Cinta Terdalam

Cinta Terdalam
Part 4


__ADS_3

Ujian Nasional tinggal 3 bulan lagi dan aku masih berbicara soal ini kepada Papa.


Aku turun dari tangga dan berjalan menuju taman belakang rumah, pengap aja setiap hari duduk di kamar kayak orang bertapa hanya karena menghindari Ibu. Aku bukannya Phobia terhadap Ibu, hanya saja untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan, lebih baik aku menghindarinya.


Aku melihat Papa tengah duduk sendirian sembari memainkan ponselnya.


"Apa aku ngomong sekarang aja ya?"


Aku menghampiri Papa.


"Pa,"


Papa menoleh kearahku.


"Kenapa?"


"Pa, aku mau ngomong sesuatu sama Papa,"


"Ya sudah ngomong aja,"


Aku atur nafasku, sebenarnya aku tidak perlu khawatir ataupun gugup dengan hal ini, tap entahlah mendadak saja aku menjadi gugup.


"Aku mau les privat di rumah,"


"Pengen les ya tinggal les,"


"Serius ni Pa?"


"ya, kamu tinggal cari saja gurunya, berapapun harganya nanti tinggal bilang sama Papa!"


"Yes, makasih Pa,"


Bergegas aku kembali kedalam kamarku, aku ambil ponselku dan aku menelfon Kira untuk menyampaikan kabar gembira ini.


"Kira...,"


"Woy, santai dong! Kenapa si teriak-teriak gitu? Sakit ni gendang telingaku,"


"Hehe sorry-sorry, habisnya aku seneng banget si, rasanya tu ya kayak di lamar Zayn Malik ,"


"Dih mulai deh halunya. Inget dia tu udah jadi laki orang, gak usah gatal deh,"


"Terserah kamu mau ngomong apa, tapi bagi aku Zayn Malik masih jomblo. Lagian ni ya, kalau aja dia ketemu aku duluan daripadaa bininya itu, aku yakin 1000% dia pasti jadi suami aku,"


"Dih cantik lo Neng?"


"Emang aku cantik,"


"Udah- udah ah ngehalunya stop dulu. Mending sekarang kamu cerita sama aku, kenapa kamu bisa seneng banget?"


"Papa udah setuju aku les privat di rumah, yeyeye,"


"Yaelah, aku kirain ada apaan sampai-sampai bisa di bandingin sama si Zayn,''


"Em iya juga si, aku juga gak tau kenapa aku bisa sesenang ini?"


"Oh ya, kamu harus bantu aku cari guru privat!"


"Tenang aja, aku udah ada calon guru privat buat kamu,"


"Serius? Siapa? Kamu kenal dia?"


"Enggak, Bi Sum yang kenal. Dia itu salah satu guru di tempat anak Bi Sum sekolah. Kata Bi Sum, dia itu orangnya pinter, sering mengajar murid-murid yang akan ikut lomba cerdas cermat gitu, dia juga baik orangnya, sabar, ulet, ya pokoknya terbaik lah. Oh ya kata Bi Sum dia juga ganteng, salah satu idola di sekolah sama di kampung loh,"


"Kira, aku cari guru bukan cari jodoh, yang aku butuhin itu otak bukan tampang. Percuma jika tampang ganteng tapi ngitung Sin Cos Tan aja kagak bisa,"


"Ini mah komplit Fi, tampangnya dapet, otaknya pinter, sifatnya baik, sabar lagi,''

__ADS_1


"Gak usah sotoy, katanya gak kenal tapi kok muji banget gitu?"


"Yah kan aku hanya menyampaikan apa yang di katakan Bi Sumi,"


"Iya deh terserah kamu aja, terus kalau aku pengen hubungin dia, gimana dong caranya?"


"Tenang, nanti aku kirim nomer WA dia,''


"Ya udah, makasih ya Ra. Aku tutup dulu telfonnya, bye,"


Tak selang lama, ada notifikasi WA dari Kira. 'Ku buka chat dari Kira, tertera nama " Faiz Ahmad " tak ada foto profil di sana.


"Katanya ganteng, tapi kok WA pakai profil abu-abu?"


"Ahh bodo amat, mau ganteng apa kagak, yang penting dia harus bisa bikin aku pandai Matematika,"


Lantas aku chat dia.


[ Selamat malam Pak ]


[ Apa benar Bapak menawarkan jasa guru les privat? ]


Pesanku tak kunjung di balas, aku masih dengan sabar menunggu balasan dari dia.


