Cinta Terdalam

Cinta Terdalam
Part 16


__ADS_3

Tak terasa kini usia pernikahan paksaku sudah berjalan 2 minggu. Sehari-hari aku habiskan di kampus dan di dalam rumah saja, kadang juga nongkrong kalau sedang jenuh. Sebenarnya Pak Faiz juga menyuruhku untuk berbaur dengan tetangga, hanya aku saja yang tidak mau. Bukan tak mau berkenalan, hanya tak mau jika nanti aku di cerca dengan banyak pertanyaan. Biasa 'kan, emak-emak suka kepo masalah kehidupan orang lain.


Namun, entahlah? Hari ini aku ingin pergi keluar rumah untuk sekedar menyapa para tetangga. Aku keluar rumah dan hendak mengambil sendal dirak sepatu. Tiba-tiba ada yang melingkarkan satu tangannya diperutku dan memeluku dari belakang. Sontak aku menoleh dan ternyata orang itu adalah Pak Faiz.


"Pak Faiz apa-apaan sih? Bapak lupa dengan janji Bapak, hah? Lagian mesum banget sih, main peluk disembarang tempat!" Aku sesekali memuluk dada Pak Faiz untuk menyalurkan rasa jengkelku. Aku benar-benar kaget dibuatnya.


"Masuk dulu!"


"Ngapain?" Tanyaku.


"Kita bahas didalam."


"Mau bahas apa?" tanyaku.


"masuk dulu, Fi!"


Aku dan Pak Faiz masuk kedalam rumah.


"Sekarang apa!" Kataku.


"Kamu mau pergi kemana?"


"Aku mau menyapa tetangga. Bukanya Pak Faiz selalu menyuruhku untuk berbaur dengan para tetangga. Seharusnya Bapak senang!"


"Iya, saya selalu menyuruhmu berbaur dan saya bahagia jika kamu melakukannya. Tapi tidak dengan pakaianmu yang terbuka ini! Saya melarang kamu keluar dengan pakaian seperti ini!" Ucapnya.


Aku melihat pakaianku sendiri. Aku mengenakan hot pants dan baju polos yang lumayan ketat, tapi aku rasa pakaianku biasa-biasa saja, karena setiap haripun aku juga selalu berpakaian seperti ini dan Pak Faiz sama sekali tidak melarangku.


"Apa yang salah Pak? Setiap hari aku juga begini."


"Lihat celanamu! Sangat pendek, seluruh pahamu hampir terlihat. Dan lihat juga bajumu! Sangat ketat, bentuk badanmu tercetak sangat jelas. Saya tidak melarang kamu berpakaian seperti ini, jika didalam rumah. Tidak diluar rumah!" Ujarnya.


Aku menatap curiga kearah Pak Faiz. Aku mencium aroma-aroma kecemburuan disini.


"Halah, bilang aja Pak Faiz cemburu 'kan, kalau ada yang liat bentuk tubuhku?"


"Ya, saya memang cemburu dan saya juga tidak ikhlas jika ada yang liat bentuk tubuh kamu kecuali saya. Dan kalau bisa saya mau kamu berhijab, tapi saya tidak mau memaksa kamu."


Tanpa berkata-kata aku berjalan menuju kamar. Kalau Pak Faiz sudah ceramah, serasa hilang semua energiku.


"Pakai celana yang panjang, Fi!" Ucapnya.


"Gak jadi. Aku udah keburu males," jawabku tanpa menoleh kearah Pak Faiz.


Aku merebahkan tubuhku diatas ranjang. Karena bosan, aku memutuskan untuk tidur.


Saat aku bangun tidur, aku merasa tidak nyaman dibagian bawah pusar.


"Duh, datang bulan ni," gumamku.


Aku memeriksanya dan benar saja, darah sudah memenuhi celana dalamku. Aku membuka lemari untuk mengambil ****** ***** yang baru. Dan aku baru teringat, jika aku tidak punya pembalut.


"Pak! Pak Faiz!" Teriakku.


Tak ada sahutan dari Pak Faiz.


"Pak Faiz!" Teriaku lebih kencang dari yang tadi.


"Iya, sebentar!" Jawabnya.


Pak Faiz membuka pintu kamar.


"Ada apa?" Tanyanya.


"Aku lagi mens, beliin pembalut!"


"Oh, iya. Sebentar."


