
Sudah 2 bulan Pak Faiz mengajarku, dan aku merasa IQ ku bertambah 50%, aku merasa puas dengan kinerjanya. Aku berencana membelikanya sepatu dan tas sebagai hadiah, dan kenapa aku membelikan barang-barang itu? Karena aku rasa sepatu dan tas miliknya sudah sangat usang. Aku benar-benar penasaran, seperti apa kehidupan Pak Faiz sampai dia tidak mengganti barang-barangnya?.
Aku menelfon Kira untuk menemaniku berbelanja, siapa tau aku membutuhkan pendapatnya?.
"Hallo, Ra. Kamu dimana?"
"Hay, Fi. Aku di rumah,kenapa?"
"Ke Mall yuk?''
"Ayo, tapi jemput ya?"
"Siap, langsung OTW ya,"
"Oke,"
Aku mengambil tas dan kunci motor, aku langsung meluncur ke rumah Kira. Dari kejauhan aku melihat Kira berdiri di depan rumahnya.
"Ojek, Neng?"
"Ih, Abang. Dari mana aja si? Dari tadi Eneng tungguin gak nonggol-nonggol. Liat ni, kulit Eneng sampai berubah warna jadi abu-abu monyet, gara-gara nungguin Abang!"
"Eneng, walaupun warna kulit Eneng abu-abu monyet, Abang akan tetap mencintaimu ... Hii, geli banget. Udah ah, yok naik!"
"Yee, yang ngomong siapa? Yang geli siapa?"
Ku lajukan dengan tenang motorku ini, sesampainya di tempat tujuan, kami turun dan langsung masuk ke dalam pusat perbelanjaan tersebut. Aku dan Kira masuk ke salah satu toko sepatu.
"Kamu mau beli sepatu, Fi?"
"Iya,"
Aku berjalan menuju rak-rak yang berisi sepatu pria.
"Fi, kok kita kesini? Rak sepatu cewek di sana loh,"
"Iya, aku tau. Aku emang lagi cari sepatu cowok,"
"Buat siapa? Papa kamu?"
"Bukan,"
"Terus buat siapa dong?"
"Buat Pak Faiz,"
"Hah, Pak Faiz? Yang bener aja. Buat apa kamu beliin Pak Faiz sepatu?"
"Sepatu ini aku beri untuk dia sebagai ungkapan terima kasih karena sudah dengan baik mengajariku,"
"Oh, kirain kamu ada apa-apa sama dia,"
"Kamu terlalu jauh berfikir, Ra,"
Aku melanjutkan mencari model sepatu yang sesuai untuk Pak Faiz. Kira juga membantuku. Aku menemukan model sepatu yang cocok untuk Pak Faiz, tapi ada satu kendala. Aku tidak tau pasti ukuran sepatunya.
"Kenapa melamu? Ada masalah?"
Aku mengangguk dengan yakin.
"Apa?"
"Emm, aku gak tau berapa ukuran sepatu Pak Faiz,"
"Hah, kamu gak tau? Terus gimana pilihnya?"
"Emm tunggu, aku mikir dulu. Emm, Ukuran kaki Pak Faiz itu lebih besar dari kaki Papa, ukuran sepatu Papa itu 40. Jadi, aku akan pilih ukuran 42,"
"Jangan sok tau, nanti salah malah gak kepakai!"
__ADS_1
"Aku yakin kok!"
"Ya, terserah kamu aja deh,"
Aku memilih sepatu berbahan kulit berwarna hitam, aku yakin pasti Pak Faiz suka. Setelah membeli sepatu, aku dan kira pergi ke toko perlengkapan sekolah. Aku memilih-milih tas yang cocok untuknya.
"Untuk Pak Faiz?"
"Iya,"
"Huft, kenapa kamu harus merepotkan diri sendiri kayak gini si, Fi? Kan Papa kamu sudah bayar dia mahal,"
"Kan aku udah bilang, ini sebagai ungkapan terima kasih aku untuk dia,"
"Hanya ungkapan terima kasih kan, gak lebih dari itu?"
