
Kini aku tengah duduk di balkon kamar sembari terus menatap kearah gerbang. Aku merasa gelisah karena Pak Faiz tak kunjung datang dan aku juga merasa malu untuk bertemu dengannya lagi. Namun di lain sisi, aku juga ingin bertemu dengannya, sudah lama kita tak bertemu. Apa aku...,
"Ah, tidak-tidak. Itu salah! Kamu tidak boleh merindukan suami orang, itu tidak benar!"
Aku buang jauh-jauh pikiran itu. Masa iya aku merindukan suami orang, 'kan itu aneh. Daripada terus memikirkan hal itu, lebih baik aku mengerjakan tugas kuliahku.
Sudah berjam-jam aku duduk di depan komputer mengerjakan tugas-tugasku yang berjibun-jibun itu, yang entah kapan akan selesai. Aku melihat jam di dinding sudah menunjukan pukul 3 lebih, pantas saja aku merasa lapar. Aku ingin kebawah untuk ambil makanan, tapi malaslah jika bertemu Pak Faiz.
"Pak Faiz udah pulang belum yah? Kalau belum, malas banget ketemu dia. Rasanya pasti canggung. Tapi ini udah jam 3 lebih, harusnya sih udah pulang. Tapi kalau belum?"
Kruk Kruk..
Perutku sudah berbunyi. Saat ini aku benar-benar kelaparan, tapi malas sekali kalau sampai bertemu Pak Faiz.
Kruk Kruk..
"Ah, masa bodo. Canggung-canggung? Kenapa harus canggung, emang aku suka sama Pak Faiz? 'Kan gak."
Iya, yah. Kenapa aku harus bersembunyi dan harus merasa canggung, 'kan aku gak punya perasaan apapun sama Pak Faiz.
Aku keluar dari kamar, aku menuruni tanggan dengan pelan dan melihat apakah Pak Faiz sudah pulang atau belum.
Huft
Ternyata dia sudah pulang. Aku berjalan riang menuju dapur, tidak sabar rasanya ingin segera makan. Kini piringku sudah penuh dengan nasi dan lauk pauknya, dan tak lupa juga segelas es teh manis penyegar dahaga. Saat aku akan menaiki tangga, tiba-tiba ada yang memanggilku dan aku tahu itu suara siapa.
"Shofia!"
Aku menghentikan langkahku. Aku tak langsung menoleh kearahnya.
"Ah, sial. Kenapa balik lagi sih?" bisikku.
"Shofi?"
Mau tak mau aku harus menoleh kearahnya.
"Iya, Pak."
Saat aku menoleh kearahnya, dia malah berjalan kearahku seraya tersenyum. Ah, benar-benar menyebalkan!.
"Apa kabar, Shofi? Lama tak jumpa."
"Saya baik, Pak."
"Bagaimana kuliah kamu, lancarkan?"
"Iya, lancar."
Sebenarnya aku tak ingin banyak omong apalagi menanyakan sesuatu, tapi aku penasaran kenapa dia kembali lagi?.
"Bapak kok balik lagi sih, bukanya tadi udah pulang yah?" sambungku.
"Buku saya tertinggal di meja, jadi saya balik lagi untuk mengambil bukunya."
"Oh. Udah di ambil Pak?''
"Ini, saya mau mengambilnya."
Pak Faiz pergi untuk mengambil bukunya yang tertinggal di meja ruang tamu. Harap-harap setelah itu dia akan pulang. Setelah memasukan bukunya kedalam tas, dia tersenyum kearahku.
"Pasti mau pulang nih?" batinku.
"Ah, sial. Kenapa malah balik lagi sih?"
Pak Faiz berjalan kembali kearahku seraya tersenyum. Dia benar-benar menyebalkan! Jika boleh kulempar dia dengan piring ini, sudah kulempar sekarang.
"Shofi. Apa Ibu kamu masih berbuat kasar terhadapmu?"
"Tidak, Pak."
"Syukur, jika seperti itu."