Pak Faiz keluar kamar dan langsung pergi membeli pembalut. Aku menunggunya dikamar mandi, tapi dia tak kunjung datang.


"Ih, lama banget si. Beli pembalut di Arab kayaknya ni orang," gumamku.


Tak selang lama, akhirnya Pak Faiz datang juga. Dia berlari kearahku dengan menenteng kresek hitam besar, entah apa isinya?.


"Lama amat si Pak?"


"Iya, maaf. Tadi saya binggung pilih pembalutnya yang mana, makanya lama," jawabnya.


"Mana?"


Pak Faiz menyerahkan kresek besar itu padaku. Aku membukanya. Mataku melotot saat melihat beberapa pembalut dengan merek dan bentuk berbeda-beda.


"Kenapa sebanyak ini Pak? Pak Faiz mau jualan?"


Pak Faiz menggaruk tengkuknya.


"Saya takut salah pilih, jadi saya beli semuanya." Tuturnya seraya tersenyum.


Aku memutar malas bola mata. Aku langsung menutup pintu kamar mandi dan mulai membersihkan ****** *****, aku juga sekalin mandi karena hari sudah sore.


Setelah selasai bersih-bersih, aku keluar dari kamar mandi. Heran, biasanya jam segini Pak Faiz sibuk memasak. Kemana dia?


Tak mau terlalu ambil pusing, aku berjalan menuju kamar. Saat sampai diambang pintu, aku melihat Pak Faiz sedang mencari-cari sesuatu didalam lemari.


"Pak? Pak Faiz ngapain?" Tanyaku.


"Saya sedang memilih pakaian yang bagus buat kamu." Ucapnya tanpa menghentikan aktifitasnya.

__ADS_1


"Buat apa?"


Kini Pak Faiz berhenti mengutak-atik lemarinya dan beralih menatapku.


"Teman saya menikah dan saya diundang. Saya sedang mencari gamis yang pas buat kamu." Ucapnya dengan senyum penuh.


"Kok gak ngomong dari kemarin? Dan kenapa harus pakai gamis?"


"Hehe. Saya lupa ngasih tahu...Saya pengen lihat kamu pakai gamis, pasti kamu tambah cantik!" Pak Faiz kembali memilih-milih gamis didalam lemari.


Aku berjalan menghampirinya dan melihat apa yang akan dia pilih. Memang didalam lemari ini terdapat beberapa gamis dan hijab, aku tak bertanya milik siap gamis-gamis ini? Aku merasa gamis-gamis ini milik istri pertama Pak Faiz. Tak selang lama, Pak Faiz menemukan gamis polos berwarna pink pastel dengan satu gambar bunga dibawah samping gamis.


"Masya Allah bagus banget gamisnya. Ini pasti cocok buat kamu." Pak Faiz menyerahkan gamis itu padaku.


Gamis ini memang cantik dan elegant. Tapi ini kan gamis milik istri pertama Pak Faiz. Nanti dia marah bagaimana?.


"Aku Bapak udah ijin sama istri Pak Faiz, kalau gamisnya aku pakai?" Tanyaku.


Pak Faiz mengerutkan dahinya.


"Istri? Istri yang mana, istri saya cuma kamu?" Katanya.


"Ya istri pertama Pak Faiz lah."


Bukanya menjawab, Pak Faiz malah tertawa cekikikan.


"Ih malah ketawa," ucapku mrengut.


Pak Faiz menghentikan tawanya.


"Ternyata kamu masih salah paham Fi? Dengar. Saya tidak punya istri selain kamu, istri saya cuma kamu, hanya kamu satu-satunya istri saya, tidak ada yang lain!" Ucapan Pak Faiz penuh dengan tekanan.


Aku masih terdiam. Aku menatap mata Pak Faiz, sorot matanya tak berbohong.


"Terus foto itu? Perempuan yang jalan dengan Bapak waktu itu?" Aku menunjuk foto yang dipajang didinding.


Pak Faiz melihat foto itu.


"Perempuan ini, dia adik saya, usianya selisih setahun lebih muda denganmu. Dan yang kamu lihat kemarin itu juga dia. Namanya zahra," ujar Pak Faiz.


Aku masih diam, aku merasa Pak Faiz tak bohong. Jika dia memiliki istri lain, kenapa tak pernah diajak kemari? Dan Pak Faiz juga selalu tidur disini.