"Iya kira, aku gak ada apa-apa sama Pak Faiz. Aaa atau jangan-jangan kamu suka dengan Pak Faiz, ya?"
"Hah, gila kamu? Gak mungkin lah aku suka dia, Fi! Dia sama sekali gak masuk kriteria aku. Ya aku akui, aku memang suka dengan pria dewasa, tapi menurutku Pak Faiz itu kurang HOT, ya walaupun dia ganteng si,"
"Apalagi aku, Ra. Kamu kan tau, aku tidak begitu tertarik dengan pria-pria dewasa. Pria idaman aku itu yang sikapnya dingin tapi bucin, sedangkan Pak Faiz dia terlalu kalem orangnya, gak menarik,"
"Aku jadi penasaran, seperti apa ya kriteria istri Pak Faiz?"
"Yang pasti gak kayak kita,"
"Bayangin, Ra. Cowok kayak Pak Faiz yang sifatnya baik, kalem, lemah lembut, dapet istri yang sifatnya sama. Orang-orang kalau berantem pasti membela dirinya sendiri, kalau mereka beda, mereka saling menyalahkan dirinya masing-masing,"
"Haha, parah kamu Fi. Entah-entah malah kamu dapat jodoh yang kayak Pak Faiz,"
"Ihh, jangan gitu dong ngomongnya,"
"Ya udah, cepat pilih,"
Aku melanjutkan memilih-milih tas untuk Pak Faiz. Aku memilih tas hitam polos dengan 3 tempat. Setelah membeli semua hadiah untuk Pak Faiz, aku dan Kira tidak langsung pulang, kami duduk sebentar untuk mengobrol sembari meminum segelas kopi.
Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 2 siang, 3 jam sudah kami mengobrol hingga lupa waktu. Bukan obrolan yang penting tapi hanya sekedar basa-basi tapi sampai memakan waktu yang lama.
Sesampainya di rumah, aku parkirkan motorku dan aku bawa barang belanjaku masuk kedalam. Baru saja membuka pintu, Ibu dan Adik Tiri tercintaku sudah berdiri dan menyilangkan kedua tangannya.
"Habis darimana kamu?"
''Habis menghambur-hamburkan uang Papa lah, Ma. Liat aja belanjaanya! Dasar gak tau malu, Papa sudah menggeluarkan banyak uang untuk acara les privat bodoh lo itu dan dengan gak tau dirinya lo shoping! Hah, kasihan Papa ya, Ma? Punya anak seperti dia,"
"Drama queen memulai pentasnya," batinku.
Karena malas mendengar drama mereka yang tidak kunjung usai, seperti senetron Tukang bubur naik onta yang sampai ribuan episode. Tanpa banyak cing-cong, aku berjalan melewati mereka. Eh, tidak semudah itu para penonton Bapak-bapak Ibu-ibu semua yang ada di sini, hobaaa. Udah ah, kembali ke cerita. Tiba-tiba tangan Ibu mencekalku, ia merebut barang belanjaanku dan mengeluarkan semua dari tempatnya.
"Ngapain kamu buang-buang uang untuk benda tidak berguna seperti ini? Untuk siapa kamu membelinya, hah?"
"Yang pasti bukan untuk Papa, Ma. Liat aja sepatunya, ini terlalu besar untuk ukuran kaki Papa. Dan Tas ini, ini bukan tas kantor. Jadi tidak mungkin ini untuk Papa,"
"Jawab untuk siapa ini!"
''Untuk Pak Faiz,"
Aku menjawab dengan tenang dan santai, hal itu paling tidak Ibu sukai. Ia akan mengamuk dan berteriak jika aku tidak takut kepadanya.
"Dasar wanita murahan! Kamu ingin menggoda pria tua itu dengan barang-barang ini, hah!''
