Cinta Terdalam

Cinta Terdalam
Part 12


__ADS_3

Terdengar suara samar-samar dari seseorang. Aku ingin melihat siapa dia, tapi mataku masih sulit untuk terbuka. Lama-kelamaan suara itu terdengar semakin jelas.


"Lihatlah, anak tidak tahu malu ini! Bisa-bisanya dia melakukan hal rendahan seperti ini. Shofia! Bangun kamu!" terdengar suara Ibu.


Aku tidak tahu apa maksud Ibu, aku terus berusaha untuk membuka mataku dan melihat apa yang terjadi. Saat mataku bisa sedikit di buka, sekarang malah kepalaku yang terasa berputar.


"Bangun kalian!"


''Aduh."


Aku memegangi kepalaku yang terasa pusing. Saat aku berusaha untuk bangun, tanganku tak sengaja mengenai sesuatu. Aku berusaha menajamkan pandanganku, aku melihat bayangan di sampingku. Dan saat bayangan itu semakin jelas, aku terkejut dan berteriak.


"Aaa..."


Aku melihat Pak Faiz tidur di sampingku tanpa mengenakan pakaian bagian atas, aku memeriksa tubuhku, aku juga tidak mengenakan pakaian bagian atas, tapi kami masih memakai ****** *****.


"Bangun kamu! Berani-beraninya kamu mengotori rumah ini dengan kelakuan bejat kalian! Dasar anak tidak tahu malu!"


"Bu, ini tidak seperti yang Ibu lihat. Aku tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi!"


"Alah, jangan banyak alasan kamu!" bentak Ibu seraya melemparkan pakaianku kearahku.


Bergegas kupakai semua pakaianku sebelum Pak Faiz bangun.


"Tunggu saja Papamu pulang dan kita lihat apa yang akan dia lakukan kepadamu!"


"Bu...."


Kataku terputus saat Pak Faiz terbangun.


"Ya Allah."


Pak Faiz melihat kami dengan tatapan binggung. Aku tahu dia juga sama sepertiku, tidak tahu menau soal ini.


''Apa yang terjadi, Shofi? Kenapa kondisi kita bisa seperti ini?" tanyanya padaku.


"Alah, jangan pura-pura bodoh kalian!...Lihat apa yang akan Papamu lakukan padamu!" ucap Ibu.


Pak Faiz memumuti pakaiannya dan bergegas mengenakannya.


Tiba-tiba Papa datang dan langsung memukul Pak Faiz.


Buk Buk


Papa dengan brutal memukuli Pak Faiz dan Pak Faiz hanya diam saja menerima pukulan Papa. Jika aku biarkan Papa terus memukulinya, Pak Faiz bisa tiada.


"Pa, cukup! Dia bisa mati, Pa!"


Aku berusaha memisahkan Papa dan Pak Faiz, aku terus mendorong Papa agar menjauhi Pak Faiz.


"Pa!"


Aku mendorong Papa sekuat tenaga dan akhirnya Papa menjauh dari Pak Faiz.


Papa menatapku dengan tatapan marah. Dia berjalan kearahku dan mencengkram bahuku.


"Dasar anak tidak tahu di untung! Berani-beraninya kamu melakukan hal tercela di rumahku, hah! Aku selama ini berfikir jika kamu sama seperti Mamamu, tapi aku salah, sikapmu berbanding terbalik dengannya."


Ucapan Papa membuat hatiku sangat sakit. Aku sangat yakin jika aku dan Pak Faiz tidak melakukan hal itu.


"Pa, ini bukan seperti yang Papa pikirkan! Aku dan Pak Faiz tidak melakukan apa-apa! I-ini pasti ulah Ibu dan Alya Pa! Mereka menjebakku!"


Ibu berlari kearahku dan menamparku.


Plak..


"Berani-beraninya kamu menuduh kami! Selama ini kami berbuat baik kepadamu tapi ini balasanya?"


"Bi! Panggil Pak Ustad kesini!" perintah Papa. Ternyata Bi Imah sedari tadi berdiri di depan pintu kamarku.


"Iya, Tuan."


"Kenapa Papa panggil Ustad kesini? Untuk apa Ustad Pa?" tanyaku.


"Menikahkan kalian."


