
Ketika hati sedang patah pikiran tak bisa di pakai dengan baik untuk menanggapi nya.Bukan tak pandai mengendalikan diri hanya saja untuk menatap hari esok dengan luka yang terlalu dalam bukan lah pilihan.
Shidqia terus berjalan menyusuri jalanan kota Z. Sang mentari sudah beranjak ke peristirahatan nya namun gadis mungil yang sudah berpenampilan kacau tersebut masih asik dengan air mata nya.
"Tittttttttttttttttttt" Suara klakson mobil berulang kali.
"Hei kau mau mati ya, Sudah bosan hidup, jika mau mati jangan merepot kan orang lain" Ucap yang empunya mobil.
Shidqia tak mengubris sedikit pun ia terus berjalan menatap kosong kedepan.
Aihhhh ada apa dengan gadis itu, Tuli kah atau buta, dengan penasaran Amvli turun dari mobil nya berlari kecil ke arah sang gadis tersebut.
Hah dari penampilan nya dia bukan orang gila tapi sedikit kacau saja, OMG, liat tatapan tak ada arti kehidupan di mata itu.
"Hei kau, apa kau tak mendengar ucapan ku ?" Amvli berusaha untuk berbicara dengan gadis yang masih mematung di hadapan nya itu, Namun tak ada tanda suara dari gadis itu.
"Kenalkan Aku Amvli, Kau kenapa ? kenapa muram sekali ?" Amvli mengulurkan tangan nya namun makhluk di depan nya ini tetap tak memberikan respon.
"Aiyoyoyo, seperti nya masalah hidup mu berat sekali ya sehingga tak merespon orang seganteng aku, Dasar gadis bodoh" Ucap Amvli.
Mendengar apa yang meluncur dari mulut laki-laki di depan nya Shidqia menarik nafas kasar.
"Tau apa kau tentang hidup ku jangkan kau kedua orang tua ku saja tak menganggap ku ada" Teriak Qia dalam isakan tangis nya.
"Hei hei maaf bukan maksud ku, baiklah kita bisa menjadi teman kau boleh bercerita banyak pada ku, ayo lah aku pun..." belum selesai dengan ucapan nya Qia sudah menyodorkan sebuah beling kaca pada wajah Amvli.
"Apa kau gila, kau ingin membunuh ku? " ujar Amvli mundur beberapa langkah
"PERGII" Ucap Qia berteriak
Melihat lawan bicara nya yang mulai bersetan akhir nya Amvli memilih pergi.
"Kau baik-baik lah, Percayalah Tuhan punya hadiah terindah untuk mu apapun masalah yang sedang kau hadapi" ucao Amvli seraya mundur dan masuk ke dalam mobil nya.
__ADS_1
Setelah kepergian Amvli Qia mulai menyusuri jalan lagi berjalan tak tentu tujuan ia hanya berjalan menangis dan terus menangis.
Sultan yang sudah sampai di kota Z mulai cemas.
"Vez apa kau tidak tau kemana Qia, bagaimana ini jika terjadi hal buruk pada nya aku tak bisa memaafkan diri ku" Ucap Sultan panik.
"Tenang lah Tuan, Saya sudah mengerahkan semua orang untuk mencari keberadaan Nona"
"Vez aku juga akan mencari nya, kau pergilah mencari nya juga, jika kau menemukan Qia segera hubungi aku" Sultan berlari ke arah mobil nya mulai menyusuri jalan kita Z, ia sangat takut saat ini, takut jika Qia berbuat hal fatal, ia tau bagaimana hancur nya perasaan gadis nya itu.
Qia ku mohon jangan seperti ini kau masih punya aku dan ibu ku
Qia sudah sampai di sebuah jembatan gantung ia menatap nanar ke bawah,
jika pun aku mati hari ini tak akan ada yang peduli,Ayah Bunda, hidup Qia sudah berakhir, Tuhan maafkan Qia,
Qia mulai menatap sambil tersenyum kecut pada beling kaca bekas minuman teh yang ia pecahkan tadi. Mungkin sudah saat nya. Qia mulai melukai pergelangan tangan nya menancap kan beling tersebut tepat di nadi nya.