"Gak laku banget ya lo, sampai laki-laki kayak guru lo itu, lo embat juga? Ck, menjijikan,"
"Memberikan hadiah untuk orang lain, bukan berarti menggodanya, tapi karena aku tau bagaimana cara menghormatinya,"
Setelah 'ku ucapkan kalimat itu, aku menggambil barang-barangku kembali. Saat akan pergi, Ibu menghadangku dan menamparku. Tiba-tiba terdengar suara Pak Faiz dari arah pintu depan.
"Apa yang telah anda lakukan?"
Aku menoleh kearahnya, ia berjalan mendekatiku dan menyembuyikan aku di belakang tubuhnya.
__ADS_1
"Apa yang telah anda lakukan? Ini sebuah kejahatan, dan anda bisa di tuntut atas hal ini,"
"Tidak usah ikut campur masalah keluargaku! Memang kamu pikir, kamu siapa? Kamu hanya seorang guru yang di bayar oleh suamiku. Jadi, jangan ikut campur!"
"Saya memang seorang guru. Oleh karena itu, saya tau hukum-hukum yang berlaku di Negara ini. Apakah anda ingin mencoba rasanya menjadi tahanan? Jika iya, saya akan membantu,"
"Udah Ma, kita pergi aja,"
Alya menarik Ibu menjauh dari kami. Pak Faiz berbalik dan menatapku.
"Kamu tidak pa-pa?''
"Iya, saya baik-baik aja kok,"
"Kamu obati dulu lukamu,"
''Saya gak pa-pa, Pak. Bagiku ini hanya sentilan kecil yang gak kerasa,"
"Kita langsung ketaman belakang aja, yuk,"
Aku mengajak Pak Faiz ke tempat biasa kita belajar, aku juga membawa hadiah untuk Pak Faiz. Kami duduk berhadapan, Pak Faiz terus menatapku.
"Saya baik-baik saja, Pak Faiz Ahmad,"
"Kamu serius?"
"Iya Pak, saya serius,"
"Apa Ibu kamu sering memukul kamu?"
"Ya, enggak si. Pas aku gak nurut aja sama dia,"
"Kamu pasti nakal ya?"
"Enggak kok, Ibu emang selalu marah. Lihat saya saja, pasti dia akan langsung marah,"
"Papa kamu tau kalau kamu sering di pukul?"
"Tau, Papa hanya akan bilang : Jangan memukulnya terlalu kencang. Itu saja,"
"Udah ah, jangan di bahas lagi! ... Oh iya, saya ada hadiah untuk Pak Faiz," Sambungku.
Aku memberikan barang-barang itu kepada Pak Faiz.
"Taraa, ini hadiah untuk Pak faiz. Hadiah ini ungkapan tanda terima kasih saya kepada Bapak,''
"Ini kan tugas saya, saya di gaji untuk mengajari kamu. Jadi, gak usah repot-repot begini,"
"Gak repot kok. Sekarang Bapak buka hadiahnya!"
Pak Faiz membuka hadiah yang aku berikan, aku berharap dia akan suka.
"Sepatu? Tas? Kenapa memberikan saya hadiah ini?"
"Karena saya lihat sepatu dan tas Bapak sudah usang, jadi aku membelikanya,"
"Walaupun barang itu sudah usang, tapi jika masih bisa di gunakan, kenapa harus di ganti?"
"Ih Bapak ni. Bukanya bilang makasih, malah ceramah?"
"Iya-iya saya minta maaf, jangan marah. Oke, saya sangat berterima kasih kepada Ananda Shofia, murid Bapak yang paling pintar. Karena telah memberikan hadiah yang sangat bermanfaat, ini adalah hadiah pertama dan yang terbaik yang saya dapatkan di hari ulang tahun saya. Terima kasih banyak,"
"Hah, hari ini ulang tahun Bapak? Wah selamat Pak. Bapak ulang tahun yang ke berapa?"
"Yang ke-33 tahun,"
"Oh Oke. Doa saya untuk Pak Faiz. Semoga sehat selalu, semoga di beri perlindungan dan panjang umur, murah rezeki dan yang pastinya, semoga segera menikah. Amin,"
"Amin,"
__ADS_1
Terima kasih telah membaca novel ini.