''Menikah? Gak-gak, aku gak mau Pa. Aku masih muda masih banyak hal yang mau aku capai, aku gak mau nikah Pa!"


"Jika memang masih banyak hal yang ingin kamu capai, kenapa kamu melakukan hal menjijikan itu?"

__ADS_1


"Pa, aku tidak melakukan apa-apa!... Pak Faiz, bilang ke Papa kalau kita gak ngelakuin hal itu!"


Aku meminta Pak Faiz membantuku untuk menyakinkan Papa. Pak Faiz diam sejenak sembari menatapku.


"Ya Tuhan, tolong aku," batinku.


"Saya minta maaf atas kejadian ini, tapi saya mohon dengarkan penjelasan saya," ucap Pak Faiz.


Aku benar-benar berharap Pak Faiz bisa menyakinkan Papa.


"Alah, mau jelasin apa lagi? Sudah jelas-jelas keciduk, masih aja mau ngelak," ucap Ibu.


"Dengarkan saya kali ini saja! ...Saat saya sedang mengajar Alya, tiba-tiba kepala saya pusing dan langsung tidak sadarkan diri. Saat saya sadar hal ini terjadi, saya benar-benar tidak ingat apapun. Sekali lagi saya minta maaf. Jika Bapak ingin saya bertanggung jawab, saya akan bertanggung jawab."


Bak sudah jatuh tertimpa pohon. Badanku langsung melemah saat mendengar ucapanya. Kenapa Pak Faiz malah berkata seperti itu? Secara tidak langsung, ia menyetujui pernikahan ini. Seharusnya dia menentangnya.


"Sudah dengarkan, dia menyetujuinya. Jadi, mau tidak mau kamu harus menikah," ucap Ibu.


Papa menyeretku turun keruang tamu. Aku sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa agar Papa tidak menikahkanku dengan Pak Faiz. Aku tidak mau menikah muda, aku tidak mau.


Aku terus memohon agar Papa tidak menikahkanku dengan Pak Faiz, tapi Papa masih teguh dengan pilihannya. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi.


"Asalamualaikum."


Ustad yang Papa minta kemari sudah datang.


"Pa, Shofi mohon, Shofi gak mau nikah Pa."


Aku terus memohon, tapi Papa tidak bergeming.


"Silahkan duduk Ustad!'' ucap Papa.


"Pa?"


Papa tak menghiraukanku, ia memberitahu sebab kenapa Papa memanggil Pak Ustad kemari.


"Baiklah kalau begitu. Jadi, apa semua sudah siap?"


"Sudah," ucap Papa.


Aku melihat Pak Faiz mengeluarkan dompet dan mengambil beberapa lembar uang 100 ribuan.


"500 ribu?" bisik Ibu ke Alya.


Mereka terlihat bahagia atas masalah yang menimpaku. Aku jadi semakin yakin, jika ini semua ulah mereka berdua.


"Aku harus bagaimana? Aku harus apa?" batinku.


Tak lama Pak supir dan Tukang kebun datang.


"Permisi, Pak."


"Saksinya sudah datang. Bisa kita mulai sekarang!" ucap Papa.


"Pa, Shofi gak mau nikah Pa!"


Aku memohon seraya menangis, aku tak mau menikah.


Tiba-tiba aku teringat kejadian saat Pak Faiz merangkul pundak seorang perempuan. Mungkin itu bisa membuat Papa berubah pikiran.


"Tunggu, Pa! Pernikahan ini tidak boleh terjadi. Pak Faiz sudah memiliki istri dan aku tidak mau menjadi istri kedua."


Papa menatapku sekilas dan beralih menatap Pak Faiz. Aku harap ini akan berhasil.


"Saya belum pernah menikah, Pak,'' ucap Pak Faiz.


"Bohong, Pa! Aku pernah melihat kalau Pak Faiz merangkul pundak perempuan. Aku yakin dia sudah menikah!"


Aku terus meyakinkan Papa jika Pak Faiz sudah menikah. Aku harus berhasil, karena ini jalan satu-satunya.


"Udah deh Fi. Kamu gak usah bohong, orang Dia sendiri bilang belum menikah kok kamu yang ngeyel. Lagian laki-laki bisa nikah sampai 4 kali, jadi kamu nggak usah banyak alasan!" Ucap Ibu.


