
Hari ini adalah hari terakhir Pak Faiz mengajar aku, karena Ujian Nasional akan di laksanakan minggu depan. Untuk edisi sepesial kali ini, Pak Faiz tidak menerangkan tentang materi-materi pembelajaran di sekolah melainkan pembelajaran tentang kehidupan. Yang mana soal-soal di materi kehidupan ini, jauh lebih sulit dan rumit dari pada materi umum yang di ajarkan semasa sekolah.
"Shofia, setelah kamu menerima surat keterangan kelulusan, kamu sudah resmi masuk kedalam sekolah kehidupan, yang mana di sekolah ini kamu akan menemukan materi-materi baru, soal-soal baru, Guru-guru baru, pengalaman baru dan masih banyak lagi hal baru yang akan kamu temui. Di dalam sekolah ini, apapun keputusan yang kamu ambil akan berdampak terhadap masa depan kamu dan bahkan terhadap orang lain. Jadi, setiap kamu memutuskan segala sesuatu kamu harus memikirkan resiko dan dampaknya. Shofi, jadilah orang yang baik, orang yang berguna bagi orang lain, bantulah orang yang sedang dalam kesusahan, karena segala sesuatu yang kita lakukan pasti akan ada balasanya,"
"Selain jadi mengajar, Bapak juga bisa memotivasi orang ya. Wih, hebat-hebat,''
"Shofi,"
"Iya Pak Faiz, bercanda kok. Shofi akan ingat selalu nasehat Pak Faiz, Shofi akan selalu berhati-hati dalam memutuskan sesuatu. Emm dan yah, Shofi mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Pak Faiz karena telah sangat-sangat baik mengajar Shofi dan terima kasih banyak karena telah menjadi guru yang baik untuk Shofi. Shofi juga minta maaf kepada Bapak, mungkin sadar atau tanpa sadar Shofi melukai hati Pak Faiz, Shofi minta maaf,''
Kuucapkan dengan tulus kalimat itu, dan tampak Pak Faiz sedikit terharu, mungkin ia tidak menyangka orang sepertiku bisa berkata seindah itu. Pak Faiz hanya terdiam dan tersenyum kepadaku tanpa berkata sepatah katapun. Aku jadi heran, apakah perkataanku barusan sangat-sangatlah indah sampai Pak Faiz kehabisan kata-kata?.
"Terharu banget ya Pak dengar kata-kata Shofi barusan, sampai-sampai Pak Faiz tidak bisa berkata apa-apa?"
Segera Pak Faiz mengacak-acak rambutku. Aku heran kenapa dia suka sekali mengacak-acak rambut orang. Em atau itu memang kebiasaannya? Tapi kalau memang iya, kebiasaan itu harus cepat-cepat di rubah. Bayangkan jika Pak Faiz melakukan itu kepada orang botak. 'Kan itu jatuhnya buka mengacak-acak lagi melainkan mengelus dan mungkin orang itu akan tersinggung.
"Kalau suatu saat nanti kamu butuh bantuan saya, kamu bisa langsung hubungi saya,"
"Apapun?"
"Iya, jika saya bisa bantu, saya akan bantu,"
"Em kalau Shofi butuh bantuan Bapak buat nyedot WC, Bapak mau ni ya?"
"Iya, mau,"
"Haha, becanda Pak. Bapak jangan lupa doain Shofi supaya Shofi dapat nilai yang memuaskan, ya syukur-syukur dapet peringkat,"
"Itu pasti! Dan bukan hanya Shofi tapi semua murid-murid Bapak,''
******
Hari ini adalah hari penggumuman kelulusan, semua orang tua di harapkan hadir di agenda rapat ini. Karena aku anak spesial dari keluarga yang spesial juga, namaku di sebut di urutan yang paling akhir. Bukan karena apa, hanya saja setiap ada rapat orang tua atau pembagian hasil ujian semester, perwakilanku memang datang yang paling akhir, itupun bukan Papa yang datang tapi Bi Imah.
Bi Imah sudah sampai di rumah, ia datang dengan berjalan cepat dan datang dengan raut wajah gembira.
"Non!"
''Gimana Bi, aku lulus kan?"
"Pastinya Non, dan ada kabar yang menggembirakan?"
"Apa Bi?"
"Non Shofi dapat peringkat 2 dari seluruh murid,"
__ADS_1
"Hah, peringkat 2? Serius Bi, Bibi gak bohong 'kan?"
"Serius Non, Bibi gak bohong,"
Aku benar-benar shok dan bener-bener gak nyangka kalau aku bisa dapat peringkat. Bibi memberiku surat keterangan kelulusan, dan aku melihat nilaiku yang sangat memuaskan. Aku sendiri tidak menyangka bahwa aku bisa sepintar itu.
Aku berlari menuju kamarku, aku ingin menelfon Kira dan menyampaikan kabar bombastis ini.
"Aaaa Kira.. ada kabar yang sangat-sangat luar biasa kabar yang bakal bikin kamu berpikir bahwa bumi itu datar kabar yang mungkin akan memberikan sedikit hantaman di jantung kamu kabar yang mungkin membuat kamu percaya bahwa di Planet Mars dahulu ada kehidupan,"
HAH HUFT..
Nafasku terengah-engah karena aku terus berbicara tanpa berhenti.