Darah segar mulai mengalir di pergelangan tangan Qia, tak ada rasa sakit yang di rasakan nya tubuh dan jiwa nya seakan mati membeku, ia terus memperlebar luka di tangan nya hingga tatapan nya mulai buram.
"Qia"
Sultan berhenti dan langsung keluar dari mobil nya tanpa mematikan kendaraan tersebut. Ia berlari sambil mengambil ponsel nya menghubungi Vez.
"Aku menemukan nya, jembatan gantung sebelah selatan kota Z" ucap Sultan.
Vez yang mendapatkan kabar tersebut langsung menuju tempat yang di sebut kan tuan nya.
"Qia, apa kau baik-baik saja, kau kenapa sampai pingsan disini dasar gadis bodoh" Ucap Sultan memeluk tubuh mungil di hadapan nya tanpa ia sadari darah sudah menggenang di samping Qia.
Vez memacu kendaraan nya hingga ia sampai di depan dua tubuh manusia, yang satu nya sudah terkulai lemah sedangkan yang satu nya lagi masih memeluk tubuh yang sudah pucat pasi tersebut.
"Tuan, apa yang kau lakukan" Ucao Vez menyadari genangan darah di samping tubuh Qia.
__ADS_1
"Hei aku hanya memeluk tubuh calon istri ku, kau mengganggu saja" Ucap Sultan.
"Ahhh ,lihat lah tuan" Vez menunjuk ke arah pergelangan tangan Qia.
Sultan melihat ke arah yang di tunjuk Vez, ia sangat terkejut dengan pergelangan tangan Qia yang terluka parah.
"Shitttt bodoh sekali aku, Vez ayo kerumah sakit tak ada waktu lagi" Sultan membopong tubuh Qia yang mulai dingin.
*Kau tak boleh pergi, kau tak boleh egois bagaimana dengan hidup ku jika kau pergi, Tuhan selamatkan calon istri ku.
Bertahan lah Nona jangan pergi dari tuan muda*,
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit Sultan terus memegangi pergelangan Qia bahkan ia merobek kameja nya untuk menutup luka Qia agar darah berhenti mengalir.
"Cepattttttttttt" Teriak Sultan sesampai di depan rumah sakit, Semua perawat berhamburan dengan cepat, melihat sang empunya rumah sakit datang.
"Bertahan lah ku mohon bertahan lah untuk ku" Ucap Sultan yang sedang memandangi wajah Qia yang sudah membiru, Saat ini Sultan sudah menangis, dunia nya seakan-akan pergi bersama gadis yang sudah tak berdaya di dalam gendongan nya.
"Lakukan apa saja pada nya ,selamat kan calon istri ku" Ucap Sultan.
"Baik tuan" ucap sang dokter.
Jangan ambil dia Tuhan, Jangan ambil masa depan ku, jangan Tuhan ku mohon kali ini jangan.
Melihat Tuan nya sudah tak seperti manusia lagi m, Vez datang memeluk bahu Sultan.
*Setelah kejadian saat ibu masuk rumahbsakit kemaren ini k*edua kali nya kau menangis tuan.
"Tenang lah Tuan, Nona pasti selamat, Nona pasti kuat"
"Vez jika terjadi hal yang tak ku ingin kan bagaimana hidup ku setelah ini Vez"
" Tak akan terjadi hal buruk tuan percayalah. Bagaimana kalau kita salat tuan, mendoakan Nona" Ucap Vez pada tuan nya.
__ADS_1
"Aaa kau benar Vez, Ayo aku ingin meminta tolong pada Tuhan ku, tak ada yang berkuasa selain Dia" Sultan menarik tangan Vez menuju bangunan suci tempat Qia pernah mengajak nya untuk mendoakan sang ibu.
Tuhan, Selamat kan Nona muda, Aku tak bisa melihat tuan terluka untuk ke sekian kali nya karena di tinggalkan orang-orang yang ia cintai dan kali ini yang paling parah.Vez