
Beberapa bulan sudah aku lalui tanpa Kira di sampingku, dan sejauh ini semua baik-baik saja. Yang paling membuatku heran adalah Ibu dan Alya. Semenjak percakapan Ibu dan Papa di dapur, sikap Ibu dan Alya jadi berubah. Mereka tak lagi mencari-cari masalah denganku, sikap mereka cenderung acuh kepadaku. Aku tak tahu harus merasa bersyukur atau justru waspada, bukan bermaksud berperasangka buruk, hanya saja aku takut jika Ibu dan Alya merencanakan sesuatu yang buruk kepadaku.
Dret Dret { suara ponsel berdering }
"Kak Seno? Ngapain dia telfon aku?''
Lantas 'ku jawab telfonnya.
"Hallo, Kak."
"Hallo, Shofi."
"Kenapa telfon?''
"Ihh jangan judes gitu dong ngomongnya, aku 'kan jadi tambah kangen!"
"Benar-benar menyebalkan!" bisikku.
"Kalau Kakak telfon aku cuma buat ngomongin hal yang gak penting, lebih baik aku tutup telfonnya!"
"Ehh jangan dong! Emm sebenarnya aku telfon kamu karena besok aku mau ajak kamu jalan. Kamu bisa 'kan?"
"Aduh, aku gak bisa Kak. Besok aku udah ada janji sama orang, sorry ya."
"Oh gitu. kalau lusa, kamu bisa kan?"
Hal ini yang aku tidak suka dari Kak Seno. Terkadang dia bisa jadi orang yang sangat memaksakan kehendaknya.
"Kita liat aja nanti... udah ya, aku tutup dulu telfonya."
"Yaudah deh. Bye."
Langsung aku tutup telfonya, kesal lama-lama meladeni manusia satu ini. Aku pikir perangai buruknya ini sudak hilang, tapi ternyata masih ada. Apa sifat ini yang membuatku tidak menyukainya?... ah masa bodo, lebih baik aku tidur daripada memikirkan hal yang tidak penting ini.
******
Hari ini aku ada janji dengan Bang Mul, dia memintaku untuk menemaninya pergi, tapi aku tidak tahu pergi kemana. Setelah semua sudah beres, aku turun untuk sarapan. Aku langsung duduk dan mulai memakan makananku tanpa melihat mereka.
"Pagi-pagi sudah rapi, memangnya mau kemana? Bukannya hari ini kamu libur?''
Aku menoleh kearah Papa, ia bertanya tanpa melihat kearahku.
"Ada janji sama temen."
Seperti biasa kuhabiskan dengan cepat makananku. Setelah selesai, bergegas aku pamit kepada mereka.
"Aku pergi dulu."
Aku langsung berjalan keluar dari rumah menuju garasi, kukendarai motorku menuju cafe Bang Mul. Saat sedang mengendarai motor, tiba-tiba terbesit pikiran mengenai sikap Ibu dan Alya. Kenapa tadi mereka diam saja saat aku bilang akan pergi? Biasanya mereka akan membuat drama yang menyebalkan, tapi kenapa ini tidak? Hah, benar-benar membinggungkan.
Aku langsung masuk kedalam cafe, terlihat Bang Mul duduk seraya memainkan ponselnya.
"Bang Mul."
"Hai, Shofi. Langsung jalan yuk!"
Bang Mul menggenggam tanganku dan langsung mengajakku pergi dari sini. Gegas ia melajukan mobilnya. Aku benar-benar penasaran, kemana dia membawaku pergi?.
"Sebenarnya kita mau kemana sih?"
Bang Mul tak langsung menjawab, dia malah senyum-senyum gak jelas. Aku curiga pasti ada yang tidak beres.
"Ayo, jawab!... Hah, atau jangan-jangan Bang Mul ada niat jahat ya sama aku?"
''Hah, gak mungkinlah aku ada niat jahat sama kamu, jangan aneh-aneh deh mikirnya!"
"Biar aku gak mikir yang aneh-aneh, jawab pertanyaanku!"
"Emm, sebenarnya aku mau ajak kamu keacara keluargaku.''
''Hah! Acara keluarga? Kenapa ajak aku, Bang? Gak, aku gak mau!"
Tiba-tiba Bang Mul membelokan mobilnya untuk menepi.
"Aku mohon, Fi."
Tiba-tiba Bang Mul mengaitkan kedua tangannya seraya memperlihatkan wajah melasnya.
"Aku mohon, Fi. Ini demi ketenangan mental Abangmu ini. Apa kamu tega melihat mental Abangmu ini terganggu? Apa kamu gak kasihan melihat aku yang selalu overthinking, selalu bertanya-tanya kenapa sampai sekarang aku masih jomblo!... Wahai jodohku kemana engkau berada?"