Aku benar-benar geram mendengar ucapan ibu. Tampak sekali dia menginginkan pernikahan ini terjadi.


"Kita mulai ijab qobulnya sekarang!" Ucap Papa.


Ustad memulai membimbing akad dan aku hanya bisa terdiam, aku sudah buntu.


Sah...

__ADS_1


Aku hanya bisa menarik nafas panjang saat kata itu terdengar. Sekarang aku hanya bisa pasrah, tapi hati ini merasa tidak ikhlas.


"Sekarang kalian sudah sah sebagai pasangan suami istri," ucap Pak Ustad.


Aku masih mematung saat Pak Ustad pergi.


Aku harus apa sekarang? Bagaimana mimpi-mimpiku? Bagaimana masa depanku nanti? Kata-kata itu terus-menerus berputar di dalam benakku.


Brak..


Suara itu membuyarkan lamunanku. Aku menoleh kearah suara, aku melihat koperku sudah berada di luar rumah.


"Apa-apaan ini Bu? Kenapa koperku di luar?"


"Bukankah wanita yang sudah menikah akan ikut dengan suaminya? Itu sebabnya kami bermurah hati mengemasi barang-barangmu. Bukankah seharusnya kamu berterima kasih?" Ucap Ibu.


"Aku memang sudah menikah dengan Pak Faiz, tapi bukan berarti aku akan tinggal bersamanya."


Tiba-tiba Pak Faiz mengengam tanganku.


"Shofi," ucap Pak Faiz.


Aku menatapnya, dia menatapku dengan tatapan binggung.


"Ma, aku menemukan ini," ucap Alya.


Alya keluar membawa celenganku.


"Kembalikan! Kembalikan celengaku sekarang!"


"Celenganmu? Sekarang ini menjadi milik kami," ucap Ibu.


"Ibu gak bisa gitu dong! Itu uang pribadiku, aku ngumpulin uang itu bertahun-tahun dan Ibu gak bisa ngambil gitu aja!" Ucapku lantang.


"Terserah apa katamu... bawa istrimu pergi!" Ucap Ibu.


Ibu menutup pintu begitu saja. Aku terus mengedor-gedor pintu agar Ibu mau mengembalikan uangku kembali.


"Bu, kembalikan uangku! Ibu gak berhak ambil uang itu, Ibu!"


Aku terus berusaha, aku terus berteriak dan menggedor-gedor pintu agar Ibu terusik dan mau mengembalikan uang itu.


"Shofi, sudah. Mungkin uang itu bukan rezekimu, kamu harus ikhlas," ucap Pak Faiz.


"Gak bisa gitu dong Pak! Aku ngumpulin uang itu bertahun-tahun dan seenaknya mereka ngambil gitu aja? Aku gak terima!"


"Ayo kita pulang!"


Pak Faiz meletakkan koperku di depan jok motornya.


"Ayo, Shofi!"


Pak Faiz menarik tanganku untuk ikut dengannya. Pak Faiz memberikan jaketnya kepadaku.


"Tutupi kaki kamu dengan jaket itu!"


Aku melihat kakiku. Tidak ada yang aneh, kenapa mesti di tutupi?.


"Celanamu terlalu pendek, tidak baik di lihat banyak orang." Ucapnya tiba-tiba.


Lantas Pak Faiz naik keatas kendaraannya.


"Ayo."


"Tapi Pak..." Aku masih enggan meningggalkan tempat ini.


"Ayo, Shofia," ucapnya lembut dengan senyum tulus.


Dengan berat hati, aku naik keatas motor Pak Faiz.


"Bonceng serong saja, supaya kakimu bisa tertutupi seluruhnya!"


"Ribet banget sih Pak!"


"Shofi."


Aku menuruti apa yang dia katakan. Aku menutup kakiku dengan jaketnya. Tiba-tiba Pak Faiz meraih tanganku agar lebih erat memeluknya.


"Peganggan yang erat agar tidak jatuh!" Aku tidak mengubris aksinya itu.

__ADS_1


Pak Faiz melajukan motornya meninggalkan area rumah, ada rasa kesedihan di hatiku. Aku memang ingin pergi dari rumah itu, tapi bukan dengan cara ini? Walaupun Papa tak sepenuhnya menyayangiku, tapi aku sangat menyayanginya, aku tak ingin ia membenciku.


__ADS_2