"Pak Faiz gak bohong kan?" Tanyaku, memastikan.


"Tidak Shofia. Istri saya hanya kamu dan tak kan ada yang lain." Ucapnya sangat meyakinkan.


"Oke, aku percaya."


Pak Faiz tersenyum cerah.


"Kamu nanti pakai gamis ini ya. Kita berangkat ba'da maghrib."


.........~


Aku sudah selesai bersiap-siap. Aku keluar kamar untuk melihat Pak Faiz sudah siap apa belum.


"Pak?"


Pak Faiz menoleh. Bukanya memuji, dia malah mengerutkan dahinya.


"Kenapa?" Tanyaku yang tak enak melihat ekspresi Pak Faiz.


"Kok gak pakai hijab?" Tanyanya.


"Emang harus ya?" Tanyaku polos.


Pak Faiz tak menjawab. Ia berjalan mendekat seraya tersenyum. Pak Faiz menarik sedikit lengan bajuku. Ia menuntunku kembali masuk kedalam kamar. Pak Faiz mencari sesuatu didalam lemari.


"Ketemu," ucapnya.


Pak Faiz mengeluarkan hijab besar berwarna senada dengan gamis yang kupakai.


"Pakai ini ya!" Pak Faiz memberikan hijab itu padaku.


"Hijabnya kebesaran Pak." Protesku. Pasalnya hijab ini sangat-sangatlah besar. Bagian belakang menjuntai sampai menutupi pantatku sedangkan panjang yang depan sampai kepusarku.


"Ini pas kok, gak kebesaran. 'Kan modelnya memang seperti ini Shofi."


"Pasti panas Pak, ribet juga," ucapku.


"Tidak. Malah nanti angin malam gak akan masuk dan pastinya kamu bakal tambah cantik. Percaya deh sama saya," Pak Faiz terus membujukku.


Aku mengalah dan memakai hijab itu. Karena tak terlalu niat, akhirnya banyak anak rambut yang terlihat. Aku berusaha untuk merapikannya.


"Maaf ya," ucap Pak Faiz.


Tiba-tiba saja tangannya menjulur dan membenarkan hijabku. Aku hanya bisa mematung dan menatapnya. Senyum selalu menghiasi wajahnya yang tampan... Yah, jujur saja, wajah Pak Faiz memang tampan dan sejuk jika dipandang terus-menerus.


"Selesai. Masya Allah, lihatlah kamu semakin cantik bukan?" Puji Pak Faiz. Ia menuntunku berjalan kedepan cermin. Dan yah, menurutku penampilanku lumayan.


"Ya sudah. Ayo berangkat," ucapnya.


Kami berdua berangkat menuju tempat acara. Jujur saja aku sedikit deg-degkan, pasalnya ini pertama kali aku menghadiri acara bersama Pak Faiz. Sekitar 30 menit perjalanan, akhirnya kami sampai juga ditempat tujuan. Ada banyak sekali orang yang datang menghadiri hajatan ini. Mungkin karena dia seorang guru jadi banyak yang kenal.


Pak Faiz memakirkan motornya.


"Ayo," ucap Pak Faiz.

__ADS_1


Aku dan Pak Faiz berjalan beriringan, tapi kita tidak saling sentuhan.


Baru diparkiran saja sudah banyak orang yang menyapanya dan bertanya siapa aku?. Aku berpikir, kalau aku dan Pak Faiz terus bersikap acuh dan tidak mesra seperti ini, pasti orang-orang berpikir istrinya bermasalah. Maklum, jika ada masalah didalam rumah tangga, orang-orang akan menyalahkan istrinya.


"Pak?" Bisikku.


"Iya."


"Em, malah ini Pak Faiz boleh pegang tanganku. Ehh, jangan GR dulu. Ini cuma pencitraan!" Ucapku.


Seketika Senyum pasta gigi terbit. Pak Faiz langsung menggenggam tanganku tanpa berkata sesuatu.


"Bahagia banget lah ni," ciburku.


Kami masuk kedalam area acara pernikahan. Jujur saja, ini pertama kali aku menghadiri acara pernikahan outdoor, biasanya aku menghadiri pernikahan didalam gedung.


Tiba-tiba ada suara yang memanggil nama Pak Faiz.


"Pak Faiz!"


