
Rumah adalah istana setiap insan manusia, bagaimana pun bentuk bangunan sebuah rumah tetap saja Ia adalah tempat kembali yang sangat hangat, Namun hal itu tak berlaku bagi seorang Nyonya di keluarga Vender.
Seorang wanita yang sudah berumur sekitar 50 tahun duduk diam di sebuah taman yang sangat indah, Bagi wanita itu rumah bukan lah tempat nya berbagi udara dengan orang-orang tersayang, Bagaimana tidak, di usia nya yang sudah tak muda lagi Ia selalu di tinggal sendiri oleh suami dan anak-anak nya, hanya ada pelayan rumah tangga itu pun tak ada yang terlalu dekat dengan nya, sudah sejak lama Ia merindukan suasana hangat di meja makan, becanda bersama anak dan suami nya tapi nampak nya itu hal yang mustahil.
Bagi seorang Nyonya keluarga Vender hari-hari nya hanya di habis kan di rumah, Ia senang merangkai bunga,bercocok tanam,merajut kain serta membuat kue, Satu hal yang jauh dari seorang Nyonya besar Vender Ia tak menyukai dunia sosialita walaupun harta nya melimpah mungkin saja tak akan habis 7 turunan, Nyonya besar Vender itu bernama Sekar Ayu istri tercinta dari Tuan besar Sabbana Vender.
Siang itu Nyonya besar Vender merasa menghirup udara yang sangat segar, Bukan tanpa alasan siang ini Ia melihat sang anak yang selama ini di bujuk nya untuk menikah terlihat bersama seorang gadis dalam dekapan nya.
"Hallo Vez, Apakah benar tentang foto yang beredar di dunia maya itu, Ibu sangat bahagia Vez, kenapa kau tidak pernah memberi tahu ibu kalau Sultan memiliki kekasih,Ibu sangat kesal dengan mu Vez, Pulang dari kantor kau akan Ibu habisi, Ingat-ingat saja dengan pusar mu itu akan Ibu pelintir puluhan kali" Nyonya Vender mengancam Vez.
"Ibu bukan begitu, Aku juga baru tau, jangan malakukan penganiayaan pada anak mu Bu, Aku tak bersalah, Sultan yang punya masalah Bu, pakai acara menggendong seorang gadis segala" Vez memohon pada Nyonya Vender.
"Kalian berdua cepat lah pulang ,Ibu akan kasih perhitungan pada kalian berdua karena sudah berani-berani nya kalian tak mengenalkan calon menantu ku"
"Baik Ibu ,Aku tutup Bu, percayalah Aku merindukan masakan mu bukan cubitan mu Bu" Vez cepat-cepat mematikan telvon nya.
__ADS_1
"Habislah kita Tuan muda" Vez
"Tuan muda Ibu mengetahui kejadian tadi siang" Vez menjelaskan apa yang di bilang Nyonya Vender itu via telvon, Sultan yang masih duduk di depan IGD menantikan Shidqia di periksa dokter pun mulai gusar.
"Bagaimana Ibu bisa tau, Siap-siap lah Vez badan kita akan remuk sebentar lagi" Ucap Sultan, Vez yang mendengar ucapan sang tuan pun mulai membayangkan wajah Ibu yang membesarkan nya itu, Wajah yang teduh dengan senyuman indah namun terlintas juga cara Nyonya Vender itu meluapkan kekesalan pada nya membuat Vez memegangi perut tepat nya pada pusar "sudah lama ya, Ibu tak mencubit mu" gumam Vez pada pusar yang di pegang nya.
Tak jauh berbeda dengan Vez, Sultan pun sedang membayangkan wajah sang Ibu,wajah yang menunjukan aura kelembutan namun jika sedang kesal akan seperti orang yang ingin memakan lawan bicara, "Membayangkan nya saja aku ngeri, Hanya kau Bu yang bisa membuat ku takut" gumam Sultan.
Dokter keluar dari ruangan Shidqia....
"Tuan Sultan, Nona yang ada di dalam ruangan baik-baik saja Ia hanya kelelahan dan dehidrasi, Dia pun sudah sadar, Tuan bisa melihat nya sekarang"Jelas Dokter tersebut.Sultan hanya mengangguk dan masuk ke dalam ruangan bersama Vez di belakang nya.
" Enak saja kau bicara, oiya terima kasih tuan
sudah membawa ku kesini. Qia
__ADS_1
" Kau berhutang nyawa pada Saya. Sultan
" Nanti ku bayar pakai nyawa ikan. Qia
" Diam kau, Istirahat lah, Saya mau pulang menemui Ibu, Gara-gara kau Saya jadi punya masalah dengan nya. Sultan
" Aihhh tunggu, aku akan bertanggung jawab kalau memang gara-gara aku kau bermasalah, Boleh kah aku ikut ke rumah mu menemui ibu mu dan minta maaf ? Qia
"Bagaimana menurut mu Vez, Apa kita bawa saja gadis ini sebagai jaminan supaya kita tidak di aniaya Ibu ? Sultan melempar pertanyaan pada Vez.
" Ide yang bagus tuan, Saya juga takut dengan kemarahan Ibu"
" Ide bagus dari mana tuan, yang ada kau hanya akan menambah masalah dengan Nyonya, Tapi tak apa kita nikmati saja kemarahan Ibu yang jarang kita temui itu.Vez
Setelah ada persetujuan dari kedua laki-laki aneh tersebut Shidqia pun mengikuti langkah mereka dan masuk ke dalam sebuah mobil mewah dan duduk di belakang bersama Sultan.
__ADS_1
Perjalanan ke rumah utama itu hanya di hiasi dengan kebisuan, tak ada yang berbicara satu satu sama lain ,mereka tenggelam pada pikiran masing-masing.
"Semoga saja Nyonya itu tak memuntahkan kemarahan nya pada ku, Bisa mati berdiri aku jika itu terjadi, Seumur hidup baru kali ini aku takut menghadapi ibu-ibu, Tuhan selamatkan aku" Qia.