Keesokan paginya aku mendapat balasan dari dia.


[ Selamat pagi ]


[ Iya, benar. Saya menawarkan jasa sebagai guru les privat dari jenjang SD, SMP dan SMA ]


Lantas aku balas pesan darinya.


[ Saya sedang mencari guru privat secepatnya, ]


[ Apa Bapak bisa datang ke rumah saya hari ini? ]


[ Untuk masalah harga, Bapak tenang saja. Berapapun yang Bapak minta, saya akan sanggupi! ]


'Ku kirim pesan balasan, sembari menunggu pesan balasan darinya, aku turun dan mencari keberadaan Papa untuk memberitahukannya soal ini. Kini Papa tengah duduk di ruang tamu, aku menghampirinya.


"Papa,"


''Ya,''


''Aku udah dapat guru privatnya Pa, aku minta dia datang ke sini hari ini. Em Papa gak keberatankan?''


"Terserah kamu,"


"Minta apa kamu, Hah?"


Ucapan Ibu yang tiba-tiba membuat aku kaget, pasti dia akan mempermasalahkan hal ini. Semoga saja Papa teguh pada janjinya.


"Minta apa dia Pa?"


"Shofi minta les privat Ma,''


"Buat apa? Gak usah menghambur-hamburkan uang buat hal yang gak penting. Papa jangan turuti semua keinginan dia gitu aja dong!"


"Ini hak dia Ma,''


"Hak apa? Apa gak cukup belajar di sekolah, kenapa harus les privat segala?"


"Ini pasti akal-akalan kamu aja kan, ngaku kamu!"


Aku hanya diam dan tak menjawab, percuma juga menjawabnya, karena apapun yang akan aku katakan semua itu selalu salah di mata Ibu.


"Jawab!"

__ADS_1


Ibu sudah mulai menaikan nada suaranya, dan sebentar lagi tanganya yang akan naik ke atas dan memberikan tanda kasih sayang.


"Tenang Ma, Papa sudah janji dan guru privatnya juga sudah ada. Mama jangan khawatir soal biayanya ya!"


"Tapi Pa...,"


"Ma!''


"Ck, oke-oke, cuma kali ini!"


Ibu pergi meninggalkan aku dan Papa.


"Aku ke kamar dulu ya Pa,"


"Iya,''


Aku masuk ke dalam kamar dan memeriksa, apakah sudah ada balasan dari Pak Faiz atau belum. Ternyata dia sudah membalas, lantas aku buka pesannya.


[ Baiklah, nanti jam 4 sore saya akan datang ke rumah ]


[ Kalau boleh saya tau, nama kamu siapa? ]


Lantas aku balasa pesannya.


[ Nama saya Shofia ]


[ Oke, saya akan tunggu Bapak ]


Langsung aku kirim pesan balasan, dan langsung ia baca dan ia balas.


[ Baiklah ]


Jarum jam sudah menunjukan pukul 4 sore, tapi Pak Faiz masih belum juga datang.


"Apa aku telfon saja dia ya?"


Saat aku akan kembali ke dalam kamar untuk menggambil ponsel, tiba-tiba bel rumah berbunyi.


"Pasti itu Pak Faiz,''


Bergegas aku bukakan pintu untuk dia. Betapa terkejutnya aku, ternyata Pak Faiz adalah Om-om yang membuat layar ponselku retak.


"Bapak? Jangan bilang kalau Bapak ini Pak Faiz?"


"Kamu?"


"Iya, saya Faiz dan kamu Shofia?" sambungnya.


"Iya, saya Shofia,''


"Ih kenapa harus Bapak si? Ah cancel aja deh,"


Aku benar-benar tidak yakin dia bisa mengajariku dengan baik.


"Jangan Shofi, saya sedang butuh pekerjaan ini!"


"Bapak yakin bisa mengajari saya dengan baik?"


" Saya yakin!"


Sebenarnya aku tidak terlalu yakin, tapi setelah mengingat bahwa aku yang membuat dia kehilangan pekerjaanya. Dengan terpaksa aku terima dia, ya itung-itung sebagai penebus kesalahanku waktu itu.


"Oke, aku terima Bapak jadi guru les 'ku. Yah itung-itung sebagai pemintaan maaf aku waktu itu,"


"Terima kasih,"


Terima kasih sudah membaca novelku.

__ADS_1


__ADS_2