Ada 3 orang gadis menghampiri kami.


"Jadi benar, kalau Pak Faiz sudah menikah. Pak Faiz tega banget sih! Aku 'kan sudah bilang, tunggu 1 tahun lagi setelah itu kita akan menikah. Kenapa Pak Faiz gak sabaran sih!" Ucap salah satu gadis itu dengan mata berkaca-kaca.


"Eca. Kamu masih kecil, masa depan kamu masih panjang. Pikirkan dulu sekolahmu, raih cita-citamu. Jangan seperti ini!" Ucap Lembut Pak Faiz.


"Pak Faiz jahat!" Ucap gadia itu dan langsung pergi.


"Makanya, jangan tebar pesona! Liat tu anak orang dibikin nangis!" Cibirku.


"Saya bukan tebar pesona, saya 'kan memang mempesona," ucapnya.


"Ih, narsis banget sih!" Ucapku bergidik geli.


Pak Faiz hanya cekikikan.


"Ya sudah ayo duduk, setelah itu kita ambil makanan," ajaknya.


Kami duduk dikursi yang tak jauh dari pelaminan.


"Mau makan yang mana?" Tanyanya.


"Em, sate aja deh."


Pak Faiz pergi mengambil makanan dan minuman. Pak Faiz mengambil satu piring berisi sate dan satu lagi berisi nasi dan lauk pauk, serta dua gelas air putih.


Kami memakan makanan yang kami pilih. Entah kenapa saat aku melihat Pak Faiz makan, aku jadi ingin mencobanya.


"Enak Pak?" Ucapku.


"Iya-"


"Kamu mau tambah lagi," lanjutnya.


"Engak ah, malu tahu. Nanti disangka tamak," ucapku.


"Engak kok, atau kamu makan punya saya saja?" Ucapnya.


"Em, Pak Faiz udah gosok gigi 'kan?" Tanyaku.


"Apa selama ini saya bau mulut? Engak kan? Ya pasti sudah dong Fi."


Aku hanya mengganguk. Aku mengambil sendok Pak Faiz dan menyendok nasi miliknya.


"Enak?" Tanyanya.


"Lumayan."


Setelah selesai makan, kami menghampiri para pengantin untuk mengucapkan selamat dan memberikan amplop. Setelah itu kami berjalan menuju tempat parkir. Saat ditengah jalan, ada seseorang yang memanggil Pak Faiz.


"Iz!" Ucap orang itu.


Ada laki-laki seusia Pak Faiz menghampiri kami.


"Kamu apa kabar?" Tanya orang itu.


"Alhamdulillah, baik." Ucap Pak Faiz.


Orang itu melihat Pak Faiz dari bawah keatas.


"Kamu masih sama ya kaya dulu, kelihatan bukan orang sukses. Ini yah hasil dari niat mulia kamu? Hidup miskin, gak maju-maju-" Cibir orang itu.


"Siapa dia?" Orang itu menunjuku.


"Dia istriku," jawab Pak Faiz.


"Istri? Dapat dari mana kamu istri cantik kayak gini? Kamu nyulik dia yah? Atau kamu pake guna-guna? Mbak jangan mau sama dia, dia itu kere, kolot, cupu. Mending sama--"


"Kamu?" Ucapku memotong katanya.


"Kamu cerdas," ucapnya.


"Jangan keterlaluan Za!" Ucap Pak Faiz.


"Aku keterlaluan? Yang benar saja." Ucap orang itu.


"Em, mungkin masnya memang orang berduit, punya banyak rumah, mobil mewah. Cuma, mulut masnya lemes, kayak perempuan, nanti kalau kita debat, aku kalah lagi, aku gak suka. Dan, maaf-maaf kata yah. Walau kalian seprantaran, tapi muka masnya jauh lebih tua. Nanti takutnya aku disangka nikah sama aki-aki lagi, aku gak suka... yaudah, kita pulang yuk! Lama-lama disini nanti kita ketularan ember bocor lagi," ucapku.

__ADS_1


Pak Faiz mengeluarkan motornya diparkiran dan laki-laki itu hanya diam mematung. Saat Pak Faiz melajukan motornya, aku menjulurkan lidahku kearah pria itu untuk mengejeknya. Dia masih mematung ditempat.


"Ck, dasar mantal lemah, mulut lemes," gumamku.


__ADS_2