Semenjak Kira pergi, sikap Bang Mul menjadi sangat aneh. Dulu dia tidak pernah bersikap seperti ini, bahkan sampai membuat drama agar aku menuruti keinginannya. Sejujurnya aku tidak masalah dengan hal itu, hanya saja aku masih merasa aneh. Ya, karena selama ini aku mengenal Bang Mul sebagai pria dewasa yang bijaksana, manly dan terkadang jadi playboy, bukan drama king seperti sekarang.
"Please, Shofi. Please." sambungnya.
Wajah Bang Mul semakin memelas, ia benar-benar berusaha membuatku setuju. Ya, mau tidak mau aku harus setuju.
"Oke-oke, aku setuju. Jangan buat wajah melas gitu dong, jijik tahu!"
__ADS_1
"Yes. makasih, Shofi."
"Ya."
Bang Mul melanjutkan perjalanannya, ia terlihat sangat senang sampai-sampai ia menyetir seraya bersenandung.
Beberapa saat kemudian, kami sampai di sebuah rumah yang cukup besar. Setelah Bang Mul memarkirkan mobilnya, Kami turun dari mobil. Sebelum kami masuk, Bang Mul mengatakan sesuatu.
"Kita harus bersikap layaknya sepasang kekasih. Kamu jangan malu jika ingin menggandengku, memeluku bahkan menciumku. Lakukan saja, jangan malu!"
"Akh."
Satu toyoran keras sukses mendarat di kepalanya, bisa-bisanya dia mengatakan hal itu dengan begitu percaya diri. Kesambet setan apa sih Bang Mul ini, Jadi gila begini?.
"Ah, sakit Fi."
"Biarin. Aku datang kesini hanya untuk menemani Bang Mul ya, Bukan jadi pacar pura-pura Abang!"
"Emh, Shofi. Tolong bantu aku, kali ini saja? Please."
Lagi-lagi dia membuat wajah melas, bahkan sekarang dia juga mengedip-kedipkan matanya. Ahh, menjijikan sekali! Andai aku kuat mengangkat mobil ini, suka kuangkat dan kulempar kekepala Bang Mul.
"Gak, aku mau pulang aja."
Bang Mul mengengam tanganku agar aku tidak pergi.
"Shofi, aku ... "
"Eh, Candra. Kok di luar sih, ayo masuk!" ucap Seorang perempuan.
Nama panjang Bang Mul adalah Mulya Candrawan. Teman-temanya memangilnya Mulya, tetapi keluarganya memanggilnya Candra.
"Shofi, sekali ini saja?"
Sudah terlanjur sampai sini, mau tidak mau aku harus masuk.
"Ya udah, aku mau."
"Yes, makasih," ucapanya dengan manja.
Dia benar-benar membuatku geli setengah mati.
"Ayo!"
Bang Mul mengajakku untuk masuk kedalam, suara riuh tedengar dari depan pintu.
"Aku yakin di dalam pasti banyak sekali orang," bisikku.
"Mereka semua saudara kamu?"
"Iya, banyakkan?"
"Banget."
"Jangan kaget gitu dong! ... Papaku 6 bersaudara, jadi kalau lagi kumpul ya gini."
Ada seorang Ibu-Ibu yang berjalan kearah kami.
"Candra."
"Mama."
Mereka berpelukan.
"Siapa dia, candra?"
"Oh. Kenalin Ma, dia Shofi."
Tanpa perintah, aku mencium tangan Mama Bang Mul.
"Tante."
"Aduh-aduh, kamu manis sekali...kamu teman Candra ya?"
Mama Bang Mul pikir aku teman Bang Mul, tapi kenapa Bang Mul minta aku jadi pacar pura-pura dia? Tahu gini aku gak mau terima permintaan dia.
"Bukan, Ma. Dia pacarku.''
Aku langsung melotot kearahnya, dia malah nyengir kayak kuda. Kenapa sih harus memperkenalkan aku sebagai pacar, kenapa gak teman aja? Toh Mamanya gak berpikir aku pacar Bang Mul.
"Hah, kamu serius? Kamu gak lagi bercanda kan?"
"Engak, Ma."
Mama Bang Mul memeluku sangat erat.
"Ah, syukurlah. Terima kasih sudah bersedia menjadi pacar anak Tante."
__ADS_1
Mama Bang Mul melepas pelukannya. Aku melihat matanya berkaca-kaca, sepertinya dia sangat ingin Bang Mul memeiliki kekasih.
"Ayo ikut Tante!"
Mama Bang Mul mengajaku berkumpul dengan para wanita.