"Tapi semisal kamu di perlakukan dengan buruk, jangan sungkan hubungi saya!''
"Iya."
Kali ini Pak Faiz benar-benar menyebalkan! Kenapa dia tidak peka sih? Padahal aku sudah jawab sesingkat itu dan secuek itu, tapi kenapa dia tidak sadar?. Mana aku lapar banget lagi. Ini asam lambungku sudah tidak asam lagi, melainkan sudah manis. Sudah lelah aku memberi kode kepada Pak Faiz, aku usir aja dia sekarang.
"Pak, ngobrolnya di sambung lain kali yah. Saya mau makan, udah leper banget soalnya."
__ADS_1
"Oh, iya-iya. Maaf yah saya terlalu banyak bicara. Kalau gitu saya pamit pulang."
"Iya, Pak."
Aku menunggu Pak Faiz naik kemotornya, takut jika dia kembali lagi. Setelah memastikan Pak Faiz keluar dari gerbang, gegas aku pergi kekamar. Tetapi, jika dilihat-lihat wajah Pak Faiz tadi, aku merasa tidak enak. Saat menyapaku tadi wajahnya terlihat begitu bahagia, tapi aku meresponnya dengan acuh.
"Ah, bodo amat. Siapa suruh dia gak peka."
*
Kini aku berada di kantin kampus bersama teman-temanku. Niatnya sih kami kumpul mau ngerjain tugas tapi ujung-ujungnya malah ngegosip, biasalah perempuan. Saat sedang asik membahas gosip yang sedang hot-hotnya, tiba-tiba Kak Seno datang.
"Hai, semua."
"Hai," jawab mereka bersamaan.
Sudah datang tak di undang, main duduk di sebelaku lagi. Menyebalkan!.
"Aku boleh duduk disini?"
"Udah dudukan? Ngapain tanya!"
Pantat sudah menempel baru minta ijin. Sungguh menyebalkan!.
"Shofi, kamu selalu terlihat cantik."
"Cie." ejek teman-temanku.
Saat ini kesabaranku sudah habis, aku sudah tidak tahan lagi dengannya.
"Ayo, ikut aku!"
"Wah, sabar dong Fi. Aku kan mau ngobrol sama teman-teman kamu. Lagian kita mau kemana sih?"
"Aku mau aja Kak Seno kekebun binatang."
"Hah. Kok kekebun binatang sih?"
"Aku mau jorokin Kak Seno kekandang singa, biar di cabik-cabik disana, setelah itu tulang-tulang Kakak akan aku kasih ke anjing, setelah itu hidupku akan tenang!"
Mereka semua menatapku tanpa berkedip.
"Biarin!"
Aku memilih untuk pergi meninggalkan mereka, tapi saat akan pergi, Kak Seno menghentikanku.
"Shofi, tunggu!"
"Apalagi?"
Kak Seno berdiri di depanku, ia mengambil tanganku dan menggenggamnya. Aku memiliki firasat bahwa dia akan menyatakan perasaannya padaku.
"Ah, tidak-tidak. Aku harus kabur dari sini,'' batinku.
Aku berusaha melepaskan tanganku dari genggamanya, tapi tidak bisa. Dia benar-benar menyebalkan!.
"Shofia. Aku suka kamu, kamu mau gak jadi pacarku?"
"Tu kan, bener," batinku.
Jelas-jelas responku kepadanya sangat buruk, tapi dia masih berani nembak aku? Dia ini kepala baru atau memang gak punya malu sih!.
"Maaf ya, Kak. Sebenarnya aku udah punya pacar, jadi aku gak bisa jadi pacar kamu."
"Bohong yah? Siapa pacar kamu?"
"Pacar aku 'tu Bang Mul. Kalau gak percaya tanya aja sama dia!"
Semula wajahnya berseri-seri sekarang menjadi mendung. Pasti hatinya hancur banget sih, tapi yah mau gimana lagi, aku memang gak cinta sama dia. Masa iya, cinta harus di paksa, kan itu menyiksa diri namanya.
