
Kring Kring ( suara alaram ).
Kudengar nyaring bunyi alaram di atas nakas, dengan mata terpejam, aku raba dan segera aku matikan alaram itu. Dengan langkah berat, kumasuki kamar mandi. Setelah selesai dengan ritual pagi, bergegas kupakai seragam putih abu abu yang sebentar lagi akan menjadi kenang-kenangan. Setelah selesai bergegas aku turun untuk sarapan. Di sana terlihat Papa ( Adrianto ) Ibu ( Maya Nuryana) dan adikku ( Alya Noviana ) tengah menikmati sarapan pagi mereka.
''Pagi!"
Mereka tak menanggapi sapaanku. Dingin tanpa ekspresi, wajah yang selalu Papa perlihatkan kepadaku. Aku tidak tau Papa membenciku atau tidak, tapi yang pasti, ia mengangapku sebagai alasan wanita yang sangat ia cintai meninggal. Ya, Mama ( Rianti Asih ) meninggal karena melahirkanku.
Dan Ibu, pangilan yang aku berikan untuk istri kedua Papa. Papa dan Ibu menikah saat Mama hamil 5 bulan. Kata Bi Asih, pembantu yang sudah bekerja dengan keluarga Papa dari sebelum ia menikah. Ia bilang, Nenek ( Ibu Papa ) tidak merestui hubungan mereka karena Mama berasal dari panti asuhan dan tidak ada yang tahu asal usul Mama.
Namun cinta Papa dan Mama sangat besar, dan mereka memutuskan untuk menikah secara diam-diam. Saat Mama hamil, Papa memutuskan untuk memberitahukan hal itu kepada Nenek. Dan alhasil Nenek marah besar, dan ia terpaksa menerima Mama tinggal di rumah ini.
Saat itu, tiba-tiba Papa pulang dengan status pria beristrikan dua wanita. Ijin pergi keluar kota dengan alasan bisnis, tapi malah membawa istri baru pulang kerumah.
''Aku terpaksa sayang, jika aku tidak menikahinya, Mama mengancam akan bunuh diri,''
Alasanya waktu itu. Dengan terpaksa, Mama menerima poligami itu. Harapannya dengan menerima Ibu Maya, Nenek juga akan menerimanya, tapi itu salah besar. Nenek malah semakin menjadi-jadi menyiksa Mama, dan di bantu oleh menatu tercintanya itu.
Di hantam dan di hancurkan secara fisik dan pisikis, membuat Mama mengalami pendarahan dan harus melahirkan di usia kandungan belum genap sembilan bulan.
Di sebabkan pendarahan yang hebat, akhirnya Mama tidak dapat di selamatkan. Bukanya kasihan kepadaku, Papa malah menyalahkanku atas kematian Mama. Jika aku boleh berharap, aku juga ingin Mama hidup.
Kembali kemasa sekarang.
Ibu dan adikku, em lebih tepatnya adik tiriku. Mereka sangat tidak suka denganku, beribu cara mereka lakukan agar aku keluar dari rumah ini, tapi semua itu gagal karena Papa selalu mencegahku untuk pergi. Oleh karena itu, aku tidak tau Papa membenciku atau menerimaku, tapi yang pasti, ia selalu acuh kepadaku.
Kuhabiskan sarapanku dengan cepat, tak enak melihat raut wajah mereka. Setelah selesai, bergegas aku ambil tasku dan berpamitan dengan mereka.
''Aku berangkat dulu,''
Makan paling akhir, selesai paling awal. Hari-hari kulakukan agar tak terlalu lama melihat wajah mereka.
Kukendarai motor yang baru saja di berikan Papa saat ulang tahunku yang ke 18. Kenapa aku di belikan motor, agar tak menyusahkan, katanya.
__ADS_1
Namun, Entah mengapa hal kecil itu bisa membuat Alya merasa iri dan tidak adil! Ia langsung merengek kepada Papa untuk di belikan mobil. Dan beberapa jam kemudian, mobil barupun sudah terparkir indah dihalaman rumah, beserta supirnya.
Iri! Ya, aku iri kepada Alya. Ia masih memiliki seorang Ibu dan Papa juga sangat menyayanginya. Aish sudahlah, ini sudah menjadi takdirku dan mau tidak mau aku harus menerimanya.
