
Aku mengajak Pak Faiz untuk belajar di meja taman belakang rumah. Cara dia mengajar lumayan bagus, cara dia menerangkan materinya juga mudah di pahami. Ya, over all, cukup memuaskan.
"Apa ada yang perlu di tanyakan?"
"Enggak,"
"Oke, berhubung ini sudah jam 6, kita akhiri pembelajarannya sampai di sini,"
"Em, Pak Faiz. Bisa gak kita les nya jam 1 atau jam 2, kalau jam 4 itu kesorean?"
"Saya gak bisa, jatah waktu kamu hanya jam 4 sampai jam 6,"
"Ck, sok sibuk banget si Pak. Aaa Bapak bohong ya soal butuh pekerjaan?"
"Saya tidak berbohong, saya memang sedang butuh pekerjaan,"
"Kalau Bapak butuh pekerjaan, itu tandanya Bapak pengangguran dong? Tapi kok gak punya waktu luang?"
Pak Faiz tiba-tiba menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan.
"Kamu jangan banyak bertanya perihal masalah orang lain, itu tidak baik! Kamu mengerti kan!"
Di tatap dengan tatapan yang sedikit aneh, membuatku tidak bisa berkata, aku hanya bisa menjawab dengan anggukan.
"Saya pulang dulu. Jangan lupa pelajari materi itu, jika ada yang tidak paham, bisa langsung telfon saya!"
"Iya,"
Aku menggantarkan Pak Faiz sampai di depan gerbang rumah, setelah tidak terlihat lagi motornya, lantas aku masuk kedalam rumah.
Baru saja beberapa langkah, suara Ibu mengejutkanku.
''Udah belajarnya, Hah? Sudah puas kamu menghambur-hamburkan uang Papa mu?"
Aku memutar malas bola mataku. Aku benar-benar heran, apa Ibu tidak Lelah mengomel setiap hari? Bahkan aku saja yang hanya mendengar sudah sangat lelah.
"Aku tidak menghambur-hamburkan uang Papa, ini hakku. Tidak ada yang di rugikan di sini, bahkan Papa tidak mempermasalahkan hal ini. Jadi Ibu tenang saja, Papa tidak akan jatuh miskin karena membayar guru privatku,"
Setelah aku mengucapkan haal itu, aku langsung naik ke atas menuju kamarku. Di bawah Ibu terdengar sangat marah ia berteriak memakiku, mengutukku, mengucapkan sumpah serapah yang biasa ia katakan. Aku hanya mengatakan fakta dan ia sudah sangat marah, apa lagi jika dia ada di posisiku? Bisa gila dia di buatnya.
Saat sampai di dalam kamar, ponselku berbunyi.
Kira menelfonku.
"Hallo, Beb,"
"Hallo, Ra. Kenapa ni nelfon?"
"Aku pengen tau, kamu jadi ambil dia sebagai guru kamu?"
"Ya, jadi kok. Bahkan dia udah resmi jadi guru privat aku,''
"Hah. Kok kamu gak ngomong sama aku si?"
"Ya, ini aku baru mau ngomong,"
"Orangnya gimana, ganteng gak?"
"Biasa aja,''
"Yakin? Awas, nanti kemakan omongan sendiri!"
"Ya, kalau kemakan, tinggal di telan,"
"Bodo amatlah, terserah kamu. Bye,"
Kira mengakhiri telfonya, ia sepertinya kesal dengan jawabanku. Aneh si, kenapa juga dia harus marah? Apa jangan-jangan dia suka dengan Pak Faiz?.
"Aaa tidak! Gak mungkin deh Kira suka Pak Faiz, ketemu aja belum pernah. Tadi dia bilang, tidak ada waktu luang. Pasti Pak Faiz sudah menikah, aku yakin itu,"
Di depan gerbang sekolah, aku menunggu Kira datang. Aku akan bertanya mengenai Pak Faiz. Yang aku tunggu-tunggu akhirnya sampai juga, Kira keluar dari mobilnya, dan langsung berlari menujuku.
__ADS_1
"Morning, Fi,"
"Morning, Ra,"
"Kamu pasti lagi nunggu aku kan? Tumben, ada apa?"
"Kamu marah ya soal Pak Faiz? Atau kamu suka sama dia? Ih Ra, jangan! Aku rasa dia sudah punya istri,"
"Darimana kamu tau, kalau Pak Faiz sudah menikah? Dia ngomong langsung sama kamu?
"Emm, enggak si, aku cuma nebak aja. Tapi aku yakin kalau Pak Faiz sudah menikah,"
"Buktinya?"
"Gak ada si, tapi pas kemaren aku minta jatah waktu les jam 1 atau jam 2 dia gak mau, alasannya dia gak punya waktu luang, padahal kan weekend,"
"Itu mah wajar, Fi. Dia kan guru, di tambah lagi buka jasa les privat, jadi wajar-wajar aja dia gak punya waktu luang...,''
"Udah ah, jangan di bahas lagi! Yuk, masuk ke kelas!" sambung Kira.
Aku dan KIra masuk ke dalam kelas. Hari ini ada ulangan matematika, ulangan matematika yang terakhir sebelum UN di laksanakan. Aku melihat soal-soal yang Pak guru bagikan, semua soal ini telah Pak Faiz terangkan dan aku yakin aku bisa dengan mudah mengerjakannya.
"Gampang banget soalnya,"
"Coba di kerjain dulu, kalau kamu yang pertama jadi, kamu boleh deh sombong ,''
"Oke,"
Aku menerima tantangan Kira, aku kerjakan soal ini dengan sangat mudah. Hanya dalam waktu 1 jam, aku telah mengerjakan 10 soal dengan benar, menurutku.
