merawat kami dari kecil. Amvli
"Tuan"
"Eh ya Bi, Kenapa ?"
"Sudah malam, jangan suka bengong nanti kemasukan setan loh" Tutu Bi Asti padan Amvli menatap kosong jendela kamar Amara.
"Heheh Bibi bisa aja, Ya sudah, Saya akan tidur di kamar bawah, karena Amara berada di kamar Saya, Selesai ini Bibi istirahatlah di dekat Amara dan yang lain istirahat lah, Terimakasih telah banyak membantu Saya mengurus rumah ini "
"Baik tuan" Ucap para pelayan serentak.
Amvli pun berlalu keluar dari kamar Amara menuju kamar di lantai bawah untuk beristirahat.
"Ma,Pa. Kalian kapan kembali. Banyak hal yang kalian lewatkan dari Amara, Sekarang dia sangat membutuhkan pelukan mu Ma. Tapi tenang saja Saya akan menjaga Amara sepanjang hidup Saya, Jangan khawatir, Anak laki-laki mu ini tak akan membiarkan putri kesayangan kalian tersakiti" Amvli.
__ADS_1