Aku lajukan sepeda motorku, mengikis jarak antar aku dan gedung sekolah. Sesampainya di tempat parkir, aku parkirkan motorku dengan rapi di sana. Bergegas aku berjalan masuk kearea sekolah.
''Hai Kira!''
Sapaku kepada sahabat dekatku itu, ia satu-satunya orang yang mau berteman denganku. Bukan karena aku cupu atau apalah, dulu aku adalah primadona disini, bukan cuma tampangku yang cantik dan manis, tapi otaku juga lumayan cerdas. Namun semenjak Alya bersekolah disini, banyak temanku yang menjauh dariku. Ia selalu mengolok-oloku dan selalu menyebarkan fitnah tentang aku. Huft, biarlah. Toh masih ada Kira yang selalu ada untukku, jadi aku tidak terlalu peduli dengan itu semua.
BTW Alya masih kelas X dan aku kelas XII.
Tring Tring.
Suara bel masuk telah berbunyi, bergegas aku dan Kira duduk di bangku kami. Pak Guru mulai menerangkan materinya. Tak terasa bel pulang sekolah telah berbunyi.
''Anak- anak, sebentar lagi Ujian Nasional. Bapak harap kalian belajar dengan giat dan bersungguh-sungguh. Untuk sementara waktu kurangi dulu mainya, fokus dulu untuk Ujian Nasional,''
''Iya Pak,''
''Terima Kasih, Pak!''
Sepulang sekolah, aku dan Kira mampir kecafe langganan kami untuk membahas tentang Ujian Nasional.
''Halo Bang Mul,''
sapaku kepada Bang Mulya, aku dan Kira selalu memanggilnya Bang Mul, bukan karena apa, hanya saja kami ingin terlihat berbeda.
''Eh bocil kembar. Bang Mul liat-liat kalian makin cantik aja!''
Bang Mul selalu memanggil kami dengan sebutan '' bocil kembar '' karena aku dan Kira selalu bersama. Umur Bang Mul sendiri masih 25 tahun, berkulit sawo matang dengan wajah manis khas orang Indonesia timur. Tubuhnya yang berotot di padupadankan dengan tinggi badannya membuat banyak wanita jatuh hati kepadanya.
''Iya dong, kita mah makin hari makin cantik. Kalo makin hari makin tua, itu Bang Mul!''
__ADS_1
Mata Bang Mul seketika melotot, setelah mendengar ucapan Kira. Mereka memang tidak pernah bisa akur, ada saja hinaan yang terlontar dari mulut mereka setiap kali bertemu. Namun mereka tahu, hinaan itu hanyalah candaan antar teman baik.
''Udah jangan berantem mulu, ntar jadi jodoh lo!''
Mantraku setiap kali mereka bertengkar.
''Bang Mul, pesen seperti biasa, nanti di anter ketempat biasa ya?''
''Siap Shofi. Calon istri Bang Mul,''
''Hi, najis!''
Ucap Kira setiap kali Bang Mul mengodaku.
Aku tarik tangan Kira menuju tempat khusus kami. Kami di buatkan tempat khusus di cafe ini, terletak di rooftop cafe ini.
Tak selang lama, pesanan kami sampai.
''Fi, apa rencana kamu selanjutnya?''
''Aku si niatnya, mau les privat, Ki. Kamu tau kan, kalo aku lemah di bagian Matematika. Untuk saat ini, aku bakal lebih fokus ke situ si,''
''Emm bukanya sebaiknya kamu les di luar aja. Kalo di rumah, aku yakin Ibu dan adik tiri kamu itu pasti akan buat hal supaya belajar kamu terganggu!''
Benar juga yang di katakan Kira, mereka pasti akan mengangguku.
''Biar aja mereka gangguin aku, aku akan tetap fokus belajar dan membuktikan bahwa aku bisa!'' ucapku dengan yakin.
''Kalo itu keputusan kamu, aku si dukung aja. Kalo kamu seneng, aku juga seneng,''
''Makasih ya Ki, kamu selalu ada dan selalu dukung aku,''
''Ngapain bilang makasih, kita kan sahabat,''
__ADS_1
Kira orang yang paling berharga di hidupku, aku sangat beruntung bisa menjadi sahabatnya.