"Perhatian!"
Semua orang melihat kearah kami.
"Perkenalkan , namanya Shofi. Dia pacar Candra."
"Benarkah?" ucap semua orang.
"Iya."
"Duduk sini, sayang!"
Mama Bang Mul mempersilahkan aku untuk duduk, aku duduk di sampingnya.
"Kamu cantik sekali, Nak." Ucap seorang perempuan yang sudah sepuh, aku yakin dia pasti Nenek Bang Mul.
"Terima kasih."
"Kamu betul-betul pacar Candra 'kan? Candra gak sewa kamu buat jadi pacar pura-puranya 'kan?'' ucap salah satu Tante Bang Mul.
Deg.
Jantungku berdebar dengan sangat cepat, tiba-tiba aku merasa kepanasan. Harap-harap keringat gak keluar, kalau sampai keluar dan mereka lihat, pasti mereka akan curiga.
"Indah, kamu kok ngomong gitu sih?" ucap Mama Bang Mul.
"Aku cuma mau memastikan saja, Mbak. Aku gak mau Candra bohongi Mbak Sari dan Mas Robi. Karena selama ini Mbak Sari tidak pernah melihat Candra dekat dengan perempuan manapun 'kan?"
Tunggu-tunggu. Kenapa dia nhomong gitu? Apa mereka berpikir kalau Bang Mul gak normal? Mereka benar-benar tidak tahu jika Bang Mul dalam mode playboy, semua cewek diembat sama dia.
"Saya dan Bang Mul beneran pacaran kok Tante.''
"Sudah berapa lama?"
Ah, Tante Indah. Kenapa banyak tanya sih? Udah percaya aja 'napa?. Sebenarnya itu pertanyaan yang mudah, tapi masalahnya jika jawabanku dan Bang Mul berbeda, bisa-bisa aku dihujat puluhan orang di sini, mentalku belum cukup kuat.
Bang Mul sialan, bukannya mendampingi aku, dia malah enak-enakan main sama anak-anak. Akan kuhabisi dia setelah ini!.
"Satu tahun,'' ucap Bang Mul.
Untung saja Bang Mul datang tepat waktu, untuk sementara waktu ini aku selamat.
"Sudah satu tahun? Kok kamu gak bilang sama Mama sih?''
"Yah karena Mama pasti akan maksa aku untuk cepat-cepat nikah. Aku gak mau menggorbankan masa muda Shofi. Biarkan dia menikmati masa mudanya, biarkan dia melakukan apa yang dia mau. Jika aku memaksa Shofi untuk menikah sekarang, aku gak mau saat sudah menikah ada penyesalan dihatinya."
Wow, benar-benar diluar perkiraanku. Sepertinya Bang Mul sudah merencanakan ini jauh-jauh hari. Dia begitu cepat menjawab.
"Shofi, sekarang umur kamu berapa sayang?" tanya Mama Bang Mul.
"Jalan 19 Tante."
Mama Bang Mul mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kamu sudah melakukan hal yang benar, Nak."
"Alasan, umur segitu wajar-wajar saja jika menikah. Kalau memang mau nikah, ya nikah saja. Atau kamu memang gak mau menikah.ya Candar?" Ucap Tante Indah tiba-tiba.
"Maksud Tante Indah apa yah ngomong gitu?"
"Dulu kamu tidak pernah mengajak teman perempuanmu main kerumah dan saat kuliahpun, kamu selalu jalan dengan teman laki-laki dan tidak pernah dengan teman perempuan. Itu bukti kalau kamu tidak normal."
"Jaga mulut Tante! Jangan ngomong sembaranga!''
''Aku gak ngomong sembarangan, itu kenyataan.''
''Indah!'' ucap Mama Bang Mul.
''Kenapa Mbak? Hal itu benar 'kan? Candra tidak normal.''
''Indah!'' bentak Mama Bang Mul.
Brak..
Bang Mul menendang meja di depannya. Semua yang ada di atas meja, berserakan kemana-mana.
''Jaga mulutmu! Urusi saja masalah rumah tangga anakmu yang hancur itu! Jangan repot-repot memikirkan masalahku!'' Ucapan Bang Mul bernada rendah tapi sangat tajam.
"Candra!"
"Sudah-sudah, jangan bertengkar!" ucap Mama Bang Mul.
__ADS_1
"Ayo, kita pergi!"
Bang Mul menarikku keluar dari rumah, ia menggengamku dengan lembut, tapi aku melihat tangan satunya mengepal dengan sangat erat. Aku tidak pernah melihatnya semarah ini, dia benar-benar sangat marah. Tetapi wajar saja sih dia marah, karena dia di anggap tidak normal.