"Pak, saya sudah jadi,"
Seketika semua orang melihatku, aku tau mereka pasti tidak menyangka, jika aku bisa dengan cepat menyelesaikan soal ini, karena memang semua tau bahwa aku sangat lemah di bagian matematika.
"Di periksa dulu, siapa tau ada yang salah?"
"Enggak Pak, Shofi yakin kok,"
"Ya sudah, bawa kemari!"
"Kamu boleh pulang,"
"Hah, serius Pak?"
"Iya, Bapak serius. Anak-anak, kalau sudah selesai, kalian boleh langsung pulang,"
Semua orang bersorak gembira dan langsung serius seketika. Aku kembali ke mejaku dan aku masukan semua barang-barangku.
"Butuh bantuan gak, Ra?"
"Tinggal satu soal ni, nomer 3, apaan dah?"
"Ah gampang,"
Aku berikan rumus untuk menjawab soal nomer 3 kepada Kira, setelah itu aku bergegas keluar kelas, sebelum keluar kelas, aku memberikan kata-kata motivasi kepada mereka.
"Rumus nomer 9. xxxxxxxxxx,"
"Shofia, keluar kamu sekarang!"
"Iya-iya, Pak,"
Aku memberikan rumus soal nomer 9, karena menurutku soal nomer 9 adalah soal yang paling sulit. Aku bukan tipe siswa yang diam memendam kebenaran saat temanya meminta jawaban, aku memberi kelonggaran. Aku memiliki ketentuan, aku akan memberikan 5 jawaban untuk pilihan ganda, 2 jawaban untuk uraian, 1 jawaban untuk essay dan semua orang tau itu.
Tak lama Kira keluar dari kelas, aku mengajaknya mampir ke cafe Bang Mul. Sesampainya di cafe, aku tidak melihat Bang Mul.
"Bang Mul kemana ya?"
"Mana aku tau, aku kan orang,"
"Apa si Ra, gak jelas deh kamu,''
__ADS_1
"Yang gak jelas tu kamu, kenapa tanya Bang Mul sama aku? Ya pasti aku gak tau lah,"
"Aku cuma basa-basi aja Ra,"
Tiba-tiba Bang Mul muncul dari belakang dan menggagetkan aku dan Kira.
"Bolos ya?"
"Aaa, Bang Mul ni bikin kaget aja,"
"Kalian jam segini bukanya sekolah yang giat malah keluyuran di sini, kenapa bolos?"
"Kita gak bolos Abang, emang kita di bolehin buat pulang sekarang kok. Iya kan, Fi?"
"Iya, Bang Mul. Kita kan murid teladan, jadi gak mungkin lah kita bolos,"
"Iya dah, percaya,''
"So, seperti biasa ni?" sambung Bang Mul.
"Iya,"
"Oke,"
Aku dan Kira naik ke atas menuju tempat sakral kami, tidak lama Bang Mul membawa pesanan kami.
"Ikut nimbrung ya?"
Tanpa jawaban dari kami, Bang Mul langsung saja duduk.
"Ada yang mau di share dengan Bang Mul?
"Oh iya, gini Bang Mul. Shofi sekarang punya guru privat,''
''Bagus dong..., tapi gimana dengan Ibu kamu, pasti dia bikin kamu susah ya?"
"Iya, Fi. Gimana tu Ibu kamu?
"Ya, awalnya si dia marah-marah, katanya aku menghambur-hamburkan uang Papa, tapi ya syukur deh, Papa belain aku,"
"Menghambur-hamburkan? Hello, merem kali ya dia, bukanya yang menghambur-hamburkan uang itu dia! Saben hari belanja barang-barang gak berguna sampai puluhan juta, timbang ngeluarin uang yang gak seberapa, dia bilang menghambur-hamburkan? Hah, Ibu tiri kamu itu benar-benar gak pernah ngaca si, Fi,"
"Kan itu memang sifat Ibu tiri aku, Ra. So, aku gak terlalu mikirin hal itu,"
Bukanya kami gak sopan, cuma... gimana ya? Gini, jika kita sudah menghargai orang, tentu kita juga ingin di hargai. Jika orang yang kita hargai tidak menghargai kita, tentu rasa menghargai itu akan hilang sedikit demi sedikit. Pasti ada perasangka [untuk apa aku menghargai orang yang tidak pernah bisa menghargaiku? Percuma saja] hal itu wajar-wajar saja, karena kita [manusia] ingin di perlakukan sama, seperti kita memperlakukan orang lain.
"Ya, syukur deh Papa kamu ngebela kamu, Fi..., sekarang ceritain gimana guru kamu itu? Baik gak? Cowok apa cewek?"
"Cowok dan dia baik banget Bang. Shofi aja yang biasanya goblok di mata pelajaran matematika, sekali di ajar sama dia, seketika kecerdasanya bisa menandingi Albert Einstein. Ngeri gak tu?"
"Wih, bagus dong,''
''Bukan bagus lagi Bang, tapi perfect,"
"Sebenarnya dia guru privat siapa si, kamu atau Shofi?"
"Shofi,"
"Terus kamu heboh ini, kenapa? Kamu suka dengannya?
"Enggak, aku gak suka. Cuma kan yang ngenalin dia ke Shofi, aku,"
"Dia tampan?"
"Banget,"
"Kira, yang aku tanya itu Shofi, bukan kamu!... Gimana Shofi, ganteng gak?"
"Ya, ganteng si. Dia kan cowok, ya pasti ganteng,"
"Eleh, kemaren aku tanya jawabanya biasa aja, tapi kenapa sekarang bilang ganteng?"
__ADS_1
"Ya, gak pa-pa kan. Namanya juga manusia, tempatnya salah dan lupa,"
Terima kasih telah membaca novel ini.