"Nah, engap kan. Makanya kalau ngomong tu harus ada komanya, jangan nyerocos terus,"
"Hehe sorry. Habisnya aku excited banget sama kabar ini. Kamu mau tau gak kabar yang bikin aku gak nyangka?"
"Apa?"
"Aku dapat peringkat 2 di sekolah, Ra. Aaaaa aku seneng banget,"
"Aku udah tau kali,"
"Hah, kok bisa? Kamu tau dari siapa? Aku aja baru tau makanya aku langsung telfon kamu,"
"Ih kok gak bilang si sama aku?"
"Ya emang sengaja, biar surprise aja. Ngomong-ngomong gimana reaksi orang-orang rumah, mereka pasti terkejut kan? Terus gimana tanggapan Ibu dan Adik tersayang kamu itu, pasti mereka buat drama kan?"
"Aku belum ngomong ke mereka, lagipula hal ini gak penting kan buat mereka. Paling-paling jawabanya ya oh bagus dong, udah gitu aja gak ada excited sama sekali. Jadi aku agak males mau ngomong sama mereka, ya palingan aku cuma ngomong sama Papa aja,"
"Ya iya sih, aku ngerti kok. Em ngomong-ngomong kamu udah ngabari Pak Faiz soal ini? Ya kan dia orang yang berjasa dalam pencapaian kamu saat ini,"
"Aku bakal kabari dia, tapi gak sekarang sih. Dia pasti sibuk ngurus kelulusan murid-muridnya,"
"Iya, kamu bener. Fi udah dulu ya, Mama aku manggil ni,"
"Iya, bye,"
"Bye,"
'Ku hempaskan diriku begitu saja di atas kasur, aku menatap lurus kearah langit-langit kamar. Harusnya hati ini terasa begitu gembira, tapi saat ini hampa dan sunyi yang aku rasakan, aku memiliki keluarga tapi aku seperti hidup sebatang kara. Saat ini mungkin teman-temanku sedang merayakan hari kelulusan dengan keluarganya, aku juga ingin merasakannya, tapi apa boleh buat, Tuhan sudah menakdirkan kehidupanku seperti ini. Aku hanya berharap, suatu saat nanti saat aku menikah, aku dapat membuat sebuah keluarga yang harmonis dan bahagia.
Entah kapan aku tertidur? Tau-tau langit di luar sana sudah menghitam. Bergegas aku mandi, setelah mandi aku turun kebawah untuk mengisi perutku yang keroncongan. Terlihat Ibu dan Alya tengah makan di meja makan, sebenarnya aku sedang tidak ingin bertemu mereka, tapi cacing di perut sudah menggerogoti dinding lambung. Dengan mental dan hati yang tidak siap, aku berjalan menuju dapur. Mereka menatapku seperti singa yang kelaparan, aku tak menghiraukan tatapan mereka, aku terus berjalan.
__ADS_1
"Senengkan sekarang udah lulus, udah gak jadi beban orang lain lagi. Berarti gak minta duit lagi dong ke Papa, kan udah gede bisa cari duit sendiri dong?"
Aku hanya diam tak mengubris omongan Ibu. Setelah nasi, lauk beserta air untuk aku minum sudah aku ambil, aku berjalan pergi meninggalkan mereka.
"Kapan keluar dari rumah? Jangan jadi beban orang lain terus dong. Sadar diri!"
Aku terus berjalan tanpa berhenti, sebenarnya aku tidak ingin mendengar apalagi memasukan kedalam hati kata-kata yang terucap dari mulut Alya, tapi saat ini hatiku sedang lemah, jadi hinaan apapun yang mereka ucapkan akan membuatku bersedih.
Sesampainya di kamar, aku sudah tidak napsu makan lagi. Aku berdiri di balkon kamar menikmati hembusan angin yang menerpa tubuhku, harap-harap bisa membawa rasa sedihku terbang menjauh bersamanya.
''Suatu saat nanti aku akan keluar dari rumah ini, kalian tunggu saja,''
Hah... Huft..
Aku keluarkan rasa sedih di dalam hatiku, agar beban di diriku tidak terlalu berat.
Tiba-tiba terdengar suara telfonku, aku pikir itu KIra tapi ternyata Pak Faiz yang menelfon.
"Hallo, Pak,"
"Hallo, Shofia,"
"Ada apa Bapak telfon Shofi malem-malem gini?"
"Em, saya hanya ingin tau bagaimana hasil ujian kamu, memuaskan tidak?"
"Iya, memuaskan. Shofi dapet peringkat 2 di sekolah,"
"Wah, hebat kamu. Selamat yah, orang tua kamu pasti bangga dengan prestasi kamu ini,"
"Iya, terima kasih,"
"Setelah ini kamu mau kuliah dimana?"
"Shofi gak tau, Shofi gak mau mikirin hal itu dulu,"
"Shofi lagi ada masalah ya?"
"Enggak kok, Shofi baik-baik aja,"
"Shofi jangan bohong! Saya tau kamu lagi sedih kan?"
"Enggak pak, Bapak gak usah sotoy deh! Udah ah Shofi ngantuk. Good night, Pak,''
Aku memutuskan begitu saja telfon dari Pak Faiz. Aku benar-benar sedang ingin sendiri, aku sedang tidak mau di ganggu.
__ADS_1
Terima kasih telah membaca novel ini😊