"Ya, aku percaya. Ya sudah gak pa-pa, aku hargai keputusan kamu."
Kak Seno pergi begitu saja, tanpa berpamita. Aku tahu dia pasti merasa sedih, tapi itu lebih baik daripada terus berharap.
"Kamu beneran udah punya pacar, Fi?"
"Iya, beneran. Bahkan aku udah di kenalin sama keluarga besarnya."
"Udah yah, aku mau pergi dulu,'' sambungku.
__ADS_1
"Pergi kemana? Kita kan belum selesai ngosipnya."
"Ketemu pacar. Dah ya, bye."
Aku pergi kecafe Bang Mul, aku pergi kesana karena ingin menceritakan masalah ini dengan Bang Mul.
Singkan waktu, kini aku sudah berada di cafe Bang Mul. Aku mencarinya tapi dia tidak ada.
"Mbak, Bang Mul kemana yah?"
"Mas Mulya tadi keluar cari sesuatu Mbak. Mungkin sebentar lagi balik."
"Oh, gitu. Yaudah, seperti biasa ya Mbak, tolong di anterin keatas. Dan satu lagi, minta tolong kalau Bang Mul udah dateng kasih tahu kalau aku nunggu diatas."
"Iya, Mbak."
"Makasih, Mbak."
Aku menunggu Bang Mul di tempat biasa.
Tak selang lama Bang Mul datang dengan membawa pesananku.
"Nunggu lama yah?"
"Enggak kok."
Bang Mul duduk di depanku.
"Mau cerita apa?"
"Tadi Kak Seno nembak aku, tapi gak aku terima. aku bilang kedia , kalau aku pacar Abang. Gak pa-pa 'kan?"
"Kan emang pacar!"
Seketika aku dan Bang Mul menoleh kearah suara itu. Dan ternyata ada Ibu Bang Mul.
"Tante?"
"Ma? Mama kok kesini?"
Tante Sari duduk di sampingku.
"Ya Mama pengen ketemu calon mantu. Kamu bilang Shofi sering datang kesini."
"Mama ih, ngomongnya sembarangan."
"Kok sembarangan sih?... gak pa-pa Shofi, kalau Tante bilang kamu calon mantu?"
Aduh, aku tidak tahu harus jawab apa? Jika aku bilang tidak, Tante pasti curiga soal hubunganku dan Bang Mul, Tapi kalau aku jawab iya, aku takut tante akan berharap lebih.
"Terserah Tante aja."
"Tuh, Shofi gak keberatan kok."
Kami mengobrol panjang lebar, tak terasa sudah jam 3 lebih, ini waktunya aku pulang.
Setelah aku berpamitan dengan Tante Sari dan Bang Mul, aku bergegas pulang.
******
Sudah beberapa bulan Pak Faiz menjadi guru privat Alya. Aku juga melihat kalau Alya sangat bersungguh-sugguh dalam belajarnya.
Aku pergi kedapur untuk mengambil air, karena air di kamarku sudah habis. Aku melihat Alya di dapur sedang membuat jus.
"Lo mau?"
Alya menawariku jus buatanya. Jujur saja aku masih meragukan mereka, tapi tidak ada salahnya jika aku sedikit berpikir positif.
"Gak pa-pa ni?''
"Gak pa-pa dong. Aku sengaja buat banyak supaya yang lain bisa coba jus buatan gue. Jarang-jarangkan gue kayak gini?"
"Makasih ya."
"Iya."
Alya membawa 2 gelas berisi jus, aku yakin itu pasti buat dia dan Pak Faiz.
Aku mencoba jus buatan Alya. Em, rasanya sedikit kemanisan, tapi untuk amatiran, gak pa-pa lah ya.
__ADS_1
Setelah aku mengambil air mineral, aku kembali kedalam kamarku. Aku bersantai-santai di atas ranjangku sembari memaikan ponselku. Tiba-tiba saja mataku menjadi berat, aku sangat mengantuk. Tanpa basa-basi aku meletakan ponselku dan aku langsung tertidur.